Gangguan Panik

Gangguan panik berasal dari kata Pan yang berarti dewa Yunani setengah hantu, tinggal di pegunungan dan hutan dan perilakunya sulit diduga. Di tahun 1895, deskripsi gangguan panik pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus agoraphobia. Gangguan panik dapat disebut juga dengan sindrom hiperventilasi, psychastenia, neuroasthenia, hipokondriasis, psikosomatik ataupun spasnofilia.
Gangguan panik menurut Kolb dan Brodie merupakan kelainan medis berupa serangan panik berulang dan sering yang tidak disebabkan oleh penggunaan zat atau obat atau gangguan jiwa lain dengan puncaknya adalah perasaan takut, perasaan tidak nyaman dan khawatir berlebihan (Rusminta Girsang, 1991).
Gangguan panik menurut Kaplan dan Saddock disebabkan oleh respons terhadap bahaya yang mengancam berasal dari dalam dirinya sendiri yang merupakan dorongan yang tidak terkontrol (H.I Kaplan, B.J Saddock, 1997).
Menurut DSM-IV, gangguan panik adalah gangguan yang sekurang-kurangnya terdapat 3 serangan panik dalam waktu 3 minggu dan tidak dalam kondisi berat atau dalam situasi yang mengancam kehidupan (Rusminta Girsang, 1991). Gangguan panik bersifat rekuren (kambuh) dan akan mengakibatkan terjadinya serangan panik yang tidak diduga-duga dan mencapai puncaknya kurang dari menit.
Terdapat 3 model fenomenologi ganggguan panik, yaitu (Rusminta Girsang,1991):
  1. Serangan panik akut. Ditandai oleh timbulnya peningkatan aktivitas sistem saraf otonom secara mendadak dan spontan disertai perasaan ketakutan. Serangan ini berakhir 10 sampai 30 menit dan dapat kembali normal. 
  2. Antisipasi kecemasan. Ditandai dengan perasaan takut bahwa serangan akan timbul kembali. Keadaan ini jarang kembali normal karena sesudah serangan biasanya penderitasudah dalam kondisi kronis dan selalu mengantisipasi terhadap onset serangan. 
  3. Menghindari phobia. Adalah kondisi panik yang berkembang menjadi perilaku menghindar atau fobia. Penderita menjadi ketakutan akan timbulnya serangan panik sehingga penderita menghindari situasi tersebut.
Epidemiologi
Data yang dipublikasikan tahun 2005 menyatakan penderita gangguan panic di Amerika diperkirakan berjumlah 6 juta pada populasi dewasa. Prevalensi gangguan panik seumur hidup adalah 1,5-3% dan untuk serangan panik sekitar 3-4%. Angka kejadiannya 2 kali lipat lebih banyak pada perempuan dimana wanita dua sampai tiga kali lebih sering terkena dibanding pria. Serangan panik biasanya pertama kali muncul di usia muda namun tidak semua orang yang mengalami serangan panik akan berlanjut mengalami gangguan panik. Riwayat perceraian atau perpisahan adalah faktor sosial satu-satunya yang dikenali berperan dalam perkembangan gangguan panik (H.I Kaplan, B.J Saddock, 1997).
Etiologi Gangguan panik
Terdapat beberapa faktor yang mendasari terjadinya gangguan panic diantaranya faktor biologis yang meliputi sistem saraf otonom dan zat-zat panikogen, faktor genetis dan faktor psikososial (Sylvia Elvira D, Irmia Kusumadewi, 2010 dan H.I Kaplan, B.J Saddock, 1997).
Faktor Biologis
Faktor biologis yang terlibat mungkin adalah sebuah predisposisi yang diwariskan dalam keluarga dan terjadi lebih banyak pada kembar identik dibanding kembar fraternal (Hettema, et al, 2006).
Penelitian tentang dasar biologis untuk gangguan panik telah menghasilkan bahwa gejala gangguan panik dapat disebabkan oleh berbagai kelainan biolgis di struktur otak dan fungsi otak. Pada gangguan panik ditemukan adanya disregulasi sistem saraf perifer dan pusat dimana sistem saraf otonomik pada beberapa pasien gangguan panik telah dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus simpatetis, beradaptasi lambat terhadap stimuli yang berulang dan berespon secara berlebihan terhadap stimuli.
Pandangan biologis lain menyatakan bahwa gangguan panik disebabkan oleh masalah-masalah yang meliputi salah satu atau kedua neurotransmiter utama yaitu norepinefrin, serotonin dan gamma aminobutyric acid (GABA) (Zwanzger dan Rupprecht, 2005).
Faktor genetik
Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan risiko gangguan panik sebesar 4-8 lebih banyak pada saudara kembar monozigotik dan cenderung menderita gangguan panik dibanding kembar dizigotik.
Faktor Psikososial
Terdapat 2 teori yang dikembangkan untuk menjelaskan patogenesis dari gangguan panik dan agorafobia. Kedua teori tersebut adalah teori kognitif-perilaku, teori psikoanalitik dan teori kelekatan. Hipotesis bahwa peristiwa psikologis yang menyebabkan stres menghasilkan perubahan neurofisiologis pada gangguan panic mendapatkan dukungan dari beberapa penelitian bahwa gangguan panik berhubungan kuat dengan perpisahan parental dan kematian parental sebelum usia 17 tahun.
Selain itu didapatkan pula bahwa pola kecemasan akan sosialisasi saat masa kanak-kanak, hubungan dengan orang tua yang tidak mendukung serta perasaan terperangkap atau terjebak dapat menyebabkan terjadinya gangguan panik.
Manifestasi Klinis
Gangguan panik terutama ditandai dengan adanya serangan panik yang berulang dan terjadi secara spontan. Kondisi cemas pada gangguan panik terjadi secara tiba-tiba yang dapat meningkat disertai gejala-gejala mirip gangguan jantung. DSM IV menekankan bahwa sekurang-kurangnya serangan pertama harus tidak diperkirakan untuk memenuhi kriteria diagnosis untuk gangguan panik.
Gejala yang ditimbulkan antara lain:
  1. Serangan dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. 
  2. Gejala utama dan khas adalah ketakutan yang kuat dan suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. 
  3. Pasien biasanya tidak mampu untuk menyebutkan sumber ketakutannya dan mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. 
  4. Tanda-tanda fisik seperti takikardia, sesak napas dan berkeringat. 
  5. Sekurangnya satu serangan telah terjadi paling sedikit 1 bulan atau lebih dengan kekhawatiran yang menetap mengalami serangan tambahan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan. 
  6. Permasalahan somatik akan kematian dari gangguan jantung atau pernapasan mungkin merupakan perhatian utama selama serangan panik.
Terdapat beberapa kondisi medis yang menyerupai serangan panik, diantaranya:
  1. Hyper/hypothyroid 
  2. Hyperparatiroid 
  3. Prolaps Mitral 
  4. Gangguan putus obat 
  5. Gangguan putus alkohol 
  6. Hipoglikemia
Diagnosis Klinis
Menurut Research Diagnostic Centre (RDC) mengharuskan adanya enam serangan panik selama periode enam minggu. International Classification of Disease revisi ke-10 (IRD-10) mengharuskan adanya tiga serangan dalam tiga minggu (untuk penyakit sedang) atau empat serangan dalam empat minggu (untuk penyakit parah), sedangkan DSM III mengharuskan adanya empat serangan dalam empat minggu.
Untuk DSM IV sendiri kriteria diagnostik untuk gangguan panik adalah sebagai berikut:
  1. Serangan panik rekuren yang tidak diharapkan. 
  2. Sekurangnya satu serangan telah terjadi paling sedikit 1 bulan (atau lebih) dengan kekhawatiran yang menetap akan mengalami serangan tambahan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan. 
  3. Tidak terdapat agoraphobia 
  4. Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum.Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan obsesif kompulsif atau gangguan stress pasca traumatik.
Penatalaksanaan
Terdiri atas pemberian farmakoterapi dan psikoterapi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bila hanya farmakoterapi saja maka angka kekambuhan lebih tinggi (Sylvia Elvira D, Irmia Kusumadewi, 2010 dan H.I Kaplan, B.J Saddock, 1997).
Farmakoterapi
Terdiri atas:
  1. Serotonin selective reuptake inhibitors (SSRI) dapat dipilih sertralin, fluoksektin, fluvoksamin yang diberikan dalam 3-6 bulan atau lebih tergantung kondisi individu agar kadarnya stabil dalam darah sehingga dapat mencegah kekambuhan. 
  2. Alprazolam dikonsumsi antara 4-6 minggu setelah itu di tapperring off. Untuk keadaan kronis alprazolam dapat diberikan selama 2 bulan sampai 2 tahun.
Psikoterapi
Terapi relaksasi
Tujuan terapi ini adalah meredakan dengan cepat serangan panik dan menenangkan individu.  Cara melakukan terapi ini dengan melakukan latihan pernapasan dengan cara:
  1. Tarik napas biasa dan hitung sebanyak 5 kali. 
  2. Tarik napas dalam dan hitung sebanyak 5 kali lalu keluarkan melalui hidung. 
  3. Tarik napas biasa dan hitung sebanyak 5 kali. 
  4. Tarik napas dalam, hitung sebanyak 5 kali lalu keluarkan melalui mulut. 
  5. Tarik napas biasa hitung sebanyak 5 kali.
Cognitive Behaviour Therapy (CBT)
Terapi ini menekankan pada pikiran individu karena merupakan sumber utama perilaku abnormal dan masalah psikologis sehingga penderita harus mengubah perasaan dan perilaku individu dengan mengubah kognisi (pikiran). Tujuan dilakukan terapi ini membantu memandu individu dalam identifikasi pikiran yang tidak rasional dan mendorong penderita untuk mencari cara lain yang lebih positif.
Psikoterapi dinamik
Pada terapi ini, individu diajak memahami diri dan mengenal kepribadiannya. Individu lebih banyak berbagi rasa sehingga akan membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhannya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar