Latest Post

DOWNLOAD DSM LENGKAP, GRATIS

Saat ini, DSM  - Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder,  sudah beberapa kali mengalami perbaikan / update sejak kemunculannnya pertama kali di tahun 1952 (DSM). Saat ini, edisi terakhir adalah DSM-5 yang diterbitkan tahun 2013. DSM yang merupakan pedoman Gangguan Jiwa di Amerika, dan banyak negara yang menggunakannya sebagai acuan dalam klasifikasi gangguan jiwa, termasuk Indonesia (PPDGJ – Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa).
Saudara mencari e-book DSM dari DSM-I s/d DSM-V, bisa di download secara gratis di PSCYHOLOGYMANIA
DSM III (1974)
DSM V (2013)--- >>>(Edisi terakhir, kontroversi, beberapa negara tidak menjadikannya sebagai acuan, termasuk Indonesia)

Semoga bermanfaat…!!!

SEJARAH GANGGUAN SOMATOFORM

Gangguan somatoform memiliki sejarah yang panjang dan gangguan ini biasanya dihubungkan dengan wanita. Pada awal tahun 1500 S.M, dalam buku karangan Hippokrates itu adalah penyakit fisik yang terbatas pada wanita. Karena itu, gangguan-gangguan tersebut dinamakan histeria, dan kata histeria itu berasal dari kata hystero yang berarti rahim. Hippokrates dan orang-orang yunani pada umumnya beranggapan bahwa penyakit itu disebabkan oleh rahim tidak dipuaskan secara seksual, karenanya ia berkelana ke bagian-bagian tubuh lainnya (wandering uterus) untuk mencari kepuasan. Dan dalam perjalanan itu, ia meletakkan dirinya sedemikian rupa sehingga menyebabkan gangguan. Misalnya, bila seorang wanita mengalami kelumpuhan lengan, maka diandalkan bahwa rahim itu tertahan dipundak atau sikunya, meskipun Hippokrates tidak berbicara secara khusus tentang penyebab seksual pada gangguan somatoform. Galenus tidak menerima pandangan bahwa gangguan-gangguan somatoform disebabkan oleh gangguan pada rahim, tetapi mengemukakan bahwa gangguan-gangguan tersebut ada hubungannya dengan organ tersebut.
Selama abad pertengahan, orang-orang yang menderita gangguan-gangguan somatoform diperlakukan sebagai penganut bida’ah karena tingkah laku mereka dianggap sebagai akibat langsung dari dosa-dosa mereka. Individu-individu yang menderita gangguan-gangguan somatoform diduga kerasukan setan (roh-roh jahat), dan exorcisme sering kali dipakai sebagai usaha untuk mengusir roh-roh jahat itu dari dalam tubuh mereka.
Pada akhir abad ke-19 diadakan pendekatan-pendekatan baru terhadap gangguan somatoform. Pertama oleh Charcot (seorang dokter prancis), dan kemudian oleh Janet dan Freud. Charcot berpendapat bahwa dengan menggunakan sugesti ia dapat menimbulkan dan menghilangkan semua simptom pada pasien-pasien wanita yang menderita apa yang dinamakan histeria. Akan tetapi, beberapa puluh tahun kemudian ada kemajuan yang pesat. Karena Horney menekankan faktor kebudayaan dalam perkembangan histeria dan neurosis-neurosis yang lain. Ia menekankan bahwa kecemasan dan permusuhan yang timbul dari konflik-konflik kebudayaan merupakan penyebab yang penting dari tingkah laku neurotik.
Pada tahun 1980, Diagnostik and statistical Manual of Mental Disorders, Edisi III, yang revisi (DSM- III-R), sebutan diagnostik histeria dihilangkan, ini dilakukan untuk menghilangkan semua konotasi yang dihubungkan dengan histeria, seperti ide bahwa histeria disebabkan oleh konflik seksual. Pada tahun 1987, semua ulasan yang mengemukakan bahwa gangguan-gangguan somatoform yang pada umumnya terdapat pada para wanita dihilangkan (Semiun, 2006).
Pada DSM-IV-TR (2000), Gangguan Somatoform dimasukkan dalam kumpulan Somatoform Disorder. Kumpulan gangguan somatoform disorder dalam DSM-IV-TR seperti Conversion Disorder, Pain Disorder, Hypochondriasis, Body Dysmorphic Disorder dan Somatoform Disorder NOS.
Tetapi pada DSM-5 (2013) gangguan ini dimasukkan dalam kumpulan gangguan Somatic Symptom and Related Disorders, yang terdiri dari Somatic Symptom Disorder, Illness Anxiety Disorder, Conversion Disorder (Functional Neurological Symptom Disorder), Psychological Factors Affecting Other Medical Conditions, Factitious Disorder (includes Factitious Disorder Imposed on Self, Factitious Disorder Imposed on Another), Other Specified Somatic Symptom and Related Disorder dan Unspecified Somatic Symptom and Related Disorder.

PENGERTIAN GANGGUAN SOMATOFORM

Gangguan Somatoform (Somatoform Disorder) adalah kelompok gangguan yang meliputi simtom fisik (misalnya nyeri, mual, dan pening) dimana tidak dapat ditemukan penjelasan secara medis (Fausiah, Widury, 2005). Somatoform adalah individu yang mengeluhkan gejala-gejala gangguan fisik, yang terkadang berlebihan, tetapi pada dasarnya tidak terdapat gangguan fisiologis (Ardani, 2011).
Somatoform (terutama gangguan konversi atau disebut juga reaksi-reaksi konversi) adalah gangguan-gangguan neurotik yang khas bercirikan emosionalitas yang ekstrem, dan berubah menjadi simtom-simtom fisik, simtom-simtom fisik itu mungkin berupa kelumpuhan-kelumpuhan anggota tubuh, rasa sakit dan nyeri luar biasa, buta tuli, tidak bisa bicara, muntah terus-menerus, sakit kepala atau gementar (Semiun, 2006).
Somatoform adalah adanya keluhan gejala fisik yang berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokter bahwa tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya (Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Pelayanan Medis, 1993).
Jadi, somatoform adalah individu yang mengeluhkan gangguan fisik, seperti sakit kepala, nyeri, mual, dan gementar berangsur berulang-ulang, dimana secara medis mengatakan negatif, subjek yang tergolong somatoform ini sering berkunjung ke rumah sakit untuk memastikan gejala peyakitnya.

ASPEK-ASPEK KECENDERUNGAN NEUROTIK

Ada beberapa aspek-aspek neurotik. Aspek-aspek neurotik ini merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalami gangguan neurotik. Scheier dan Cattel (1961) membuat alat ukur untuk mengukur kecenderungan neurotik pada orang dewasa dan remaja baik normal maupun abnormal, yang mengandung aspek-aspek yang merupakan ciri gejala gangguan neurotik.
Aspek-aspek neurotic tersebut adalah:
Tender-Mindedness (pikiran yang lembut)
Adanya keinginan yang berlebihan untuk mendapat perlindungan, menyukai kelembutan, ramah, sangat sensitif, sentimentil, artistik, imajinatif, suka berkhayal, sering bertindak yang tidak praktis serta berperilaku yang tujuannya menarik perhatian dengan mencari pertolongan.
Depressiveness
Adanya gejala depresi, mudah merasa tertekan, menarik diri, muram, pemalu, tidak komunikatif, sering terlihat diam, cenderung pesimis dan sulit beradaptasi dengan situasi baru.
Submissivenes
Sangat patuh, pasrah, mudah dipengaruhi dan sangat tergantung. Tidak ada dorongan untuk menonjolkan diri atau menarik perhatian serta takut membuat masalah dengan orang lain.
Anxiety
Mudah cemas, takut dan tegang, mudah merasa bersalah, mudah distimulasi, emosinya tidak matang dan tidak stabil, daya tahan terhadap frustrasi rendah, sering merasa kesepian dan sering menunjukkan perilaku hipokondriasis.

KRITERIA BODY DYSMORPHIC DISORDER (BDD)

Menurut DSM IV-TR (APA, 1994), beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosis seseorang mengalami BDD adalah sebagai berikut:
  1. Preokupasi (perhatian yang berlebihan) terhadap suatu kecacatan dalam penampilan yang hanya berada dalam imajinasi individu; kendati hanya terdapat sedikit kelainan fisik, namun keprihatinan individu sangat berlebihan.
  2. Preokupasi tersebut menyebabkan distress (penderitaan emosional) yang signifikan secara klinis atau penurunan secara fungsi sosial, pekerjaan , atau area-area penting yang lain.
  3. Preokupasi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental yang lain (seperti ketidakpuasan terhadap bentuk dan ukuran tubuh dalam Anorexia Nervosa).

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN BODY DISMORPHIC DISORDER (BDD)

Konsep diri (self-concept) merupakan bagian yang penting dari kepribadian seseorang, yaitu sebagai penentu bagaimana seseorang bersikap dan bertingkah laku. Dengan kata lain jika kita memandang diri kita tidak mampu, tidak berdaya dan hal-hal negatif lainnya, ini akan mempengaruhi kita dalam berusaha. Hal itu juga berlaku sebaliknya jika kita merasa diri kita baik, bersahabat maka perilaku yang kita tunjukkan juga akan menunjukkan sifat itu, misalnya dengan rajin menyapa teman atau menolong orang lain.
Pada masa remaja terjadi permasalahan seputar perubahan fisik. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan lebih banyak dialami dibeberapa bagian tubuh tertentu. Kegagalan merasa puas terhadap tubuh (kateksis tubuh) menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang kurang baik. Remaja dengan konsep diri positif lebih akan mengembangkan alternatif yang menguntungkan efek sejak saja sehingga ia lebih berpeluang menampilkan tingkah laku yang lebih produktif. Remaja dengan konsep diri negatif biasanya takut untuk mencoba. Kondisi ini tentu saja menghambat pengembangan diri.
Fenomena yang semakin berkembang adalah pencitraan media yang mampu menerapkan standar fisik yang ideal. Kecantikan dan ketampanan merupakan bagian provokasi produk industri dan jasa yang dijadikan sebagai icon. Berbagai merk kosmetik, gymnastic, fashion yang up to date mengalir deras di pasaran. Dengan alasan bahwa pencitraan diri muncul kepermukaan dengan konsep cantik dan tampan yang dipaparkan media sangat berlebihan. Pandangan cantik dan tampan muncul manakala seseorang terlihat berkulit putih, mempunyai bentuk tubuh yang ideal (hidung mancung, berkulit mulus, dan sebagainya). Akibatnya, sejumlah oramg merasakan adanya kesenjangan antara gambaran tubuh (body image) yang ideal dengan gambaran tubuh yang sebenarnya. Pandangan salah itulah yang membuat pergeseran pemikiran dan pengertian mengenai kecantikan atau ketampanan sehingga remaja dapat terperosok kearah body dysmorphic disorder apabila remaja tidak mempunyai konsep diri dan menerima dirinya dengan positif.
Konsep diri yang didalamnya terdapat dimensi fisik tentu saja berpengaruh terhadap perkembangan body image. Apabila seseorang memiliki konsep diri yang tinggi, maka mereka mengembangkan body image positif yang berarti mereka memiliki persepsi positif mengenai diri mereka sehingga mereka merasa puas dengan penampilan fisik mereka dan bisa melalui tugas perkembangannya yaitu menerima kondisi fisik dan memanfaatkannya secara efektif. Akan tetapi, jika seseorang memiliki konsep diri yang rendah, maka mereka merasa tidak puas terhadap penampilan fisik mereka dan mengembangkan body image negative yang berarti mereka mengalami distorsi body image atau biasa disebut sebagai gangguan body dysmorphic yang merupakan bentuk gangguan mental yang mempersepsi tubuh dengan ide-ide bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam penampilan sehingga kekurangan itu membuatnya tidak menarik.
Mereka memiliki ketidakpuasan akut terhadap beberapa bagian tubuh tertentu yang membuat mereka merasa sangat terganggu dan tidak nyaman dengan penampilan fisik mereka hingga mereka mengalami distress dan penurunan fungsi sosial (American Psychiatric Association, 2000). Sehingga, secara tidak langsung remaja putri yang memiliki konsep diri rendah akan memiliki kecenderungan body dysmorphic disorder.
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep diri memiliki hubungan dengan kecenderungan body dysmorphic disorder melalui body image. Seseorang yang memiliki konsep diri rendah akan merasa tidak puas dengan penampilan fisik mereka dan meningkatkan body image negative yang berarti mereka mengalami distorsi body image atau body dismorphic disorder. Sehingga secara tidak langsung orang yang memiliki konsep diri rendah akan memiliki kecenderungan body dismorphic disorder dan begitupun sebaliknya.
 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai