Adakah Hubungan antara Cinta dan Kebahagiaan?

Cinta dan kebahagiaan adalah dua aspek emosi yang berbeda. Secara umum jiwa/psikis/mental manusia dibangun oleh dua bagian dasar yaitu pikiran dan emosi. Kedua bagian ini mempunyai karaktersitik yang jauh berbeda dalam menghasilkan sebuah tingkah laku. Pikiran menghasilkan tingkah laku yang rasional, sedangkan emosi menghasilkan tingkah laku yang merupakan sebuah instink (tidak disadari) atapun merupakan hasil sebuah instuisi. Jadi, terkadang orang marah, atau terkadang orang cemburu tanpa dilandasi oleh fakta yang sebenarnya (rasional), karena memang rasa “emosi” itu adalah sebuah instink.

Ahli psikologi membagi jumlah emosi kedalam beberapa bagian. Tetapi kebanyakan para ahli ini membaginya sesuai dengan paham mereka masing-masing, sehingga pembagian emosi dasar ini sangat beragam. Misalnya menurut Paul Ekman, salah seorang peneliti emosi paling terkemuka, menunjukkan bahwa manusia memiliki 6 emosi dasar, yakni ‘fear’ (takut), ‘anger’ (marah), ‘sadness’ (sedih), ‘happines’ (bahagia), ‘disgust’ (jijik) dan ‘surprise’ (terkejut). Emosi dasar itu dipercaya dimiliki oleh semua manusia dari budaya manapun juga.

Kembali kepembahasan, apakah ada hubungan antara cinta dan kebahagiaan. Sesuai dengan pendapat Paul Ekman, cinta dan kebahagiaan adalah sama-sama merupakan emosi dasar manusia. Jadi cinta dan kebahagiaan itu adalah sesuatu yang dirasakan, bukan sesuatu yang dipikirkan. Telepas dari itu, apakah kedua emosi ini memiliki hubungan? Artinya bahwa jika seseorang merasakan cinta maka orang tersebut juga akan merasakan kebahagian, demikian juga sebaliknya, jika seseorang membenci sesuatu berarti orang tersebut dalam keadaan unhappy (tidak bahagia/sedih).

Asumsi ini memang benar, tetapi dalam kenyataanya, ada beberapa hal yang membuat asumsi ini juga ditolak. Pernahkah anda mendengar seseorang rela hidup menderita demi cinta? (unhappy = love). Pernyataan ini sudah bertentangan dengan asumsi asalnya yang menyatakan bahwa cinta akan selalu dibarengi dengan kebahagiaan (love = happy). Atau pernyataan, saya rela berkorban demi cinta. Pengorbanan adalah sebuah derita berarti ini adalah unhappy = love. Saya membencimu karena ingin melihat kamu bahagia (unlove = happy). Dan saya yakin masih banyak pernyataan lain menyatakan hal ini, bahwa keduanya bertentangan.

Sampai saat ini, saya belum mendapatkan sebuah penelitian yang meneliti tentang ini (hubungan antara cinta dan kebahagiaan). Tetapi asumsi-asumsi yang ada menunjukkan hubungan keduanya tidak konsisten, ada kalanya sebanding tapi dikala lain, berbanding terbalik. Ini menunjukkan bahwa keduanya (cinta dan kebahagiaan) tidak mempunyai hubungan yang konsisten.

Jadi, terkadang orang mengejar cinta untuk kebahagian, dan terkadang juga orang rela menderita demi cinta. Berarti ini adalah keadaan psikologis yang bersifat individual dan situasional.

Share on :


Related post:


1 komentar:

jamal lewinsky mengatakan...

cinta kayak gado-gado juga ya ada sedih, marah, seneng, jijik dsb... salam kenal bro :-)

Poskan Komentar