Tujuan Pendidikan Seks

Tujuan pendidikan seks sangat penting. Pendidikan seks sebagai bagian dari pendidikan secara keseluruhan mempunyai berbagai tujuan. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (dalam Suraji, 2008), pendidikan seks yang dilakukan secara formal atau non formal melalui pusat konsultasi dan pelayanan terpadu mempunyai tujuan sebagai berikut:
  1. Membentuk pengertian tentang perbedaan seks antara pria dan wanita dalam keluarga, pekerjaan 
  2. Membentuk pengertian tentang peranan seks didalam kehidupan masyarakat dan keluarga, hubungan antara seks dan cinta, peranan seks dalam perkawinan 
  3. Mengembangkan pengertian diri sendiri sehubungan dengan fungsi dan kebutuhan seks. 
  4. Membantu mengembangkan kepribadiannya agar mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab
Dengan kata lain, tujuan pendidikan seks adalah membentuk manusia yang mempunyai kemampuan menyesuaikan dirinya dengan partnernya, dengan masyarakat, dan lingkungannya, serta mampu menjalin hubungan yang harmonis dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi dirinya, partnernya, dan masyarakatnya dalam menjalankan kehidupan seksualnya.
Menurut pendapat Suraji, (2008) tujuan pendidikan seks yang diberikan kepada anak-anak (sebagai generasi penerus) meliputi beberapa hal:
  1. Membantu anak untuk merasakan bahwa seluruh anggota jasmani dan tahap-tahap pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan 
  2. Menjadikan anak mengerti tentang proses berketurunan. 
  3. Mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi akibat pertumbuhannya 
  4. Menjadikan anak bangga dengan jenis kelaminnya 
  5. Membantu anak mengetahui bahwa perbuatan seks harus didasarkan atas penghargaan yang tulus terhadap kepentingan orang lain. 
  6. Menciptakan kesadaran bahwa masalah seks adalah salah satu sisi positif konstruktif dan terhormat dalam kehidupan masyarakat. 
  7. Mempersiapkan anak agar mampu membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
Tujuan-tujuan tersebut ditetapkan berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Anak mempunyai kecenderungan ingin mengetahui segala sesuatu, lebih-lebih apabila sesuatu tersebut dirahasiakan oleh orang-orang dewasa. Adanya kecenderungan tersebut menjadikan anak ingin selalu berusaha untuk mendapatkan informasi tersebut. 
  2. Anak akan mengalami perubahan-perubahan fisiknya menginjak usia puber. Dalam menghadapi adanya perubahan tersebut, mereka perlu persiapan lahir dan batin agar dalam menghadapi kenyataan tersebut mereka tidak kaget lagi. 
  3. Anak cenderung meniru segala sesuatu yang ada dilingkungannya, terlebih lagi apabila sesuatu tersebut dianggapnya sebagai sesuatu yang aneh atau unik. 
  4. Mulai umur sembilan tahun, antara laki-laki dan perempuan telah mulai merasa bahwa mereka berbeda, maka mereka memiliki perasaan malu terhadap lawan jenisnya. 
  5. Anak akan mulai melakukan berbagai macam tindakan yang pada intinya semua tindakan tersebut dilakukan dalam rangka ingin memperoleh perhatian dari lawan jenisnya.
Selain tujuan diatas, Suraji (2008) mengemukakan tujuan pendidikan seks yang diberikan kepada anak usia 7 sampai dengan 12 tahun yaitu:
  1. Mempersiapkan anak menghadapi perubahan-perubahan pada diri anak saat mereka memasuki usia pubertas. 
  2. Melatih anak menjaga kebersihan khususnya kebersihan kelamin 
  3. Anak memahami proses penciptaan dan perkembangbiakan manusia
  4. Menjadikan anak bangga dengan jenis kelaminnya 
  5. Anak mampu memahami dan menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan 
  6. Memperkenalkan norma-norma dan etika islam yang harus diikuti agar selamat dan bahagia hidupnya 
  7. Menghindarkan anak dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat merusak perkembangan seksualnya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar