PERHITUNGAN BEBAN KERJA (WORKLOAD ANALYSIS)

Perhitungan beban kerja perlu dibuat, untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja pada unit kerja tertentu. Selain itu, perhitungan beban kerja yang akurat dapat menyeimbangkan beban kerja tiap-tiap pekerja, sehingga ketimpangan akibat pembagian beban kerja yang tidak seimbang dapat dihindari.
Banyaknya masalah yang timbul karena ketidakseimbangan pembagian beban kerja, dapat berakibat psikologis (kecemburuan, perhatian, rasa adil) maupun material (berimbas pada tingginya biaya overtime/lembur).
Ada beberapa dasar dalam perhitungan beban kerja. Dasar-dasar perhitungan beban kerja itu antara lain, Produktivitas, Peraturan perundang-undangan maupun Target dari sebuah perusahaan. Tetapi dari sekian banyak Dasar perhitungan beban kerja, yang paling banyak dipakai adalah dasar peraturan perundang-udangan yang berlaku disebuah negara.
FAKTOR-FAKTOR PENYUSUNAN BEBAN KERJA
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan beban kerja adalah sebagai berikut:
Standar Kemampuan Rata-rata
  • Norma waktu. Norma waktu adalah standar kemampuan rata-rata karyawan dalam menyelesaikan tugas yang diukur berdasarkan satuan waktu, dalam perhitungannya digunakan rumus : Norma waktu = orang x Waktu /Hasil. Contoh: Operator komputer dalam waktu 60 detik dapat menghasilkan beberapa lembar ketikan, misalnya 2 lembar ketikan
  •  Norma Hasil. Norma Hasil adalah standar kemampuan rata-rata pegawai dalam menyelesaikan tugas yang diukur berdasarkan satu satuan hasil dapat diperoleh dalam waktu beberapa lama, Dalam penghitungannya digunakan rumus: Norma Hasil = Hasil / Orang x waktu. Contoh: Penganalisis Formasi Pegawai untuk menghasilkan pertimbangan teknis atas usul tambahan formasi kementrian dari satu instansi diperlukan waktu 60 menit.
Waktu Kerja
Berdasarkan peraturan perudang-undangan (UU No. 13, tahun 2003, Tentang Ketenagakerjaan), waktu kerja karyawan adalah 40 jam perminggu atau 173 jam perbulan. Angka 173 jam perbulan ini didapat dari asumsi bahwa, jumlah minggu dalam satu tahun adalah 52. Sehingga jumlah jam kerja dalam 1 bulan adalah:
52 minggu / 12 bulan = 4.3333
Jadi jumlah jam dalam 1 bulan adalah 4.33333 x 40 jam = 173.3333, dibulanjatkan menjadi 173 jam perbulan.
Dan sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 102 tahun 2004 Tentang pengaturan waktu dan kerja lembur:
Pasal 9: (1) Dalam  hal  upah  pekerja/buruh  dibayar  secara  harian, maka  penghitungan  besarnya  upah  sebulan adalah upah sehari dikalikan 25 (dua puluh  lima) bagi pekerja/buruh yang bekerja 6  (enam)  hari  kerja  dalam  1  (satu)  minggu  atau  dikalikan  21  (dua  puluh  satu)  bagi pekerja/buruh yang bekerja 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. (2) Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar berdasarkan satuan hasil, maka upah sebulan adalah upah rata-rata 12 (dua belas) bulan terakhir. (3) Dalam  hal  pekerja/buruh  bekerja  kurang  dari  12  (dua  belas)  bulan  sebagaimana dimaksud  dalam  ayat  (2),  maka  upah  sebulan  dihitung berdasarkan  upah  rata-rata  selama bekerja dengan ketentuan tidak boleh lebih rendah dari upah dari upah minimum setempat.
Sehingga dapat di jabarkan perhitungan Jam Kerja Efektif (JKE) adalah sebagai berikut:
Jam kerja 21 hari kerja sebulan
Jam kerja rata-rata 8 jam sehari, biasanya dari hari senin – jumat.
Jam kerja 25 hari kerja sebulan
Jam kerja rata-rata 7 jam sehari, biasanya dari senin – sabtu. Senin – jumat 7 jam perhari, dan hari sabtu, 5 jam.
PERHITUNGAN KEBUTUHAN PEGAWAI
Pendekatan Hasil Kerja
  • Pendekatan hasil kerja adalah metode penghitungan kebutuhan pegawai dengan mengidentifikasi beban kerja dan hasil kerja jabatan
  • Metode ini dipergunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya fisik atau bersifat kebendaan (Biasa utk jenis pekerjaan yg bersifat Rutin , ex : operator , Chasier, CS dll)
  • Perlu diperhatikan juga bahwa metode ini efektif dan mudah digunakan untuk jabatan yang hasil kerjanya hanya satu jenis dan diperlukan utk melakukan observasi yg jeli dalam menganalisa nya, hal tsb dilakukan untuk mempertajam hasil perhitungan std kemampuan rata – rata.
Pendekatan Tugas Pertugas
Metode ini dipergunakan untuk menghitung kebutuhan pegawai pada jabatan yang hasil kerjanya abstrak atau beragam, artinya Hasil kerja dalam jabatan tersebut banyak jenisnya (Biasanya digunakan utk karyawan back office).
Rumus  :  ∑  WPT  X 1 Orang / WKE/Hari ---
  • Waktu penyelesaian Tugas ( WPT), Adalah waktu yang digunakan dalam menyelesaikan tugas tersebut
  • Waktu kerja Efektif ( WKE), Adalah jam kerja efektif yang digunakan dalam 1 Hari

Berikut kami sajikan contoh Perhitungan Beban Kerja (Workload Analysis)

ETIOLOGI SKIZOFRENIA PADA ANAK

Etiologi Skizofrenia pada Anak tidak jauh beda dengan yang terjadi pada dewasa. Faktor-faktor penyebab skizofrenia pada anak antara lain faktor biologis, psikososial, dan sosiokultural.
Faktor biologis
Skizofrenia cenderung menurun dalam keluarga sebab keluarga merupakan tingkat pertama dari orang-orang  yang mengalami skizofrenia yang memiliki sekitar sepuluh kali lipat  risiko  yang lebih  besar  untuk mengalami  skizofrenia (Erlenmeyer,  dkk  dalam Jeffrey,  Spencer,  dan Beverly, 2003).
Faktor psikososial
Iman (2006)  menyatakan  anak  berkembang dalam  ruang  psikologis  yang  tidak  memadai bagi  berkembangnya  pribadi  yang  sehat yang mengarah  pada  gangguan yaitu  di  dalam keluarga.  Kemudian,  keluarga  terutama  orang tua  yang  mengakibatkan para anggota keluarga tidak  bisa saling  memberikan holding dan membina centered  relating satu  sama  lain.
Stresor  lingkungan  keluarga  mencakup  faktor psikologis,  seperti  konflik  keluarga,  perlakuan yang  salah  terhadap  anak, lingkungan  keluarga yang  kasar  dan  mengkritik,  situasi  kehidupan yang  penuh  stres, deprivasi  emosi,  serta kehilangan  figur  yang  memberikan  dukungan (Jeffrey,  Spencer,  dan  Beverly, 2003). Durand dan David (2007) menjelaskan bahwa pola-pola interaksi  dan  komunikasi  emosional  yang terganggu  dalam  keluarga  menunjukkan  suatu sumber  stres  potensial  yang  mungkin meningkatkan  risiko  berkembangnya skizofrenia  pada  orang-orang  yang  memiliki predisposisi  genetis  untuk  menderita  gangguan skizofrenia.
Faktor sosiokultural
Jeffrey,  Spencer,  dan  Beverly  (2003) menjelaskan  bahwa penyebab  sosial  dari skizofenia  di  setiap  kultur  berbeda  tergantung dari  bagaimana  penyakit  mental  diterima  di dalam kultur,  sifat  peranan  pasien,  tersedianya sistem pendukung sosial keluarga,  dan kompleksitas  komunikasi  sosial  serta cara pengasuhan  orang tua  dalam membesarkan anak.

TIPE-TIPE SKIZOFRENIA

Ada beberapa Tipe-tipe Sksizofrenia. Maramis (2009) menunjukkan beberapa tipe skizofrenia secara umum yang dapat didiagnosis pada anak-anak, remaja, dan dewasa antara lain adalah sebagai berikut:
Skizofrenia Tipe Paranoid
Ciri  utama  skizofrenia  tipe  ini  adalah  adanya waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam  konteks  terdapatnya  fungsi  kognitif  dan afek yang relatif masih terjaga.
Skizofrenia Tipe Disorganized
Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar.
Skizofrenia Tipe Katatonik
Ciri  utama  pada  skizofrenia  tipe katatonik adalah gangguan pada psikomotor (Iman, 2006).
Skizofrenia Tipe Undifferentiated
Sejenis  skizofrenia  di  mana  gejala-gejala  yang muncul sulit  untuk  digolongkan  pada  tipe skizofrenia tertentu (Iman, 2006).