Latest Post

KAJIAN FILSAFAT - ONTOLOGI

Ontologi berasal dari bahasa Yunani, Yaito On/Ontos yang artinya sama dengan Being = ada, logos yang artinya logic = ilmu. Sehingga  Ontologi  dapat diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau  Ilmu tentang yang ada (Kusumaningrum, dkk, 2009 : 2). Dengan kata lain, Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan kepada logika semata. Adapun pengertian menurut istilah, Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality (kenyataan/realitas paling akhir) yang berbentuk jasmani/kongkret maupun rohani/abstrak (Bakhtiar, 2004, dalam Kusumaningrum, dkk, 2009 : 2). 
Ontologis dapat diilustrasikan dalam pertanyaan, bahwa:
  1. Obyek apa yang ditelaah ilmu?
  2. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
  3. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
Ontologi dapat juga disebut dengan “Teori Hakikat”. Sebagai contoh mengenai argumen yang bersifat Ontologis, pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori idea-nya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada dalam di alam nyata ini mesti ada idea-nya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep unversal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda yang berwarna hitam, putih, ataupun belang, baik yang hidup ataupun yang sudah mati. Idea kuda itu adalah paham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini (Adib, 2010 : 70 – 72).  Ontologi melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk, dan maknanya berbeda bagi tiap orang.
Menurut Aristoteles, ontologi merupakan ilmu mengenai esensi benda, dimana ontologi ini menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental. Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles: Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being / wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).
Ontologi (Suriasumantri, 1984)membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
  1. apakah obyek ilmu yang akan ditelaah
  2. bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan
  3. bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti    berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
Menurut Soetriono & Hanafie (2007) Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.
BIDANG KAJIAN ONTOLOGI
Istilah ontology pertama kali oleh Rudolf Goelenius pada tahun 1636 M, untuk menamai hakekat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya, Christian Wolf (1679 – 1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus.

  • Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafiska atau otologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
  • Metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi. kosmologi yang membicarakan alam semesta, Psikologi adalah cabang ilmu filsafat tentang jiwa manusia dan teologi adalah cabang ilmu yang khusus membicarakan Tuhan.
Kajian ontology mencakup semua yang ada, ada yang tunggal, ada yang majemuk, ada yang terbatas, ada yang tidak terbatas, ada yang universal, ada yang mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika, ada yang sesudah kematian, maupun sumber segala yang ada (Tuhan Yang Maha Esa).
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh kenyataan. Bagi pendekatan kualitatif, kenyataan akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme, naturalisme atau hilomorphisme.
ALIRAN-ALIRAN ONTOLOGI
Terdapat beberapa aliran dalam filsafat ontologi, yaitu Aliran Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme dan Aliran Agnostisisme
Alirasan Monoisme (1)
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Plato adalah tokoh filsafat yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe.
Paham monoisme kemudian terbagi ke dalam dua aliran Yaitu :
  1. Materialiasme/Naturalisme. Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan ruhani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Aliran pemikiran ini  dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian alam.
  2. Idealisme. Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.  Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang pada kebenaran sejati. Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui dalam ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.
Aliran Dualisme (2)
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan).
Aliran Pluralisme (3)
Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M), yang mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal.
Aliran Nihilisme (4)
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia hidup.
Aliran Agnostisisme (5)
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos, yang berarti unknown. A artinya not, gno artinya know. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaar (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme, yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu orang lain. Berbeda dengan pendapat Martin Heidegger (1889-1976 M), yang mengatakan bahwa satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Tokoh lainnya adalah, Jean Paul Sartre (1905-1980 M), yang mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan entre (ada), melainkan aentre (akan atau sedang). Jadi, agnostisisme adalah paham pengingkaran/penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda, baik materi maupun ruhani.

Daftar Pusataka
Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Kusumaningrum, Anissa, dkk. 2009. Dimensi Kajian Filsafat Ilmu. Paper Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Semarang : Magister Teknik Kimia Universitas Diponegoro
Suriasumantri, Jujun S. 1984. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
A. Suanto.2011. Filsafat Ilmu, Jakarta: PT Bumi Aksara
Saeful Anwa.2007. Filsafat Ilmu Al-Ghazali. Bandung: CV Pustaka Setia
Susanto, O. (2011). Filsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologi, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

Download filenya disini

PENGERTIAN GROUNDED THEORY

Grounded theory adalah sebuah metodologi penelitian kualitatif yang sistematis dalam ilmu-ilmu sosial yang menekankan penemuan teori dari data dalam proses berlangsungnya penelitian.  Grounded Theory pertama kali muncul setelah di pekernalkan oleh dua orang sosiolog Barney Glaser dan Anselm Strauss pada tahun 1960-an, dalam karya mereka “The Discovery of Grounded Theory”.  Buku ini membahas 3 (tiga) pendekatan utama yang merupakan prinsip Grounded theory:
  • Tugas Utama peneliti adalah untuk “Discover/menemukan” cara baru untuk memahami dunia sosial
  • Analisis Grounded Theory bertujuan untuk menghasilan “teori” sebagai kerangkan formal untuk memahami fenomena
  • Menghasilkan “Grounded” dari data-data yang ada.
Dalam perkembangan selanjutnya, Glasser dan strauss memiliki perbedaan pendekatan-pendekatan dalam menggunakan grounded theory.
Metode  grounded theory  menurut Glaser menekankan induksi atau munculnya kreativitas individu si peneliti dalam tahapan kerangka yang jelas. Hal ini juga menjelaskan secara jelas bahwa grounded theory menurut Glaser adalah munculnya sebuah metodologi, dimana hal ini menyediakan beberapa argumen untuk mendukung pendekatan tersebut.
Sedangkan Strauss lebih tertarik dalam kriteria validasi dan pendekatan sistematis. Pendekatan grounded theory, terutama cara Strauss dalam mengembangkannya, terdiri dari satu set langkah hati-hati yang diduga sebagai “jaminan” dari sebuah teori yang baik sebagai hasilnya. Strauss mengatakan bahwa kualitas suatu teori dapat dievaluasi dengan proses di mana teori tersebut dibangun.
Berdasarkan perdebatan tersebut, dapat ditarik sebuah simpulan menurut Heath dan Cowley (2004), bahwa daripada memperdebatkannya lebih baik untuk melihat manfaat relatif dari kedua pendekatan tersebut. Grounded theory paling akurat digambarkan sebagai suatu metode riset dimana teori dikembangkan dari data, bukan sebaliknya data dikembangkan dari teori yang ada. Hal ini sesuai dengan pendekatan induktif, yang berarti bahwa bergerak dari khusus ke lebih umum. Metode riset pada dasarnya berdasarkan tiga elemen yaitu konsep, kategori dan proposisi, atau apa yang awalnya disebut “hipotesis”. Namun demikian, konsep adalah elemen kunci dari analisis karena teori dikembangkan dari konseptualisasi data, bukan data sebenarnya.
Grounded  theory  is  a  research  method  that  prescribes  systematic  guidelines  for  data  collection  and analysis with  the purpose  of  inductively building  a  framework explaining  the  collected  data  (Charmaz, 2000).  Grounded  theory  adalah  metode  penelitian  yang  menjelaskan  petunjuk-petunjuk  sistematis  untuk pengumpulan dan analisis data dengan tujuan membangun kerangka yang dapat menjelaskan data yang terkumpul.
Grounded  theory  is  an  inductive  theory  discovery  methodology  that  allow  researcher  to  develop  a theoritical  account  of the  general  features  of  the topics  while  simultanneously  grounding  account  in empirical observations of data (Martin &  Tuner, 1986, p.141); Fernandez (2004). Grounded  theory  is a methodology that seeks to  construct  theory  about issues of importance  in  peoples’  lives (Glaser, 1978; Glaser & Strauss, 1967; Strauss & Corbin, 1998).  Grounded  theory  adalah  metodologi  penemuan  teori  secara induktif  yang memperkenankan  peneliti untuk  mengembangkan  laporan  teoritis  ciri-ciri  umum  suatu  topik  secara  simultan  di  lapangan  dari catatan  observasi  empirik  sebuah  data.  Grounded  theory  adalah  sebuah  metodologi  yang  mencoba mengkonstruksi teori tentang isu-isu penting dari kehidupan masyarakat.
Grounded theory merupakan suatu metode riset yang berupaya untuk mengembangkan teori tersembunyi di balik data dimana data ini dikumpulkan dan dianalisis secara sistematis (Martin dan Turner, 1986). Grounded theory menurut Martin dan Turner (1986) adalah “an inductive, theory discovery methodology that allows the researcher to develop a theoretical account of the general features of a topic while simultaneously grounding the account in empirical observations of data”, yang kira-kira artinya sebuah penemuan teori metodologi induktif yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan kajian teoritis yang umum dari suatu topik sekaligus sebagai landasan kajian pada pengamatan dataempiris. Sedangkan Muhadjir (2002) mengatakannya dengan sebutan Teori Berdasarkan Data.
Sebagai sebuah metode, grounded theory menjelaskan hubungan ini yang dikembangkan dari studi kasus untuk menjelaskan perbedaan yang muncul dalam menghasilkan teori berdasarkan data yang ada. Konsep Bourdieu tentang habitus digunakan untuk mengembangkan lebih lanjut grounded theory ini dan untuk menyarankan suatu teori yang lebih formal (Goddard, 2004). Metode Metode grounded menurut Martin dan Turner (1986) merupakan suatu pendekatan riset kualitatif (beberapa percaya sebagai metodologi) berdasarkan paradigm interpretif, yang sangat dipengaruhi oleh interaksionisme simbolik, etnometodologi dan sampai batas tertentu juga etnografi yang dirancang khusus dan berorientasi untuk menemukan (menghasilkan) suatu teori tentang fenomena sosial.

Daftar Pustaka
Heath, H. and Cowley, S. 2004. Developing a Grounded Theory Approach: A Comparison of Glaser and Strauss. International Journal of Nursing Studies, 41, 141–150
McLoad, John. 2001. Qualitative Research in Counseling and Psychotherapy. Sage Publication. Hal 70 – 89
Muhadjir, N. 2002. Filsafat Ilmu: Positivisme, Postpositivisme, dan Postmodernisme. Yogyakarta:  Reka Sarasin

PENGERTIAN ART THERAPY

Art therapy adalah sebuah teknik terapi dengan menggunakan media seni,proses kreatif, dan hasil dari seni untuk mengeksplorasi perasaan, konflik emosi, meningkatkan kesadaran diri, mengontrol perilaku dan adiksi, mengembangkan kemampuan sosial, meningkatkan orientasi realitas, mengurangi kecemasan dan meningkatkan penghargaan diri (American Art Therapy Association, 2013). Art therapy merupakan suatu metode psikoterapi yang dapat menangani individu dengan depresi, mengurangi keparahan simptom depresi secara signifikan (Bar-sela, Atid, Danos, Gabay, & Epelbaum, 2007; Gussak, 2007)
Malchiodi, seorang art therapist dan juga konselor yang telah menulis banyak buku mengenai art therapy mengatakan bahwa art therapy berdasar pada sebuah pemikiran bahwa proses berkreasi dalam membuat suatu bentuk art atau seni yang dapat memudahkan individu untuk pulih dan juga berupa sebuah komunikasi nonverbal mengenai perasaan dan pikiran individu (Malchiodi, 2012). Art therapy mirip dengan teknik terapi lainnya, mendorong individu untuk masuk dalam proses pengembangan diri untuk mencapai pengertian atas makna hidup, kesadaran yang lebih tinggi, perasaan lega dari emosi yang intens atau trauma, menyelesaikan konflik dan masalah, memperkaya hidup, dan meningkatkan kesejahteraan (Malchiodi dalam Malchiodi, 2012).
Art therapy juga mendukung sebuah pemikiran bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk berekspresi secara kreatif dan proses lebih dipentingkan daripada hasil, sehingga fokus para terapis tidak tertuju pada aspek estetika dalam art yang dibuat oleh individu, melainkan lebih focus terhadap kebutuhan therapeutic dalam berekspresi secara kreatif (Malchiodi, 2012)
Art Therapy banyak digunakan, karena cenderung mudah untuk dilakukan, dan bisa digunakan untuk berbagai usia, mulai dari anak–anak, remaja, dewasa, bahkan hingga lansia pun bisa melakukan ini. Selain itu, art therapy juga tidak membutuhkan kemampuan seni yang tinggi.
Anda pun bisa melakukan art therapy dengan hanya mencoret-coret kertas saja. Berikut ini adalah beberapa contoh art therapy yang sering digunakan dalam psikoterapi:
  1. Menggambar dan melukis
  2. Melipat kertas
  3. Membuat patung atau bentuk dari tanah liat
  4. Psikodrama / Terapi menggunakan drama
  5. Musik dan menulis lagu
  6. dan lain-lain

SEJARAH TES PAPI KOSTICK

PAPI (Personality and Preference Inventory) adalah personality assessment atau alat tes penilaian kepribadian terkemuka yang digunakan oleh para profesional HR (Human Resource) dan manajer terkait untuk mengevaluasi perilaku dan gaya kerja individu pada semua tingkatan. Personality and Preference Inventory (PAPI) dibuat oleh Guru Besar Psikologi Industri dari Massachusetts, Amerika, yang bernama Dr. Max Martin Kostick pada awal tahun 1960-an. Versi Swedia lebih dulu diperkenalkan di awal 1980-an dan versi ini diperkenalkan pada tahun 1997 dengan versi ipsatif (PAPI-I) dan normative (PAPI-N). Versi ipsatif, PAPI-I, dirancang untuk digunakan untuk pengembangan pribadi, sedangkan normatif versi, PAPI-N, yang dimaksudkan untuk digunakan untuk perbandingan dan seleksi. Dasar pemikiran untuk desain dan formulasi PAPI didasarkan pada penelitian dan teori kepribadian “needs-press” oleh Murray (1938).
Secara singkat, PAPI Kostick merupakan laporan inventori kepribadian (self report inventory), terdiri atas 90 pasangan pernyataan pendek berhubungan dalam situasi kerja, yang menyangkut 20 aspek keribadian yang dikelompokkan dalam 7 bidang: kepemimpinan (leadership), arah kerja (work direction), aktivitas kerja (activity), relasi social (social nature), gaya bekerja (work style), sifat temperamen (temperament), dan posisi atasan-bawahan (followership).
Di Indonesia diperkenalkan sekitar tahun 1980 dan berkembang dengan cepat menjelang akhir 1990-an yang berbentuk Self report inventory. PAPI sekarang digunakan oleh lebih dari 1000 perusahaan di dunia. Tersedia dalam 25 bahasa, dapat dikerjakan secara online, serta CD-Rom installable. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. Papi mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari Papi Kostick, maka kita akan banyak memperoleh informasi mengenai profile individu baik dari segi tipologi kepribadiannya, maupun dalam kontek pekerjaannya.
Tes Papi Kostick saat ini sering digunakan dalam lingkup HRD di suatu perusahaan/organisasi. Tes ini merupakan salah satu tes kepribadian yang tercermin dalam tingkah laku yang didasarkan pada kategorisasi. PAPI Kostick mengukur role dan need individu dalam kaitannya dengan situasi kerja. Dengan mempelajari PAPI Kostick, maka kita akan banyak memeroleh informasi mengenai profil individu, baik dari segi tipologi kepribadiannya maupun dalam konteks pekerjaannya.

EMPAT TIPE PERILAKU TES DISC

Tes DISC dapat membantu seseorang untuk memahami orang-orang yang tidak menyukainya atau terlalu mirip seperti dirinya. Tes DISC membagi 4 tipe perilaku individu ketika berinteraksi dengan lingkungannya, yakni: Dominance, Influence, Steadiness dan Compliance
Dominant (D)
Orang yang Dominant tinggi akan bersifat asertif (tegas) dan langsung. Biasa nya mereka sangat independen dan ambisius. Dalam pemecahan masalahnya, tipe dominan ini melakukan pendekatan yang aktif dan cepat menyelesaikan masalah. Mereka ini orang yang cukup gagah, mereka sangat menyukai tantangan dan persaingan. Mereka dipandang orang lain sebagai orang yang berkemauan keras. Oleh karena itu mereka menginginkan segala sesuatu sesuai dengan kemauan mereka.
Influencing (I)
Tipe Influencing ini senang berteman. Mereka suka menghibur orang lain dan bersifat sosial. Dalam penyelesaian masalah atau mengerjakan sesuatu, mereka banyak mengandalkan keterampilan sosial. Orang yang bersifat interpersonal ini senang berpartisipasi dalam kelompok dan suka bekerja sama. Keterbukaan sikapnya membuat orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang gampang bergaul dan ramah. Biasa nya pribadi seperti ini memiliki banyak teman. Tipe antarpribadi ini, tipe orang yang emosional karena mereka mudah mengungkapkan emosi kepada orang lain, emosional disini artinya bukan mudah marah, tetapi mudah mengungkapkan isi hatinya. Mereka lebih merasa nyaman berurusan dengan emosi daripada hal lain.
Steadiness (S)
Orang yang bertipe Steadiness ini adalah orang yang berkeras hati, gigih, dan sabar. Mereka mendekati dan menjalani kehidupan dengan memanfaatkan standar yang terukur dan stabil. Pada umumnya mereka tidak begitu suka kejutan. Pribadi mantap ini tidak banyak menuntut dan bersifat akomodatif. Mereka sangat ramah dan memperlihatkan kesetiaannya kepada mereka yang ada disekitarnya. Mereka sangat menghargai ketulusan. Orang yang bertipe mantap ini jujur dan mengatakan apa adanya dan berharap orang lain melakukan hal yang sama. Orang lain memandang mereka sebagai orang yang tenang, berhati hati dan konsisten dalam cara mereka menjalani kehidupan. Memiliki tingkat ketabahan yang luar biasa. Mereka dapat mempertahankan fokus dan kepentingan mereka dalam jangka waktu yang lama dibandingankan orang lain yang mampu melakukan.
Conscientiousness (C)
Teliti, begitu sebutan untuk tipe orang ini. Tipe teliti ini sangat tertarik pada presisi (ketelitian dan kecermatan) dan juga dengan akurasi (kecepatan). Mereka menyukai segalanya serba teratur dan jelas. Dan mereka sangat fokus terhadap fakta, maunya ada bukti. Orang tipe teliti ini sangat menghargai peraturan, mereka tidak suka melanggar peraturan. Dalam beraktivitas pun begitu, menggunakan sistematis dan aturan aturan agar semuanya terkelola dengan baik. Mengatasi konflik secara tidak langsung. Dihadapan orang lain, mereka dipandang pasif dan selalu mengalah.

FUNGSI TES DISC

Pada dasarnya, Tes DISC adalah alat ukur yang tidak menilai benar atau salah, karena dipergunakan untuk melihat perbedaan setiap individu dalam berperilaku atau kecenderungannya dalam perilaku, tes ini umumnya dipergunakan di bidang industry dan organisasi. Disc merupakan sebuah alat untuk memahami tipe tipe perilaku dan gaya kepribadian (personality test).
Fungsi dari alat tes DISC adalah untuk mengungkap gaya kerja seseorang. Penerapannya di dunia bisnis dan usaha alat ini membuka wawasan dan pemikiran, baik secara professional maupun secara personal. Alat tes ini digunakan beberapa perusahaan untuk seleksi karyawan.
Fungsi dari hasil tes DISC bagi individu/tim secara rinci antara lain:
  1. Menambah pengetahuan tentang diri sendiri: bagaimana individu merespon pada suatu konflik, apa yang memotivasi, apa yang menyebabkan individu stres, dan bagaimana cara individu menyelesaikan masalah yang dihadapi
  2. Tes ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana gambaran diri atau kepribadian seseorang, pola hubungan sosial seseorang, dan jenis pekerjaan yang sesuai dengan gaya perilaku orang tersebut.
  3. Tes ini dapat digunakan untuk memilih karir atau jurusan bagi siswa SMP/SMA berdasarkan analisis perilaku (Behavioral Style).
  4. Meningkatkan relasi yang baik antar anggota tim karena melalui tes DISC dapat mengetahui kebutuhan berkomunikasi dalam tim
  5. Memfasilitasi kerja tim yang lebih baik dan meminimalisir konflik dalam tim
  6. Mengembangkan kemampuan marketing yang lebih kuat melalui identifikasi dan merespon sesuai dengan cara/gaya dari konsumen atau klien
  7. Dapat mengelola lebih efektif dengan memahami kemampuan alami dan prioritas dari setiap individu
  8. Dapat lebih memahami diri sendiri, serta membantu untuk menjadi pemimpin yang seimbang serta efektif
  9. Membangun tim yang produktif
  10. Mengembangkan manajer, supervisor, dan pemimpin yang efektif
  11. Meningkatkan pelayanan bagi konsumen atau klien
  12. Membantu dalam melakukan perubahan dan manajemen konflik
  13. Menjadi alat yang membantu dalam merekrut, penempatan, promosi, dan outsourcing
  14. Meningkatkan pemberian pengalaman konseling dan pelatihan.
  15. Dapat digunakan untuk mendeskripsikan cara pendekatan atau gaya yang dikembangkan seseorang, motivasi, dan termasuk hal yang tidak disukainya.
  16. Dapat berfungsi untuk menentukan kekuatan dan kelemahan seseorang, serta pandangan-pandangan mereka terhadap orang lain.
  17. Tes ini juga tentunya dapat membantu untuk memperkirakan reaksi seseorang pada situasi dan keadaan yang sedang dihadapinya.
  18. DISC juga telah berhasil digunakan untuk membantu orang belajar untuk bekerja lebih efektif dengan orang lain dan berhubungan dengan orang lain.
 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai