Analisis Ekonomi Makro

Analisis ekonomi makro sangat penting dilakukan. Memprediksi kondisi ekonomi makro adalah suatu hal yang sangat penting, karena aktivitas ekonomi akan mempengaruhi laba perusahaan, perilaku dan harapan investor dan terakhir harga saham. Sebagai contoh apabila terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi, hal ini akan memberi dampak kepada menurunnya laba perusahaan, dan kemudian akan mempengaruhi prospek yang diharapkan oleh para investor terhadap tingkat pertumbuhan perusahaan, sehingga akan berakibat kepada rendahnya harga saham. 
Berikut akan dijelaskan beberapa variabel ekonomi makro tersebut yang digunakan dalam analisa fundamental:
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan utama dari pemerintah yang berhubungan sangat erat dengan perekonomian secara makro, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal berkaitan dengan pengeluaran pemerintah dan pendapatan pemerintah dari sektor pajak. Kebijakan fiskal biasanya sulit untuk diterapkan karena kebijakan ini langsung berpengaruh atas perekonomian.
Kebijakan moneter berkaitan dengan pengaturan jumlah uang yang beredar, yang biasanya juga berkaitan erat dengan perubahan tingkat suku bunga.
Pertumbuhan Ekonomi
 Indikasi dari pertumbuhan ekonomi adalah adanya peningkatan produk domestik bruto atau Gross Domestic Product (GDP), yaitu total barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara yang diukur berdasarkan harga pada suatu tahun tertentu. Jika GDP meningkat berarti nilai barang dan jasa yang dihasilkan juga meningkat maka terjadi pertumbuhan ekonomi pada negara tersebut yang akan memberikan peluang kepada perusahaan untuk meningkatkan penjualannya.
Pengeluaran Pemerintah (Goverment Spending)
 Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu variabel utama yang akan mempengaruhi harga saham. Besarnya pengeluaran pemerintah akan memberikan dampak kepada perekonomian dan lingkungan usaha secara keseluruhan. Setiap peningkatan pengeluaran pemerintah akan meningkatkan permintaan dari masyarakat. Oleh karena itu dunia usaha akan berupaya meningkatkan produksinya untuk mengimbangi permintaan tersebut. Jika produksi meningkat, diharapkan penjualan dan laba juga akan meningkat sehingga akan mempengaruhi harga sahamnya.
Jumlah Uang Beredar (Money Supply)
 Jumlah uang yang beredar merupakan bagian dari kebijakan moneter pemerintah. Perubahan jumlah uang yang beredar ini akan berakibat kepada perubahan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter yang menurunkan jumlah uang beredar akan berakibat kepada semakin berkurangnya dana yang disalurkan kepada perusahaan untuk keperluan modal kerja dan perluasan perusahaan. Berarti permintaan akan uang akan semakin tinggi. Sehingga akan mengakibatkan tingginya suku bunga. Jika tingkat suku bunga tinggi, maka perusahaan akan menanggung biaya modal dalam bentuk semakin besarnya beban bunga, sehingga akan mengurangi laba yang akan dihasilkan.
Tingkat Bunga (Interst Rate)
Besarnya tingkat suku bunga tidak dapat dipisahkan dengan terjadinya inflasi. Besarnya suku bunga riil = suku bunga nominal inflasi.  Adapun yang menjadi pertimbangan investor melakukan investasi adalah besarnya suku bunga riil. Apabila suku bunga riil suatu negara lebih tinggi dari negara lain maka hal tersebut dapat menarik minat untuk berinvestasi, sehingga dapat menjadi capital inflow bagi negara tersebut. Akan tetapi apabila suku bunga terlalu tinggi akan menyulitkan perusahaan untuk mengembangkan usahanya, karena tingkat pengembalian bunga pinjaman yang tinggi. Dengan demikian harga saham dari perusahaan tersebut dapat terpengaruh karena perusahaan akan kesulitan memperoleh keuntungan dan investorpun lebih memilih investasi pada bank yang memberikan bunga yang tinggi.
loading...
Share on :


Related post:


1 komentar:

paket tour turki mengatakan...

jadi pengen belajar lebih mengenai ekonomi makro...

Poskan Komentar