Penanganan Hipotermi

Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir perlu tindakan yang cepat dan tepat. Seorang bayi yang cukup bulan yang sehat dan berpakaian akan mempertahankan suhu tubuh sebesar 36-37ºC asalkan suhu lingkungan dipertahankan antara 18 dan 21ºC, gizi cukup dan gerakannnya tidak terhambat oleh bedong yang ketat. Laju metabolisme bayi berbeda-beda, tetapi masing-masing bayi harus diawasi tidak boleh terlalu panas. Hipotermi padat terjadi jika bayi berada dekat pada sumber radiasi panas. Aktivitas berkeringat akan berlangsung terutama didaerah dahi, walaupun kemampuan ini masih terbatas pada bayi baru lahir (Wahyuningsih, 2008). 
 Saat merawat bayi beresiko, harus melakukan pengukuran ekstra untuk mempertahankan suhu lingkungan yang netral (neutral thermal environment [NTE]) untuk bayi tersebut. Suhu lingkungan yang netral adalah suhu lingkungan dimana bayi tertentu akan mempertahankan suhu normal tanpa menggunakan energi berlebihan untuk melakukannya. Bayi yang mengalami hipotermi akan meningkatkan kecepatan metabolismenya untuk meningkatkan suhu tubuhnya dalam kisaran normal (Jensen, 2005). 
Penanganan bayi hipotermi berat dapat dilakukan tindakan yaitu segera hangatkan bayi dibawah alat pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya, bila mungkin gunakan inkubator atau ruangan hangat bila perlu. Kemudian ganti baju yang dingin dan basah bila perlu beri pakaian yang hangat, pakai topi dan selimuti dengan selimut hangat. Bayi harus dihindari dari paparan panas yang berlebihan dan usahakan agar posisi bayi sering diubah bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas lebih 60 atau kurang 40 kali/menit, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi).
Tindakan selanjutnya yaitu memasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan selang infus tetap terpasang di bawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan. Kemudian periksa kadar glukosa darah, bila kadar glukosa darah kurang 45 mg/dL (2,6 mmol/L), berikan penanganan terhadap hipoglikemi. Nilailah tanda bahaya setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal. Lalu ambil sampel darah dan beri antibiotik sesuai dengan yang disebutkan dalam penanganan kemungkinan besar sepsis. Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi siap tetapi bila bayi tidak dapat menyusu berikan ASI perah dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum. Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan beri ASI perah begitu suhu bayi mencapai 35oC (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik paling tidak 0,5oC/jam, berarti upaya menghangatkan berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam. Periksa suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu ruangan setiap jam, setelah suhu tubuh bayi normal: lakukan perawatan lanjutan untuk bayi serta pantau bayi selama 12 jam kemudian dan ukur suhunya setiap 3 jam. Kemudian pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu bayi tetap dalam batas normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dan nasehati ibu bagaimana cara menjaga agar bayi tetap hangat selama di rumah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Penanganan bayi yang mengalami hipotermi sedang dapat dilakukan tindakan yaitu dengan mengganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangat, memakai topi dan selimut dengan selimut hangat. Apabila ada ibu atau pengganti ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit dengan kulit (perawatan bayi lekat) akan tetapi apabila ibu tidak ada: hangatkan kembali bayi dengan menggunakan ala pemancar panas. Gunakanlah inkubator dan ruangan hangat bila perlu. Kemudian periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI perah dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan sesuaikan pengatur suhu. Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering diubah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007). 
Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI perah menggunakan salah satu alternatif cara pemberian susu. Kemudian mintalah ibu untuk mengamati tanda bahaya misalnya gangguan nafas kejang dan segera mencari pertolongan bila terjadi hal tersebut. Periksa kadar lukosa darah, bila <45 m/dL (2,6 mmol/L), berikan penanganan terhadap hipoglikemi. Setelah itu nilai tanda bahaya, periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5ºC/jam berarti usaha menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam tetapi apabila suhu tidak naik atau naik terlalu pelan, kurang 0,5ºC/jam, cari tanda sepsis. Setelah suhu tubuh normal: lakukan perawatan lajutan dan pantau bayi selama 24 jam berikutnya, periksa suhu setiap 3 jam. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan, bayi dapat dipulangkan. Kemudian Nasihati ibu bagaimana cara merawat bayi dirumah (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007). 
Menurut Departemen Kesehatan RI 2007, menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukakan dengan cara melakukan kontak kulit, cara ini digunakan untuk semua bayi. Tempelkan kulit bayi langsung pada permukaan kulit ibu misalnya dengan merangkul, menempelkan payudara atau meneteki. Cara ini digunakan untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau menghangatkan bayi hipotermi (32- 36,4ºC) apabila cara lain tidak mungkin dilakukan.  Cara menghangatkan bayi dengan Kangaroo Mother Care (KMC) digunakan untuk menstabilkan bayi dengan berat badan <2,500 gram, terutama direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat badan <1,800 gram. Cara ini tidak untuk bayi yang sakit berat (sepsis,gangguan nafas berat) dan tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat merawat bayinya. Pada ibu yang sedang sakit, cara ini dapat dilakukan oleh keluarga (pengganti ibu) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Cara menghangatkan bayi dengan pemancar panas digunakan untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1,500 gram atau lebih untuk memeriksa awal bayi, selama dilakukan tindakan atau menghangatkan kembali bayi hipotermi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007). 
Lampu penghangat digunakan bila tidak tersedia pemancar panas, dapat digunakan lampu pijar maksimal 60 watt dengan jarak 60 cm. 
Inkubator merupakan penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1,500 gram yang tidak dapat dilakukan KMC. Untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan nafas berat) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
Boks penghangat diigunakan bila tidak tersedia inkubator, dapat digunakan boks penghangat dengan menggunakan lampu pijar maksimal 60 watt sebagai sumber panas (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007). 
Ruangan hangat digunakan untuk merawat bayi dengan berat <2,500 gram yang tidak memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan, tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan nafas berat) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar