Realitas Sosial Budaya

Berbicara perihal realitas sosial budaya, berarti membahas mengenai hal-hal fakta, kenyataan sesungguhnya. Dalam hal ini, ada baiknya kita mengambil Indonesia sebagai objek yang kita bahas.
Dalam catatan sejarah di masa kemerdekaan masih baru, bahkan jauh sebelum itu, kita memperkenalkan diri sebagai masyarakat yang suka gotong royong. Ketika ramadhan tiba, orang perkotaan pun sibuk memikirkan persiapan untuk mudik. Kedua hal ini adalah fenomena. Realitasnya, kita belumlah bisa dikatakan sebagai bangsa yang suka dengan gotong royong.
Mungkin, pada zaman dahulu, kita memang dikenal sebagai bangsa yang suka membantu dan saling bekerja sama. Namun saat ini, kenyataannya sangat berbeda. Terlebih lagi di kota-kota. individualitas menyerang dari berbagai arah. Hampir tak ada celah bagi gotong royong untuk hidu di sana.
Sejarah kemerdekaan telah mencatat bahwa kata gotong-royong telah menjadi elemen penting dalam kehidupan bernegara Indonesia, meski saat ini perbuatan tersebut sudah makin hilang ditelan materialisme. Kemudian, jika tidak disadari dan dikukuhkan kembali menjadi identitas bangsa, budaya gotong royong kelak hanya tinggal kenangan.
Lalu kita tentu mengenal budaya mudik. Ya, budaya yang setiap hari besar agama, terutama agama Islam yang lebih dari 80% penduduknya Muslim. Mudik, atau penduduk Indonesia bersuku melayu, serta di negeri tetangga Malaysia, menyebutnya belek kempong. Budaya mudik adalah realita yang tiap Ramadhan dibicarakan terus-menerus. Memang, ini hal yang serius, bagi masyarakat yang menjadikan kota sebagai ladang penghasilan. Mudik adalah tradisi pulang ke desa untuk sementara waktu dan membawa simbol-simbol tersendiri bagi para pemudik. Selain sarat akan ranah sosial dan religius, mudik identik dengan fenomena ekonomi. Maksudnya selain berkumpul dengan keluarga, ada bentuk pamer status yang dalam hal ini bersifat ekonomi.
Mudik adalah taruhan keberhasilan pemudik. Akan ada rasa malu bagi pemudik yang pulang dengan tangan kosong. Maka kita lihat banyak pemudik yang tidak sengaja memoles dirinya dengan simbol peningkatan status ekonomi. Namun penonjolan status tersebut memberi dampak lanjutan bagi penduduk desa lainnya bahwa kota adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. namun, lebih dari itu, mudik sebuah kerinduan.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar