Sikap Menyerah (Learned Helplessness) dan Depresif, Kenali Kepribadian Lebih Dekat

Terkadang kita dihadapkan pada situasi yang tidak mendukung dan sangat menekan, sehingga membuat kita menyerah pada keadaan. Biasanya sikap “menyerah” tidak muncul begitu saja, tetapi karena adalah situasi yang tidak bisa dikendalikan (diluar control individu). Dalam teori psikologi ini adalah keadaan “helplessness”, sebuah teori yang di diperknalkan oleh Martin Seligman (1975). Teori ini merupakan pengembangan dari teori psikologi positif, yang sekarang sangat besar pengaruhnya pada penanganan depresi dan system pembelajaran.

Lebih jelasnya Martin Seligman menggunakan istilah learned helplessness untuk menggambarkan situasi dimana organisme yang terus menerus dihadapkan pada hukuman yang tidak bisa dihindari sehingga individu tersebut membuatnya menerima begitu saja hukuman berikutnya yang tidak bisa dihindari.

Pada sebuah eksperimen klasik yang sederhana, Seligman memberikan sengatan listik berulang kali pada anjing yang tidak bisa kabur. Saat pembatas yang menghalangi anjing tersebut untuk kabur dihilangkan, anjing tersebut cenderung diam dan menerima begitu saja sengatan listrik yang diberikan. Pada penelitian tersebut, anjing tersebut belajar bahwa mereka tidak bisa mengontrol hukuman tersebut (misalnya dengan menyerang atau berlari), sehingga mereka pada akhirnya menghentikan usahanya untuk melawan. (Overmier dkk, 1967). Ini menunjukkan bahwa anjing tersebut tidak punya harapan untuk terbebas dari sengatan listrik dan menerima begitu saja sengatan listrik yang diberikan.

Eksperimen yang kurang  lebih sama pada manusia menunjukkan hasil yang sama; saat seseorang menyadari bahwa ia tidak memiliki kendali atas apa yang ia alami, ia kehilangan motivasi untuk merebut kendali. Selama tahap awal penelitian, kendali sepenuhnya terdapat pada faktor eksternal. Lewat pengalaman secukupnya dibawah kendali faktor eksternal, partisipan tidak lagi berusaha mengendalikan keadaan. Sebagai konsekuensinya, muncul rasa depresi, stress, dan sikap apatis (acuh tak acuh/tidak menghiraukan). Pemikiran tersebut saat ini digunakan untuk mempelajari dan mengatasi rasa depresi, sehubungan dengan pendapat bahwa orang yang depresif memiliki skema depresif yang menghasilkan pemikiran yang semakin depresif (Abraham dkk, 1989).

Penelitian tentang leaned helplessness ini juga mempunyai pengaruh pada bidang pendidikan. Seorang anak yang sering diberikan hukuman, lama kelamaan akan merasa bahwa hukuman yang diterimanya tidak bisa mereka elakkan, sehingga menerima begitu saja hukuman selanjutnya yang diberikan kepadanya. Hukuman yang tidak bisa dikendalikan dan dihindari oleh anak, akan membuatnya bersikap depresif dan tidak mau lagi mencari jalan menghindari hukuman tersebut, alih-alih mencari jalan alternatif agar terbebas dari hukuman.

Share on :


Related post:


2 komentar:

ONH Plus 2013 mengatakan...

hmm ternyata seperti itu ya..

umroh plus cairo 2013 mengatakan...

wah ternyata bahaya juga ya...

Poskan Komentar