Klasifikasi Tunagrahita

Mengklasifikasi tunagrahita oleh para ahli seringkali berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan bidang ilmu dan pandangan masing-masing. Pengklasifikasian anak tunagrahita perlu dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyusun program yang akan diberikan baik itu berupa akademik maupun non akademik.
Grossman (1993) mengklasifikasikan anak tunagrahit a berdasarkan ukuran tingkat intelegensi (IQ) adalah sebagai berikut:

TINGKATAN
IQ
Ringan (mild)
50-55 hingga 70
Sedang (moderate)
35-40 hingga 50-55
Berat (severe)
20-25 hingga 35-40
Sangat berat (profund)
dibawah 20 atau 25

Menurut American Asssociation On Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip oleh Grossman (1983), anak tunagrahita dibagi menjadi 4 yakni tunagrahita ringan, sedang, berat, sangat ber at, anak tunagrahita ringan dipandang masih memiliki kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian dan kemampua n bekerja meskipun berdasarakan dan adaptasi sosialnya terhambat, mereka masih mempunyai potensi untuk menguasai mata pelajaran akademik di sekolah dasar. Mampu didik untuk melakukan penyesuaian sosial dan bahkan banyak yang dapat mandiri dalam masyarakat. Mereka dapat melakukan pekerjaan semi skill dan sosial sederhana. Hal tersebut diatas menyebabkan seringkali tidak dapat diidentifikasi sampai mengikuti pelajaran di sekolah biasa selama satu atau dua tahun karena kesulitan dalam mengikuti pelajaran dan penyesuaian diri deng an teman-temanya.
Penggolongan/Klasifikasi  tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association On Mental Retardation dalam Special Education In Ontario Schools sebagai berikut:
  1. Educable. Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak regular pada kelas 5 Sekolah Dasar. 
  2. Trainable. Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik. 
  3. Custodial. Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khu sus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
Penggolongan tunagrahita untuk keperluan pembelajar an menurut B3PTKSM sebagai berikut:
  1. Taraf perbatasan (borderline) dalam pendidikan disebut sebagai lamban belajar (Slow learner) dengan IQ 70 – 85. 
  2. Tunagrahita mampu didik (educable mentally retarded) dengan IQ 50 – 75 atau 75 
  3. Tunagrahita mampu latih (trainable mentally retarded) dengan IQ 30 – 50 atau 35 – 55. 
  4. Tunagrahita butuh rawat (dependent or profoundly mentally retarded) dengan IQ dibawah 25 atau 30.
Penggolongan tunagrahita secara medis-biologis menurut Roan, 1979, dalam B3PTKSM sebagai berikut:
  1. Retardasi mental taraf perbatasan (IQ: 68 – 85) 
  2. Retardasi mental ringan (IQ: 52 – 67) 
  3. Retardasi mental sedang (IQ: 36 – 51) 
  4. Retardasi mental berat (IQ: 20 – 35) 
  5. Retardasi mental sangat berat (IQ: kurang dari 20), dan 
  6. Retardasi mental tak tergolongkan.
Adapun penggolongan tunagrahita secara sosial-psiko logis terbagi 2 (dua) criteria yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif. Ada 4 (empat) taraf tunagrahita berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala inteligensi Wechsler (Kirk dan Galla gher,1979, dalam B3PTKSM, yaitu:
  1. Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69. 
  2. Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40 – 54. 
  3. Retardasi mental berat (severe mental retardation) dengan IQ 20 – 39. 
  4. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah.
Secara klinis, tunagrahita dapat digolongkan atas dasar tipe atau cirri-ciri jasmaniah secara berikut:
  1. Sindroma down / mongoloid; dengan cirri-ciri wajah khas mongol, mata sipit dan miring, lidah dan bibir tebal, dan suka menjulur, jari kaki melebar, kaki dan tangan pendek, kulit kering, tebal, kasar, dan keriput, dan susunan geligi kurang baik. 
  2. Hydrocephalus (kepala besar berisi cairan); dengan cirri kepala besar, raut muka kecil, tengkorak sering menjadi besar. 
  3. Microcephalus dan makrocephalus; dengan cirri-ciri ukuran kepala tidak proporsional (terlalu kecil atau terlalu besar).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar