Latest Post

Dampak Negatif Insomnia

Ada beberapa dampak negatif insomnia. Berikut 10 hal mengejutkan yang terjadi akibat kurang tidur, Dampak Negatif Akibat Kurang Tidur yang harus diketahui:
Kecelakaan 
Kurang tidur adalah salah satu faktor bencana terbesar, harus disadari kurang tidur juga berdampak pada keselamatan saat mengemudi di jalan. Karena kelelahan merupakan penyebab kecelakaan mobil, yang setara dengan mabuk saat menyetir.
Kurang tidur atau memiliki kualitas tidur yang rendah juga dapat menyebabkan kecelakaan dan cedera saat bekerja. Dalam sebuah penelitian, pekerja yang mengeluh mengantuk berlebihan pada siang hari rentan terluka saat bekerja dan secara terus-menerus mengalami kecelakaan yang sama saat bekerja.
Konsentrasi menurun 
Tidur yang baik memainkan peran penting dalam berpikir dan belajar. Kurang tidur dapat memengaruhi banyak hal, Pertama : Mengganggu kewaspadaan, konsentrasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Hal ini membuat belajar menjadi sulit dan tidak efisien. Kedua : Siklus tidur pada malam hari berperan dalam “menguatkan” memori dalam pikiran. Jika tidak cukup tidur, maka kamu tidak akan mampu mengingat apa yang kamu pelajari dan alami selama seharian.
Masalah kesehatan serius
Gangguan tidur dan kurang tidur tahap kronis dapat membawa pada risiko : Penyakit jantung, Serangan jantung, Gagal jantung, Detak jantung tidak teratur, Tekanan darah tinggi, Stroke, dan Diabetes  Menurut beberapa penelitian, 90 persen penderita insomnia “gangguan tiduryang ditandai dengan sulit tidur dan tetap terjaga sepanjang malam” juga mengalami risiko kesehatan serupa.
Gairah seks menurun 
Para ahli melaporkan, kurang tidur pada pria dan wanita menurunkan tingkat libido dan dorongan melakukan hubungan seksual. Hal ini dikarenakan energi terkuras, mengantuk, dan tensi yang meningkat.  Bagi pria yang mengidap sleep apnea (masalah pernapasan yang mengganggu saat tidur) kurang tidur menyebabkan gairah seksual melempem. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 2002 menunjukkan, hampir semua orang yang menderita sleep apnea memiliki kadar testosteron yang rendah. Hampir setengah dari orang yang menderita sleep apnea parah memiliki tingkat testosteron yang rendah pada malam hari.
Menyebabkan depresi
 Dalam studi tahun 1997, peneliti dari Universitas Pensylvania melaporkan bahwa orang-orang yang tidur kurang dari 5 jam per hari selama tujuh hari menyebabkan stres, marah, sedih, dan kelelahan mental. Selain itu, kurang tidur dan gangguan tidur menjadi salah satu penyebab gejala depresi.  Insomnia dan tidak nafsu makan akibat depresi saling berhubungan.
Kurang tidur memperparah gejala depresi dan depresi membuat lebih sulit tidur. Sisi positifnya, pola tidur yang baik dapat membantu mengobati depresi.
Memengaruhi kesehatan kulit 
Kebanyakan orang mengalami kulit pucat dan mata bengkak setelah beberapa malam kurang tidur. Keadaan tersebut benar karena kurang tidur yang kronis dapat mengakibatkan kulit kusam, garis-garis halus pada wajah, dan lingkaran hitam di bawah mata.  Bila tidak mendapatkan cukup tidur, tubuh akan melepaskan lebih banyak hormon stres atau kortisol. Dalam jumlah yang berlebihan, kortisol dapat memecah kolagen kulit atau protein yang membuat kulit tetap halus dan elastis.
Kurang tidur juga dapat menyebabkan tubuh lebih sedikit mengeluarkan hormon pertumbuhan. Ketika kita masih muda, hormon pertumbuhan manusia mendorong pertumbuhan. Dalam hal ini, hormon tersebut membantu meningkatkan massa otot, menebalkan kulit, dan memperkuat tulang.
Pelupa 
Pada tahun 2009, peneliti dari Amerika dan Perancis menemukan bahwa peristiwa otak yang disebut sharp wave ripples bertanggung jawab menguatkan memori pada otak. Peristiwa ini juga mentransfer informasi dari hipokampus ke neokorteks di otak, tempat kenangan jangka panjang disimpan. Sharp wave ripples kebanyakan terjadi pada saat tidur.
Tubuh jadi “melar”
Kalo kamu mengabaikan efek kurang tidur, maka bersiaplah dengan ancaman kelebihan berat badan. Kurang tidur berhubungan dengan peningkatan rasa lapar dan nafsu makan, dan kemungkinan bisa menjadi obesitas.  Hubungan antara tidur dan peptida yang mengatur nafsu makan. Ghrelin merangsang rasa lapar dan leptin memberi sinyal kenyang ke otak dan merangsang nafsu makan. Waktu tidur singkat dikaitkan dengan penurunan leptin dan peningkatan dalam ghrelin.
 Kurang tidur tak hanya merangsang nafsu makan. Hal ini juga merangsang hasrat menyantap makanan berlemak dan makanan tinggi karbohidrat. Riset yang tengah berlangsung dilakukan untuk meneliti apakah tidur yang layak harus menjadi bagian standar dari program penurunan berat badan.
Meningkatkan risiko kematian
 Dalam penelitian Whitehall ke-2, peneliti Inggris menemukan bagaimana pola tidur memengaruhi angka kematian lebih dari 10.000 pegawai sipil Inggris selama dua dekade. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2007, mereka yang telah tidur kurang dari 5-7 jam sehari mengalami kenaikan risiko kematian akibat berbagai faktor. Bahkan kurang tidur meningkatkan dua kali lipat risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Merusak penilaian terutama tentang tidur 
Kurang tidur dapat memengaruhi penafsiran tentang peristiwa. Keadaan tubuh yang lemas membuat kita tidak bisa menilai situasi secara akurat dan bijaksana. Bagi yang kurang tidur sangat rentan terhadap penilaian buruk ketika sampai pada saat menilai apa yang kurang terhadap sesuatu (Endang Lanywati, 2001)

Fungsi Perilaku Coping

Ada beberapa fungsi perilaku coping. Bentuk-bentuk coping yang dipilih individu sebenarnya mempunyai fungsi. Menurut Folkman dan Lazarus (Tamam, 2002) strategi coping yang berpusat pada emosi (emotional focused coping) berfungsi untuk meregulasi respon emosional terhadap masalah. Strategi coping ini sebagian besar terdiri dari proses-proses kognitif yang ditujukan pada pengukuran tekanan emosional dan strategi yang termasuk di dalamnya adalah:
  1. Penghindaran, peminiman atau pembuatan jarak 
  2. Perhatian yang selektif 
  3. Memberikan penilain yang positif pada kejadian yang negatif
Sedangkan strategi coping yang berpusat pada masalah (problem focused coping) berfungsi untuk mengatur dan merubah masalah penyebab stress. Strategi yang termasuk di dalamnya adalah:
  1. Mengidentifikasikan masalah 
  2. Mengumpulkan alternatif pemecahan masalah 
  3. Mempertimbangkan nilai dan keuntungan alternatif tesebut 
  4. Memilih alternatif terbaik 
  5. Mengambil tindakan

Pendekatan Pembelajaran Matematika

Ada beberapa pendekatan pembelajaran matematika. Pendekatan adalah cara mengenal atau memahami sesuatu pengajaran ataupun kejadian serta permasalahan yang terjadi dalam pengajaran yang dapat melahirkan suatu pola atau sikap tingkah laku. Dalam kegiatan belajar mengajar  guru harus mampu memilih pendekatan pembelajaran.
Usaha - usaha yang dilakukan guru dalam mengatur dan melaksanakan kegiatan pengajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Karena itu maka pemilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan sangatlah penting agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan efektif dan efisien yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembeljaran , yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya  mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
Menurut Ruseffendi (dalam Marsini, 2006) bahwa: “Pendekatan pembelajaran matematika adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran atau materi dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pembelajaran itu, umum atau khusus dikelola”. 
Hamalik (2002) menyatakan bahwa,“Pendekatan pembelajaran merupakan suatu alat atau teknik rancangan pembelajaran yang mengarah ke proses belajar mengajar untuk memberikan kemudahan bagi siswa belajar”.  
Muhibbin Syah ( 1996) menyatakan bahwa, “Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan oleh siswa atau guru dalam menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu”. (Dalam http//id.wiibooks.org) menyatakan bahwa, “Pendekatan adalah suatu upaya penyederhanaan masalah sampai batas- batas tertentu sehingga masih dapat ditoleransi untuk memudahkan penyelesaiannya. Upaya ini digunakan dalam masalah yang diselesaikan dengan memodifikasi cara pemecahan yang telah diketahui bagi permasalahan lain”.  
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran matematika adalah suatu jalan atau teknik yang dijalankan oleh seorang guru dalam pembelajaran metamatika sehingga siswa dapat dengan mudah mengerti dan memahami konsep matematika yang dijelaskan oleh guru dengan benar.

Kesulitan Belajar Matematika

Ada berapa anak mengalami kesulitan belajar matematika dan banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang peling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari – hari.  Menurut Abdurrahman (2003) kesulitan belajar dapat disebabkan dua faktor yaitu faktor internal faktor eksternal yang meliputi fungsi otak, biokimia, deprivasi lingkungan, atau kesalahan nutrisi.
Kesulitan belajar matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculia). Istilah diskalkulia memiliki konotasi medis yang memandang adanya keterkaitan dengan gangguan sistem syaraf pusat. Menurut Lerner (1981), ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, yaitu: adanya gangguan dalam hubungan keruangan, abnormalitas persepsi visual, asosiasi visual motor, perseverasi, kesulitan mengenal dan memahami simbol, gangguan penghayatan tubuh, kesulitan dalam bahasa dan membaca, scor Performance IQ jauh lebih rendah dari pada skor verbal IQ.
Menurut soejono terdapat kesulitan khusus dalam belajar matematika seperti: 
Kesulitan dalam menggunakan konsep
Dalam hal ini dipandang bahwa siswa telah memperoleh pengajaran suatu konsep, tetapi belum menguasainya mungkin karena lupa sebagaian atau seluruhnya. Mungkin pula konsep yang dikuasainya kurang cermat.
Kesulitan dalam belajar dan menggunakan prinsip 
Jika kesulitan siswa dalam menggugunakan prinsip kita analisisa, tampaklah bahwa pada umumnya sebab kesulitan tersebut antara lain:
  1. Siswa tidak mempunyai konsep yang dapat digunakan untk mengembangkan prinsip sebagai butir pengetahuan yang perlu. 
  2. Miskin dari konsep dasar secara potensial merupakan sebab kesulitan belajar prinsip yang diajarkan dengan metode kontekstual (contoh nyata)  
  3. Siswa kurang jelas dengan prinsip yang telah diajarkan.
Kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal
Keberhasilan dalam memecahkan persoalan berbentuk verbal tegantung kemampuan pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami soal berbentuk cerita dan kemampuan mengubah soal verbal menjadi model matematika, biasanya dalam bentuk persamaan serta kesesuaian pengalaman siswa dengan situasi yang diceritakan dalam soal.  
Soejono juga meyatakan bahwa kesulitan belajar dapat ditunjukkan dengan beberapa gejala yaitu:
  1. Menunjukkan prestasi yang rendah  
  2. Hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan  
  3. Keterlambatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan. 
Berdasarkan uraian diatas kesulitan dalam belajar matematika disebabkan karena kurang memahami konsep, menggunakan konsep, menggunakan prinsip meyelesaikan masalah serta memecahkan masalah dalam bentuk verbal sehingga mengakibatkan prestasi yang rendah.

Teori-teori Birokrasi

Ada beberapa teori-teori birokrasi. Berangkat dari empat konsep struktural dari, penggagas-penggagas teori birokrasi telah banyak menciptakan teori-teori yang memberikan pencerahan dalam mencoba menjelaskan makna birokrasi itu sendiri.
Teori Hegel
Birokrasi adalah institusi yang menduduki posisi organik yang netral di dalam struktur sosial dan berfungsi sebagai penghubung antara negara yang memanifestasikan kepentingan umum, dan masyarakat sipil yang mewakili kepentingan khusus dalam masyarakat.
Hegel melihat, bahwa birokrasi merupakan jembatan yang dibuat untuk menghubungkan antara kepentingan masyarakat dan kepentingan negara yang dalam saat-saat tertentu berbeda. Oleh sebab itu peran birokrasi menjadi sangat strategis dalam rangka menyatukan persepsi dan perspektif antara negara (pemerintah) dan masyarakat sehingga tidak terjadi kekacauan. Birokrasi Hegelian menekankan birokrasi pada posisi yang netral terhadap kekuatan-kekuatan masyarakat lainnya. Hegel juga menilai bahwa birokrasi haruslah melayani kepentingan umum karena dalam kenyataannya kebijakan-kebijakan negara seringkali hanya menguntungkan sekelompok orang dalam masyarakat.
 Teori Max Weber 
Birokrasi sebagai suatu sistem organisasi formal dimunculkan pertama sekali oleh Max Weber pada tahun 1947, menurutnya birokrasi merupakan tipe ideal bagi semua organisasi formal. 
Max Weber dalam bukunya “The Theory of Social and Economic Organization” menjelaskan birokrasi dalam bentuknya yang murni selalu menampilkan karakteristik-karakteristik dari sebuah rational legal authority (otoritas legal rasional) sebagai berikut:
  1. Sebuah organisasi yang berkelanjutan fungsi resmi dengan batas-batas aturan 
  2. Spesialisasi bidang tertentu melalui kompetensi dalam pembagian kerja 
  3. Organisasi kantor yang ditetapkan dengan jelas berdasarkan prinsip hirarki 
  4. Peraturan dan kualifikasi yang memerlukan pelatihan untuk memahami dan mengelola 
  5. Sifat umum melalui kesetaraan perlakuan bagi semua klien organisasi 
  6. Pengangkatan dan promosi berdasarkan merit dan tidak bias atau mendukung 
  7. Pembayaran berdasarkan peringkat disertai dengan hak pension 
  8. Pemisahan kehidupan publik dan swasta dalam hal kepentingan dan keuangan 
  9. Sistematis disiplin ketat dan kontrol-hari kerja hari per hari 
  10. Keputusan, bertindak, dan aturan dirumuskan dan dicatat secara tertulis
Prinsip-prinsip birokrasi Weber diatas dicoba disederhanakan oleh Harmon dan Mayer sebagai berikut:
  1. Pembagian kerja, yaitu prinsip delegasi yang tetap akan wewenang dan tanggung jawab dalam organisasi 
  2. Struktur berdasarkan hirarki yang digambarkan sebagai sebuah piramida kontrol seperti di militer di mana tingkat yang lebih tinggi mengawasi pejabat tingkat pejabat rendah di dalam organisasi 
  3. Administrasi berdasarkan informasi tentang karyawan, proses, catatan, laporan, data, dan lain 
  4. Ketenagakerjaan yang mensyaratkan pelatihan ahli dimana semua karyawan dipekerjakan oleh organisasi harus menunjukkan kualifikasi mereka untuk pekerjaan melalui pendidikan, pelatihan, atau pengalaman mereka 
  5. Karyawan karir pekerja waktu-penuh dengan tujuan mendorong organisasi agar dapat meningkatkan kontrol atas karyawan 
  6. Operasi organisasi didasarkan pada aturan-aturan kaku dan impersonal perilaku - ini biasanya diartikan bahwa birokrasi adalah manusiawi.
Cita-cita utama dari sistem birokrasi adalah mencapai efisiensi kerja yang seoptimal mungkin. Menurut Weber organisasi birokrasi dapat digunakan sebagai pendekatan efektif untuk mengontrol pekerjaan manusia sehingga sampai pada sasarannya, karena organisasi birokrasi punya struktur yang jelas tentang kekuasaan dan orang yang punya kekuasaan mempunyai pengaruh sehingga dapat memberi perintah untuk mendistribusikan tugas kepada orang lain. Organissasi mengoperasikan prinsip-prinsip dasar hirarki kantor dimana ada garis-garis yang jelas dari atasan dan bawahan.
Weber menjadikan birokrasi atau aparat administrasi sebagai unsur terpenting bagi perkembangan organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian fokus Weber adalah pada struktur normatif dan mekanis untuk mempertahankan struktur tadi. Hal ini merupakan unsur formal yang menjadi ciri khas dari ideal type of bureaucracy Weber.
Teori Karl Marx
Teori Karl Marx tentang birokrasi berasal dari teori mengenai historical materialisme, asal  muasal birokrasi dapat ditemukan dalam empat sumber: agama, pembentukan negara,  perdagangan, dan teknologi.  Kemudian, bentuk birokrasi paling awal terdiri dari tingkatan kasta rohaniawan/tokoh agama, pegawai pemerintah dan pekerja yang mengoperasikan aneka ritual, dan tentara yang ditugaskan untuk mentaati perintah. Di dalam transisi sejarah dari komunitas egaliter primitif ke dalam civil society terbagi kelas-kelas sosial dan wilayah,  muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu, dimana kewenangan terpustat, dan dipaksakan oleh pegawai pemerintah yang keberadaannya terpisah dari masyarakat. Negara memformulasikan, memaksakan dan mengegakkan peraturan, dan memungut pajak, memberikan kenaikan kepada sekelompok pegawai yang bertindak untuk menyelenggarakan fungsi tersebut. Kemudian, negara melakukan mediasi bila terjadi konflik di antara masyarakat dan menjaga konflik agar masih dalam batas kewajaran; negara juga mengatur pertahanan wilayah.  Terutama, hak umum perorangan untuk membawa dan menggunakan senjata untuk mempertahankan diri sedikit demi sedikit dibatasi; memaksakan orang lain untuk berbuat sesuatu menjadi hak legal negara dan aparat pemerintah untuk melakukannya.
Dengan demikian birokrasi menurut Marx adalah organisasi yang bersifat parasitik dan eksploitatif. Birokrasi merupakan instrumen bagi kelas yang berkuasa untuk mengekploitasi kelas sosial yang lain (yang dikuasai). Birokrasi berfungsi untuk mempertahankan privilege dan status quo bagi kepentingan kelas kapitalis. Dalam pandangan Marx yang berbeda dengan Hegel, birokrasi merupakan sistem yang diciptakan oleh kalangan atas (the have) untuk memperdayai kalangan bawah (the have not) demi mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Dalam hal ini birokrasi menjadi kambing hitam bagi kesalahan penguasa terhadap rakyatnya. Segenap kesalahan penguasa akhirnya tertumpu pada birokrasi yang sebenarnya hanya menjadi alat saja.
Teori Robert Michels
Robert Michels mengatakan birokrasi adalah struktur yang mesti mengambil bentuk oligarkhi (the iron law of oligarchi, teori hukum besi oligarkhi Robert Michels).Seorang pegawai pemerintah harus menggunakan penilaian dan keterampilannya, akan tetapi tugasnya adalah menempatkan kedua hal tersebut pada kewenangan yang lebih tinggi; akhirnya ia hanya bertanggungjawab untuk menjalankan sebagian tugas yang telah diberikan dan harus mengorbankan penilaiannya apabila bertentangan dengan tugas pekerjaannya.
 Teori Ferrel Heady
Ferrel Heady menjelaskan birokrasi sebagai struktur tertentu yang memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik struktural Birokrasi tadi meliputi hierarkhi, diferensiasi- spesialisasi dan kualifikasi-kompetensi.
Hierarkhi sebagai elemen yang menerapkan rasionalitas ke dalam tugas-tugas administrasi yang berupa penjabaran struktur jabatan yang mengakibatkan perbedaan tugas dan wewenang antar anggota organisasi. Struktur jabatan tadi menggambarkan tingkatan-tingkatan berjenjang dari superordinasi dan subordinasi dimana jenjang yang lebih tinggi mengawasi jenjang yang lebih rendah.
Diferensisasi adalah perbedaan tugas dan wewenang antar anggota organisasi birokrasi dalam mencapai tujuan. Diferensiasi dalam sosiologi adalah apa yang dimaksud dengan peran.  Spesialisasi adalah hasil dari pembagian kerja. Keduanya diperlukan untuk kerjasama untuk mencapai tujuan yang kompleks dalam organisasi.
Kompetensi maupun kualifikasi bukan berarti profesionalisme. Kompetensi berarti seseorang cocok untuk pekerjaan tersebut. Sedangkan kualifikasi adalah tingkatan dalam hal pelatihan dan pendidikan

Pentingnya Kepuasan Kerja

Pentingnya kepuasan kerja karyawan terhadap pekerjaannya sangat mempengaruhi output pekerjaannya. Kepuasan kerja menjadi masalah yang cukup menarik dan penting karena terbukti besar manfaatnya baik bagi kepentingan individu, perusahaan atau organisasi. Bagi individu, penelitian tentang sebab-sebab dan sumber-sumber kepuasan kerja memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagian taraf hidup. Sedangkan bagi perusahaan atau organisasi, penelitian mengenai kepuasan kerja dilakukan dalam rangka usaha peningkatan produksi dan pengurangan biaya melalui perbaikan sikap dan tingkah laku karayawannya (Moh As’ad, 1995).
Menurut Strauss dan Sayles yang dikutip oleh Nitra Wanatika (2009), menyatakan bahwa kepuasan kerja penting karena:
  1. Mereka yang tidak memperoleh kepuasan kerja dalam bekerja tidak akan mencapai kematangan psikologis. 
  2. Orang melakukan aktualisasi diri. 
  3. Mereka yang gagal mencapai kepuasan kerja dalam pekerjaan menjadi frustasi. 
  4. Mereka yang menganggur tidak bahagia, orang ingin bekerja bekerja walaupun tidak perlu.
  5. Pekerjaan memegang peranan utama di kehidupan manusia.
  6. Kurangnya tantangan dalam pekerjaan yang mengakibatkan kesehatan mental rendah.
  7. Kurangnya kepuasan kerja dalam pekerjaan dan kekompakan kerja yang menyebabkan semangat kerja menurun.
  8. Pola kerja dan waktu luang saling mempengaruhi mereka yang pekerjaannya kurang kreatif. 
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja dalam hal apapun sangat penting. Kecenderungan untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam perusahaan tidak akan dapat tercapai tanpa adanya kepuasan kerja karyawan. Selain itu karyawan yang tidak mencapai tingkat kepuasan kerja tidak akan mencapai kematangan psikolois dalam dirinya. Mereka cenderung bermalas- malasan dalam bekerja. Kalau karyawan sudah bersikap demikian maka sulit bagi suatu perusahaan untuk mancapai tujuannya.

Standar Kinerja Pegawai

Standar kinerja pegawai dalam setiap manajemen sangat beragam. Menurut A. Dale Timpe (1999), menyatakan bahwa standar kerja merupakan: Standar kerja dianggap memuaskan bila pernyataannya menunjukkan beberapa bidang pokok tanggung jawab karyawan, memuat bagaimana suatu kegiatan kerja akan dilakukan, dan mengarahkan perhatian kepada mekanisme kuantitif bagaimana hasil-hasil kinerja diukur. 
Pengertian standar kinerja pegawai menurut Wirawan (2009) “adalah target, sasaran, tujuan upaya kerja karyawan dalam kurun waktu tertentu. Dalam melaksanakan pekerjaannya, karyawan harus mengarahkan semua tenaga, pikiran, ketrampilan, pengetahuan, dan waktu kerjanya untuk mencapai apa yang ditentukan oleh standar kinerja”. 
Menurut Randall S. Schular & Susan E. Jackson (1999) “Ada tiga jenis dasar kriteria kinerja”, yaitu:
  1. Kriteria berdasarkan sifat (memusatkan diri pada karakteristik pribadi seorang karyawan). 
  2. Kriteria berdasarkan perilaku (kriteria yang penting bagi pekerjaan yang membutuhkan hubungan antar personal). 
  3. Kriteria berdasarkan hasil (kriteria yang fokus pada apa yang telah dicapai atau dihasilkan).
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003) “Untuk mencapai tujuan kinerja karyawan maka dapat dinilai dari tiga hal, meliputi: penilaian harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan, adanya standar pelaksanaan kerja, praktis (mudah dipahami atau dimengerti karyawan atau penilai)”.   
Menurut Suyadi Prawirosentono (2008), kinerja dapat dinilai atau diukur dengan beberapa indikator yaitu:
  1. Efektifitas. Efektifitas yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan kebutuhan yang direncanakan. 
  2. Tanggung jawab Merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat kepemilikan wewenang. 
  3. Disiplin Yaitu taat pada hukum dan aturan yang belaku. Disiplin karyawan adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan perusahaan dimana dia bekerja. 
  4. Inisiatif  Berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan. 
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa banyak kriteria kinerja, maka peneliti menggunakan kriteria kinerja menurut Suyadi Prawirosentono yang meliputi: efektifitas, tanggung jawab, disiplin dan inisiatif. Berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tentunya membutuhkan kriteria yang jelas, karena masing-masing pekerjaan tentunya mempunyai standar yang berbeda- beda tentang pencapaian hasilnya.
Seperti telah dijelaskan bahwa yang memegang peranan penting dalam suatu organisasi tergantung pada kinerja pegawainya. Agar pegawai dapat bekerja sesuai yang diharapkan, maka dalam diri seorang pegawai harus ditumbuhkan motivasi bekerja untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan. Apabila semangat kerja menjadi tinggi maka semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya akan lebih cepat dan tepat selesai. Pekerjaan yang dengan cepat dan tepat selesai adalah merupakan suatu prestasi kerja yang baik.

Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai

Ada pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai. Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam organisasi dan menjadi faktor penentu bagi keberhasilan organisasi. Akan tetapi berbagai studi menujukkan kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan juga berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Berdasarkan deskripsi teori-teori yang ada dapat disimpulkan bahwa  kepemimpinan merupakan suatu cara yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi sekelompok orang atau bawahan untuk bekerja sama dan berdaya upaya dengan penuh semangat dan keyakinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dapat dikatakan bahwa kepemimpinanlah yang memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan organisasi dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama terlihat dalam kinerja para pegawainya (Siagian, 2003). Yang dapat dilihat dari bagaimana seorang pemimpin dapat mempengaruhi bawahannya untuk bekerjasama menghasilkan pekerjaan yang efektif dan efisien. 
Gaya kepemimpinan yang tepat diperlukan untuk mempengaruhi pegawai agar berperan aktif adalah mereka (pemimpin) yang dapat menjalankan tugasnya. pegawai atau bawahan akan merasa diperhatikan jika pemimpin mereka peka terhadap kebutuhan dan keinginan mereka. Kinerja mereka akan positif jika pemimpin mampu menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan pegawai. Selain itu, pemimpin harus mendorong (memotivasi) dan membina setiap staf untuk berkembang secara optimal. Dengan demikian, seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai penggerak dari keberhasilan kerja organisasi atau perusahaan.
Sedangkan Kinerja pegawai adalah hasil pekerjaan atau kegiatan seorang pegawai secara kuantitas dan kualitas untuk mencapai tujuan organisasi yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya dimana tugas pegawai adalah bersifat pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen.
Sebuah penelitian melakukan Analisis Continguency menunjukkan bahwa kinerja pegawai ditentukan oleh gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan Laizzer Faire yang diterapkan berdampak terhadap aspek finansial, kepuasan mitra kerja, mekanisme kerja, kepuasan pegawai dan penggunaan waktu. Umumnya mereka mampu menyelesaikan pekerjaannya bila diberikan kebebasan dalam pemanfaatan waktu kerjanya. Ketentuan ini tentu saja tidak melanggar etika pegawai dengan ketetapan waktu kerja. Kinerja pegawai yang paling buruk terdapat pada gaya kepemimpinan otoriter oleh atasannya. Pada umumnya pegawai di bawah gaya kepemimpinan tersebut kurang kreatif dan cenderung selalu di bawah tekanan kerja, dengan demikian prestasi kerjanya semakin lama semakin buruk.

Teknik Kepemimpinan

Ada beberapa terknik kepemimpinan. Menurut Wursanto (2002) dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Organisasi menjelaskan tentang teknik kepemimpinan yaitu membicarakan bagaimana seorang pemimpin, menjalankan fungsi kepemimpinanya yang terdiri dari:
Teknik Kepengikutan
Merupakan teknik untuk membuat orang-orang suka mengikuti apa yang menjadi kehendak si pemimpin. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mau menjadi pengikut yaitu:
  • Kepengikutan karena peraturan/ hukum yang berlaku  
  • Kepengikutan karena agama 
  • Kepengikutan karena tradisi atau naluri 
  • Kepengikutan karena rasio
Teknik Human Relations
Merupakan hubungan kemanusiaan yang bertujuan untuk mendapatkan kepuasan psikologis maupun kepuasan jasmaniah. Teknik human relations dapat dilakukan dengan memberikan berbagai macam kebutuhan kepada para bawahan, baik kepuasan psikologis ataupun jasmaniah.
Teknik Memberi Teladan, Semangat, dan Dorongan
Dengan teknik ini pemimpin menempatkan diri sebagai pemberi teladan, pemberi semangat, dan pemberi dorongan. Dengan cara demikian diharapkan dapat memberikan pengertian dan kesadaran kepada para bawahan sehingga mereka mau dan suka mengikuti apa yang menjadi kehendak pemimpin.

Fungsi-Fungsi Kepemimpinan

Ada beberapa fungsi-fungsi kepemimpinan. Fungsi kepemimpinan berhubungan dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/ organisasi dimana fungsi kepemimpinan harus diwujudkan dalam interaksi antar individu. Menurut Rivai (2005) secara operasional fungsi pokok kepemimpinan dapat dibedakan sebagai berikut:
Fungsi Instruktif
Fungsi kepemimpinan ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
Fungsi Konsultatif
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feedback) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
Fungsi Partisipasi
Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
Fungsi Delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/ efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.