Peran Ibu Tiri Dalam Keluarga

Peran ibu tiri dalam keluarga memegang peranan yang besar. Seorang anak yang dibesarkan, dipelihara dan dididik dalam rumah tangga yang aman tenteram, penuh dengan kasih sayang akan tumbuh dengan baik dan pribadinya akan terbina dengan baik pula. Namun bagaima dengan anak dibesarkan oleh ibu tiri. Inilah masalah menarik ketika masalah keluarga menyangkut soal ibu tiri, karena macammacam ceritera dan legenda tentang ibu tiri yang ganas-jahat dijumpai pada hampir setiap bangsa di dunia. Ceritera-ceritera itu memberikan gambaran tentang penderitaan dan kesengsaraan yang harus dialami oleh anak tiri, serta penampilan kekejaman ibu-ibu tiri dalam menyiksa dan menyakiti anak tirinya. Bahkan tidak jarang ibu-ibu ini berusaha dengan segala macam daya dan akal untuk menyingkirkan dan membunuh, anak tirinya. Maka perumpamaan yang menyatakan bahwa ibu-ibu tiri itu suka "menggodog anak tirinya dalam kuali panjang" yang sangat populer di tengah masyarakat, memang mendekati realitas nyata. Hal ini menunjukkan, bahwa dalam kenyataannya ibu tiri itu sering menyebabkan azab sengsara kepada anak-anak tirinya.
Ceritera-ceritera sihir dan dongeng-dongeng yang sangat terkenal tentang ibu tiri yang ganas-jahat, sangat digemari oleh anak-anak di seluruh dunia: antara lain ialah: Klenting Kuning, Bawang Merah dan Bawang Putih, Panji Semirang atau Galuh Candrakirana, Puteri Salju (Snow White), Cinderella, dan lain-lain. Relasi yang sangat buruk terutama sekali dijumpai di antara ibu tiri dengan anak tiri perempuan. Pada banyak ceritera klasik dikisahkan, bahwa anak-anak tiri itu hampir selalu menderita azab-sengsara; dan oleh rasa putus asa melakukan usaha bunuh diri karena tidak tahan lagi menanggung dera siksaan dari ibu tirinya.
Dalam cerita lain dikisahkan. bahwa anak tiri (seorang gadis) harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang paling kotor dan paling hina, diberi pakaian yang paling buruk; bahkan sering mukanya dicoreng-coreng agar kelihatan sangat jelek. Dimaki-maki serta diperhinakan setiap hari.
Dalam hubungannya ibu tiri dengan anak tiri, bahwa anak tiri adalah anak yang dibawa serta dalam perkawinan baru, maka ia menjadi anak tiri bagi sang suami atau sang istri. Yang menimbulkan problem adalah ketika anak itu dibawa hidup dalam rumah tangga baru ini beserta ibu tiri dan bapak kandungnya. Dalam keadaan demikian, bagi mereka berdua hal ini tidak menimbulkan masalah, tetapi jika mereka mendapatkan anak lain timbul problem terutama jika anak tiri ini adalah anak dari suami. Sang istri lebih cemburu, karena ia selalu berhadapan dengan anak-anak di dalam segala keadaan. Di sini timbul hasut, dengki dan perbuatan yang tidak baik. Kemungkinan anak tiri tersiksa jiwa dan perasaan, karena diskriminasi yang diterima dari ibu tirinya.
Dari sini muncul konflik antara ibu tiri dengan anak tiri, dan konflik akan terus berkepanjangan jika motif utama semua tingkah keganasan ibu tiri ini terutama ialah: iri hati dan dengki. Khususnya ibu tiri tersebut sama sekali tidak menghendaki suaminya memberikan kasihsayang kepada anaknya sendiri. Sebab ia ingin memonopoli suaminya, Ibu-ibu tiri itu selalu saja berusaha dengan cara-cara yang licik untuk menyingkirkan dan menyisihkan anak tirinya; dan selanjutnya mengangkangi semua hak prerogatif yang menjadi milik anak tirinya untuk diri sendiri.
Kesimpulannya ialah, apakah seorang wanita itu kelak menjadi seorang ibu tiri yang baik ataukah menjadi seorang ibu tiri yang ganas, tidak hanya tergantung pada konstitusi psikis wanita itu sendiri, akan tetapi juga dipengaruhi oleh semua faktor lingkungan sosialnya. Karena itu ibu tiri bukan satu fenomena yang terisolasi atau berdiri sendiri. Akan tetapi gejala ibu tiri itu hendaknya difahami secara psikologis dalam relasinya dengan lingkungan dan keluarganya; yaitu dengan ayah. nenekkakek, ibu, atau ibunya yang sudah meninggal, kakak-kakak, adik dan lain sebagainya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar