Perbedaan Etika, moral, Akhlak, dan Susila

Perbedaan etika, moral, akhlak dan susila dalam Islam sangat jelas. Sebagaimana telah dikemukakan, dari segi etimologis dan budaya istilah moral, akhlak dan etika memiliki perbedaan berdasarkan sumbernya. Lebih jelas lagi, pengertian akhlak dalam Islam lebih luas dibandingkan pengertian yang dibawa oleh agama-agama lain atau para filosuf. Akhlak Islam membingkai setiap hubungan antara manusia dan juga dengan mahluk hidup lainnya. Nilai akhlak menurut pandangan Islam adalah setiap kebaikan yang dilaksanakan manusia dengan kemauan yang baik dan untuk tujuan yang baik pula.
Dalam keuniversalan akhlak, Abudin Nata berhasil menemukan ciri-ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu sebagi berikut:  
  1. Perbuatan akhlak telah tertanam dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadian. 
  2. Perbuatan akhlak dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran 
  3. Perbuatan timbul dari orang yang mengerjakannya, tanpa paksaan atau tekanan dari luar. 
  4. Dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. 
  5. Sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.
Etika merupakan ilmu yang menyelidiki perbuatan atau tingkah  laku manusia mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan sejauh yang diketahui oleh akal pikiran. Etika berhubungan dengan empat hal. Pertama dari segi objek, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan manusia. kedua dari segi sumber, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sehingga tidak bersifat mutlak, absolut, dan universal. Ketiga dari segi fungsi, etika berfungsi sebagai penilaian, penentu, dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina, dan sebagainya.
Moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Moral bersifat universal, sedangkan etika bersifat kultural. Dalam menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, tolak ukur yang digunakan moral adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang serta berlangsung di masyarakat. Dengan demikian, etika lebih bersifat teoritis, konseptual, sedangkan moral berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat.
Maka ketika menyentuh dataran parktis, seperti menghormati merupakan moral, sedangkan rasa menghormati merupakan etika. Sehingga etika merupakan teknis dari moral itu sendiri. Karena bersifat kultural, maka etika dari suatu masyarakat ke masyarakat lain berbeda. Dengan demikian etika terkait dengan nilai, norma, dan budaya yang dianggap baik menurut suatu masyarakat tertentu.
Sedangkan susila yang berasal dari bahasa Sansekerta, su berarti baik, bagus, dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Secara terminologis cukuplah dikatakan susila sebagai pedoman untuk membimbing orang agar berjalan dengan baik juga berdasarkan pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dan mengacu kepada sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.
Berangkat dari uraian di atas, secara fungsional dan perannya, keempat istilah tersebut sama, menentukan penilaian terhadap perbuatan manusia baik atau buruk serta menghendaki tatanan sosial yang baik, teratur, tentram, dan aman. Perbedaan mencolok terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Etika bersifat teoritis sehingga penilaian baik dan buruk berdasarkan pendapat akal dan pikiran, sedangkan moral dan susila lebih bersifat praktis berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat. Selanjutnya akhlak memiliki sumber independen dan fundamental dalam menentukan baik dan buruk yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Secara bersama-sama etika, moral, dan susila bersifat temporer, terbatas, dan terkait dengan lokal tetentu. Berbeda dengan akhlak yang bersifat mutlak, absolut, dan universal.
Akan tetapi, keempat istilah tersebut tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Karena pada dasarnya agama yang menjadi sumber akhlak memiliki fungsi yang amat kental dalam menyusun tatanan hidup dan budaya manusia.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar