Hubungan Antara Emosi, Motivasi dan Proses Kognitif

Sekali dalam hidup, saya dilumpuhkan oleh rasa takut. Waktu itu saya harus mengikuti ujian kalkulus, ketika baru menginjak tahun pertama di Perguruan Tinggi. Entah bagaimana, pokoknya saya tidak belajar. Saya masih ingat ketika saya memasuki ruang ujian di pagi hari dengan perasaan kacau balau menggalayut di hati. Padahal saya kerap mengikuti kuliah diruang itu. Tetapi, pagi itu pemandangan di luar jendela seakan-akan kosong dan ujian itu pun serasa tidak ada. Yang tampak jelas hanyalah petak-petak ubin dihadapan saya sewaktu saya berjalan menuju bangku di dekat pintu. Sewaktu saya membuka buku ujian yang bersampul biru itu, telinga saya dipenuhi suara degup jantung, kecemasan serasa menghantam perut. Saya melihat soal-soal ujian itu sekilas. Putus asa. Selama satu jam saya hanya mampu memandangi soal-soal itu, sementara pikiran saya berputar-putar merenungkan akibat yang akan saya tanggung. Gagasan yang sama terulang terus-menerus, membentuk lingkaran pita ketakutan dan kekhawatiran. Saya duduk tak bergerak persis seekor hewan yang mati kaku terkena panah beracun. Yang paling mengejutkan saya akan momen menakutkan itu adalah betapa otak saya jadi “macet”. Saya menyia-nyiakan waktu ujian dengan tidak berusaha membuat jawaban sebisa-bisanya. Saya tidak melamun. Saya hanya mampu duduk terpaku karena ketakutan, menunggu siksaan itu berakhir. (di kutip dari Emotional Intelligence oleh Daniel Goleman, 2009:109)
Peristiwa semacam ini mungkin pernah kita alami. Entah mengapa, ketakutan/kecemasan dapat menghancurkan rencana yang telah kita susun rapi. Motivasi dapat berubah menjadi tekanan, harapan dapat berubah menjadi sikap pesimis. Daya konsentrasi berkurang, karena kita terfokus pada kecemasan.
Bila emosi mengalahkan konsentrasi, yang dilumpuhkan adalah kemampuan mental yang oleh ilmuan kognitif disebut “working memory”, yaitu kemampuan untuk menyimpan dalam benak semua informasi yang relevan dengan tugas yang sedang dihadapi.
Pada akhir-akhir ini para ahli psikologi kognitif menaruh perhatian besar terhadap keterkaitan antara aspek emosi dengan proses-proses kognitif karena beberapa alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, bahwa keadaan emosi dapat mempengaruhi proses-proses kognitif dalam bentuk-bentuk atau cara-cara yang sangat penting, bahkan berakibat fatal. Oleh sebab itu, ada sesuatu hal yang esensial bagi psikologi untuk memahami apa dan bagaimana emosi mempengaruhi aktivitas kognitif seseorang. Kedua, cara-cara yang lebih berguna untuk dikembangkan, sehingga memungkinkan dilakukan manipulasi atau rekayasa pengalaman emosi secara eksperimental sebagai variabel bebas. Misalnya suasana emosinya dengan hipnotis atau verbal, sehingga membuat mereka mengalami emosi sedih atau gembira pada saat itu. Dengan makin canggih metode yang dipergunakan maka memungkinkan untuk dilakukan penelitian yang lebih luas. Ketiga, keterbatasan penelitian yang dilakukan dalam bidang klinis. Sejak sepuluh tahun yang lalu, kebanyakan penelitian mengenai pengaruh depresi terhadap ingatan dan proses kognitif yang lain menggunakan pasien klinis, dan tidak melibatkan rekayasa emosi pada orang-orang normal. Dengan begitu, tanpa dilakukan manipulasi secara langsung terhadap emosi subjek yang normal maka sulit diketahui dengan jelas apakah suatu proses kognitif memang dipengaruhi oleh suasana emosi yang sedang berlangsung, atau karena faktor sindrom depresif secara umum. Terakhir, tumbuhnya suatu keyakinan bahwa pertimbangan teoritis tentang ingatan dan kognisi pada umumnya harus dapat menjelaskan juga mengenai pengaruh aspek-aspek afektif atau emosi seperti stres, kecemasan, depresi, nilai, arousal, terhadap proses-proses kognitif. Dengan demikian, teori kognitif yang lengkap pada akhirnya harus mencakup penjelasan tentang bagaimana peran-peran penting aspek-aspek emosi di dalam keseluruhan proses kognitif manusia.
Apa saja yang mempengaruhi emosi, bagaimana working memory tersebut bekerja? Kita akan membahas satu persatu mulai dari emosi, motivasi, proses kognitif dan hubungan antara emosi, motivasi, dan proses kognitif.
Emosi
Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah tertanam melalui mekanisme evolusi. Akar kata emosi adalah movere (bahasa latin) yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.
Menurut kamus “Oxford English Dictionary” mendefenisikan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”. Secara umum, para psikolog memfokuskan pendefenisian emosi pada tiga komponen utama: perubahan fisiologis (perubahan pada wajah, otak dan tubuh), proses kognitif (interpretasi suatu peristiwa), dan pengaruh budaya (membentuk pengalaman dan ekspresi emosi). Emosi adalah situasi stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan.
Sebagian ahli, menggolongkan antara emosi primer dan emosi sekunder. Golongan emosi-emosi primer yang merupakan penggerak dasar tingkah laku. Tingkah laku terwujud dari emosi primer ataupun sekunder (gabungan antara beberapa emosi primer).
Emosi-emosi primer yang berkembang adalah:
· Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit (sinestesia), berang, tersinggung, bermusuhan, dan brang kali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
· Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, putus asa, ditolak, dan kalau menjadi patologis, depresi berat.
· Rasa takut: Cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, ngeri, takut sekali, kecut, dan sebagai patologi adalah fobia dan panic.
· Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya mania
· Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rsa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
· Terkejut: terkejut, tersigap, takjub, terpana.
· Jengkel: hina, jijik, muak, benci, tidak suka, mau muntah (sinestesia).
· Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Aktivitas emosi dipengaruhi oleh aktivitas fisiologis (otak dan transformasi hormon). Amigdala merupakan suatu bagian kecil dari otak kita yang memiliki peran penting dalam emosi, terutama rasa takut. Amigdala bertugas mengevaluasi informasi sensorik yang kita terima, dan kemudian dengan cepat menentukan kepentingan emosionalnya, dan membuat keputusan untuk mendekati atau menjauhi suatu objek atau suatu situasi. Amigdala bekerja mengevalusi bahaya atau ancaman. Peran Prefrontal Cortex, adalah merespon dan memotivasi respon-respon tertentu, mengatur dan menjaga agar emosi tetap seimbang (perasan suka dan benci, menjauh dan mendekat dan lain-lain).
Kelenjar yang berhubungan dengan emosi adalah kelenjar adrenalin yang akan memproduksi hormone epinephrine dan norepinephrine. Hormon ini bekerja sebagai respon terhadap beragam tantangan dalam lingkungan. Hormone ini akan diproduksi pada saat tertawa, geli, marah, takut dan lain-lain.
Motivasi
Motivasi adalah dorongan dari dalam diri individu (drive) yang membuat seseorang melakukan sesuatu. Motivasi seperti bahan bakar pada mesin, menentukan mesin bergerak atau akan terdiam selamanya. Istilah motivasi, seperti halnya kata emosi, berasal dari kata latin, yang berarti “bergerak”. Ilmu psikologi tentu saja mempelajari motivasi, sasarannya adalah mempelajari penyebab atau alasan yang membuat kita melakukan apa yang kita lakukan. Motivasi merujuk pada pada proses yang menyebabkan organisme tersebut bergerak menuju suatu tujuan, atau bergerak menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan.
Motivasi memiliki penekanan pada tujuan (goals). Tujuan yang telah kita tetapkan dan alasan yang kita miliki untuk mengejar tujuan tersebut akan menetapkan pencapaian (prestasi) yang kita dapatkan, meskipun tidak semua tujuan akan menuntun kita pada prestasi yang nyata. Tujuan dapat meningkatkan motivasi apabila kondisi berikut ini:
ü Tujuan bersifat spesifik. Tujuan yang tidak jelas, seperti “melakukan yang terbaik”, bukalah tujuan yang efektif, tujuan ini bahkan tidak berbeda dengan tidak memiliki tujuan sama sekali. Kita perlu lebih spesifik menentukan tujuan, termasuk menentukan waktu pengerjaan.
ü Tujuan harus menantang, namun dapat dicapai. Kita cenderung bekerja keras untuk mencapai tujuan yang sulit namun realistis. Semakin tinggi dan semakin sulit suatu tujuan maka semakin tinggi juga tingkat motivasi dan kinerja kita, kecuali kita memilih suatu tujuan yang mustahil dicapai.
ü Tujuan kita dibatasi pada mendapatkan apa yang kita inginkan, bukannya apa yang tidak kita inginkan. Tujuan mendekat (approach goal) merupakan penglaman positif yang kita harapkan secara langsung, seperti mendapatkan nilai yang lebih baik atau mempelajari cara menyelam dilaut. Tujuan menghindar (avoidance goal) melibatkan usaha menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti berusaha tidak mempermalukan diri sendiri.
Mendefiniskan tujuan yang kita miliki akan semakin mendekatkan kita dengan keberhasilan. Namun apa yang terjadi bila kita menemukan rintangan? Beberapa orang akan menyerah saat menghadapi kesulitan atau mundur, sedangkan beberapa orang lainnya justru termotivasi saat menghadapi tantangan. Sebuah pertanyaan penelitian: Factor apakah yang dapat memprediksi bahwa bakat, ambisi, dan IQ dapat memprediksi orang akan terus berusaha atau akan menyerah? Pendapat umumnya menyatakan bahwa eksistensi motivasi bersifat dikotomi (seseorang memiliki motivasi atau sebaliknya tidak memiliki motivasi, tidak ada motivasi antar keduanya). Hal lain yang mempengaruhi kekuatan motivasi seorang adalah jenis sasaran yang akan diusahakan (apakah untuk menunjukkan kemampuan atau untuk mendapatkan kepuasan dari proses tersebut).
Proses Kognitif
Proses kognitif areanya sangat luas (proses berpikir, intelegensi, pengetahuan umum dan lain-lain). Disini kita hanya akan membahas antara intelegensi dan emosi. Intelegensi emosional adalah suatu kemampuan mengidentifikasi emosi yang dialami oleh diri sendiri dan orang lain dengan akurat, kemampuan mengekspresikan emosi dengan tepat, dan kemampuan mengatur emosi pada diri sendiri dan orang lain. Orang yang memiliki intelegensi emosional (EQ) yang tinggi mampu menggunakan emosi mereka untuk meningkatkan motivasi mereka, menstimulasi pemikiran yang kreatif, dan mengembangkan empati terhadap orang lain. Orang-orang yang memiliki intelegensi emosi yang kurang baik akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi emosi pada diri mereka sendiri.
Beberapa orang memiliki argumen bahwa intelegensi emosional bukanlah kemampuan kognitif yang spesial, melainkan kumpulan karakteristik-karakteristik kepribadian, seperti empati dan ekstroversi. Terlepas dari kontroversi yang ada, pengembangan konsep intelegensi merupakan sesuatu yang sangat berguna bagi kita semua. Pengembangan tersebut memaksa kita berpikir kritis mengenai makna intelegensi dan memaksa kita mempertimbangkan beragam jenis “intelegensi” yang membantu kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan kognitif juga membantu penyusuran berbagai strategi pembelajaran anak-anak yang mampu secara efektif meningkatkan kemampuan anak dalam membaca, menulis, mengerjakan pekerjaan rumah dan menjalani ujian. Sebagai contoh, anak-anak diajari menggunakan waktu dengan bijak sehingga tidak menunda-nunda dan mampu membedakan persiapan untuk ujian pilihan ganda dengan ujian essai. Yang paling penting, berbagai pendekatan baru dalam menjelaskan intelegensi telah menghapus set mental yang keliru, yang menganggap intelegensi yang diukur oleh tes IQ satu-satunya variabel yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam kehidupannya.
Hubungan Emosi, Motivasi dan Proses Kognitif
Berbagai temuan yang mengindikasikan adanya pengaruh-pengaruh keadaan emosi seseorang terhadap aktivitas kognisi dapat dilihat dalam beberapa pendekatan teoritis. Khusus pendekatan arousal, disini membahas tentang emosi, motivasi dan pengaruhnya terhadap proses kognitif yang sedang berlangsung.
A. Network Theory (teori jaringan kerja)
Teori ini dikembangkan oleh Gordon Bower dkk (1980). Teori ini didasarkan atas asumsi bahwa emosi-emosi disimpan sebagai node-node atau komponen-komponen di dalam ingatan semantik. Setiap emosi yang menonjol seperti gembira, murung (depresi), atau ketakutan, memiliki komponen atau unit khusus di dalam ingatan yang terkumpul bersama-sama dengan banyak emosi yang lain seperti jaringan. Masing-masing unit emosi tersebut juga dihubungkan oleh proposisi yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami emosi itu. Node-node emosi ini dapat diaktifkan kembali oleh berbagai stimulus, misalnya simbol-simbol bahasa atau objek-objek fisik.
Contoh: kenangan indah yang pernah dialami pada waktu masih muda, dapat dimunculkan kembali dari ingatan seseorang ketika mendengarkan lagu-lagu atau kenangan masa lalu.
B. Schema Theory (Tori Skema)
Teori ini berpandangan bahwa orang-orang yang memiliki emosi atau suasana hati tertentu memiliki suatu bungkai kerja yang digeneralisasikan yang disebut skema yang serupa dengan suasana hati tersebut. Jadi, orang yang sedang mengalami kesedihan akan memiliki skema sedih dan menggunakannya untuk mengorganisasikan informasi.
Teori skema secara konseptual hampir serupa dengan teori network, karena keduanya mendasarkan pandangan pada struktur pengetahuan (knowledge structures) yang berupa suatu jaringan atau skema di dalam system kognitif manusia. Perbedaan yang menonjol antara kedua teori ini adalah:
ü Teori network berpijak pada asumsi bahwa suatu unit emosi dapat diaktifkan kembali dari jaringan seseorang, sementara teori skema menggunakan asumsi berupa pemberlakuan kerangka kerja yang disebut skema terhadap informasi yang baru atau di kemudian.
ü Teori network lebih terkenal daripada teori skema. Namun, dewasa ini teori skema mengalami perkembangan dan kemajuan, sehingga sekarang para ahli psikologi juga mulai banyak menggunakan teori skema untuk menjelaskan berbagai fenomena kognitif manusia.
C. Resource Allocation or Capasity Model (Teori Alokasi Sumber kapasitas)
Teori ini dikembangkan secara luas oleh Henry Ellis dkk (sejak pertengahan tahun 1980-an). Ide dasar dari teori ini adalah pemberian jatah kapasitas perhatian terhadap suatu tugas yang cocok. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan:
ü Peranan keadaan emosional dalam mengatur jumlah kapasitas yang diperuntukkan bagi beberapa tugas kognitif.
ü Permintaan atau tuntutan tugas-tugas itu sendiri terhadap pemrosesan kapasitas.
Model ini diambil dari konsep tentang alokasi terhadap sumber-sumber kapasitas yang merupakan bagian dari teori kapasitas yang merupakan bagian dari teori kapasitas umum untuk menerangkan fenomena perhatian (attention). Teori ini berasumsi bahwa terdapat keterbatasan sumber kapasitas perhatian yang dapat dialokasikan oleh seseorang kepada setiap tugas yang dikerjakan.
D. Teori Arousal
Arousal adalah keadaan emosi seseorang yang berkaitan dengan gairah, nafsu, semangat, termotivasi, atau kebangkitan. Jadi arousal dapat bergerak dari keadaan yang penuh semangat, gairah, atau kebangkitan, sampai pada keadaan sebaliknya yakni tidak bersemangat, tidak bergairah sama sekali, atau malas. Emosi-emosi seperti ini sangat memepengaruhi kinerja seseorang menyelesaikan tugas-tugas kognitif misalnya mengingat, belajar, membuat keputusan dan memecahkan masalah.
Yerkes & Dodson telah menguji hubungan antara arousal dengan kinerja seseorang dalam suatu tugas. Dia berasumsi bahwa:
a. Hubungan antara tingkat tekanan, semangat, atau keadaan termotivasi dengan kinerja dalam tugas adalahberbentuk kurva “U” terbalik. Kinerja optimal dapat terjadi apabila semangat (arousal) berada pada tingkat yang sedang atau moderat.
b.
tinggi
Tingkat optimal dari semangat atau gairah berhubungan secara terbalik dengan tingkat kesulitan tugas.
Kinerja
Buruk
Tinggi
Rendah
Tingkat Arousal
Apabila seseorang berada pada tingkat arousal atau semangat yang sangat tinggi, atau sebaliknya sangat rendah, ia cendeerung menunjukkan kinerja yang kurang efektif. Alasannya adalah:
ü Kinerja buruk pada semangat tingkat rendah disebabkan karena banyak isyarat yang tidak relevan pada tugas pada saat itu muncul dalam pikiran seseorang.
ü Kinerja buruk pada semangat tingkat tinggi disebabkan karena beberapa isyarat yang relevan dengan tugas pada saat itu diabaikan.
Kognisi manusia tidak selalu bersifat rasional karena melibatkan banyak bias dalam persepsi dan dalam ingatan manusia. Sebaliknya, emosi juga tidak selalu bersifat rasional, emosi dapat menyatukan manusia, mengatur jalannya sebuah hubungan dan memotivasi orang dalam mencapai suatu sasaran. Tanpa kemampuan merasakan emosi, manusia akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan atau dalam merencanakan masa depannya.
Beberapa contoh pengaruh emosi dan proses kognitif adalah:
o Suasana hati dan pemilihan informasi
Gagasan mengenai pengaruh suasana hati terhadap pemilihan informasi disebut mood conqruence effect. Pengaruh yang menunjuk pada penemuan bahwa orang-orang lebih cenderung mengingat informasi yang sesuai atau sama seperti keadaan suasana hati yang sedang dialami pada waktu mereka mempelajari suatu materi atau memproses informasi.
o Suasana hati dan mengingat kembali
Efek ketergantungan terhadap suasana hati muncul apabila materi dalam suasana hati tertentu diingat kembali dengan baik apabila seseorang diuji dalam suasana hati yang serupa dengan ketika ia mempelajari atau menerima informasi tersebut.
o Suasana hati dan proses transformasi informasi
Transformasi informasi dikenal sebagai incoding, ialah informasi disimpan didalam gudang ingatan setelah informasi itu diterima melalui alat indera (sensory).
o Suasana hati dan ketepatan menilai hubungan
Jika pada beberapa proses kognisi yang lain orang melihat pengaruh dari keadaan emosi sedih seperti depresi dan stres lebih bersifat merusak atau mengganggu dari pada menguntungkan. Tapi ini dapat terjadi sebaliknya.
o Suasana hati dan penggalian informasi
Ada dua kemungkinan, dimana suasana hati akan mempengaruhi proses penggalian informasi, menguntungkan atau merugikan.
o Suasana hati dan proses berusaha
Pengaruh ini sangat bergantung pada jenis tugas yang diberikan kepada seseorang.
o Kecemasan dan kinerja
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki pengaruh negatif yang berkibat menurunkan pengaruh negatif yang berakibat menurunkan kapasitas kognitif seseorang dalam mengerjakan tugas-tugas yang lebih sukar atau konplek.
o Emosi dan kesaksian
Banyak dijumpai bahwa, keadaan stres atau cemas dapat menyebabkan ingatan seseorang terganggu. Stres berat dapat mengurangi ketepatan pemberian kesaksian oleh seorang saksi mata ketika berada di ruang pengadilan.
o Suasana hati dan atribusi
Susana hati yang baik atau buruk dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dari kinerja. Dari hasil penelitian penelitian menunjukkan bahwa suasana hati mempunyai pengaruh yang bersifat moderat terhadap atribusi yang dilakukan seseorang.
o Suasana hati dan pemecahan masalah secara kreatif
Secara umum dapat dikatakan bahwa suasana hti positif lebih meningkatkan perilaku kreatif daripada suasana hati yang netral, sedangkan suasana hati yang negatif cenderung menurunkan perilaku kreatif.
o Suasana hati dan pembuatan keputusan
Proses pembuatan keputusan dapat dipeengaruhioleh faktor afeksi. Faktor afeksi yang sering dijadikan variabel penelitian adalah suasana hati (mood), misalnya sedih, marah atau cemas atau sebaliknya bahagia atau senang.
Daftar Pustaka
Suharnan, MS. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi
Sternberg, Robrt J. 2008. Psikologi Kognitif. Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Peelajar
Chaplin J.P. 1981. Kamus Lengkap PSIKOLOGI. Terjemah. Jakarta: Rajawali Press.
Goleman, Daniel. 2009. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Carole Wide & Carole Tavris. 2007. Psikologi Umum. Edisi Kesembilan. Jilid 1 & 2. Jakarta: Erlangga
Kecemasan (anxiety) adalah perasaan takut dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus anxiety tersebut (Lihat kamus lengkap psikologi, oleh J.P. Chaplin).
. Daniel Goleman.2009. Emotional Intellegence. Hal: 110
Prof. Dr. Suharnan, MS. Psikologi Kognitif. Hal 416 – 417
Aorusal: Pembangkitan/fungsi pembangkitan; keadaan umum kesiapan cortical (kesiagaan, kewaspadaan penajaman perhatian). J.P Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi.
Ibid. Hal 7
Carol Wade & Carol Tavris. Psikologi.Jilid 2. Hal 106
Ibid. Hal 411 - 412
Op Cit. Hal 117
Motivasi berdasarkan sumber pengaktifannya dibagi menjadi motivasi intrinsic (suatu keinginan untuk melakukan suatu aktivitas atu meraih pencapaian tertentu semata-mata demi kesenangan atau kepuasan yang didapat dari melakukan aktivitas tersebut) dan motivasi ekstrinsik (keinginan untuk mengejar suatu tujuan yang diakibatkan oleh imbalan-imbalan eksternal).
Op Cit. Hal 175
Ibid. Hal 177
Intelegensi menurut Garder dibagi menjadi: Keserdasan matematika logika, Kecerdasan bahasa, Kecerdasan musical, Kecerdsan visual spatial, Keecerdasan kinestetik, Kecerdasan intrpersonal, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan natural.
Op Cit. Hal 35 - 36
Op Cit. Psikologi.Jilid 2. Hal 105-106
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar