Latest Post

SEJARAH TES CFIT

Tes CFIT (Culture Fair Intelligence Test) di buat untuk pertama kalinya oleh Raymond B. Cattel dan Karen S. Cattel pada tahun 1940 dan diterbitkan oleh Institute of Personality and Ability Testing (IPAT), di Amerika Serikat pada tahun 1949. Tes ini dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g” / general factor). Tes ini mengalami beberapa revisi dan penelitian. Revisi dan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat validasitas tes CFIT. Pada tahun 1949 skala Cultur Fair mengalami revisi dan sampai sekarang hasilnya tetap dipakai.
CFIT terdiri dari tiga skala, yaitu skala 1, skala 2, dan skala 3 yang berbeda dalam derajat kesukaran sehingga penggunaannya disesuaikan dengan umur dan kriteria subjek (LPSP3, 2009).
Tujuan utama rancangan dan susunan tes ini adalah :
  1. Menciptakan instrumen yang secara psikoteria sehat, berdasarkan teori yang komperehensif, dengan validitas dan rellabilitas semaksimal mungkin.
  2. Memperkecil pengaruh budaya-budaya dan kondisi masyarakat yang tidak relevan.Tetapi tetap mempergunakan atau mempertahankan kegunaan prediktif untuk berbagai tingkah laku konkrit.
  3. Pelaksanaan penyajian dan penyekoran yang sangat mudah dan penggunaan waktu tes yang relatif ekonomis.
  4. Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor kemampuan mental umum atau kecerdasan.
Tes inteligensi CFIT mengukur general intelligence (g) yang terdiri dari dua faktor, yaitu fluid intelligence dan crystallized intelligence. Fluid intelligence merupakan hasil utama yang terukur dari pengaruh faktor biologis terhadap perkembangan intelektual yang bersifat bawaan (herediter). Crystallized intelligence merupakan hasil dari interaksi antara fluid intelligence dengan lingkungan sekitar, seperti sekolah. Crystallized intelligence merupakan keahlian yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman budaya., sehingga crystallized intelligence berkembang sebagai hasil belajar. Pada tahun 1971, Cattel mengungkapkan bahwa CFIT merupakan tes yang mengukur fluid intelligence factor (Saptoto, 2012).
Goldstein dan Hersen (2000) mengungkapkan bahwa korelasi CFIT dengan tes-tes inteligensi yang lain menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,5 sampai dengan 0,7. Hal tersebut menunjukkan bahwa CFIT terbukti valid untuk mengukur inteligensi. Azwar (2009) mengemukakan bahwa sebuah tes yang valid berarti bahwa tes tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya sesuai tujuan dilakukannya tes tersebut. Goldstein dan Hersen (2000) selanjutnya mengungkapkan bahwa CFIT skala 3 memiliki koefisien konsistensi internal sebesar 0,85. Reliabilitas test-retest CFIT skala 3 adalah 0,82. Hal tersebut menunjukkan bahwa CFIT skala 3 terbukti reliabel dalam mengukur inteligensi. Azwar (2009) mengemukakan bahwa reliabilitas adalah keterandalan atau keajegan sebuah tes. Tes yang reliabel berarti bahwa tes tersebut memberikan hasil yang relatif sama dalam beberapa kali pengukuran yang melibatkan kelompok subjek yang sama.
Suryabrata (2005) menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang berupa skor mentah suatu tes tidak memiliki sebuah makna kecuali jika disertai oleh data pendukung yang memungkinkan orang untuk membuat interpretasi terhadap skor tersebut. Interpretasi yang dilakukan terhadap hasil tes CFIT menggunakan norma yang disusun oleh Raymod B. Cattel dan Karen S. Cattel pada tahun 1965 dengan menggunakan populasi di Amerika. (UPAP, 2012).
Kaplan dan Saccuzzo (2005) menjelaskan bahwa suatu alat ukur atau tes psikologi beserta normanya perlu dilakukan peninjauan kembali sekurang-kurangnya 5 tahun sekali, sebagai bentuk pencegahan jika dalam kurun waktu tersebut dapat terjadi perubahan-perubahan yang penting dan secara signifikan dapat memengaruhi hasil tes dan evaluasi yang dibuat. Perubahan yang terjadi dikarenakan karakteristik populasi yang terus berkembang seiring dengan perkembangan waktu. Norma CFIT yang selama ini digunakan di Indonesia telah berusia lebih dari lima tahun, tepatnya sudah berusia 49 tahun. Norma yang berusia puluhan tahun tersebut dapat menyebabkan ketidaksesuaian hasil tes, karena norma pembanding yang digunakan sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.
Ketidaksesuaian tersebut dapat diakibatkan karena terdapat perbedaan IQ antar generasi yang disebut dampak Flynn (Gregory, 2013). Keberadaan dampak Flynn mengingatkan pengguna tes tentang bahayanya menarik kesimpulan berdasarkan norma-norma tes inteligensi yang selalu berubah. Restrandardisasi norma tes berkaitan dengan perubahan IQ perlu dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam menginterpretasi tes psikologi.
Aiken dan Marnat (2008) mengemukakan empat tujuan utama dari alat tes psikologi, yaitu diagnosa, prediksi, dekripsi dan pemahaman diri.  Berdasarkan keempat tujuan tersebut tampak jelas bahwa alat tes psikologi memiliki tujuan yang sangat penting, maka tes psikologi harus dijaga dengan baik agar dalam pelaksanaannya tujuan ini dapat  tercapai. Hadi, Sami’an, dan Wrastari (2004) mengemukakan bahwa pada tes psikologi, menggunakan norma yang tidak sesuai sebagai acuan dalam melakukan interpretasi skor tes akan memberikan data yang tidak valid dan dapat berakibat fatal. Kesalahan interpretasi akan menyebabkan kesalahan diagnosa terhadap kondisi psikologis individu, sehingga dapat memberikan beban terhadap individu tersebut. Kesalahan diagnosa tes psikologi yang terjadi saat proses rekrutmen karyawan akan sangat merugikan masa depan klien, karena individu yang seharusnya layak mendapatkan pekerjaan tersebut namun karena kesalahan diagnosa dari satu tes psikologi, membuat individu gagal memperoleh pekerjaan tersebut.
Azwar (2011) menambahkan bahwa tes psikologi seharusnya memiliki kualitas yang baik. Alat tes yang berkualitas merupakan hal dasar yang dibutuhkan untuk melakukan diagnosa dan menentukan seberapa baik suatu proses pengukuran. Hal tersebut dianggap penting karena hasil akhir dari tes psikologis berupa skor akan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terkait dengan individu yang mengikuti tes tersebut. Kesalahan diagnosa yang terjadi dikarenakan adanya ketidaksesuaian norma tes juga akan merugikan perusahaan yang melakukan rekrutmen. Calon karyawan yang mendapatkan skor IQ 100 dengan norma yang kadaluarsa sudah merupakan kemampuan rata-rata, namun hal tersebut belum tentu sesuai dengan kemampuan yang senyatanya bila dibandingkan dengan karyawan-karyawan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan calon karyawan dapat menandakan bahwa kemampuan calon karyawan tersebut masih di bawah rata-rata karyawan lain, sehingga ketika calon karyawan tersebut diterima tentunya akan mengecewakan pihak perusahaan, apabila hal tersebut terjadi berulang-ulang maka reputasi tes psikologi jatuh sebagai suatu alat ukur.
Murphy dan Davidoser (1998) mengemukakan bahwa skor tes  yang didapat individu akan dibandingkan dengan norma tes yang telah disusun dari suatu kelompok sampel (kelompok norma) yang memiliki karakteristik hampir mirip dengan subjek. Anastasi dan Urbina (2006) menambahkan bahwa norma-norma tes psikologi sama sekali tidak bersifat absolut, universal, ataupun permanen. Pengambilan sample norma disesuaikan dengan populasi tujuan alat tes tersebut dirancang. Pengguna tes seharusnya mempertimbangkan pengaruh-pengaruh khusus yang bias menyangkut sampel normatif yang digunakan dalam menstandardisasikan tes tertentu. Pengaruh-pengaruh tersebut mencakup kondisi-kondisi kemasyarakatan pada saat data normatif dikumpulkan. Buku informasi tes yang ditulis oleh Urusan Pengembangan Alat Psikodiagnostika (UPAP) tahun 2012 menjelaskan bahwa norma tes inteligensi CFIT yang digunakan di Indonesia masih merupakan norma CFIT yang disusun pada tahun 1965 dengan menggunakan 3140 subjek dari Amerika.  Norma CFIT yang selama ini digunakan di Indonesia mungkin saja tidak cocok untuk menggambarkan nilai IQ individu karena terdapat perbedaan kondisi antara Indonesia dan Amerika.  Hal tersebut menunjukkan bahwa norma CFIT yang digunakan di Indonesia perlu disusun kembali berdasarkan populasi di Indonesia.

Dia teman baikmu yang belum kamu “KENAL”


“Suka” dan “Tidak Suka” adalah sebuah penilaian yang sifatnya subjective. It’s normal.
Karena mengenal orang baru, pasti dimulai dari sebuah prasangka.
Penilaian kita terhadap orang lain yang baru kita kenal, selalu di bandingkan dengan orang-orang yang sudah kita kenal selama ini.
Mengapa teman lama, selalu lebih baik dengan orang yang baru kita kenal?
Jawabannya adalah WAKTU.
  1. Orang yang sudah kamu kenal baik, prasangka kamu dihapus oleh waktu, yang ada hanyalah rasa penerimaan. Orang yang sudah lama kamu kenal dan intens, akan menjadi teman karibmu. Walaupun perilaku temanmu itu buruk, kamu berusaha memahaminya (toleransi dan menerima). Kamu akan berusaha menjaga hubungan baik dengan teman karibmu, bahkan kamu seakan-akan menjadi dependen dengannya. Tidak ada lho, gak ramee… Itulah kekuatan waktu.
  2. Orang baru yang belum kamu kenal, seberapapun baiknya, tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan teman karibmu. Mengapa? Karena prasangka kamu dengannya masih sangat banyak.
Jadi, semuanya hanyalah masalah WAKTU. Sedikit pesan dari om C. Rogers, orang normal akan menerima orang lain apa adanya, karena semua orang berbuat, dengan kesadaran dan pilihannya.
Orang yang “sakit”, adalah orang yang berbuat, tapi dilakukan secara tidak sadar (kata om Freud).
Mau bukti bahwa WAKTU adalah jawaban dari temanmu yang tidak bisa diajak kerjasama?
  1. Teman kecilmu, adalah teman karibmu. Mengapa? Karena hanya dialah yang bisa memahamimu. Walupun waktu kecil dulu, sering berantem dengannya. Dia bisa memahamimu, karena kamu begitu lama bergaul dengannya. Apalagi, masih bergaul hingga saat ini. Itu adalah hal yang luar biasa. Mungkin kamu dan temanmu itu, sudah ibarat kembaran. Pasti sudah memahamimu luar dalam.
  2. Begitu banyak pertemanan biasa, menjadi tunangan, eh lanjut, hingga pernikahan. Mengapa? Jawabannya adalah intensitas waktu.
  3. Dulu waktu kami berada disebuah kota, kami memiliki banyak teman-teman yang baik. Di kota ini, kok orangnya tidak sebaik di kota saya dulu. Jawabannya adalah waktu. Karena kamu belum mengenal lama orang-orang dikota ini.
  4. dll (alias tambahin sendiri).
Sedikit rumus untuk teman barumu: “luangkan waktu untuknya”. Biarkan prasangka menghilang.
Kalaupun prasangka itu juga tidak bisa hilang sekarang, biarlah waktu yang akan menghapusnya…
Gue menerima lho apa adanya… biarkan WAKTU berlalu dengan kebersamaan kita, agar kita bisa lebih saling memahami.

Thanks…
Selamat rehat, akhir pekan…
For all rekan mapro klinis kelas malam YAI
Ardi almaqassary

PERBEDAAN TES BENDER GESTALT I DAN TES BENDER GESTALT II

Tes Bender Gestalt ada dua macam yaitu tes Bender Gestalt I dan Tes Gender Gestalt II. Kedua jenis tes Bender ini merupakan pengembangan dari alat tes Bender sebelumnya (Tes Bender Gestalt I). Berikut perbedaan tes Bender Gesltat I vs Tes Bender Gestalt II:

No
PERBEDAAN
BENDER GESTALT I
BENDER GESTALT I
1
Jumlah Kartu
9 kartu
16 kartu
2
Usia
Belum jelas pembagian Usia
Kartu 1 - 13 untuk usia 4 - 7 tahun
Kartu 5 - 16 untuk usia 8 - 85 tahun
3
Penyajian
Hanya 1 fase: fase copy (copying)
3 fase:
1. Fase copy (copying)
2. Fase recall
3. Fase tes Koordinasi Motorik dan persepsi (merupakan tes tambahan)
4
Waktu
Tidak ditentukan
Tidak ditentukan

SEJARAH TES BENDER GESTALT

Tes Bender Gestalt mempunyai sejarah yang panjang dan telah digunakan sebagai alat tes terutama bagi psikolog klinis untuk mendeteksi deviasi pada fungsi persepsi motor yang mengakibatkan perubahan-perubahan/gangguan pada perkembangan/kematangan fungsi-fungsi seperti fungsi inteligesi, fungsi dari kortikal maupun kesehatan mentalnya. Tes Bender Gestalt digunakan untuk mengevaluasi kedewasaan visual, gaya menanggapi, reaksi terhadap frustrasi (diagnosa klinis), kemampuan untuk mengoreksi kesalahan, dan organisasi keterampilan perencanaan, dan motivasi.
The Bender Visual Motor Gestalt Test, umumnya disebut Tes Bender Gestalt, yang dikembangakan oleh Leuretta Bender (1938). Tes ini terdiri dari 9 kartu, merupakan tes meniru gambar (meng-copy) yang pertama kali. 9 kartu  tersebut awalnya diadaptasi dari figura Wertheimer (1923) yang digunakan dalam perceptual experiments. 
Bender  pada tahun 1928 telah mengumumkan pendapatnya bahwa “ Visual Motor Gestalt Test and its Clinical Use” namun baru 20 tahun kemudian banyak ahli yang mengadakan tinjauan praktis untuk penggunaan dalam bidang klinis.
Tes Bender gestalt terdiri dari 9 kartu yang berisi rancangan atau gambar yang  sederhana. Semua kartu ukurannya sama yaitu 4 X 6 inchi dan  tes ini diberikan pada testee secara bertutur-turut untuk ditiru (di-copy) dengan kerta kosong.
Perkembangan Tes Bender Gestalt pertama (Tes Bender Gestalt I) setelah dilakukan penelitian selama 60 tahun menghasilkan tes Bender Gestalt II yang lebih modern dalam konstruksi tesnya, dan merupakan standar terbaru dalam psikologi dan pendidikan. Tes Bender Gestal II memanfaatkan 9 desain gambar Bender Gestalt I untuk meningkatkan penilaian dalam psikologi, pendidikan dan neuropsikologi dan ditambah 7 desain baru sehingga  desain gambar / item menjadi 16 . Tes Bender Gestalt II dapat digunakan pada anak-anak (usia 4 – 7 tahun) dan orang dewasa ( usia, 8 - 85 tahun).
Tes Bender Gestalt ini sebagai salah satu dari 10 tes yang popular menafsirkan gangguan mental organik pada golongan usia anak sekolah sampai dengan dewasa. Tes ini merupakan tes dengan prosedur yang sederhana, singkat dan tidak memakan waktu yang lama (10’ – 15’) yang mengharapkan klien dapat membuat copy dari 9 gambar yang sudah dipilih oleh Bender L (1938).
Koppitz membuat suatu Manual Sistem Skoring Developmental Age pada anak-anak, lengkap dengan contoh-contoh kasus (Koppitz, 1975). Tes Bender Gestalt memiliki fungsi utama yaitu dapat mendeteksi koordinasi visual-motorik dan mengenyampingkan adanya brain damage (Anastasi, 1998; Sattler, 1988, dalam Partosuwido dan Hasanat, 1999).  Sattler (1988, dalam Partosuwido dan Hasanat, 1999) juga mengatakan bahwa Tes Bender Gestalt dapat digunakan untuk tes proyeksi dan tes memori. Tes Bender Gestalt juga dapat dipakai sebagai tes perkembangan untuk anak usia 4 tahun sampai dengan 10 tahun, digunakan untuk diagnosis klinis pada anak-anak usia diatas 10 tahun dan dewasa (Ekowarni, dalam Sugiyanto, dkk. 1984, dalam Partosuwido dan Hasanat, 1999). Beberapa tokoh ada yang mengatakan Tes Bender Gestalt sebagai Tes Visual-Persepsi, akan tetapi ada juga tokoh lain yang menganggap sebagai Tes koordinasi Motorik, sedangkan Koppitz (1975) mengatakan bahwa Tes Bender Gestalt sebagai Tes Integrasi Visual-Motor.

Referensi
Marnat,G,G (1999), Clinical Asessment

CONTOH WAWANCARA NON-DIREKTIF

Seperti sudah di jelaskan sebelumnya bahwa Wawancara Non-Directif Counseling atau Client centered atau relationship centered berasal dari Carl Rogers. Dalam model ini konselor dituntut menguasai teknik wawancara untuk menggali permasalahan serta mengatasinya dengan 10 jenis ucapan di mulai dengan ucapan:
  1. Formal/tegur sapa (F),
  2. Ucapan sebagai upaya membina hubungan baik (raport) (I),
  3. Menanyakan masalahnya (E-ex),
  4. Mendalamimasalahnya (E-in),
  5. Merefleksikan/ordering isipermasalahan (O => O =echo respons; contensrespons dan feeling respons);
Ada tiga ucapan yang tidak disaran kanya itu
  • Asumsi (A),
  • Evaluasi (Ev) dan
  • Advice (Adv)
Serta ada ucapan
  • Sisipan untuk mendorong kelancaran produksi verbal (S) dan
  • Meneteramkan (M) untuk mengakhiri / menutup pertemuan.
Keberhasilan Wawancara Non-directive, dapat di ketahui dengan rumus:
Apabila hasilnya lebih dari >60%, proses wawancara tersebut diaanggap berhasil.
Berikut contoh, Wawancara Non-Directive (Wawancara Konseling Psikologi / Psikoterapi (+)) dan penilaian keberhasilannya: 

No
Yg terlibat

Verbatim Wawancara
Penilaian
1
Iter
:
Selamat pagi Bu, apa kabar !
F
Kemarin Ibu kesini, mau ketemu saya, ada yang perlu dibantu Bu ?
I, E-ex
Itee
:
.... begini, Bu....... suami saya mengatakan sekarang ini saya suka uring-uringan  terus, marah terus!

2
Iter
:
Ya, maksud Ibu ?
E-in
Itee
:
Kata suami saya barangkali saya “sarap”

3
Iter
:
Maksud Ibu ?
E-in
Itee
:
Kalau saya marah , anak-anak jadi sasaran. Mungkin benar saya sarap, seperti kata suami saya. Tetapi, siapa tahan hidup  seperti saya ini !

4
Iter
:
Bagaimana si Bu ceritanya ?
O
Itee
:
Mau pergi kemana saya, Saudara tidak punya, mau pulang jauh, kendaraan susah dan mahal, jadinya saya seperti hidup terkurung . Ketemunya orang yang sama terus. Ngomongannya itu-itu saja, bikin sebel dan bosan. A begini, B begitu, C begitu juga. Kalau saya ikut-ikutan takut salah, tak ikut dibicarakan juga, atau dikucilkan, bahkan disindir. Wah pokoknya amat susah deh situasi saya. Belum lagi ibu-ibu sukanya bersaing membeli berbagai barang . Tidak beli tetapi kepingin, mau beli tak punya uang, beli kredit mahal, jadinya sulit bagi saya !

5
Iter
:
Ibu rasanya serba salah tingkah yang Bu ! Begini salah begitu juga salah.
O
Itee
:
Ya, bigitulah ! Belum lagi kesal ! sudah siap sejak padi, sudah dan dan rapih, anak-anak gembira mau piknik, tahu-tahu suami mendadak dipanggil tugas emergency. Kalau sudah begitu mana ingat keluarga. Tugas nomor satu. Hal seperti itu sering terjadi sehingga anak-anak kecewa,  marah dan ada yang menangis!

6
Iter
:
Ibu sering kesal hati karena dinomor duakan oleh suami Ibu?
O
Itee
:
Ya, belum lagi anak-anak rewel. Mereka tak peduli ayahnya. Tugas  mendadak, pada hal rencana piknik sudah lama ! Saya kesal,  tambah jengkel, mereka terus menangis, saya pukul eh ... malah tambah keras nangisnya.

7
Iter
:
Ibu dapat merasakan kekecewaan anak-anak Ibu dan Ibu sendiri juga jengkel ya Bu?
O
Itee
:
Iya, jengkel bukan kepada anak-anak saja sebetulnya. Tetapi kalau mereka rewel terus saya semakin jengkel, apalagi kalau  sedang  pingin marah. Barangkali mereka marah biasa, tetapi              saya yang menghadapi tiap hari jadinya jengkel terus.... ingin  marah terus... !

8
Iter
:
Ya, Ibu tahu bahwa kekesalan Ibu seringakali melebihi yang seharusnya ya Bu?
O
Itee
:
Iya, rasanya kesal terus! Saya sebenarnya kasihan sama anak-anak dan sama suami, ia kerja keras, orangnya baik dan rajin.

9
Iter
:
Ibu tahu bahwa suami Ibu seorang yang bertanggung jawab keluarga dan pekerjaan, namun Ibu tak dapat menahan kekesalan  hati Ibu, begitu ya Bu?
O
Itee
:
Iya, dong... ! kerjanya itu-itu terus, masak, nyapu, nyuci, setrika. Ketemunya orang-orang itu... saja, Tak pernah pergi-pergi, ah ... susah tak ada yang mengantar, takut.... !

10
Iter
:
Rasanya Ibu bosan, jenuh, kesal tetapi pekerjaan tak bisa dihindari dan ditinggal?
O
Itee
:
Iya , bisa-bisa saya kewalahan kalau ditunda. Saya kurang tertarik  dengan kegiatan Ibu-ibu di sini, suka ngomongin orang. Saya pilih yang berguna misalnya les jahit, dan nunggu anak anak-anak kan bisa diatur!

11
Iter
:
Hem.... Ibu ternyata ingin memanfaatkan waktu untuk les jahit yang  berguna, sambil bergiliran jaga anak-anak, ya, Bu …
S, O
Itee
:
Iya, kalau itu dapat saya lakukan supaya hati saya senang, tidak marah-marah terus seperti saat ini.

12
Iter
:
Semoga Ibu dapat melaksanakan apa yang Ibu kehendaki, sehingga Ibu dan keluarga Ibu menjadi tenteram dan bahagia!
M
Itee
:
Iya Bu..! saya akan coba, mudah-mudahan berhasil, minta Doanya, Ya  Ibu!

13
Iter
:
Ya, begitu bu... ! Sekarang Ibu pulang, hati-hati dan baik-baik dengan anak-anak. Sekian dulu.
S, M

Itee
:
Terima Kasih.... Bu…

TOTAL
N = 17
F = 1, I = 1, E-ex = 1, E-in = 2, O = 8, S = 2, M = 2
Sesuai dengan rumus tingkat keberhasilan wawancara non-direktif, maka hasilnya adalah sebagai berikut:
Hasil 71% (wawancara ini berhasil)

WAWANCARA NON-DIREKTIF

Wawancara Non-direktif dikembangkan oleh Carl Rogers, yang merupakan teknik dalam psikologi Humanis-Eksistensial, yang menganggap manusia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, sehingga seorang terapis tidak dibenarkan memberikan tindakan-tindakan yang dapat mengubah eksistensi klien. Semua tindakan klien berdasarkan pada tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
Menurut Rogers Manusia memiliki motor penggerak yang tak diragukan fungsinya, karena memiliki ciri-ciri:
  • Terbuka untuk belajar dari pengalamannya
  • Hidup berdasarkan realitas
  • Penuh percaya diri.
Dalam pelaksanaan wawancara klinis untuk asesmen,  psikoterapi/konseling yang penting melakukan pendekatan terhadap klien, sehingga seorang terapis/konselor dituntut untuk menguasai interviw, karena dengan interview yang terpola terapis/ konselor akan mampu mengungkap ekspresi emosi seorang klien.
Untuk melaksanakan terapi/konseling teknik untuk mengungkapkan ekspresi emosi melalui proses interviw sangat penting artinya, sehingga Rogers dan penganutnya memberikan tuntunan wawancara terapi/konseling dengan memberi patokan ucapan terapis/konselor dalam proses seperti dibawah ini.
  1. Ucapan formal (F) yaitu ucapan tegur sapa (greeting) dilakukan pada awal dan akhir pertemuan.
  2. Ucapan informasi (I) yaitu menginformasikan sesuatu yang dianggap belum jelas oleh klien atau merupakan jawaban dari pertanyaan klien. Dimulai dg perkenalan diri sampai terbentuk hubungan yang baik (Rapport)
  3. Ucapan eksplorasi terhadap masalah (E –ex) dilakukan pada awal setelah raport sudah nampak.
  4. Ucapan eksplorasi mendalami masalah (E–in) dilakukan setelah E-ex, yaitu setelah klien mengemukakan  maslahnya/keluhan
  5. Ucapan ordering (O) / refleksi  yakni ucapan sebagai kesimpulan kata-kata klien yang direfleksikan dalam bentuk: Echo – respons (Ulangan kata-kata klien), Content respons (isi kata-kata klien), Feeling respons (kesimpulan dari kata-kata klien yang direfleksikan oleh konselor diikuti arus emosi yang sesuai dengan emosi klien /empati)
  6. Ucapan asumsi (A) sebaiknya tidak dilakukan, karena orang tak suka
  7. Ucapan evaluasi (Ev) tidak perlu diucapkan, karena orang tak suka dinilai
  8. Ucapan advice (Ad) atau nasehat tidak perlu diucapkan, karena orang tak suka
  9. Ucapan sisipan (S) perlu diucapkan karena mendorong produktivitas verbal.
  10. Ucapan menenteramkan (M) perlu diucapkan pada akhir pertemuan, agar klien tetap memiliki rasa aman sesudah keluar dari kamar konseling.
Untuk mencek apakah proses asesmen,  terapi/konseling berjalan dengan baik, atau  berhasil atau tidak, dapat dirumuskan dengan:
Bila lebih dari 60% berarti berhasil, jika kurang berarti  kurang baik/tak berhasil.
Jadi untuk menjalankan model terapi/konseling non-directive konselor dituntut menguasai teknik interviw untuk menjaga hubungan interpersonal tetap baik, dari awal pertemuan sampai akhir pertemuan. 

Berikut contoh Wawancara Non-Direktif.

 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai