Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder /OCD)

Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.
Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.
PENYEBAB
Penyebabnya tidak diketahui. Gangguan obsesif-kompulsif tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada individu yang memiliki kepribadian obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. 
Penyebab Obsesif Kompulsif adalah: 
  1. Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). 
  2. Organik – Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD. 
  3. Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah. 
  4. Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD.
  5. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan 
  6. Konflik - Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan antara suami-istri, di tempat kerja, keyakinan diri.
Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi, atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Perilaku yang obsesif pada ibu depresi berusaha berkali-kali atau berkeinginan untuk membunuh bayinya.
INDIVIDU YANG BERISIKO
Individu yang beresiko mengalami gangguan obsesif-kompulsif adalah; 
  • Individu yang mengalami permasalahan dalam keluarga dari broken home, kesalahan atau kehilangan masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat diperhitungkan) 
  • Faktor neurobilogi dapat berupa kerusakan pada lobus frontalis, ganglia basalis dan singulum. 
  • Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi 
  • Riwayat gangguan kecemasan 
  • Depresi 
  • Individu yang mengalami gangguan seksual
GEJALA
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan bahaya.
Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut. Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Gejala ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utam obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan. 
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya.
CIRI-CIRI OBSESIF KOMPULSIF
Simptom dari Obsesif Kompulsif ditandai dengan pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya. Gejala utama obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Perilaku dan pikiran yang muncul tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
  2. Beberapa perilaku yang muncul disadari oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil.
  3. Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya. 
  4. Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap harinya. 
  5. Obsesi dan kompulsi menyebabkan terjadinya tekanan dalam diri penderita dan menghabiskan waktu (lebih dari satu jam sehari) atau secara signifikan mengganggu fungsi normal seseorang, atau kegiatan sosial atau suatu hubungan dengan orang lain. 
  6. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang seperti mencuci tangan & melakukan pengecekan dengan maksud tertentu.
BERBAGAI PERILAKU GANGGUAN YAN SERING TERJADI : 
  • Membersihkan atau mencuci tangan 
  • Memeriksa atau mengecek 
  • Menyusun 
  • Mengkoleksi atau menimbun barang 
  • Menghitung atau mengulang pikiran yang selalu muncul (obsesif) 
  • Takut terkontaminasi penyakit/kuman 
  • Takut membahayakan orang lain 
  • Takut salah 
  • Takut dianggap tidak sopan 
  • Perlu ketepatan atau simetri 
  • Bingung atau keraguan yang berlebihan. 
  • Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan bilangan)
Individu yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran intrusif tanpa tindakan repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita menunjukkan perilaku kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya seperti diatas.
TREATMENT/PENANGANAN
Psikoterapi.
Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih.
Farmakologi
Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan.
Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro),
paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa)
Trisiklik (Tricyclics)
Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik merupakan obat-obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan SSRIs. Pemberian obat ini dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian jenis obat ini adalah peningkatan berat badan, mulut kering, pusing dan perasaan mengantuk.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine (Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid (Marplan). Pemberian MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang rasa sakit (seperti Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.
Share on :


Related post:


27 komentar:

tirta mengatakan...

adakah obat herbal untuk penderita kompulsif?

indry mengatakan...

saya punya teman yg seperti itu.laki2.suka cuci tangan pakai sabun.sehari bisa sampai puluhan x.tiap ada waktu dia akn cuci tangan.saya pikir dia menggunakan narkoba krn bdnx juga kurus x.bahkan dia tdk lg malu2 klo di liat org.prnh di larang oleh penghuni kos yg laen krn air pdam kan mahal.tapi ya tetap bandel.bahkan tengah malam bs lebih dr 10x bgn hnx untuk cuci tangan.sekedar info aja....

Anonim mengatakan...

Dimanakah tempat terapi CBT seperti yang dijelaskan? Apakah semua psikolog atau psikiater melaksanakan psikoterapi seprti ini?

Blognya dr. Thary mengatakan...

Sepertinya perilaku berbelanja berlebihan utk menghilangkan kecemasan lama2 bisa mengarah ke perilaku ini ya.. Hadeeeeeehh.... Wahai shopaholic, sadarilah..... :-))))

Anonim mengatakan...

mengoleksi, menimbun barang, takut salah dan takut tidak sopan sepertinya saya mempunyai gejala itu..
sulit untuk memulai sebelum adanya keyakinan semua info didapat, cendrung jadinya waktu tertunda. Lebih karena takut salah dan disalahkan. dapat tlg di jelaskan lebih lanjut terkait gangguan pada bagian ini. terimakasih..

mohdmukhtar mengatakan...

jika peringkat awal tidak dikawal dan diatasi tekanan sebagai was-was ini menjadi kronik dan bisa menjadi penyakit mental.

dewi mengatakan...

sy juga seperti itu. sy sering meletakkan barang2 berulang2 kali dan harus rapi dan lurus. selain itu, setiap malam sy slalu memeriksa dan mengunci pintu kamar berkali2 sbelum tidur. sy juga suka merapikan buku dan menghitungnya sblm pulang skolah. sering mengecek tulisan nama yg sy tulis brulang2 kali. :( oh god what should i do

Anonim mengatakan...

apakah kecanduan judi jg termasuk gangguan obsesif kompulsif?

rian sindu mengatakan...

dilain sisi ada hal positif jikamengalamigangguan ini, Penderita jadi sanagt ahli di bidang tertentu tanpa ada perasaan tertekan ( tengok becham n leonardo de C )

Anonim mengatakan...

Saya mungkin salah satu yang mempunyai gangguan ini
1. cuci tangan berkali-kali dalam sehari
2. memeriksa berkali-kali pintu yang sudah terkunci
3.memeriksa kran air apakah sudah tertutup sempurna atau belum
4.memeriksa stop kontak listrik di rumah berkali-kali
5.mengulang kata-kata saat membaca dalam hati
ada perasaan khawatir dan trauma sehingga sy melakukan hal itu
Hal ini sangat mengganggu.berusaha saya hilangkan tp sulit
Sungguh menyita waktu
adakah terapi sederhana yang bisa sy lakukan tanpa harus menemui dokter? mohon pencerahannya

NuTama mengatakan...

Ohh.. ternyata itu penyakit.
dulu saya pernah ngalami itu. suka menghitung bilangan dengan kelipatan dan aturan tertentu, suka membaca doa berluang-ulang dgn maksud tak ada satu huruf pun yg salah. Padahal saya berusaha untuk menghilangkan pikiran itu, tapi tetap saja ga bisa

Anonim mengatakan...

ini dia nih.. Saya trmasuk juga orang ocd di atas.. Dari dulu saya mencari apaan ini penyakit apa bukan.
Saya mintak tolong dgan sangat gimana. Ada nggak pnjlasan lebih lanjutnya.

Anonim mengatakan...

Kalau judi tdk krn wktu mnikmati maen nya ga pake khayalan pnjudi hy brkhayal ktika menang sj bkn saat mnikmati maennya, tpi hati2 pcandu wanita ato pelaku masturbasi yg mnggunakan syaraf otak utk instrumen khayalan ktika mnkmati mmainkan permainan sptnya riskan terkena gangguan syaraf tuk hal ini

Anonim mengatakan...

Apakah saya termasuk OCD?? bila keadaan saya selalu mengkhayalkan seauatu yg membuat tenang, berjalan sambil menghitung langkah saya saat sendiri, timbul rasa cemas di tempat ramai (bahkan bisa mu dan pusing), muncul rasa malu dan sangat lama saat mau memutuskan krn tidak yakin dengan diri saya, serinh salah mengucapkan kata", dan terlalu banyak memikirkan sesuatu yg simple dibuat jd Rumit. Apakah ini bukan gejala OCD?? Saya sempat mau ke psikiater tp ortu melarang. Mohon bantuanya. Terima kasih.

iguas mengatakan...

saya punya temen lebih parah tidak boleh mendengar tv dan lagu dari komputer,tidak boleh disentuh,menganggap eransemuanya ada angka2,menyukai angka 4,duks tutup telinga saat mendengar suara tv dan lagu atau film dari komputer,padahal dia mahsiswi kedokteran.mohon solusinya

Anonim mengatakan...

berarti saya terkena penyakit ini

Anonim mengatakan...

saya sering berulang kali mengecek pintu apakah sudah terkunci atau belum, dalam 10 detik bisa 5 kali mengecek pintu, sering menekan bagian tertentu di tubuh saya misalnya tangan, sering mengencangkan otot lengan saya sehingga nafas terengah engah, sering menekan suatu benda dengan jari saya secara berulang sampai saya puas, saya juga sering menatap dengan dalam pada seseorang yg sedang bicara itu pun tidak saya sadari, saya sering membuat sesuatu menjadi rumit, mohon bantuannya

Anonim mengatakan...

Misalnya kita mengidolakan seseorang sampai2 menganggap idola itu ada di sekitar kita dan menganggap idola kita itu benar2 ada di kehidupan kita dan kita sangat yakin kalau idola kita mengetahui apa pun yg kita lakukan, apa itu termasuk OCD?? Bahkan kita sampai harus mengecek akun sosmed idola kita agar kita tau keadaannya dan kita selalu "curhat" ke idola kita saat kita sedang ada masalah atau sedih... Apa itu termasuk OCD??

Silent Tears mengatakan...

hy all...
aku seorang dokter muda n ternyata juga mengidap gangguan obsesif kompulsif, cara terbaik adalah dengan CBT, yaitu merubah kognitif (penilaian kita) dalam kebiasaan sehari2. kalau di negara maju mereka membuat kelompok2 sharing, sehingga bisa saling support, untuk memperbaiki diri, kalau berkenan kita bisa ngumpul di www.ocdteam.blogspot.com. baru sy buat jadi belum diisi apapun, nanti semuanya bisa ikut mengisi kok... saya senang jika bisa berteman dengan teman2 di sini...trims

Anonim mengatakan...

saya jg mengalami OCD ini, dlu sebelum menikah saya tidak begitu merasakan lelah, saya ambil sisi positifnya saja.
namun, setelah menikah saya jd lelah dgn kebiasaan yg menghabiskan waktu dari ciri2 yg disebutkan di atas yg saya alami, malah cemasnya semakin berlebihan dan sulit dikontrol, kehidupan sosial pun agak terganggu dgn tetangga, saya sering tidak betah dgn tetangga yg menurut saya mengganggu, pdhl kata sbnrnya biasa aja, ini yg ada terapinya dmn y klo bs diinfokan. thx

Putri Rahmah Ajizah mengatakan...

Mungkin saya termasuk daripada penderita juga, karena hal berkalikali yg saya lakukan itu seperti :
-mengunci pintu harus benar, dan posisi tangan dengan gagabg pintu juga harus benar, jika saya merasa tidak sempurna saya akan mengulangnya sampai benar.
-Seringkali kalau jalan saya tidak suka menginjak garis atau saya akan lebih suka untuk meloncatinya.
-setiap kali saya menyentuh apapun itu saya seringkali merasa cemas bila tidak mengulanginya
-setiap saya menekan tombol baik tombol tv, saklar, kipas angin, saya seringkali merabanya dg saksama, bahkan harus benarbenar tepat melakukannya, jika tidak saya akan mengulanginya lagi.
-Kadang kalau lagi berdoa pun saya juga seringkali mengucapkannya berulang.
-Ketika saya mengucapkan katakata dg berulang, tubuh saya selalu bergerak.
Saya mengalami ini dari SD kelas 4 sampai sekarang sama SMA kelas 3 saya masih mengalami ini. Awalnya saya pikir hanya saya yg mengalami ini, maka dr itu saya tdk pernah bercerita kepada siapapun ttg masalah ini. Saya sangat tertekan, saya melakukan hal tersebut hanya khawatir jika saya tdk melakukannya maka akan ada sesuatu yg terjadi.
Saya berharap saya bisa mengilangkan perilaku aneh saya.

jeharni,s.psi mengatakan...

You're not the alone...

sabar, kalau kamu telah mengidap gangguan ini...

sebaiknya diolah untuk hal2 yg positif.
Ketahuilah, bahwa obsesi juga sangat diperlukan dalam diri kita untuk menggapai angan dan harapan yang tinggi terhadap sesuatu. Obsesi justru membuat fokus diri kita.

perhatikan orang yang menderita OCD dan bisa mengolahnya dengan baik.

RAFAEL NADAL (Petenis dengan Peringkat 1 Dunia)
mengulang gaya memegang hidung, merapikan rambut, melap tangan di paha, lalu melihat raketnya sejenak. dan jika istirahat NADAL tak ingin menginjak garis tapi melangkahinya. lalu merapikan air minumnya dengan lurus sejajar. Aneh! tapi tidak buat dia (NADAL).
Olah hal tersebut seperti kecemasan yg bisa digunakan untuk memotivasi diri. Ok

Semoga Jauh Lebih Baik!!

Anonim mengatakan...

Ternyata saya ngga sendirian. Saya juga mengalami gangguan mental seperti ciri2 diatas. Dari sd saya selalu minta maaf sampai teman2 dan keluarga saya kesal,tetapi minta maaf sy berlebihan. Kemudian saya kalau solat suka sengaja salah baca suratnya sampe 3 kali,saya suka menimbun barang,kalau ke kamar mandi membanjur atau apapun sampe 3 kali,sering bertanya "ngga akan kualat kan?janji?" bila belum dijawab akan merasa cemas berlebihan,suka memegang benda dengan posisi tangab tertentu,dll. Ternyata saya banyak teman yg memiliki gangguan mental yg sama.

Anonim mengatakan...

sewaktu saya masih sma tiap malam saya bisa buang air kecil puluhan kali karn takut ngompol..tp kdangh jg masih ngompol..setelah saya masuk keperawatan dan mengetahui keperwatan jiwa..saya baru sadar sy sdikit terkena krn adanya tekanan dari luar yang menyebabkan ketakutan dan akhirnya menekan pikiran,,tapi alhamdulillah koping saya masih bagus,,.

Anonim mengatakan...

Saya juga akhir - akhir ini sya selalu mencuci tangan bekali - kali dan ,sewaktu saya di suruh mengkunci pintu rumah sya selalu melihat nya ber ulang kali smpai saya sudah yakin kalo pintu nya sudah di kunci dengan baik

Anonim mengatakan...

Saya pun mengalaminya. Ketika SD saya sering mengedipkan mata saya dengan sengaja berulang kali..meludah berulang kali karena khawatir akan sesuatu dalam pikiran saya. Lalu sampai saat ini saya masih melakukan kebiasaan mengulang gerakan2 seperti menyentuh barang berkali2..mengecek pintu berulang kali agar yakin sudah aman dan terkunci. Semua gerakan terus saya ulang2 agar saya yakin saya bebas dr pikiran khawatir saya. Biasanya hal tersebut muncul ketika saya sedang sendiri dan sedang khawatir,takut dan gelisah. Ketika ramai saya bahkan lupa akan kebiasaan tersebut. Mungkin lebih baik caranya adalah melakukan banyak hal yang kita gemari..mengisi waktu dengan hal2 yg kita semangi..hal2 positif dan sering berinteraksi dg byk org itu sangat membantu. Smga brmanfaat.

Anonim mengatakan...

OCD ini bisa diringankan bila diketahui sejarah penyebabnya masa lalu. Lacak dan biarkan memori itu mucul kembali. Sampai akhirnya kita sadari.; "Ooo.. ternyata.. itu penyebabnya,, jadi sebenarnya saya punya alasan untuk melakukan OCD itu. Bukan sekedar ngaur saja,,,"

Poskan Komentar