Model Pembelajaran Problem Solving

Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif. Dalam pemecahan problem-problem baru yang dihadapi diperlukan kesanggupan untuk berpikir. Model pembelajaran Problem Solving telah mendorong anak untuk berpikir secara sistematis dengan menghadapkannya pada problem-problem. Model ini memusatkan kegiatan pada murid, dan diharapkan dapat menggunakannya dalam situasi-situasi problematis dalam hidupnya. Sehingga model pembelajaran problem solving merupakan proses memikirkan dan mencari jalan keluar bagi masalah tersebut, (Abu, A dan Joko, T 2005).
Model pembelajaran Problem Solving (pemecahan masalah) bukan hanya sekedar model pembelajaran tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam Problem Solving dapat menggunakan metode-metode lainya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Penyelesaian masalah menurut David Johnson & Johnson (W.Gulo,T.2008) memiliki beberapa prosedur yakni :
Fase 1: Mendefinisikan masalah
Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Perumusan masalah ini di dalam kelas dilakukan sebagai berikut:
  1. Kemukakan kepada siswa peristiwa yang bermasalah, baik melalui bahan tertulis maupun secara lisan. Kemudian minta kepada siswa untuk merumuskan masalahnya dalam satu kalimat sederhana (brain storming). Tampung setiap pendapat mereka dengan menuliskannya di papan tulis tanpa mempersoalkan tepat atau tidaknya, benar atau salah pendapat tersebut.
  2. Setiap pendapat ditinjau kembali dengan meminta penjelasan dari siswa yang bersangkutan. Dengan demikian dapat dipilih rumusan yang lebih tepat, atau dirumuskan kembali perumusan-perumusan yang kurang tepat. Akhirnya kelas memilih satu perumusan yang paling tepat yang dapat dipakai oleh semua.
Fase 2: Mendiagnosis Masalah
Setelah berhasil merumuskan masalah, langkah berikutnya ialah membentuk kelompok kecil. Kelompok ini mendiskusikan sebab-sebab timbulnya masalah.
Fase 3: Merumuskan Alternatif Strategi
Pada tahap ini, kelompok mencari dan menemukan berbagai alternatif tentang cara menyelesaikan masalah. Untuk itu kelompok harus kreatif, berfikir secara divergen, memahami pertentangan di antara berbagai ide, dan memiliki daya temu yang tinggi. Setiap alternatif harus dapat diperinci dengan jelas.
Fase 4: Menentukan dan Menerapkan Strategi
Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca bukubuku, meneliti, bertanya, berdiskusi.
Fase 5: Mengevaluasi Keberhasilan Strategi
Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut dan menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
Kelebihan model pembelajaran Problem Solving:
  1. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  2. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
  3. Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  4. Model ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.
Kelemahan model pembelajaran Problem Solving:
  1. Model ini membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
  2. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar