Faktor Penyebab Depresi

Banyak faktor penyebab depresi yang bisa di jelaskan secara ilmiah. Tetapi, faktor-faktor penyebab depresi tersebut biasanya tidak langsung menyebabkan gangguan terhadap penderitanya, tetapi faktor penyebab tersebut menjadi bahaya laten, yang akan muncul dikemudian hari jika terjadi sesuatu yang bisa menjadi faktor pemicunya.
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Kenyataannya peristiwa hidup tersebut tidak selalu diikuti depresi, hal ini mungkin disebabkan karena ada faktor-faktor lain yang ikut berperan mengubah atau mempengaruhi hubungan tersebut (Lumongga, 2009).
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab depresi dibagi menjadi faktor fisik dan faktor psikologis. Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci faktor-faktor penyebab depresi tersebut.
FAKTOR FISIK
Faktor fisik penyebab depresi terdiri dari:
Faktor Genetik
Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan (McKenzie, 1999).
Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi (Kendler, 1992).
Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi (McKenzie, 1999).
Faktor Usia
Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun (Wikinson, 1995).
Gender
Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlis, 1995).
Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.
Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui
Gaya Hidup
Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi (lumongga, 2009). Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras (Hendranata, 2004).
Penyakit fisik
Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks (Ebrahim, 1987).
Obat-obatan
Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.
Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:
  1. Tablet antieplipsy
  2. Obat anti tekanan darah tinggi
  3. Obat antimalaria-melfloquine (lariam)
  4. Obat antiparkinson
  5. Obat kemotrapi
  6. Pil kontrasepsi
  7. Digitalis
  8. Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)
  9. Interferon-alfa (hepatitis c)
  10. Obat penenang
  11. Terapi steroid
Obat-obatan terlarang
Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obatobatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.
Kurang Cahaya Matahari
Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD). SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu (Ebrahim, 1987).
FAKTOR PSIKOLOGIS
Ada beberapa faktor psikologis penyebab depresi yaitu:
Kepribadian
Aspek-aspek kepribadian ikut mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada indvidu-individu yang lebih rentan terhadap depresi yaitu mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1990). Tampaknya ada hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan depresi.
Menurut Gordon (dalam Lumongga, 2009), seseorang yang menunjukan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi:
  1. Mengalami kecemasan tingkat tinggi, seorang pencemas atau mudah terpengaruh
  2. Seorang pemalu atau minder
  3. Seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah
  4. Seseorang yang hipersensitif
  5. Seseorang yang perfeksionis
  6. Seseorang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focused).
Pola Pikir
Beck (1980) mengatakan gambaran pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.
Harga Diri (self-esteem)
Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan penghargaan diri positif terhadap dirinya, sehingga seseorang akan merasa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan mental dan fisik. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri aan menghasikan sikap dan rasa percaya diri, rasa kuat menghadapi sakit, rasa damai, namun sebaiknya apabila keperluan penghargaan diri ini tidak terpenuhi, maka akan membuat seseorang individu mempunyai mentalmental lemah dan berpikir negatif sehingga cenderung terkena depresi (Maslow dalam Petri, 2004).
Stres
Kematian orang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi (lumongga, 2009). Orang yang depresi dapat merasa sangat negative dan cenderung mengingat dan melaporkan halhal negativ begitu pula dampak suatu peristiwa terhadap seseorang sulit diramalkan, beberapa orang lebih mampu menanggulangi stress daripada yang lain dan apa yang membuat stress seseorang belum tentu menganggu yang lain (Mckenzie, 1999).
Lingkungan Keluarga
Ada beberapa penyebabnya yaitu:
  1. Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak. Ada bukti bahwa indivdu yang kehilangan ibu mereka ketika muda memiliki risiko lebih besar terserang depresi. Kehilangan yang besar ini akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang lebih mudah terserang depresi tetapi, di satu sisi, mungkn saja membuat orang lebih tabah. Akibat psikologis, sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri (Lumongga, 2009).
  2. Jenis Pengasuhan. Psikolog menemukan bahwa orang tua yang sangat menuntut dan kritis, yang menghargai kesuksesan dan menolak semua kegagalan membuat anak-anak lebih mudah terserang depresi di masa depan (Lumongga,2009).
  3. Penyiksaan fisik dan seksual Ketika kecil. Penyiksaan fisik atau seksual dapat membuat seseorang berisiko terserang depresi berat sewaktu dewasa (Lumongga, 2009).
Penyakit Jangka Panjang
Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi. Kebanyakan orang suka bertemu orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang (Lumongga, 2009).
Share on :


Related post:


1 komentar:

Anonim mengatakan...

bgus jg materinya
MAMPIR KESINI YA --> ryanblog42.blogspot.com
buat yang nyari materi jg

Poskan Komentar