Home » » Bayi Pematur

Bayi Pematur

Menurut definisi WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan minggu ke 37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). Bayi prematur ataupun bayi preterm adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan, sebagian besar bayi prematur lahir dengan berat badan kurang 2500 gram (Surasmi, Handayani & Kusuma, 2003).
Etiologi Bayi Prematur
Faktor predisposisi terjadinya kelahiran prematur diantaranya:
  1. Faktor ibu, riwayat kelahiran prematur sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidromion, penyakit jantung / penyakit kronik lainnya, hipertensi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak dua kehamilan yang terlalu dekat, infeksi, trauma, kebiasaan, yaitu pekerjaan yang melelahkan, merokok
  2. Faktor janin, cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramion, ketuban pecah dini
  3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah (Prawirohardjo, 2006).
Resiko persalinan prematur pada ibu dengan riwayat KPD (Ketuban Pecah Dini) saat kehamilan , 37 minggu (PPROM, preterm premature rupture of membrane) adalah 34-44%, sedangkan resiko untuk mengalami PPROM kembali sekitar 16-32% (Krisnadi, 2009, hlm. 53).
Masalah pada Bayi Prematur
Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan seperti:
  1. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak di bawah kulit, permukaan tubuh yang lelatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya
  2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada bayi prematur. Hal ini disebabkan oleh kekurangan surfatan ( rasio lesitin/ sfingomielin kurang dari dua, pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung (pliable thorax). Penyakit gangguan pernafasan yang sering diderita bayi prematur adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumonia. Di samping itu sering timbul pernafasan periodik (pheriodic breathimh) dan apnea yang disebabkan oleh pusat pernafasan di medulla belum matur
  3. Gangguan alat pencernaan dan masalah nutrisi : distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, laktosa, vitamin yang larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja dari sfingter kardio-esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi aspirasi
  4. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbillirubinemia dan defisiensi vitamin K
  5. Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudahnya terjadi edema dan asidosis metabolic
  6. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh, kekurangan faktor pembekuan seperti protrombin, dan faktor Chrismas
  7. Gangguan imunologik, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma glubolin, bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik
  8. Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita apnea, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Akibatnya bayi menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke otak akan lebih banyak lagi karena tidak adanya otoregulas, sereblar pada bayi prematur, sehingga mudah terjadi perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nukleus dan ependim. Luasnya perdarahan intraventrikuler ini dapat didiagnosis dengan ultrasonografi atau CT scan (Prawirohardjo, 2006).
Tanda-Tanda Bayi Prematur
Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu, berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cn, kuku panjangnya belum melewati ujung jari, batas dahi dan rambut kepala tidak jelas, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm, rambut lanugo masih banyak, jaringan lemak subkutan tipis atau kurang, tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga, tumit mengilap, telapak kaki halus, alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugue pada skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia mayora, tonus otos lemah, sehingga bayi kurang aktif dan batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisnya lemah, jaringan kelenjer mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang, verniks kaseosa tidak ada atau sedikit (Surasmi, Handayani & Kusuma, 2003).
Perawatan Bayi Prematur di Rumah Sakit
Yang pasti, bayi yang lahir prematur memerlukan perawatan yang lebih intensif. Karena dia masih membutuhkan lingkungan yang tidak jauh berbeda dari lingkungannya selama dalam kandungan.
Oleh karena itu, di rumah sakit bayi prematur akan mendapatkan perawatan sebagai berikut:
  1. Dimasukkan dalam incubator --- Inkubator berfungsi menjaga suhu bayi supaya tetap stabil. Akibat sistem pengaturan suhu dalam tubuh bayi prematur belum sempurna, maka suhunya bisa naik atau turun secara drastis. Ini tentu bisa mambahayakan kondisi kesehatannya. Selain itu, otot-ototnya pun relatif lebih lemah. Sementara cadangan lemaknya juga lebih sedikit dibanding bayi yang lahir cukup bulan.
  2. Pencegahan infeksi --- Mudahnya bayi prematur terinfeksi menjadikan ini salah satu fokus perawatan di RS. Pihak RS akan terus mengontrol dan memastikan jangan sampai terjadi infeksi karena bisa berdampak fatal.
  3. Minum cukup --- Bagi bayi, susu adalah sumber nutrisi yang utama. Untuk itulah selama dirawat, pihak RS harus memastikan si bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan tubuhnya. Selama belum bisa mengisap dengan benar, minum susu dilakukan dengan menggunakan pipet. Pada bayi prematur refleks isap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang disamping itu kebutuhan protein 3-5 g/hari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari), agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur tiga jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia. Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung. Hal itu perlu untuk mengetahui ada tidaknya atresia esofagus dan mencegah muntah.
  4. Memberikan sentuhan --- Selama bayi dibaringkan dalam inkubator bukan berarti hubungan dengan ibunya harus putus. Justru, ibu sangat disarankan untuk terus memberikan sentuhan pada bayinya. Bayi prematur yang banyak mendapat sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika si bayi jarang disentuh.
  5. Membantu beradaptasi --- Bila memang tidak ada komplikasi, perawatan di RSUD. Dr. Pirngadi Medan bertujuan membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah suhunya stabil dan memungkinkan biasanya sudah dibolehkan dibawa pulang. Namun, ada juga sejumlah RS yang menggunakan patokan berat badan. Misalnya bayi baru boleh dibawa pulang kalau beratnya mencapai 2 kg, kendati sebenarnya berat badan tidak berbanding lurus dengan kondisi kesehatan bayi secara umum (Maulana, 2008).
Perawatan Lanjutan Bayi Prematur di Rumah
Untuk merawat bayi prematur memang dibutuhkan penanganan khusus, dan peran ibu sangat penting. Hal itu karena organ-organ tubuh bayi belum berkembang secara maksimal dan bayi prematur ini sangat rentan terhadap infeksi. Sehingga risiko mengalami gangguan kesehatan sangat tinggi (Hoffman, Rudolph, 2006).
Langkah-langkah perawatan lanjutan bayi prematur di rumah di antaranya adalah:
  1. Asupan gizi --- Bayi prematur membutuhkan susu berprotein tinggi. Namun dengan kuasa Tuhan, ibu-ibu hamil yang melahirkan bayi prematur dengan sendirinya akan memperoleh ASI yang proteinnya lebih tinggi dibanding dengan ibu yang melahirkan bayi yang cukup bulan. Kalaupun ibu mengalami masalah dengan ASI-nya, ada susu khusus yang diperuntukkan bagi bayi prematur. Yang harus diingat, karena kapasitas saluran cernanya masih amat terbatas, maka pemberian susu sebaiknya jangan terlalu banyak. Namun, agar kebutuhannya tercukupi, tingkatkan frekuensi pemberiannya. Jika bayi tidak dapat menyusu dengan cukup baik guna mendaptkan volume susu yang banyak ibu hendaknya memberikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian makan alternatif. Ibu dapat memberikan makan dengan cangkir, cangkir dan sendok, atau alat lain yang bersih.
  2. Jaga suhu tubuhnya --- Salah satu masalah yang dihadapi bayi prematur adalah suhu tubuh yang belum stabil. Oleh karenanya, orang tua harus mengusahakan agar lingkungan sekitarnya tidak memicu kenaikan atau penurunan suhu tubuh bayi. Langkah yang bisa ditempuh dengan menempati kamar yang tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin, sehingga dapt mempengaruhi suhu tubuhnya.
  3. Pastikan semuanya bersih --- Seperti sudah disebutkan diatas, bayi prematur lebih rentan terserang penyakit dan infeksi. Karenanya orang tua harus berhati-hati menjaga keadaan sikecil supaya tatap bersih sekaligus memanimalisasi kemungkinan terserang infeksi. Salah satu langkah penting yang disarankan adalah imbauan bagi siapa saja yang akan memegang bayi supaya mencuci tangan terlebih dahulu. Kalau ada anggota keluarga yang sakitpun sebaiknya jauh-jauh saja dari si kecil.
  4. BAK dan BAB --- BAK dan BAB bayi prematur masih terhitung wajar, kalau setelah di susui lalu dikeluarkan dalam bentuk pipis atau pup. Menjadi tidak wajar apabila tanpa diberi susu pun bayi terus BAK atau BAB. Untuk kasus seperti ini, tak ada jalan lain kecuali segera membawanya ke dokter.
  5. Berikan stimulus yang sesuai --- Setelah dipastikan 4 hal tersebut tidak ada masalah, orang tua tidak perlu khawatir untuk melakukan aktivitas rutin lainnya. Semisal mengajaknya bermain, menimang, menggendong, dan sebagainya. Untuk merangsang indra penglihatannya, tunjukkan perbedaan warna gelap dan terang, gambar-gambar dan mainan berwarna cerah, serta ekspresi wajah ayah dan ibu. Berikan stimulus yang sesuai dengan usianya (Maulana, 2009, hlm 203-204).
  6. Metode kanguru Kangaroo Mother Care (KMC) atau perawatan bayi lekat (PBL) adalah kontak kulit diantara ibu dan bayi secara dini, terus menerus dan dikombinasi dengan pemberian ASI eksklusif. Tujuannya agar bayi kecil tetap hangat. Dapat dimulai segara bayi lahir atau setelah bayi stabil. KMC dapat dilakukan di rumah sakit di rumah setelah bayi pulang. Bayi tetap bisa di rawat dengan KMC meskipun belum bisa menyusu. Berikan ASI peras menggunakan salah satu alternatif cara pemberian umum (Depkes, 2003). Metode kanguru merupakan salah satu metode perawatan bayi berat lahir rendah untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir, metode kanguru merupakan perawatan bayi baru lahir dalam keadaan telanjang, bayi hanya memakai popok dan topi, dan bayi diletakkan secara vertikal/tegak didada antara ke dua payudara ibu, di mana ibu dalam keadaan telanjang dada, kemudian diselimuti (Maryuni & Nurhayati, 2009).
  7. Pemijatan bayi --- Ternyata, dari kebanyakan penelitian melaporkan bayi prematur yang biasanya lahir dengan berat badan lahir rendah mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar dan berkembang lebih baik setelah dilakukan pemijatan secara teratur. Pemijatan bayi dengan berat badan lahir rendah bisa dilakukan setelah bayi dalam keadaan stabil, telah melampaui masa kritis dan dapat dilakukan tiga kali dalam sehari. Waktu memijat bayi yang terbaik apabila orang tua dan bayi telah siap memulai, pagi hari sebelum mandi atau sebelum makan, siang hari sebelum minum, dan sore hari sebelum minum atau sebelum tidur. Alat-alat yang perlu dipersiapkan sebelum memijat bayi yaitu, lotion atau minyak minyak yang lembut, selimut/popok/kain bedong, handuk, dan pakaian ganti bayi. langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pemijatan bayi yaitu: 1) letakkan bayi dalam posisi telungkup atau telentang; 2) lakukan pijatan dengan kekuatan tekanan sedang selama 1 menit pada bagian kepala dan muka, pundak, punggung, kaki dan tangan; 3) lakukan gerakan dari atas kepala, kebawah bagian muka, ke atas bagian kepala, dan seterusnya; 4) lakukan gerakan dari belakang leher, ke bahu, dan seterusnya; 5) lakukan gerakan dari atas punggung ke pinggang, kembali ke punggung, dan seterusnya; 6) lakukan dari paha ke bawah, kembali ke paha, kemudian ke bawah dan lakukan usapan pada kedua kaki; 7) lakukan gerakan dari pangkal lengan ke bawah, ke atas pangkal lengan, ke bawah, dan seterusnya; 8) letakkan bayi dalam posisi telentang, lakukan dan rentangkan tiap-tiap lengan dan kaki setelah dipijat (Maryuni & Nurhayati, 2009).
Hal-hal yang Harus Diwaspadai Orang Tua dengan bayi Prematur
Hari Martono menegaskan mengenai adanya beberapa hal yang tetap harus diwaspadai orang tua sehubungan dengan perawatan bayi prematur. Yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya infeksi. Adapun tanda-tanda bahaya yang harus diperhatikan adalah (a) perubahan suhu, perubahan suhu ini bisa tinggi, bisa pula rendah. Pokoknya, kalau suhunya tidak stabil, segera bawa ke dokter. Pasalnya, perubahan suhu merupakan salah satu tanda terjadinya infeksi pada bayi; (b) rintihan, bila suara tangisnya menyerupai rintihan, hampir bisa dipastikan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rintihan ini bisa menjadi “sinyal” awal terjadinya infeksi; (c) refleks isap lemah, bila refleks isapnya menjadi lemah. Orang tua bisa mendeteksi sendiri, biasanya bayi minum susunya seperti apa, sehingga perubahan sedikit saja dapat segera terdeteksi (Maulana, 2008, hlm. 204-205).
Pencegahan Persalinan Bayi Prematur
Prematuritas merupakan masalah multifaktor, tidak ada faktor pasti yang dapat menyebabkan prematuritas, sehingga pencegahan melalui satu atau beberapa faktor mungkin tidak akan berhasil memperbaiki luaran persalinan. Langkah pertama untuk mencegah persalianan prematur adalah dengan mengurangi faktor risiko yang berhubungan dengan persalinan prematur.
Pencegahan primer dilakukulan dengan mengenal kelompok ibu yang berisiko tinggi mengalami persalinan prematur, dan melakukan intervensi obstetrik untuk mengurangi faktor risiko. Pencegahan dapat dilakukan terhadap faktor karakteristik ibu, faktor lingkungan, faktor risiko, faktor plasenta, faktor maternal, faktor farmakologi dan faktor fetus.
Pencegahan sekunder adalah deteksi dini gejala persalinan prematur dan pengobatan dini ancaman persalinan prematur, sedangkan pencegahan tersier diberikan untuk memperpanjang waktu persalinan pada ibu yang sudah terdiagnosis persalinan prematur baik dengan istirahat rebah atau dengan pemberian medikasi (Krisnadi, Effendi & Pribadi, 2009).
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

9 Januari 2019 17.20

Mungkin bayi prematur berhubungan erat ya saat perkembangan dan pertumbuhan janin, semoga bayi-bayi premature bisa selalu sehatya

Posting Komentar