Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner adalah salah satu jenis penyakit jantung yang sangat ditakuti. Jantung merupakan suatu organ yang terdiri dari otot, memiliki 4 ruangan, berukuran kira-kira sebesar kepalan tangan dan berbentuk seperti sebuah kerucut. Jantung terletak pada sisi kiri dari rongga dada bagian atas. Sisi kanan dari jantung terbagi menjadi 2 ruangan : atrium kanan dan ventrikel kanan. Sisi kiri dari jantung terbagi menjadi dua ruangan yaitu atrium kiri dan ventrikel kiri (Hull, 1993).
Jantung merupakan salah satu organ vital dari sekian banyak organ vital lainnya. Jantung terletak dalam rongga dada pada bagian kiri agak ketengah, tepatnya diatas sekat diafragma yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut. Fungsi utama jantung adalah sebagai pemompa darah, agar darah bisa bersirkulasi ke seluruh tubuh, (Irawan, 1998).
Darah sendiri berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan yang diperlukan tubuh, sekaligus juga oksigen. Disamping itu darah juga berfungsi untuk mengangkut zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh seperti sisa-sisa metabolisme dan karbon dioksida untuk dikeluarkan dari tubuh, (Joewono, 2003).
Secara sederhana ukuran jantung kira-kira sebesar kepalan kita masing-masing dan terdiri dari:
  1. Dua ruang atas disebut serambi jantung atau ”atrium” sebelah kanan dan kiri. Dua ruang bawah disebut bilik jantung atau ”ventrical” sebelah kanan dan kiri. Empat buah klep jantung, dua diantaranya menghubungkan serambi dan bilik kanan serta serambi dan bilik kiri (tricuspid dan mitral). Sedangkan dua buah yang lain mengatur aliran darah keluar jantung dari bilik kiri dan kanan (aorta dan pulmonary). 
  2. Suatu sistem listrik yang terdiri dari simpul-simpul Sinoatrial node (SA) dan Atrioventricular node (AV) serta serabut syaraf, yaitu suatu kelompok jaringan khusus yang secara periodik dan teratur menyebarkan aliran listrik yang berfungsi sebagai pengatur irama denyut jantung.
Proses pemompaan darah sehingga darah dapat bersirkulasi ke tubuh dan paru- paru mengikuti urutan sebagai berikut:
  1. Pada saat jantung sedang relaks (diastole), darah kurang oksigen dari vena tubuh mengalir ke serambi kanan. Pada saat yang sama, serambi kiri terisi dengan darah yang kaya oksigen dari paru-paru. 
  2. Pusat listrik (node) yang ada di dalam serambi kanan menembakkan arus listrik yang menyebabkan  kedua serambi berkerut secara serempak. Pada saat yang sama, katup-katup di  antara  serambi  dan bilik terbuka, memungkinkan darah mengalir kedalam bilik. 
  3. Tahap berikutnya adalah pemompaan dari bilik. Pada  tahap  ini sinyal  listrik dari node yang lain menyebabkan kedua bilik berkerut secara serempak. Ini mendorong darah yang kurang oksigen dari bilik kanan ke dalam  paru-paru. Darah yang kaya oksigen dari bilik kiri didesak ke dalam arteri utama yang disebut ”aorta” dan dari sini darah dialirkan ke seluruh tubuh. Klep-klep tertutup untuk menjamin agar tidak ada aliran balik kedalam serambi. 
  4. Setelah pengerutan bilik, jantung mengendur, dan memungkinkan serambi terisi darah sehngga proses sirkulasi dimulai kembali, (Joewono, 2003).
Definisi Penyakit Jantung Koroner
 Jantung merupakan mesin pompa darah yang berukuran kira-kira sebesar kepalan tangan kanan, dan berbentuk  seperti kerucut. Jantung terbagi menjadi empat ruangan yaitu dua ruangan atas yang disebut atrium (serambi) dan dua ruang bawah yang disebut ventrikel (bilik), (Irawan, 1998). 
Menurut WHO Coronary Heart Desease (PJK) adalah ketidaksanggupan jantung, akut maupun kronik yang timbul karena kekurangan suplai darah pada miokardium sehubungan dengan proses penyakit pada sistem nadi koroner dan menurut American Heart Organitation (AHA), PJK merupakan kelainan pada  satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner dimana terdapat penebalan dinding dalam pembuluh darah disertai adanya plak yang akan mengganggu aliran darah ke otot jantung. Kemudian terjadi kerusakan otot jantung yang akibatnya dapat menggangu fungsi jantung, (Fahmi, 2004). 
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang diakibatkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri koroner yang memeberi pasokan zat makanan dan O2 ke otot- otot jantung terutama bilik kiri yang memompa darah ke seluruh tubuh, (Sani, 2001).
Mekanisme Terjadinya Penyakit Jantung Koroner
 Penyakit jantung koroner diawali dengan terjadinya atherosklerosis yatu keadaan pengerasan dinding pembuluh darah. Telah diketahui bahwa atherosklerosis terjadi sejak masa anak-anak yang didukung dengan pemeriksaan patologis. Disfusi endotel merupakan proses awal terjadinya atherosklerosis. Disfusi endotel ini akan menurunkan produksi nitric oxide (NO) yang merupakan mediator regulasi vaskuler sehingga terjadi gangguan keseimbangan faktor relaksasi dan kontraksi.
Sehingga bila terjadi penurunan NO akan terjadi peningkatan tegangan vaskuler, mengubah geometri/remodelling, trombosis, inflamasi, oksidasi dan proliferasi. Penyebab disfusi endotel yang akan mengakibatkan atherosklerosis adalah peningkatan LDL, radikal bebas yang disebabkan rokok, hipertensi dan diabetes melitus, keturunan, peningkatan kadar homosistein plasma, infeksi mikroorganisme (seperti kuman clamydia pneumoniae, pelicobacter pylori, virus herves dan hepatitis) dan kombinasi beberapa faktor.
Faktor-faktor resiko tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat menurunkan produksi NO dan aktifitasnya. Penyebab dari disfungsi endotel adalah  injury yang akan meningkatkan permeabilitas dan adhesi endotel dengan leukosit atau platelet. Juga menginduksi endotel mengubah antikoagulan menjadi prokoagulan, molekul vasoaktif, sitokin dan faktor pertumbuhan. 
roses inflamasi ini berlangsung terus dengan meningkatnya jumlah makrofag dan limfosit yang berimigrasi dari darah ke daerah lesi dan akan melepaskan enzim hidrolitik, sitokin dan faktor pertumbuhan dan akhirnya terjadi nekrosis. Adanya akumulasi monosit dan migrasi sel otot polos akan membentuk jaringan fibrosis yang menutup lesi. Garis lemak yang terjadi sejak masa kanak-kanak akan menjadi plak fibrosa serta disusul klasifikasi (pengapuran). Sehingga menimbulkan kekakuan pembuluh darah, (Madiyono, 2003). 
Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner 
Penyakit jantung koroner dapat memberikan manifestasi klinis yang berbeda- beda. Untuk menentukan manifestasi klinisnya, perlu dilakukan pemeriksaan yang seksama. Dengan memperhatikan klinis penderita, riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, elektrokardiografi saat istirahat, foto dada, dan pemeriksaan enzim jantung dapat membedakan subset klinis PJK, (Joewono, 2003). 
Gambaran klinik adanya PJK dapat berupa angina pectoris, infark miokardium (akut miokard infark), payah jantung (iskemic heart diseases) dan mati mendadak (sudden death). Pada umumnya gangguan suplai darah arteri koronaria dianggap berbahaya bila terjadi penyempitan sebesar 70% atau lebih pada pangkal atau cabang utama arteri koronaria.
Penyempitan yang kurang dari 50% kemungkinan belum menampakkan gangguan yang berarti. Keadaan ini tergantung kepada beratnya arterisklerosis dan luasnya gangguan dan apakah serangan itu lama atau masih baru, (Bustan, 2000).
Angina Pectoris
Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis berupa serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau rasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Hal ini sering timbul saat pasien melakukan aktifitas dan segera hilang saat aktifitas dihentikan.
Angina pectoris biasanya berkaitan dengan PJK aterosklerotik tetapi dalam beberapa kasus dapat merupakan kelanjutan dari aterosklerosis aorta berat, insufiensi atau hipertropi kardiomiopati tanpa disertai obstruksi, aortitis sifilitika, peningkatan kebutuhan metabolik (seperti hipertiroidisme atau pasca pengobatan tiroid), anemia yang jelas takikardia proksimal dengan frekuensi ventrikuler cepat, emboli atau spasme koroner), (Mansjoer, 2001).
Nyeri dada yang khas dari angina pectoris ialah rasa tertekan, seperti merasa terpilin, sperti terbakar (panas yang berpusat di daerah retrostenal (dibalik tulang sternum yang berada ditengah-tengah dada) yang bisa menjalar kelengan kiri, leher, bahu dan punggung.
Dalam hal ini angina pectoris bisa digolongkan menjadi 3 (tiga) macam, yait :
  1. Angina pectoris stabil, yaitu gejala yang timbul frekuensinya tetap, baik  lamanya maupun kadar pencetusnya. 
  2. Angina pectoris tidak stabil, yaitu pola gejala yang timbul berubah-ubah, baik frekuensinya, lamanya, maupun kenyerian yang dirasakan. 
  3. Angina prinzmental, yang biasanya timbul sewaktu sedang beristirahat. Biasanya disebabkan oleh spasme pembuluh darah koroner. Secara elektrokardiografi (EKG), timbulnya angina pectoris sering pula dibarengi dengan depresi segmen ST dan inversi gelombang T. Kelainan segmen ST (depresi segmen ST) sangat nyata pada pemeriksaan uji beban masuk (Irawan, 1998).
Infark Miokard Akut/Acute Myocardial Infraction (serangan jantung)
Acute myocard infraction atau serangan jantung akut umumnya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh arteri koroner secara tiba-tiba, karena pecahnya plak lemak ateroskeloris pada arteri koroner. Plak lemak tersebut menjadi titik-titik lemah dari arteri itu dan cenderung untuk pecah. Pada waktu pecah, gumpalan cepat terbentuk dan mengakibtkan penghambatan (okulasi) arteri yang menyeluruh, serta memutuskan aliran darah ke otot jantung. Ini mengakibatkan rasa sakit dada yang hebat pada pusat dada dan menyebar sampai lengan atau leher (Joewono, 2003).
Ischemic Heart Disease (payah jantung) 
Ischemic Heart Disease adalah suatu keadaan dimana terjadi pengurangan oksigen secara temporer pada jantung yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah atau karena penyakit tertentu. Ischemic ini ada yang disebut sebagai silent ischemic dimana penderitanya tidak merasakan gejala yang timbul (Andari, 2001). Payah jantung terjadi karena denyut jantung sudah sedemikian lemahnya sehingga jantung tidak lagi dapat memompa darah dengan baik. Rasa sakit akibat payah jantung bertahan berjam-jam. Gejala yang timbul ialah gelisah, pusing, keringat dingin, gangguan gastro intestinal (muntah, diare, mual) dan shock yang menyebabkan tensi turun serta nadi cepat, (Bustan, 2000).
Kematian Mendadak (sudden death)
Kematian mendadak (sudden death) terjadi pada 50% penderita yang tanpa keluhan sebelumnya. Sedangkan selebihnya disertai keluhan yang mati mendadak 6 jam setelah keluhan. Proses mati mendadak ini dimulai dengan trombosis pembuluh darah koroner yang disusul dengan nekrosis yang disertai aritmia ventrikel (Bustan, 2000).
Salah satu unsur dalam makanan adalah lemak. Lemak tidak dapat larut dalam darah kecuali terikat oleh protein tertentu. Lemak akan mengalami pemecahan asam lemak bebas, trigliserida dan kolesterol. 
Selama dalam peredaran darah ada kecenderungan kolesterol menempel pada dinding pembuluh darah sehingga mempersempit pembuluh darah, menjadi tidak lancar dan lemak terlarut dalam darah sehingga tidak mencukupi proses metabolisme dan mengganggu keseimbangan kebutuhan oksigen dan penyediaan oksigen. Penyempitan ini dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Bila penyumbatan ini terjadi di pembuluh koronaria dinamakan penyakit jantung koroner.
Gejala Penyakit Jantung 
Nyeri pada dada merupakan tanda paling umum dan sering dialami setiap kali terjadi serangan jantung. Variasi rasa sakit sangat besar dan terjadi tiba-tiba di setiap saat. Rasa nyeri ini selanjutnya menyebar ke leher, tulang rahang, dan lengan kiri, rasa nyeri dapat berlanjut ke daerah antara kedua bahu atau rongga lambung dan terkadang timbul ketidakteraturan denyut jantung, gejala lain umumnya meliputi lemah dan pusing, kulit pucat, dingin dan basah serta dapat berlanjut ke pingsan (shock) (Mursito, 2002). 
Rasa nyeri muncul karena jantung kekurangan darah dan suplai oksigen. Semua orang merasakan hal semacam ini merupakan serangan jantung atau bukan, gejala lain yang menyertai adalah rasa tercekik, kondisi seperti ini timbul secara tak terduga dan hanya timbul jika jantung dipaksa bekerja keras, misal fisik dipaksa bekerja keras atau mengalami tekanan emosional,  (Krisnatuti, 2002). 
Faktor-faktor Resiko Penyebab Penyakit Jantung Koroner
Faktor resiko adalah semua faktor penyebab (etiologi) ditambah dengan faktor epidemiologi yang berhubungan dengan terjadinya suatu penyakit. Secara garis besar faktor resiko dapat dibagi  2 (dua) yaitu, faktor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah.
Faktor Resiko yang Tidak Dapat Diubah (Unchangeable Risk Factors)
 Faktor-faktor resiko yang tidak dapat diubah terdiri dari  keturunan, jenis kelamin, umur dan stress.
Keturunan 
Keturunan mengambil peranan penting dalam menentukan resiko alamiah dari PJK. Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mempunyai anggota keluarga menderita PJK di bawah umur 55 tahun menunjukkan bahwa ada anggota lain dari keluarga tersebut yang mempunyai penyakit jantung yang bersifat premature.   Beberapa kelompok  keluarga yang mempunyai predisposisi PJK adalah ayah (37%), ibu (9,98%), saudara sekandung (27,6%), saudara kembar laki-laki ( 43%) dan saudara kembar perempuan 21%, (Bustan, 2000).
Jenis Kelamin  
Pria lebih sering terkena serangan jantung dibandingkan wanita, setelah manopause frekuensinya sama antara pria dan wanita. Pria beresiko terkena PJK setelah berusia 40 tahun, sedangkan wanita setelah berusia 50 tahun. Wanita lebih terlindungi dari PJK mungkin karena hormon estrogen pada wanita (Soeharto, 200)  Pravalensi PJK lebih tinggi pada laki-laki dari pada wanita. Pada umur 45-54 tahun rasio terkena PJK pada laki-laki 6 kali dari pada wanita. Pada umur 50 tahun ASDR laki-laki  dan wanita akibat PJK tidak berbeda, dan pada umur 80 tahun ASDR pada kedua jenis kelamin sama (Sitepu, M, 1997).
Umur
Jelas sekali umur merupakan faktor yang amat berpengaruh terhadap terjadinya PJK, terutama terhadap terjadinya pengendapan aterosklerosis pada arteri koroner. Saluran arteri koroner ini dapat dibandingkan dengan saluran pipa ledeng, makin tua umurnya makin besar kemungkinan timbulnya ”kerak” di dindingnya, yang menyebabkan terganggunya aliran dalam pipa (Soeharto,2000).
Stress 
Stres dapat memicu pengeluaran hormon adrenalin dan katekolamin yang tinggi dan dapat berakibat mempercepat kekejangan arteri koroner, sehingga suplai darah ke otot jantung terganggu. Dalam jangka panjang, terlalu banyak peristiwa yang menegangkan dalam satu tahun dapat menjadi awal serangan jantung (Payne, 1995).
Faktor Resiko yang Dapat Diubah (Changeable Risk Factors)
Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi secara terus menerus beban pembuluh arteri perlahan-lahan. Arteri mengalami proses pengerasan, menjadi tebal dan kaku, sehingga mengurangi elastisitasnya. Tekanan darah yang terus menerus tinggi dapat pula menyebabkan dinding arteri rusak atau luka dan mendorong proses terbentuknya pengendapan plak pada arteri koroner (aterosklerosis). Proses ini menyempitkan lumen yang terdapat pada pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi terhalang. Dengan demikian hipertensi merupakan salah satu resiko PJK (Soeharto, 2000).
Kolesterol
Kolesterol dalam zat makanan yang kita makan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Sejauh pemasukan ini masih seimbang dengan kebutuhan, tubuh akan tetap sehat, tetapi kelebihan kolesterol dapat mengendap di dalam pembuluh darah arteri, sehingga menyebabkan penyempitan dan pengerasan yang dikenal aterosklerosis, sehingga menyebabkan suplai darah ke otot jantung tidak cukup jumlahnya sehingga timbul sakit atau nyeri dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan jantung (Soeharto, 2000).
Pola Makan  
Pola makan adalah frekuensi jumlah serta jenis makanan yang dikonsumsi. Tujuannya untuk mencapai serta memelihara kesehatan dan status gizi optimal, untuk itu tubuh perlu mengkonsumsi makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi yang seimbang sesuai Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).  Yang dimaksud dengan PUGS adalah pedoman dasar tentang gizi seimbang yang disusun sebagai penuntun pada perilaku konsumsi makanan di masyarakat secara baik dan benar.  Berdasarkan fungsi utama zat gizi makanan harus mengandung sumber energi, sumber protein dan sumber zat pengatur. Untuk memudahkan penyusunan menu sehari-hari yang bervariasi dan bergizi dapat digunakan daftar bahan makanan penukar. Penukar ini dapat digunakan dalam keadaan sehat maupun sakit (Almatsier, 2004).
Merokok
Asap merokok mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zat seperti adrenalin, zat ini merangsang denyutan jantung dan tekanan darah. Asap rokok mengandung karbon monoksida (CO) yang memiliki kemampuan jauh lebih kuat dari pada sel darah merah untuk menyerap oksigen, sehingga menurunkan kapasitas darah merah tersebut untuk membawa oksigen ke jaringan-jaringan termasuk jantung (Irawan, 1998). 
Diabetes melitus 
Diabetes menyebabkan faktor resiko PJK yaitu  bila kadar glukosa darah naik, terutama bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, gula darah tersebut dapat mendorong terjadinya pengendapan (arterosklerosis) pada arteri koroner. Diabetes  yang tidak terkontrol dengan kadar glukosa yang tinggi dalam darah cenderung menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida.
Kadar glukosa darah stabil berkisar antara 70-140 mg/dl. Jika kadar glukosa darah melebihi angka tadi maka dapat dipastikan jika seseorang telah positif menderita diabetes melitus (Vitahealth, 2004). 6. Kegemukan dan kurang aktivitas  Kegemukan dan kurang aktivitas merupakan salah satu faktor risiko PJK, namun berbeda dengan faktor risiko yang lain, kegemukan mendorong timbulnya faktor risiko yang lain seperti diabetes melitus, hipertensi yang pada taraf selanjutnya meningkatkan risiko PJK.
Tekanan darah tinggi tidak jarang terjadi pada penderita obesitas. Kelebihan berat badan memaksa jantung bekerja lebih keras. Adanya beban ekstra bagi jantung itu, ditambah dengan terjadinya pengerasan pembuluh darah arteri koroner, cenderung mendorong terjadinya kegagalan jantung (Soeharto, 2000).
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar