Patologi Terkait Budaya (Culture Bound Psychopathology)

Stress Budaya Pencetus Patologi
Awal terbentuknya culture bound syndrome Stress budaya dapat dialami individu atau kelompok dalam masyarakat, saat kebudayaan memberikan tekanan-tekanan baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti sebuah kebudayaan yang melalui aturan-aturan serta sangsi-sangsinya membuat para penganutnya terikat kedalam dan tidak memungkinkan penganutnya untuk bertindak di luar form baku yang telah ditetapkan. Dalam menghadapi stress, individu selain mengerahkan pertahanan psikologis (psychological defenses), juga mengerahkan pertahanan budayanya (culture defenses) yaitu dalam bentuk “sistem kepercayaan”, dalam upaya adaptasinya. Misalnya, terbentuknya organisasi dari suku-budaya tertentu di kotakota besar atau timbulnya kelompok aliran agama dan kepercayaan baru, merupakan cara budaya untuk menolong individu yang mengalami konflik dan stress. Adanya kepercayaan dan ritual budaya untuk mengurangi ketegangan merupakan faktor penting dalam menentukan berapa besarnya stress budaya tersebut. Jelaslah bahwa berbagai budaya menyokong atau memperkuat berbagai corak psikopatologik dan menyediakan berbagai peranan untuk mengekspresikannya.
Sumber stress budaya dapat berupa:
  1. Perubahan budaya yang cepat dan penyakit kejiwaan kehilangan budaya lama, misalnya pada urbanisasi dan modernisasi, 
  2. Kontak dan interaksi antar budaya, misalnya kawin antar suku, agama, ataupun transmigrasi.
Contoh Beberapa penemuan dalam studi Etnopsikiatri di Indonesia berkaitan dengan stres budaya dapat dikemukakan sebagai berikut:
  1. Gunawan dan Banunaek (1968) melaporkan bahwa pada tahun 1964, sebanyak 10,14% pengunjung poliklinik psikiatri di RSCM Jakarta berasal dari suku Minangkabau, dengan psikoneurosis 45,48% dan psikosomatik 15,80%. Berdasarkan kasus ini dapat disimpulkan adanya stres budaya dalam 3 bentuk, yaitu: (1) pertentangan antara generasi tua (nilai lama) dengan generasi muda (nilai baru), (2) pertentangan antara agama dan adat dengan pendidikan dan pandangan modern, dan (3) pertentangan antara adat yang dibawa dengan adat yang didatangi. 
  2. Harahap (1969) melakukan penelitian komparatif mengenai kasus Etnopsikiatri di RSCM Jakarta antara suku Minangkabau dan Batak. Ia melaporkan bahwa pada suku Batak, kasus kebanyakan adalah laki-laki, sedangkan pada suku Minangkabau kasus kebanyakan adalah wanita. Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan peranan laki-laki dalam kebudayaan Batak (patrilineal) dan peranan wanita dalam kebudayaan Minangkabau (matrilineal), yang merupakan sumber stress. 
  3. Atmodirjo dan Salam (1969) mendeskripsikan mengenai kasus psikosis (acute schizoprenic reaction) pada seorang wanita suku Batak yang berusia 21 tahun, yang baru menjalani kawin paksa menurut adat Tapanuli dengan seorang anak laki-laki dari saudara perempuan ayahnya (asymmetric cross cousin marriage system). Kepatuhan pada adat menimbulkan stres bagi wanita tersebut sampai pada taraf psikotik. Dengan pendekatan “socio-cultural action” ternyata dapat menanggulangi kasus tersebut. 
  4. Sukirno (1973) melaporkan tiga kasus dari keturunan Arab yang mengalami stres budaya dan memunculkan gangguan jiwa, yaitu dalam bentuk: anxietydepressive reaction, psychotic reaction, dan depressive reaction. Keturunan Arab di Indonesia telah mengalami akulturasi, namun masih kuat memegang adat-istiadat atau budaya asalnya. 
  5. Gunawan (1980) telah mengidentifikasi beberapa kasus stress budaya pada masyarakat Irian Jaya, yang dapat memunculkan berbagai gangguan jiwa, yaitu: (1) urbanisasi (perubahan pola hidup), (2) perbedaan budaya antara penduduk pendatang dan asli, (3) suami-istri dengan tingkat pendidikan dan latar belakang sosio-budaya yang berbeda, (4) konflik antara generasi tua dan muda, (5) pelanggaran terhadap adat (tabu), dan (6) kepercayaan terhadap ilmu hitam. 
Jenis-Jenis Culture Bound Syndrome and Psychopathology
A. Jenis-jenis culture bound syndrome and Psychopathology yang ada di Indonesia
WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang sehat dan kurang sehat jiwa di antaranya selalu diliputi oleh suasana kekhawatiran dan kegelisahan. Kemudian, ia mudah marah karena hal-hal yang sepele dan menyerang orang lain karena kemarahannya. Permusuhan, kebencian, sukar memaafkan orang lain merupakan suatu penyakit kejiwaan. Begitupun ketika tidak mampu menghadapi kenyataan hidup, tidak realistik, karenanya ia sering lari dari kenyataan dengan cara selalu menyalahkan orang lain (proyeksi) walaupun sebenarnya sumber kesalahan adalah dirinya.
Tiga faktor utama yang menjadi pencetus gangguan jiwa, yaitu: 1. genetik (internal), 2. pola asuh dan pola didik yang kurang baik (salah) karena anak terlalu dimanja dan dikerasi (otoriter/diktator), 3. serta lingkungan sebagai stresor seperti yang dikatakan Hidayat dalam Arianto (2004) Adanya suatu tekanan (pressure) dari lingkungan hanya bisa diobservasi dari reaksi patologik dari pihak individu yang bersifat biologis dan psikologis. Jelas bahwa stressnya sendiri tidak menentukan (non-spesifik), melainkan reaksi terhadap stress tersebut merupakan faktor penentu bagi timbulnya gangguan jiwa seperti yang ijelaskan oleh Maslim (1987).
Seperti yang telah saya jelaskan diatas bahwa gangguan jiwa ini dapat berasal dari depresi akibat lingkungan sosio kultural dimana manusia tersebut tinggal. Sumber dari stress budaya seperti yang disebutkan Maslim (1987) dapat berupa: (1) perubahan budaya yang cepat dan kehilangan budaya lama, misalnya pada urbanisasi dan modernisasi, (2) Kontak dan interaksi budaya, misalnya kawin antar suku, agama, ataupun transmigrasi Relativitas yang ada dalam berbagai budaya memberikan reaksi yang berbeda pula terhadap berbagai gejala gangguan jiwa. Ada gejala yang ditoleransi, diperkuat atau disokong, sehingga individu yang memperlihatkan gejala tersebut tampaknya tidak menderita dan tidak dianggap “sakit”. Sebaliknya, bila gejalagejala tersebut dianggap menyimpang dan tidak dapat ditoleransi, individu pembawa gejala tersebut tampak sangat menderita. Ini berarti, individu-individu dengan gangguan jiwa yang mirip bisa diberi fungsi dan peranan yang berbeda dalam berbagai budaya dimana mereka tinggal Kelompok diagnostik ini lebih dikenal dengan sebutan “culture bound syndrome”, yaitu suatu “sindroma sakit jiwa yang diakibatkan karena kondisi lingkungan budaya dimana si penderita tinggal ” dan hanya terbatas pada budaya tertentu serta diberi nama oleh budaya tersebut. Maslim (1987 dalam Arianto 2004:5-8) pemberian nama gangguan jiwa biasanya sesuai dengan budaya mereka masing-masing seperti misalnya:
1. Kesurupan (umum)
Kesurupan berasal dari bahasa Jawa yang berarti kemasukan sesuatu hal yang gaib. Kesurupan memang selalu dikaitkan dengan fenomena gaib, yaitu seseorang yang kerasukan makhluk halus sehingga manusia yang kerasukan mempunyai kepribadian ganda dan mulai berbicara sebagai individu lain. Menurut ilmu medis modern, kondisi ini adalah suatu keadaan perubahan kesadaran yang disertai tanda–tanda yang tergolong dalam gangguan disosiatif atau kepribadian ganda atau dapat pula merupakan gejala serangan akut dari gangguan psikotik schizophreniform. Masyarakat JawaTimur misalnya selalu menggunakan bantuan para dukun atau kyai dalam mengobati seseorang yang kesurupan. Dukun atau kyai menggunakan efek-efek sound therapy dengan membacakan suluk dan para kyai biasanya membacakan doa-doa dalam bahasa arab. Menurut pandangan mereka suluk maupun doa mampu mengusir roh halus yang masuk dan menguasai raga dari penderita kesurupan. Foster dan Anderson (1986) menjelaskan mengenai cara pengobatan dukun (Shaman):
“…banyak komunikasi verbal yang berlangsung adalah antara penyembuh dengan roh-roh dan bila melibatkan pasien secara langsung, komunikasi itu ditujukan kepadanya dan tidak memerlukan suatu jawaban.. Memang ada kesamaan verbal, tentunya, terutama yang berhubungan dengan pengakuan, yang merupakan elemen pokok dari beberapa masyarakat non-barat…”
Suluk ataupun doa yang diucapkan atau dilantunkan dengan intonasi yang baik dan teratur merupakan sound therapy sehingga dapat menimbulkan ketenangan gangguan kejiwaan seseorang dengan ciri banyak mendengar suara-suara atau teriakan di dalam dirinya Suluk adalah mantra yang dilantunkan dalam bentuk tembang mempunyai nada, intonasi dan ritme yang teratur tersendiri bagi si penderita. Kalangan bangsa Barat menyebut kesurupan dengan nama “exorcist”.
Beberapa contoh penelitian mengenai kesurupan adalah sebagai berikut.
  • Prayitno dan Banunaek (1968) melaporkan kasus seorang wanita sekolah perawat gigi di Jakarta yang mengalami sakit perut, pingsan, dan tidak ingat. Sesudah sadar, ia tidak ingat kejadian tersebut dan merasa seperti dalam keadaan tidur. Kejadian ini berulang setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. 
  • Djamaludin (1971) melaporkan mengenai fenomena hasolopan pada suku Batak di Medan, yang mirip dengan kesurupan. Fenomena semacam ini lebih sering dialami wanita dari pada pria, kebanyakan anak-anak pubertas, terjadi pada semua strata sosial, perasaan frustasi dan depresi. Penderita seolah-olah hidup dalam dua dunia (gaib dan nyata). 
  • Manus (1971) melaporkan fenomena kesurupan yang disengaja dilakukan oleh tonaas dengan tujuan pengobatan. Tonaas adalah orang yang dikaruniai kemampuan yang dapat berkomunikasi dengan arwah nenek moyang (opoopo), yang dianggap mempunyai kekuatan magis-mistik.
2. Bebainan (Bali)
Bebainan adalah kemasukkan “bebai“, yaitu roh yang dapat menguasai manusia, menyakiti, atau membunuh. Bebai diperoleh dengan pemeliharaan dari kecil sampai dewasa, kemudian siap dipakai oleh yang memelihara. Yang dapat mengobati bebainan adalah “balian“ (dukun). Gejalanya adalah perubahan kesadaran, tingkah laku agitatif yang terjadi mendadak, disertai kebingungan, halusinasi dan gejolak emosi. Episode ini cepat menghilang dan disertai periode amnesia.
Contoh penelitian mengenai bebainan ini adalah dari Suryani (1981) mengenai fenomena bebainan di beberapa desa di Bali. Suryani melaporkan bahwa lebih sering wanita usia muda atau belum kawin pernah mengalami bebainan. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hari raya Bali dan stress emosional.
3. Cekik (Jawa Tengah)
Cekik adalah suatu histeria konversi dengan kejang–kejang seluruh badan dan kesadaran menurun, sebelum jatuh kejang selalu menunjukkan seperti orang tercekik lehernya. Sebagian besar mengalami halusinasi visual menjelang atau saat serangan. Terjadi di desa Babalan, kecamatan Wedung, kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada setiap tahun dalam bulan puasa menjelang lebaran. Santoso dan Pranowo menyebutnya sebagai “sindroma tekak“. Contoh penelitian mengenai cekik ini adalah penelitian Sumitro (1981) di desa Babalan, dan melaporkan bahwa wanita lebih sering mengalami cekik dari pada pria, hampir merata pada umur dewasa, tingkat pendidikan dan sosial-ekonomi rendah, serta berhubungan dengan kepercayaan mistik bahwa roh halus akan mengambil orang-orang tertentu di desa. Ternyata epidemi ini hilang dengan sendirinya sesudah bulan Puasa terlewati.
Masyarakat lokal Demak manganalisa fenomena cekik sebagai gangguan dari hantu cekik yang muncul setahun sekali. Analisa tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit-penyakit gangguan kejiwaan akibat budaya.
4. Koro (Sulawesi Selatan)
Koro adalah sindroma anxietas yang mendadak sampai dengan panik disebabkan oleh adanya waham bahwa alat kelaminnya akan mengkerut masuk dan menghilang ke dalam tubuhnya sehingga dirinya akan mati, pada umumnya terjadi pada laki–laki. Orang itu berusaha mencegah dengan cara memegang erat– erat alat kelaminnya atau mengikat dengan tali, kalau perlu minta bantuan orang lain memegang alat kelaminnya secara terus menerus. Dalam keadaan koro, orang–orang jenis kelamin berlawanan dilarang berada di sekitar pasien, oleh karena dapat menyebabkan kematiannya. Serangan ini pada suatu saat dapat menghilang sendiri dan pasienpun menjadi tenang kembali.
Contoh beberapa penelitian mengenai koro ini adalah sebasgai berikut.
  • Baasir (1974) melaporkan mengenai penelitiannya di Sulawesi Selatan. Ia berpendapat perlunya dibedakan antara “ koro like symdrome” dengan gangguan koro yang murni. Koro like syndrome merupakan tambahan gejala dari gangguan jiwa lain, sedangkan koro murni merupakan culture bound syndrome yang terikat pada budaya. 
  • Tanumiharja (1984) melaporkan penelitiannya di Sulawesi Selatan. Ia membantah bahwa koro hanya terjadi pada orang keturunan Cina. Koro dalam budaya Bugis dianggap penyakit syaraf yang tegang, yang disebabkan oleh kelelahan fisik dan mental (alat kelamin adalah simbol vitalitas).
5. Amok ( Umum)
Amok terjadi pada suatu episode tunggal dimana terdapat kegagalan menekan impuls atau rangsangan, yang mengakibatkan suatu tindak kekerasan yang ditujukan ke luar dirinya sehingga mengakibatkan malapetaka bagi orang lain. Derajat tindak kekerasan yang terjadi sangat hebat bila dibandingkan dengan stressor psikososial yang mendahuluinya. Setelah episode itu selesai, pasien tenang kembali dan menyesal. Ia mengalami amnesia tentang sebagian atau seluruh perbuatannya itu.
Maretzki (1981) dalam mengulas masalah budaya dan psikopatologi di Indonesia mengemukakan bahwa gangguan ini cukup sering ditemukan dan mempunyai dampak sosial yang serius, gangguannya dapat dibagi dalam lima fase, yaitu:
  1. prodromal state of neurasthenic nature, chronic illness, lost of sense of sosial order, 
  2. acute physical and psychological tension, 
  3. a state of meditation, experience of increasingly threatening external pressure which causes fright or rage, 
  4. the sudden explosive amok behaviour which includes attack and destruction of people, animals, objects and perhaps self, 
  5. stupor or deep sleep with a depressive after state, with amnesia for the amok phase.
Ia menghubungkan fenomena amok ini dengan sifat orang Indonesia yang tidak suka mengekspresikan emosinya, sehingga suatu saat menjadi “mata gelap“. Menurut Arianto (2004) Amok tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi juga di Malaysia, Singapore dan negara-negara Melayu lainnya.
6. Latah (Umum)
Latah adalah suatu keadaan yang sering timbul pada wanita setengah tua, tidak bersuami yang biasanya berasal dari kalangan rendah dengan kehidupan dan cara berpikir yang sederhana, gejalanya sering diawali dengan mimpi–mimpi tentang alat kelamin laki–laki atau sesuatu yang melambangkan alat kelamin yang bergantungan di dinding atau di dalam kamar tidurnya, dan apabila ia dikagetkan oleh suara atau gerakan ia segera bereaksi koprolalia, echolalia atau echopraxia (hiper sugestibilitas). Setelah episode ini berakhir, ia merasa malu, menyesal dan minta maaf atau menyalahkan orang yang telah mengejutkan dirinya. Oleh masyarakat keadaan ini tidak dianggap sebagai gangguan jiwa dan terbanyak terdapat di pulau Jawa. Contoh penelitian mengenai latah ini adalah dari Soestiantoro (1985) yang mengulas latah secara historis dengan mengambil kasus di Palembang. Menurutnya, fenomena latah belum banyak diketahui, baik mengenai mekanisme psikopatologinya maupun hubungan dengan masalah budaya yang kompleks.
Namun akhir dekade ini latah seakan menjadi suatu trend di kalangan anak muda, karena dianggap sebagai hal yang lucu dan gaul. Menurut analisa penulis, fenomena trend latah ini tidak lepas dari perkembangan dunia hiburan pertelevisian. Para public figure seakan memakai latah sebagai alat untuk melucu, sehingga masyarakatpun dengan mudah meniru dan menganggap latah sebagai “penyakit yang keren”.
Latah sendiri juga bisa terjadi dengan sengaja, saat seseorang ingin eksistensinya diakui di masyarakat, dia berpura-pura menjadi seorang yang latah saat dikejutkan agar dilabeli sebagai orang yang lucu dan gaul. Saat kejadian tersebut berlangsung kontinum, maka latah dalam arti penyakit kejiwaan yang asli akan timbul dalam individu tersebut.
7. Gemblakan (Jawa Timur)
Gemblakan adalah suatu aktivitas homoseksual di kalangan pemuda yang diterima oleh tradisi masyarakat setempat di Ponorogo, Jawa Timur. Aktivitas ini akan berakhir setelah mereka kawin. Contoh penelitian mengenai gemblakan adalah dari Yusuf dan Husodo (1982) di desa Bancar, Kabupaten Ponorogo.
Mereka menemukan bahwa gemblakan tersebut mempunyai dampak positif dalam masyarakat, dengan timbulnya rasa kekeluargaan dan gotong royong. Karena orang yang melakukan gemblakan biasanya orang-orang berpengaruh di kampung setempat, sehingga yang di gemblak merasa bangga.
8. Ludruk (Jawa Timur)
Ludruk adalah kesenian panggung Jawa Timur, dahulu semua pemainnya adalah pria, termasuk mereka yang memainkan peranan wanita, sebagian tergolong dalam “male transvestite“,“ wedhokan ludruk ” atau dalam bahasa Indonesia berarti wanita ludruk. Jadi, dalam hal ini seorang pria yang memerankan peran wanita baik dalam karakter fisik maupun tingkah laku dengan alasan apapun juga dianggap mempunyai sutau gangguan jiwa yang disebut dengan ludruk. sampai-sampai dalam masyarakat Jawa Timur, seorang pria yang berpenampilan seperti wanita disebut
Contoh penelitian mengenai ludruk adalah dari Prasadio (1972) pada 38 pemain ludruk di Jawa Timur. Sekarang ini kesenian ludruk mengalami perkembangan dengan mengambil wanita asli untuk memerankan tokoh wanita. Pemain ludruk wanita yang terkenal saat ini adalah Kastini dari Surabaya.
B. Jenis-jenis culture bound syndrome and Psychopathology yang ada di Belahan Dunia
1. Amok
Terjadi pada laki-laki di bagian Tenggara Asia, pulau-pulau Pasifik, Puerto Riko, Navajo di Barat. Di Malaysia = amoq. Orang normal tiba-tiba gelap mata, memukul orang lain/objek bahkan membunuh. Selama episode, subjek merasa bertindak otomatis. Sering disertai dengan persepsi dikejar-kejar. Setelah kejadian, kembali normal -> disosiatif.
Penderita tiba–tiba mengamuk, berteriak, merusak, membunuh, berlarian, tanpa sebab tapi diawali dengan melamun dan sedih lalu diakhiri dengan lelah, amnesia dan kemudian sering bunuh diri. Kesurupan : reaksi disosiatif.
2. Ataque de nervios
Ditemukan Amerika Latin dan Mediterania Latin. Berteriak tak terkendali, menangis tersedu-sedu, gemetaran, merasa hangat/panas yg naik dari dada ke kepala & perilaku fisik/verbal agresif. Didahului peristiwa stres tentang keluarga & disertai perasaan hilang kendali. Setelah serangan, akan kembali normal. Bisa juga mengalami anemsia setelahnya -> distres emosional
3. Sindrom dhat
Ditemukan pada laki-laki India. Kecemasan/ketakutan intens atas habisnya air mani melalui mimpi basah, ejakulasi keluar bersama urin. Di India ada kepercayaan bahwa hilangnya air mani menghabiskan energi alami vital laki2 -> kecemasan.
4. Jatuh pingsan
Ditetemukan di Amerika selatan dan Karibia. Tiba-tiba jatuh lemas dan pingsan mendadak. Serangan bisa terjadi tanpa gejala awal seperti pusing/perasaan mengambang dikepala. Walau mata terbuka, subjek bisa tidak melihat. Subjek bisa mendengar orang lain dan memahami apa yang terjadi tapi merasa tidak berdaya untuk bergerak.
5. Ghost sickness
Di temukan pada populasi Indian Amerika. Melibatkan fokus dengan kematian dan roh orang mati. Simtom: mimpi buruk, merasa lemah, hilang selera, ketakutan, kecemasan dan firasat buruk. Mungkin muncul halusinasi, hilang kesadaran dan keadaan kebingungan
6. Koro
Ditemukan di Cina dan Asia Selatan dan Timur. Kecemasan akut disertai ketakutan bahwa alat kelamin seseorang (penis pada laki2 dan vulva serta putting pada wanita) menyusut dan melesak ke dalam badan dan akibatnya mungkin kematian.
7. Zar
Ditemukan di Afrika Utara dan Timur Tengah. Kerasukan roh. Ditandai oleh periode teriakan, membenturkan kepala ke dinding, tertawa, menyanyi atau menangis. Orang-orang ini mungkin tampak bersikap masa bodoh atau menarik diri menolak makan atau tidak melakukan tanggung jawab yang biasa -> disosiatif
8. Taijin-kyofu-sho
Ditemukan di Jepang. Sindrom psikiatrik yang melibatkan ketakutan berlebihan karena menyinggung atau membuat malu orang lain. Takut bahwa ia akan menggumamkan pikirannya dengan suara keras, kalau2 ia secara tidak sengaja menyinggung orang lain.
9. Hikikomori
Ditemukan di Jepang. Biasanya dialami anak muda. Sindrom penarikan sosial secara ekstrem. Rata-rata berusia 13-15 tahun, pada suatu hari masuk ke kamar mereka dan tidak mau keluar lagi hingga bertahun-tahun yang pada banyak kasus bertahan hingga lebih dari 10 tahun.Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya.
10. Piblokto
Ditemukan pada orang-orang suku Eskimo. Ditandai dengan Kesurupan atau keadaan trans biasa pada pria dan wanita. dan Agresif, berteriak, membuka atau merusak bajunya, berguling-guling, berlarian. Sesudah 1-2 jam normal kembali dengan amnesia.
11. Wihtigo atau Windigo
Ditemukan pada populasi suku Indian. Ditandai dengan Psikotik, kanibalisme, waham, eksitasi, takut, Kesurupan: Psikosis, Jadi-jadian (monster pemakan daging), Depresi berat, Histerik,
12. Voodoo
Ditemukan di Black Ghetto, Negro (Afrika), Polynesia (Haiti), juga ditemukan di Amerika Selatan, Australia, New Zaeland, Kepulauan Pasifik, Ceylon). Ditandai dengan Waham dirasuki, kejang- kejang, menari histerik dan ritmik, eksitasi, keadaan trans. Kesurupan : keadaan histerik, keadaan psikotik. Beranggapan bahwa roh jahat menguasai pasien
13. Arctic Hysteria
Ditemukan pada psuku Eskimo. Description: Convulsive hysterical attacks, sometimes conversion symptoms, following the actual or symbolic loss of someone or something important.
14. Dan lain-lain….

Sumber:
Al Barry, M. Dahlan 1994. Kamus Ilmiah Populer. Bandung: Penerbit Arkola.

Arianto, Nurcahyo Tri 2004. Bahan Ajar Antropologi Psikiatri. Manuskrip. Surabaya: Universitas Airlangga

Dipojono, Bonakamsi. 1984. ‘Pengaruh Budaya pada Gangguan Jiwa’ Majalah Jiwa 17 (2): 7-15 Foster,

George M. dan Anderson, Barbara Gellatin 1985 Antropologi Kesehatan. Jakarta: UI Press

Kashiko, Team 2004. Kamus Lengkap Biologi. Bandung: Kashiko Press Koentjaraningrat 1990 Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.

Maslim, Rusdi 1986 ‘Psikiatri Budaya di Indonesia (Suatu Tinjauan Kepustakaan)’. Majalah Jiwa 20 (3): 23-44

O’neill, Dennis 2005 ‘Culture Spesific Disease’ Pandupitoyo, Darundiyo 2006 Tugas Akhir Antropologi Psikiatri. Manuskrip. Surabaya: Universitas Airlangga.

Suparlan, Parsudi 2006. Suku Bangsa dan Hubungan Antar Suku Bangsa. Jakarta: Penerbit YPKIK.

Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar