Sejarah Ikan Mas

Sejarah ikan masa sangat panjang sepanjang sejarah menulis tentang ikan mas ini. Pada tahun 1927 dan 1930 dari Belanda ke Indonesia dimasukkan dua ras ikan mas yaitu ras galisia (karper gajah) dan ras frankisia (karper kaca). Dua ras ini sangat disukai karena kualitas dagingnya yang baik, memiliki duri yang sedikit dan lebih cepat berkembang dibandingkan ras lokal. Pada tahun 1974 Indonesia mengimpor ikan mas ras taiwan, ras jerman, dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang.
Pada tahun 1977 diimpor lagi ikan mas ras yamato dan ras koi dari Jepang. Dalam perjalanannya ikan-ikan tersebut ada yang disilangkan dengan ras lokal dan hanya beberapa saja yang masih dapat ditemukan ras murninya, misalnya ikan mas koi. Sedangkan Indonesia sendiri memiliki beberapa ras lokal seperti ras si nyonya, punten majalaya, merah, biru, hijau, putih, hitam, kumpay dan kancra domas. Ikan mas sejarahnya berasal dari sungai Danube dan laut Hitam. Pada awalnya ikan mas termasuk ikan liar, karena sifatnya yang mudah berkembang biak dalam berbagai jenis dan kualitas air tawar menyebabkan ikan ini menyebar ke seluruh dunia (Santoso 1999).  
Sejarah Perkembangan Ikan Mas di Indonesia
Menurut Suseno (2000), ikan Mas di Indonesia berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat penting. Ikan Mas awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budi daya ikan Mas diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat sudah menggunakan kakaban untuk pelekatan telur ikan Mas yang terbuat dari ijuk pada tahun 1860, sehingga budi daya ikan Mas kolam di daerah Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Penyebaran ikan Mas di daerah Jawa lainnya, terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari “Kementrian Pertanian” (Kemakmuran) saat itu. Dari Jawa, ikan Mas kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935. Pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan Mas dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (Mas Gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi Mas jenis Frankisia (Mas Kaca) (Rudianti dan Ekasari, 2009).
Menurut Suseno (2000), kedua jenis ikan Mas tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya. Pada tahun 1974, seperti yang dikemukakan Suseno (2000), Indonesia mengimpor ikan Mas strain Taiwan, strain Jerman dan ras fancy carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang. Sekitar tahun 1977 Indonesia mengimpor ikan Mas strain Yamato dan strain Koi dari Jepang. Strain-strain ikan Mas yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga kemurniannya karena berbaur dengan strain-strain ikan Mas yang sudah ada di Indonesia sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk strain-strain baru.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar