Latest Post

CARA KLAIM JAMINAN KEMATIAN (JKM) BPJS KETENAGAKERJAAN

Jaminan Kematian atau biasa disebut JKM adalah salah satu program BPJS Ketegakerjaan. Program ini sebagai santunan kematian peserta kepada keluarganya. Program JKM memberikan manfaat berupa uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia saat kepesertaan aktif, dimana kematian disebabkan bukan karena kecelakaan kerja.
Kriteria peserta BPJS Ketenagakerjaan yang berhak mendapat santunan JKM ini adalah:
  1. Peserta BPJS Ketenagakerjaan
  2. Peserta yang terdaftar pada Jasa Konstruksi BPJS Ketenagakerjaan.
Jumlah santunan uang tunai yang diberikan sebesar:
  • Santunan kematian sekaligus sebesar RP 16.200.000,-
  • Santunan berkala selama 24 bulan, dengan rincian 24 x Rp 200.000,- = Rp 4.800.000,-
  •  Biaya pemakanan sebesar Rp 3.000.000,-
Total uang santunan adalah Rp 16.200.000,-  +  Rp 4.800.000,-  +  Rp 3.000.000,-  = Rp 24.000.000,-
PROSEDUR KLAIM JKM
Klaim Jaminan Kematian (JKM) dapat dilakukan bersamaan dengan Jaminan Hari Tua (JHT).
Persiapkan dokumen-dokumen berikut ini:
  1. Kartu Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan asli / Copy Daftar Project untuk Jasa Konstruksi
  2. KTP Peserta dan KTP Ahli Waris (yang mengajukan klaim)
  3. Kartu Keluarga
  4. Surat keterangan ahli waris (Dari pengadilan setempat atau dari kelurahan)
  5. Surat keterangan kematian (Dari Rumah Sakit/Klinik atau dari Kelurahan Jika meninggalnya dirumah)
  6. Buku Tabungan yang masih aktif
  7. Fotokopi KTP pengurus pemakaman (bagi yang tidak memiliki ahli waris)
  8. Daftar hadir peserta tempat bekerja (Jika peserta bekerja di perusahaan)
  9. Dokumen Pendukung lainnya apabila diperlukan (buku nikah dan lain sebagainya)
  10. FormulirJaminan Kematian
Jika dokumen tersebut sudah lengkap, bisa langsung mendatangi kantor BPJS Ketenagakerjaan yang terdekat, atau Kantor BPJS Ketenagakerjaan tempat peserta terdaftar (Untuk Jasa Konstruksi).
Biasanya, santunan kematian ini akan cair dalam waktu dua minggu setelah data dinyatakan lengkap.

SEJARAH PERKEMBANGAN PENELITIAN ETNOGRAFI

Ada dua pendahulu sejarah penting untuk penelitian etnografi kontemporer. Penggunaan metode etnografi yang paling awal dapat ditemukan dalam karya pelopor antropologi sosial seperti Bronislaw Malinowski, Edward Evans-Pritchard, dan Margaret Mead pada awal abad kedua puluh. Pada 1930-an, prinsip dasar melaksanakan secara mendalam, kerja lapangan jangka panjang pada anggota kelompok budaya tertentu diterapkan di AS oleh sosiologi 'Chicago School', yang dipimpin oleh Robert Park dan W.H. Whyte. Etnografi adalah pendekatan kualitatif terpanjang dalam ilmu-ilmu social, asal muasal fenomenologi dan hermeneutika dapat dilihat sebagai akar pada filsafat dan teologi. Dibandingkan dengan pendekatan kualitatif ilmiah sosial lainnya, etnografi telah menghasilkan literatur metodologis yang jauh lebih kaya, yang telah mengantisipasi dan mendorong perdebatan di lapangan.
Etnografi yang dipraktekkan di dalam dunia pendidikan telah dibentuk oleh antropologi budaya, dengan penekanan pada isu-isu terkait dengan penulisan budaya, dan bagaimana laporan-laporan etnografis perlu dibaca dan dipahami saat ini. Faktor-faktor ini merupakan jantung bagi pemahaman praktek-praktek terkini dalam etnografi (Bogdan & Biklen, 1998: Denzin, 1997: LeCompte et al., 1993: Walcott, 1999, dalam Creswell, 2012).
Akar dari etnografi pendidikan terletak pada antropologi budaya. Pada penghujung  abad 19 dan awal abad 20, para antropolog mengkaji budaya-budaya “primitif” melalui kunjungan-kunjungan ke negara-negara lain dan bergumul dengan masyarakatnya untuk periode waktu yang lama. Mereka menghindarkan diri dari  “menjadi natif “ (penduduk asli) dan mengidentifikasikan diri mereka secara dekat sekali dengan  orang-orang yang mereka teliti sehingga mereka bisa menulis sebuah kisah yang “objektif” tentang apa yang mereka lihat dan dengar. Pada waktu-waktu tertentu, kisah-kisah ini dibandingkan dengan budaya-budaya lain yang jauh di benua lain, terutama dengan cara-cara hidup orang Amerika. Contoh, Margareth Mead, seorang antropolog terkemuka, mengkaji pengasuhan anak, remaja, dan pengaruh budaya terhadap kepribadian di Samoa (Mead, dalam Creswell, 2012).
Observasi dan wawancara menjadi prosedur standar dalam pengumpulan data  “di lapangan”. Para sosiolog di Universitas Chicago pada tahun 1920-an sampai 1950-an, melakukan penelitian yang difokuskan pada pentingnya penelitian tentang kasus tunggal – apakah kasusnya tentang seseorang individu, kelompok, tetangga, atau unit budaya yang lebih besar.
Bidang kajian antropologi pendidikan interdisiplin yang masih awal ini mulai mengkristal selama tahun 1950-an dan berlanjut sampai tahun 1980-an (LeCompte dkk, dalam Creswell, 2012). Para antropolog pendidikan memfokuskan diri mereka pada sub  kelompok budaya, seperti:
  1. Kisah perjalanan karir dan kehidupan atau analisis peran individu
  2. Microetnografis tentang kelompok-kelompok kerja dan kelompok-kelompok hobi dalam skala kecil
  3. Kajian-kajian terhadap kelas-kelas tunggal yang diabstraksikan sebagai masyarakat-mayarakat dalam kelompok kecil
  4. Kajian-kajian terhadap fasilitas-fasilitas sekolah atau fasilitas-fasilitas dinas pendidikan yang mendekati unit-unit ini sebagai sebuah masyarakat yang diskrit (terpisah) (LeCompte dkk, dalam Creswell, 2012).
Dalam penelitian seperti ini, para etnografer pendidikan mengembangkan dan memperhalus prosedur-prosedur yang dipinjam dari antropologi dan sosiologi. Dari tahun 1980-an sampai dewasa ini, para antropolog dan antropolog pendidikan telah mengidentifikasi teknik-teknik guna memberikan fokus terhadap  kelompok budaya, melakukan observasi, menganalisis data, dan menuliskan laporan penelitian.
Peristiwa yang membatasi etnografi, menurut Denzin (dalam Creswell, 2012), adalah publikasi buku yang berjudul Writing Culture  (Clifford & Marcus, 1986).  Para etnografer telah “menulis dengan cara mereka sendiri”  (Denzin, 1997, halaman xvii) semenjak itu sesuai dengan isi buku tersebut. Clifford an Marcus mengangkat dua buah isu yang sangat menggugah minat banyak orang terhadap etnografi pada umumnya dan dalam bidang penelitian pendidikan. Pertama terkait dengan krisis representasi. Krisis ini terdiri dari penilaian kembali tentang bagaimana para etnografer memberikan interpretasi terhadap kelompok-kelompok yang mereka teliti. Denzin berargumetasi bahwa kita tidak bisa lagi melihat si peneliti sebagai reporter yang objektif yang membuat pernyataan-pernyataan yang bersifat omnipresent (hadir di mana-mana) tentang individu-individu yang dia teliti. Sebaliknya, si peneliti hanyalah merupakan satu suara dari banyak suara – individu-individu seperti si pembaca, para partisipan, dan gate-keeper (para penjaga) – yang perlu didengar. Ini memicu krisis kedua: legitimasi. “Dalih-dalih” validitas, reliabilitas dan objektivitas dari “normal science” tidak lagi bisa mewakili standar. Para peneliti perlu mengevaluasi masing-masing penelitian etnografis dalam batas-batas standar yang fleksibel yang melekat pada kehidupan para partisipan, pengaruh-pengaruh kesejarahan dan budaya; dan kekuatan-kekuatan interaktif bersumber ras, gender, dan kelas.
Ditilik dari sisi ini, etnografi perlu memasukkan perspektif yang diramu dari pemikiran-pemikiran feministis, pandangan-pandangan berbasis ras, perspektif seks, dan teori kritis, dan sensitif terhadap ras, kelas, dan gender. Etnografi dewasa ini menjadi “messy” (carut marut) dan akhirnya menampilkan diri dalam berbagai bentuk seperti (seni) pertunjukan, puisi, drama, novel, atau narasi pribadi (Denzin dalam Creswell, 2012).

Referensi:
Ary, Donald., Jacobs, Lucy Cheser., Razavieh, Asghar. (2010). Introduction to Research in Education 8th edition. Wardswoth Cengage Learning. Canada: Nelson Education ltd
Cresswell, Jhon W., (2012). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Ney Jersey: Person Education, Inc.
Emzir. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers
McLoad, John. (2001). Qualitative Research in Counseling and Psychotherapy. Sage Publication

KARAKTERISTIK PENELITIAN ETNOGRAFI

Menurut Creswell (2012) beberapa karakter  yang bisa menggambarkan penelititan etnografi, diantaranya tema budaya, kelompok berbagi budaya, pola perilaku bersama, keyakinan dan bahasa, penelitian lapangan, keterangan atau pengaturan, dan refleksi peneliti.
Dalam melakukan penelitiannya seorang etnografer harus membangun hubungan yang dekat dengan partisipan dari objek komunitas penelitiannya. Seperti contoh etnografer Jonathan Kozol, untuk meneliti komunitas kulit hitam di Bronx, dia juga ikut tinggal di sana selama beberapa bulan untuk bisa menyelami kehidupan mereka. Mereka pun mulai percaya pada Kozol dan mau berbagi mengenai perasaan terdalam mereka dan pandangan mereka tentang kemiskinan dan perbedaan warna kulit.
Penelitian etnografi meneliti suatu proses dan hasil akhir. Akhir dari penelitian adalah membuat tulisan yang kaya akan gambaran detail dan mendalam mengenai objek penelitan (thick description). Sebagai penelitian suatu proses, seorang etnografer melakukan participant observation, di mana seorang peneliti melakukan eksplorasi terhadap kegiatan hidup sehari-hari dari objek kelompoknya, melakukan pengamatan dan mewawancarai anggota kelompok dan terlibat di dalamnya. Participant obeservation juga berarti bahwa peneliti ikut terlibat dan ikut berperan dalam pengamatan. Untuk keperluan penelitian ini seorang etnografer memelukan seorang key informant atau gatekeeper yang bisa membantu menjelaskan dan masuk ke dalam kelompok tersebut. Selain itu seorang etnografer harus mempunyai sensitivitas tinggi terhadap partisipan yang sedang ditelitinya, karena bisa jadi peneliti belum familiar terhadap karakteristik mereka.
Berikut ini aspek atau karakteristik etnografi baik yang dirangkum dari Wolcott dan Gay, Mills dan Airasian:
  • Berlatar alami bukan eksperimen di laboratorium
  • Peneliti meneliti tema-tema budaya tentang peran dan kehidupan sehari-hari seseorang
  • Interaksi yang dekat dan tatap muka dengan partisipan
  • Mengambil data utama dari pengalaman di lapangan
  • Menggunakan berbagai metode pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan, dokumen, artifak dan material visual.
  • Peneliti menggunakan deskripsi dan detail tingkat tinggi
  • Peneliti menyajikan ceritanya secara informal seperti seorang pendongeng
  • Menekankan untuk mengekplorasi fenomena sosial bukan untuk menguji hipotesis.
  • Format keseluruhannya adalah deskriptif, analisis dan interpretasi
  • Artikel diakhir dengan sebuah pertanyaan.


Referensi:
Ary, Donald., Jacobs, Lucy Cheser., Razavieh, Asghar. (2010). Introduction to Research in Education 8th edition. Wardswoth Cengage Learning. Canada: Nelson Education ltd
Cresswell, Jhon W., (2012). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Ney Jersey: Person Education, Inc.
Emzir. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers
McLoad, John. (2001). Qualitative Research in Counseling and Psychotherapy. Sage Publication

JENIS-JENIS PENELITIAN ETNOGRAFI

Pakar metodologi penelitian etnografi, Creswell mengidentifikasi ada beberapa jenis penelitian etnografi, seperti life-history, autoetnography, novel etnography, feminis etnography, ethnography di electronic media, pothography, video, audio dan sebagainya. Namun secara garis besar, metode penelitian ini dapat dikategorisasikan menjadi dua, yaitu etnografi realis dan kritis.
Etnografi realis
Tipe ini adalah tipe yang tradisional dimana peneliti berusaha memperoleh data individu atau situasi menurut sudut pandang orang ketiga. Peran orang ketiga sangat signifikan karena mampu memberi pandangan yang dianggap objektif terhadap fenomena yang diteliti.
Etnografi realis adalah pandangan obyektif terhadap situasi, biasanya ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, melaporkan secara obyektif mengenai informasi yang dipelajari dari para obyek penelitian di lokasi (Creswell, 2012). Dalam etnografi realis ini:
  1. Etnografer  menceritakan penelitian dari sudut pandang orang ketiga, laporan pengamatan partisipan, dan pandangan mereka. Etnografer tidak menuliskan pendapat pribadinya dalam laporan penelitian dan tetap berada di belakang layar sebagai reporter yang meliput tentang fakta-fakta yang ada.
  2. Peneliti melaporkan data objektif dalam sebuah bentuk informasi yang terukur, tidak terkontaminasi oleh bias, tujuan politik, dan penilaian pribadi. Peneliti dapat menggambarkan kehidupan sehari-hari secara detail antara orang-orang yang diteliti. Etnografer juga menggunakan kategori standar untuk deskripsi budaya (misalnya kehidupan keluarga, kehidupan kerja, jaringan sosial, dan sistem status).
  3. Etnografer menghasilkan pandangan partisipan melalui kutipan yang diedit tanpa merubah makna dan memiliki kesimpulan berupa interpretasi dan penyajian budaya (Van Maanen dalam Creswell, 2012).
Tipe ini memberi kesempatan etnografer untuk menarasikan suara dari orang ketiga terkait apa yang diobservasi. Etnografer mengambil posisi di ”belakang panggung” dan memposisikan pandangan objektif partisipan sebagai sebuah ”fakta sosial”. Laporan yang disusun oleh etnografer realis ditulis dengan tanpa terkontaminasi bias personal dan politis serta justifikasi terhadap ”fakta sosial” atau disebut juga bebas nilai.
Etnografi kritis
Tipe ini adalah tipe yang lebih kontemporer dimana peneliti ikut menyuarakan atau mengadvokasi suara kelompok sosio-kultural yang diteliti. Etnografer kritis merespons kondisi mayarakat kontemporer yang mengasumsikan bahwa sistem relasi kuasa, prestis dan otoritas cenderung memarjinalkan individu yang berasal dari kelas, ras dan gender yang berbeda.
Komponen utama dari etnografi kritis adalah faktor-faktor seperti nilai-sarat orientasi, memberdayakan masyarakat dengan memberikan kewenangan yang lebih, menantang status quo, dan kekhawatiran tentang kekuasaan dan kontrol (Madison dalam Creswell, 2012). Faktor-faktor tersebut antara lain:
  1. Menyelidiki tentang masalah sosial kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, dominasi, represi, hegemoni, dan korban.
  2. Para peneliti melakukan etnografi kritis sehingga penelitian mereka tidak semakin meminggirkan individu yang sedang dipelajari. Dengan demikian, para penanya berkolaborasi, aktif  berpartisipasi, dan bekerjasama dalam penulisan laporan akhir. Para peneliti etnografi kritis diharapkan untuk berhati-hati dalam memasuki dan meninggalkan tempat penelitian, serta memberikan feed back.
  3. Para peneliti etnografi memberikan pemahaman secara sadar, mengakui bahwa interpretasi mencerminkan sejarah dan budaya kita sendiri. Interpretasi dapat hanya bersifat sementara dan tergantung bagaimana partisipan akan melihatnya.
  4. Peneliti kritis memposisikan diri dan sadar akan peran mereka dalam penulisan laporan penelitian.
  5. Posisi ini tidak netral bagi peneliti kritis, hal ini berarti bahwa etnografi kritis akan menjadi pembela perubahan untuk membantu mengubah masyarakat kita sehingga tidak ada lagi yang tertindas dan terpinggirkan.
  6. Pada akhirnya, laporan etnografi kritis akan menjadi berantakan, multilevel, multimetode pendekatan untuk penyelidikan, penuh kontradiksi, tak terpikirkan, dan ketegangan (Denzin, dalam Creswell, 2012: 467).
Oleh karena itu, suara dari orang pertama hidup dalam situasi atau konteks yang diteliti sangat penting. Salah satu karakteristik tipe etnografi ini adalah adanya dorongan nilai emansipatoris yang diadvokasi oleh peneliti, dengan kata lain, tidak bebas nilai.
Jenis Penelitian Etnografi lainnya
Jenis-Jenis etnografi lainnya diungkapkan Gay, Mills dan Aurasian sbb:
  • etnografi Konfensional: laporan mengenai pengalaman pekerjaan lapangan yang dilakukan etnografer
  • Autoetnografi: refleksi dari seseorang mengenai konteks budayanya sendiri
  • Mikroetnografi: studi yang memfokuskan pada aspek khusus dari latar dan kelompok budaya
  • Etnografi feminis: studi mengenai perempuan dalam praktek budaya yang yang merasakan pengekangan akan hak-haknya.
  • Etnografi postmodern: suatu etnografi yang ditulis untuk menyatakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial terutama mengenai kelompok marginal.
  • Studi kasus etnografi: analisis kasus dari seseorang, kejadian, kegiatan dalam perspektif budaya.

Referensi:
Ary, Donald., Jacobs, Lucy Cheser., Razavieh, Asghar. (2010). Introduction to Research in Education 8th edition. Wardswoth Cengage Learning. Canada: Nelson Education ltd
Cresswell, Jhon W., (2012). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Ney Jersey: Person Education, Inc.
Emzir. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers
McLoad, John. (2001). Qualitative Research in Counseling and Psychotherapy. Sage Publication

PENGERTIAN PENELITIAN ETNOGRAFI

Metode penelitian etnografi termasuk dalam metode penelitian kualitatif.  Etnografi dapat didefinisikan sebagai studi tentang 'cara hidup' suatu budaya atau sekelompok orang. Dibandingkan dengan tradisi kualitatif lainnya, etnografi penelitian mencakup semuanya. Dalam mencari pengembangan yang komprehensif deskripsi dan pemahaman tentang 'cara hidup', etnografer tertarik pada semua aspek perilaku manusia: peran, ritual, sistem kepercayaan, mitos, bahasa, agama, makanan, sejarah, dan lingkungan fisik. Penelitian etnografi telah memberikan ciri seperti seni dan sains yang menggambarkan kelompok atau budaya (Fetterman, 1 998).
Kata etnografi berasal dari kata-kata Yunani ethos yang artinya suku bangsa dan graphos yang artinya sesuatu yang ditulis. Menurut Emzir (2012) etnografi adalah ilmu penulisan tentang suku bangsa, menggunakan bahasa yang lebih kontemporer, Etnografi dapat diartikan sebagai penulisan tentang kelompok budaya. Menurut Ary, dkk (2010:459) etnografi adalah studi mendalam tentang perilaku alami dalam sebuah budaya atau seluruh kelompok sosial.
Menurut Creswell (2012) Ethnographic designs are qualitative research procedures for describing, analyzing, and interpreting a culture-sharing group’s shared patterns of behavior, beliefs, and language that develop over time (Metode etnografi adalah prosedur penelitian kualitatif untuk menggambarkan, menganalisa, dan menafsirkan unsur-unsur dari sebuah kelompok budaya seperti pola perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus dari penelitian ini adalah budaya). Budaya sendiri menurut Le Compte  dkk (dalam Creswell, 2012) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku manusia dan keyakinan. Termasuk di dalamnya adalah bahasa, ritual, ekonomi, dan struktur politik, tahapan kehidupan, interaksi, dan gaya komunikasi.
Menurut Gay, Mills dan Airasian, penelitian etnografi adalah suatu studi mengenai pola budaya dan perspektif partisipan dalam latar alamiah. Selanjutnya menurut Lodico  maksud penelitian etnografi adalah untuk menggali atau menemukan esensi dari suatu kebudayaan dan keunikan beserta kompleksitas untuk bisa melukiskan interaksi dan setting suatu kelompok.
Jadi suatu penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

Referensi:
Ary, Donald., Jacobs, Lucy Cheser., Razavieh, Asghar. (2010). Introduction to Research in Education 8th edition. Wardswoth Cengage Learning. Canada: Nelson Education ltd
Cresswell, Jhon W., (2012). Eduactional Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Ney Jersey: Person Education, Inc.
Emzir. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers
McLoad, John. (2001). Qualitative Research in Counseling and Psychotherapy. Sage Publication

METODE ETNOGRAFI DALAM PENELITIAN KONSELING

Etnografi bukanlah penelitian yang semata-mata pekerjaan lapangan, etnografi juga bukan semata-mata sebuah deskripsi kisah atau laporan tertulis mengenai individu atau satu kelompok masyarakat yang dihasilkan oleh peneliti yang melewatkan periode waktu cukup panjang, guna membenamkan diri dalam konteks individu dan kelompok atau komunitas yang diteliti, dengan tujuan menggambarkan realitas sosial dan budaya individu dan kelompok sehingga dapat dipahami oleh pembaca etnografi.
Dalam konteks penelitian konseling, metode etnografi dapat diterapkan terutama untuk melihat pola-pola konseling yang dilakukan terhadap individu dan kelompok sosial dalam suatu budaya tertentu. Argumen ini didasarkan pada pemahaman bahwa konseling atau hubungan konseling (helping relationship) bukanlah semata-mata terjadi di laboratorium bimbingan dan konseling saja, akan tetapi terjadi di seluruh bidang kehidupan di mana terjadi hubungan atau interaksi antar manusia dengan manusia lainnya. Hubungan atau interaksi yang terjadi ini diharapkan menjadi hubungan yang saling membantu, dimana peran dan pengaruh budaya yang dianut (cultural background) menjadi begitu diperhitungkan.
Ada beberapa asumsi dasar yang dapat dijadikan pijakan metode etnografi dapat digunakan dalam penelitian konseling.
Pertama, bahwa klien dan konselor adalah seorang manusia. Karena manusia, maka ia tidak dapat melepaskan diri dan terikat serta dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibangun dalam sebuah budaya tertentu.
Kedua, para anggota budaya (klien dan konselor) akan menciptakan makna yang digunakan bersama. Mereka menggunakan kode-kode yang memiliki derajat pemahaman yang sama. Dalam arti dalam hal “penanganan” terhadap seorang atau sekelompok orang, seorang atau sekelompok konselor akan menggunakan kode-kode yang memiliki derajat pemahaman yang sama, sehingga keduanya dapat berinteraksi secara baik. Posisi inilah yang memungkinkan etnografer menggali kode-kode dimaksud secara cultural.
Ketiga, para konselor dalam sebuah komunitas budaya harus mengkoordinasikan tindakan-tindakannya. Oleh karena itu, dalam komunitas itu akan terdapat aturan atau system nilai yang dianut.
Keempat, makna dan tindakan bersifat spesifik dalam sebuah komunitas, sehingga antara komunitas yang satu dan lainnya atau konselor yang satu dengan lainnya ataupun klien yang satu dengan lainnya akan memiliki perbedaan, termasuk perbedaaan dalam memahami kode-kode makna dan tindakan.
Kelima,  dari aspek kepribadian, sebenarnya  manusia dapat berkembang secara optimal melalui interaksi yang sehat antara organisme yang sedang dalam perkembangan tersebut dengan lingkungan atau budaya. Kekuatan sosial budaya tersebut diketahui secara jelas sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh sangat kuat terhadap individu dan perkembangannya.
Kelima asumsi tersebut seakan menemukan kekuatannya ketika terdapat orientasi baru dalam konseling sebagaimana dijelaskan Sofyan S Wilis (2011), yang dapat ditabelkan sebagai berikut:
Konseling (orientasi baru)
Konseling (orientasi lama)
Bersifat pedagogis
Bersifat klinis
Melihat potensi klien bukan kelemahan
Melihat kelemahan klien
Beorientasi pengembangan potensi positif klien
Berorientasi pemecahan masalah klien
Menggembirakan klien
Konselor serius
Dialog konselor menyentuh klien ; klien terbuka
Dialog menekan perasaan klien
Bersifat humanistic – religious
Bersifat humanistic – religious
Klien sebagai subjek memegang peranan, memutuskan tentang dirinya
Klien sebagai objek
Konselor hanya membantu dan memberikan alternative-alternatif (fasilitator dan motivator)


Dengan mengacu pada kelima asumsi dasar dan orientasi baru tersebut dapat digunakan oleh peneliti etnografi konseling untuk membandingkan budaya-budaya yang berbeda, karena adanya perbedaan dalam pemahaman budaya dari individu dengan individu lainnya, dari klien dengan konselor ataupun dari komunitas yang satu dengan komunitas lainnya.
Pembandingan budaya berbeda tersebut dalam konteks konseling dapat dilihat dari aspek:
  1. Ways of counseling, dalam kategori ini peneliti dapat melihat pola-pola konseling yang dilakukan
  2. Ideal of the fluent counselor/client. Sesuatu yang menunjukkan hal-hal yang pantas dicontoh atau dilakukan oleh seorang konselor / klien
  3. Counseling community, komunitas konseling berikut batas-batasnya
  4. Counseling and speech situation. Situasi kettika sebuah proses konseling atau bentuk ujaran ketika proses konseling dipandang sesuai dengan komunitas atau budayanya
  5. Counseling event, peristiwa-peristiwa konseling yang dipertimbangkan merupakan bentuk konseling yang layak bagi individu dalam sebuah komunitas budaya
  6. Counseling act, seperangkat perilaku khusus yang dianggap aktivitas dalam sebuah peristiwa konseling
  7. Component of counseling acts. Komponen tindak konseling
  8. The rules of spaking in the community. Garis-garis pedoman yang menjadi sasaran perilaku konseling,
  9. The function of counseling in the community. Fungsi konseling dalam sebuah komunitas. 
Dalam kerangka ini, menyangkut kepercayaan bahwa sebuah tindakan konseling dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dalam komunitas budaya.
Adapun unit analisis utama adalah interpretasi dari para pelaku konseling, tindakan dan interaksinya. Tekniknya adalah teknik kualitatif melalui tahap-tahap pengkajian data, mereduksi data dan memeriksa keabsahan data. Setelah data dikumpulkan, dianalisis, kemudian dilakukan interpretasi data. Tujuan interpretasi data adalah mendeskripsikan fakta yang ada, mendeskripsikan data secara analitik dan menyusun teori subtantif atau teori yang disusun dari dasar atau dari data (moleong, 1994).
Penerapan etnografi dalam penelitian konseling selain dapat digunFFakan untuk melihat variabilitas konseling, juga dapat mengungkap:
  1. Identitas yang digunakan individu dan sekompok orang (klien dan konselor). Identitas ini sebenarnya perasaan klien dan konselor tentang diri mereka sebagai bagian dari anggota budaya
  2. Mengungkap makna kinerja yang digunakan dalam proses konseling
  3. Mengungkap kontradiksi atau paradox-paradok yang terdapat dalam sebuah komunitas budaya atau sebuah proses konseling.
Untuk mengungkap data tentang ketiganya, maka dapat diajukan pertanyaan tentang norma, yaitu menyangkut cara-cara yang digunakan konselor atau proses konseling digunakan untuk memantapkan seperangkat patokan dan gagasan tentang benar dan salah yang mempengaruhi pola konseling. Pertanyaan berikutnya menyangkut bentuk yang terkait dengan jenis dan teknik yang digunakan dalam proses konseling, yang menyangkut suatu perilaku dan pengorganisasaian perilaku yang dapat dikategorikan sebagai proses konseling. Terakhir diajukan pertanyaan tentang kode-kode budaya yang memberikan perhatian pada makna symbol dan perilaku yang digunakan sebagai konseling dalam bingkai budaya.
Apabila peneliti etnografi konseling akan meneliti perilaku manusia, baik perilaku klien atau perilaku konselor dalam melakukan aktivitas konseling, maka dapat menggunakan dua perspektif, yaitu perspektif emik dan etik.
Perspektif emik merupakan usaha untuk mengungkapkan dan menguraikan pola konseling atau kebudayaan tertentu dari cara unsur-unsur kebudayaan itu berkaitan satu dengan lainnya dalam melakukan fungsi sesuai dengan pola tersebut. Penggunaan perspektif emik memberikan kesempatan kepada peneliti untuk berasumsi bahwa perilaku manusia (klien dan konselor) terpola dalam system pola itu sendiri. Jadi bukan terdiri dari tindakan analis untuk mencapai konstruk yang dapat diterapkan pada data itu. Dengan demikian, tujuan perspektif ini addalah mengungkapkan dan menguraikan system perilaku bersama satuan strukturnya dan kelompok struktur satuan-satuan itu.
Sementara itu perspektif etik, lebih mengarah pada pencermatan peneliti terhadap teori yang relevan dengan focus penelitiannya dan membuat sintesis (menyatukan) berbagai teori menjadi kerangka teori, yang menurut Moleong (1994) dilakukan dengan empat langkah, yaitu (1) mengelompokkan secara sistematis seluruh data yang dapat diperbandingkan, seluruh kebudayaan dunia ke dalam system tunggal, (2) menyediakan seperangkat criteria untuk mengklasifikasikan setiap unsure data, 3) mengorganisasikan data baru yang ditemukan dalam tipe-tipe, (4) mempelajari, menemukan dan menguraikan setiap baru ke dalam kerangka sistem yang telah dibuatnya sebelum mempelajari kebudayaan dari data yang ditemukan.
Kedua perspektif ini dalam kenyataannya seringkali digunakan secara bersamaan.
 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai