Penetapan Kadar Hemoglobin

Penetapan kadar hemoglobin ada beberapa cara. Kadar hemoglobin darah dapat diketahui dengan cara antara lain: cyanmethemoglobin, sahli, talquist ,dan hemometer digital. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Cara Fotoelektrik: Cyanmethemogobin
Hemoglobin darah diubah menjadi Cyanmethemogobin (hemoglobinsianida) dalam larutan yang berisi kaliumsianida. Absorbansi larutan diukur pada gelombang 540 nm atau filter hijau. Larutan Drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin menjadi Cyanmethemogobin. Sulfhemoglobin tidak berubah dan karena itu tidak ikut diukur (Gandasoebrata,
Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Ke dalam tabung kolorimeter dimasukkan 5,0 ml larutan Drabkin.
  2. Dengan pipet hemoglobin diambil 20 μl darah (kapiler, EDTA atau oxalat); sebelah luar ujung pipet dibersihkan, lalu darah itu dimasukkan ke dalam tabung kolorimeter dengan membilasnya beberapa kali.
  3. Campurlah isi tabung dengan membalikkannya beberapa kali. Tindakan ini juga akan menyelenggarakan perubahan hemoglobin menjadi sianmethemoglobin.
  4. Bacalah dalam spektrofotometer pada gelombang 540 nm; sebagai blanko digunakan larutan Drabkin.
  5. Kadar hemoglobin ditentukan dari perbandingan absorbasinya dengan absorbansi standard sianmethemoglobin atau dibaca dari kurve tera.
Cara ini sangat bagus untuk laboratorium rutin dan sangat dianjurkan untuk penerapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standard cyanmethemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat dibeli. Kesalahan cara ini dapat mencapai ± 2 %. Larutan Drabkin: natriumbikarbonat 1 g; kaliumsianida 50 mg; kaliumferrisianida 200 mg; aqua dest ad 1000 ml. Adakalanya ditambahkan sedikit detergent kepada larutan Drabkin ini supaya perubahan menjadi sianmethemoglobin berlangsung lebih sempurna dalam waktu singkat. Simpan reagens ini dalam botol coklat dan perbaruilah tiap bulan. Meskipun larutan Drabkin berisi sianida, tetapi ia tidak dianggap racun dalam pengertian sehari-hari karena jumlah sianida itu sangat kecil.
Kekeruhan dalam suatu sampel darah mengganggu pembacaan dalam fotokolorimeter dan menghasilkan absorbansi dan kadar hemoglobin yang lebih tinggi dari sebenarnya. Kekeruhan semacam ini dapat disebabkan antara lain oleh leukositosis, lipemia dan adanya globulin abnormal seperti pada macroglobulinemia.
Laporan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dengan memakai cara cyanmethemoglobin dan spektrofotometer hanya boleh menyebut satu angka (digit) di belakang tanda desimal; melaporkan dua digit sesudah angka desimal melampaui ketelitian dan ketepatan yang dapat dicapai dengan metode ini. Variasi-variasi fisiologis juga menyebabkan digit kedua di belakang tanda desimal menjadi tanpa makna.
Cara Sahli
Pada cara ini hemoglobin diubah menjadi hematin asam, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standard dalam alat itu (Gandasoebrata, 2001).
Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Masukkan kira-kira 5 tetes HCl 0,1 n ke dalam tabung pengencer hemometer.
  2. Isaplah darah (kapiler, EDTA, atau oxalat) dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 20 μl.
  3. Hapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
  4. Catatlah waktunya dan segeralah alirkan darah dari pipet ke dalam dasar tabung pengencer yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
  5. Angkatlah pipet itu sedikit, lalu isap asam HCl yang jernih itu ke dalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet.
  6. Campurkan isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa; warna campuran menjadi coklat tua.
  7. Tambahkan air setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standard harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah saat darah dan HCl dicampur. Pada usaha mempersamakan warna hendaknya tabung diputar demikian sehingga garis bagi tidak terlihat.
  8. Bacalah kadar hemoglobin dengan gram/100 ml darah. Cara Sahli ini bukanlah cara teliti. Kelemahan metodik berdasarkan kenyataan bahwa kolorimetri visual tidak teliti, bahwa hematin asam itu bukan merupakan larutan sejati dan bahwa alat itu tidak dapat distandardkan. Cara ini juga kurang baik karena tidak semua macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam, umpamanya karboxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin. Kesalahan yang biasanya dicapai oleh ± 10 % kadar hemoglobin yang ditentukan dengan cara Sahli dan cara-cara kolorimetri visual lain hanya patut dilaporkan dengan meloncat-loncat ½ gr%, sehingga laporan menjadi ump, 11,11½, 12, 12½, 13 gr%. Janganlah melaporkan hasil dengan memakai angka desimal seperti 8,8; 14; 15,5 gr% ketelitian dan ketepatan cara sahli yang kurang memadai tidak membolehkan laporan seperti itu. Hemoglobinometer yang berdasarkan penetapan hematin asam menurut Sahli dibuat oleh banyak pabrik. Perhatikanlah bahwa bagianbagian alat yang berasal dari pabrik yang berlainan biasanya tidak dapat saling dipertukarkan: tabung pengencer berlainan diameter; warna standard berlainan intensitasnya dll.
Selain cara sahli ada pula cara-cara lain yang berdasarkan kolorimetri dengan hematin asam; di Indonesia cara sahli masih banyak digunakan di laboratorium-laboratorium kecil yang tidak mempunyai fotokolorimeter. Yang banyak dipakai di laboratorium klinik ialah cara-cara fotoelektrik dan kolorimetrik visual (Gandasoebrata, 2001).
Cara Talquist (Oktia, 1999)
Mempunyai kesalahan yang paling besar dibandingkan cara pemeriksaan yang lain dan paling mudah dilakukan.
Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut:
  1. Ambil darah dari ujung jari
  2. Teteskan pada kertas talquist
  3. Cocokan dan baca pada standard yang ada

Hemometer Digital (Easy Touch)
Cara kerja hemometer digital:
  1. Pastikan code card sudah terpasang pada alat hemometer digital.
  2. Pasang strip pada ujung alat.
  3. Bersihkan ujung jari pada bagian yang akan diambil darahnya.
  4. Setelah darah yang keluar pada ujung jari sudah cukup, dekatkan sampel darah pada ujung jari tersebut ke satu mulut strip supaya diserap langsung oleh ujung mulut strip.
  5. Tunggu hasilnya dan baca kadar Hemoglobinnya.
Kelebihan dari hemometer digital adalah tingkat keakuratannya lebih valid daripada hemometer sahli, lebih cepat, dan lebih simpel cara pemeriksaannya. Sedangkan kekurangannya yaitu harga lebih mahal.
Nilai Normal menurut Dacie (1996)
  • Dewasa laki-laki   : 13,5 - 18,0 gr%
  • Dewasa wanita   : 11,5 - 16,5 gr%
  • Bayi (< 3bln)   : 13,6 - 19,6 gr%
  • Umur 1 tahun   : 11,0 - 13,0 gr%
  • Umur 12 tahun   : 11,5 - 14,8 gr%
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar