Penyesuain Diri Anak Terhadap Perceraian Orang Tua

Penyesuaian diri anak terhadap perceraian orang tua adalah hal yang sangat sulit. Kesulitan penyesuaian diri anak terhadap perceraian orang tua sangat tergantung pada umur/usia anak. Menurut Dagun (1990), setiap tingkatan usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi perceraian orangtua dengan memperlihatkan cara dan penyelesaian berbeda, antara lain:
Bayi
Bayi memiliki pemahaman kognitif yang masih sedikit, namun bereaksi akan hilangnya orangtua bahkan di usia yang masih dini. Bayi mengalami kemunduran dan menunjukkan masalah yang berhubungan dengan makan dan pembuangan serta mengalami gangguan pola tidur. Orangtua perlu menyediakan rutinitas yang masuk akal dan sedikit mungkin untuk merubah lingkungan atau keadaan. Minat orangtua terpisah sebaiknya mengunjungi bayinya satu atau dua kali seminggu di rumah tempat bayinya tinggal.
Anak-anak yang usianya sekitar 2-5 tahun
Anak-anak yang usianya kira-kira 2-5 tahun takut untuk ditinggalkan. Anak usia ini menggangap bahwa orangtua yang tinggal dengannya akan meninggalkan mereka dengan mudah seperti orangtua yang satunya lagi, yang baru saja meninggalkannya. Ketakutan ini dihubungkan dengan perkembangannya. Anak-anak yang orangtuanya berpisah menjadi cenggeng, ketakutan, bersikap seperti bayi dan menjadi sangat berubah. Anak-anak pra sekolah yang biasanya menikmati setiap kunjungan kakek neneknya. Beberapa informasi tentang perpisahan sangat membantu bagi anak-anak ini.
Anak awal usia sekolah (6-8 tahun)
Anak awal usia sekolah menunjukkan perasaan yang sangat kecewa akan perpisahan orangtuanya. Umumnya menampakkan kesedihan. Frekuensi kunjungan secara teratur oleh orangtua yang tinggal terpisah sangat diperlukan, begitu pula dengan adanya peraturan yang konsisten dan kehadiran di sekolah. Beberapa anak menunjukkan ketidaksetujuannya melalui gejala fisik dengan tidak mau pergi ke sekolah. Karena kesedihan itulah, banyak orangtua yang membiarkan anaknya itu tidak masuk sekolah walaupun mereka tidak terlalu sakit. Kegiatan rutin di sekolah nampaknya dapat membantu penyesuaian diri anak-anak sekolah dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka.
Anak usia sekolah yang lebih tua (9-12 tahun)
Anak usia ini nampaknya mengalami sedikit stress namun lebih menjauhkan diri. Anak-anak ini mengalami konflik akan kesetiaan dan merasa ingin tahu orangtua mana yang menjadi penyebab perceraian. Anak-anak ini dapat memahami adanya ketidakcocokan namun merasa segan untuk menerima alasan ini. Anak usia ini menunjukkan keprihatinan akan pernikahan orangtua yang berikutnya dan cenderung tidak menyukai orangtua tirinya. Anak usia ini khawatir dengan pengekangan dan dapat dengan mudah tenggelam dalam masalah pengadilan. Pada awalnya bereaksi sangat terkejut atau tidak percaya akan perpisahan ini. Anak-anak dari kelompok ini dapat menjadi sangat tergantung pada satu orangtua. Para orangtua anak-anak ini harus mencegah anak-anaknya menyalahkan salah satu orangtuanya itu. Anak usia ini harus dicegah dari anggapan Akan adanya pengekangan untuk menghindari penyimpangan perilaku yang lebih serius. Sebaiknya anak-anak ini didorong untuk mengunjungi orangtua yang berpisah dari anaknya, walaupun akan sensitive dengan hal ini.
Remaja
Ketika anak menginjak usia remaja, anak sudah mulai memahami seluk beluk arti perceraian. Mereka menyadari masalah-masalah yang bakal muncul, soal ekonomi, sosial, dan faktor-faktor yang lain.
Reaksi Emosi dan Perasaan Anak yang Mengalami Perceraian Orangtua
Ada hal-hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai (Tasmin, 2002) adalah:
  1. Tidak aman (insecurity)
  2. Tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi
  3. Sedih dan kesepian
  4. Marah
  5. Kehilangan
  6. Merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai
Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku:
  1. Suka mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif lainnya
  2. Menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul
  3. Sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehinnga prestasi di sekolah cenderung menurun
  4. Suka melamun, terutama mengkhayalkan orangtuanya akan bersatu lagi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال