Pencegahan Gagal Jantung

Banyak cara pencegahan gagal jantung. Pencegahan gagal jantung bisa dilakukan dengan pencegahan primer, pencegahan sekunder maupun pencegahan tersier. Pencegahan gagal jantung mesti dilakukan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Pencegahan primordial
            Pencegahan primordial ditujukan pada masyarakat dimana belum tampak adanya resiko gagal jantung. upaya ini bertujuan memelihara kesehatan setiap orang yang sehat agar tetap sehat dan terhindar dari segala jenis penyakit termasuk penyakit jantung. cara hidup sehat merupakan dasar pencegahan primordial penyakit gagal jantung seperti mengkomsumsi makanan sehat, tidak merokok, berolah raga secara teratur, meghindari stress, seta memelihara lingkungan hidup yang sehat.
Pencegahan Primer 
Pencegahan primer ditujukan pada masyarakat yang sudah menunjukkan adanya faktor risiko gagal jantung. Upaya ini dapat dilakukan dengan membatasi komsumsi makanan yang mengandung kadar garam tinggi, mengurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, mengontrol berat badan dengan membatasi kalori dalam makanan sehari-hari serta menghindari rokok dan alkohol.
Pencegahan sekunder 
Pencegahan sekunder ditujukan pada orang yang sudah terkena gagal jantung bertujuan untuk mencegah gagal jantung berlanjut ke stadium yang lebih berat. Pada tahap ini dapat dilakukan dengan diagnosa gagal jantung,tindakan pengobatan denagn tetap mempertahankan gaya hidup dan mengindari faktor resiko gagal jantung.
Diagnosis gagal jantung
  1. Anamnesis  --- Anamnesis merupakan cara untuk mendapatkan keterangan dan data klinis tentang keadaan penyakit pasien melalui tanya jawab. Keluhan pasien merupakan gejala awal gagal jantung. Pengambilan anamnese secara teliti penting untuk mendeteksi gagal jantung. 
  2. Rontgen toraks --- Rontgen toraks dapat menunjukkan adanya pembesaran ukuran jantung (kardiomegali) yang ditandai dengan peningkatan diameter tranversal lebih dari 15,5 cm pada pria dan lebih 14,5 cm pada wanita, hipertensi vena, atau edema paru. 
  3. Elektrokardiografi --- Elektrokardiografi memperlihatkan beberapa abnormalitas pada sebagian  besar pasien (80-90%), antara lain: (a) Gelombang Q yang menunjukkan adanya infark miokard dan kelainan gelombang ST-T menunjukkan adanya iskemia miokard. (b) LBBB (left bundle branch block), kelainan ST-T dan pembesaran atrium kiri menunjukkan adanya disfungsi bilik kiri. (c) LVH (left ventricular hypertrophy) dan inverse gelombang T menunjukkan adannya stenosis aorta dan penyakit jantung hipertensi . (d) Aritmia jantung  
  4. Ekokardiografi  --- Ekokardiografi harus dilakukan pada semua pasien dengan dugaan klinis gagal jantung.Ekokardiografi dua dimensi M-mode dan Doppler bisa memperlihatkan fungsi ventrikel (sistolik dan diastolik), gerakan struktur jantung, penyakit miokard dan katup. 
  5. Tes latihan fisik --- Tes latihan fisik sering dilakukan untuk menilai adanya iskemia miokard dan pada beberapa kasus untuk mengukur konsumsi oksigen maksimum (VO2  maks), yaitu kadar dimana konsumsi oksigen lebih lanjut. V O2  maks merupakan kadar dimana konsumsi oksigen lebuh lanjut tidak akan meningkat meskipun terdapat peningkatan latihan lebih lanjut. V O2 maks menunjukkan batas toleransi latihan aerobik dan sering menurun pada gagal jantung. 
  6. Kateterisasi jantung --- Kateterisasi jantung dilakukan pada semua gagal jantung yang penyebabnya belum diketahui. Dengan kateterisasi jantung maka dapat diketahui besar tekanan ruang- ruang jantung dan pembuluh darah serta penentuan besarnya curah jantung. 
  7. Pencitraan radionukleotida --- Merupakan metode pemeriksaan untuk menilai fungsi ventrikel dan sangat berguna apabila citra yang memadai dari ekokardiografi sulit diperoleh.
Terapi non-farmakologik
Terapi non-farmakologik meliputi:   
  1. Diet --- Pasien gagal jantung dengan obesitas harus diberi diet yang sesuai untuk menurunkan gula darah, lipid darah darah dan berat badannya. Asupan NaCl harus dibatasi menjadi 2-3 gr/ hari untuk gagal jantung ringan atau < 2 gr/hari untuk gagal jantung berat.    
  2. Merokok harus dihentikan.    
  3. Aktifitas Fisik  --- Olahraga yang teratur seperti berjalan atau bersepeda dianjurkan untuk pasien gagal jantung yang stabil (NYHA kleas II-III) dengan intensitas yang nyaman bagi pasien.   b.4. Istirahat Istirahat dianjurkan untuk gagal jantung akut atau tidak stabil (NYHA kelas IV).
Terapi Farmakologi atau Pengobatan 
  1. Diuretik digunakan untuk mengendalikan retensi natrium dan air. Furosemid 40 mg/hari atau bumetamid 1 mg/hari biasanya efektif. 
  2. Inhibitor ACE dapat menghambat perubahan angiotensin I menjadi  angiotensin II, menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.  
  3. Bloker β seperti bisoprolol, karvedilol yang dimulai dari dosis yang  sangat rendah dan bisa ditambahkan untu k menurunkan aktivitas simpatis  yang berlebihan dan mendorong remodeling otot jantung. 
  4. Digoksin diindikasikan untk mengendalikan fibrilasi atrium yang terjadi  bersamaan.
Tranplantasi jantung
Jika pasien tidak lagi berespon terhadap semua tindakan teraupik dan diperkirakan tidak akan bertahan hidup selama 1 tahun lagi, maka pasien ini akan dipertimbangkan cangkok jantung atau tranplantasi jantung. Sejak adanya skrining donor jantung yang lebih cermat, maka harapan hidup pasien yang menjalani transplantasi jantung sangat meningkat. Pada beberapa pusat kesehatan harapan hidup 1 tahun telah mencapai lebih 80-90% dan harapan hidup 5 tahun sekitar 70%.
 Pencegahan tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat atau kematian akibat gagal jantung.  Upaya yang dilakukan dapat berupa latihan fisik yang teratur untuk memperbaiki fungsional pasien gagal jantung.     
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar