Pengertian Tuna Netra

Pengertian tunanetra mencakup tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar, jadi, individu dengan kondisi penglihatan yang termasuk "setengah melihat", "low vision", atau rabun adalah bagian dari kelompok tunanetra.
Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang berpenglihatan normal.
Individu dengan gangguan penglihatan ini dapat diketahui dalam kondisi berikut:
  1. Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang berpenglihatan normal 
  2. Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu 
  3. Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak 
  4. Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan.
Seseorang dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, seseorang hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang berpenglihatan normal dapat dibaca pada jarak 21 meter. Berdasarkan acuan tersebut, tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu (Somantri, 2005):
Buta
Dikatakan buta jika sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0)
Low Vision
Bila masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika hanya mampu membaca ‘headline’ pada surat kabar.
Klasifikasi tunanetra secara garis besar
Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan:
  1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan. 
  2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan. 
  3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi. 
  4. Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri. 
  5. Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
Berdasarkan kemampuan daya penglihatan:
  1. Defective vision/low vision; yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan. 
  2. Partially sighted; yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal. 
  3. Totally blind; yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.
Berdasarkan pemeriksaan klinis:
  1. Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat. 
  2. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar