Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


Ada beberapa model pembelajaran pendidikan agama Islam. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Untuk terjadinya perubahan perilaku sudah tentu di dalam pembelajaran tersebut terdapat pengalaman belajar yang sistematis yang langsung menyentuh kebutuhan siswa.Untuk keperluan pembelajaran dalam konteks pemberian pengalaman belajar dimaksud, maka model pembelajaran yang monoton yang selama ini berlangsung di kelas sudah saatnya diganti dengan model pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, siswa mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan masalah.
Model pembelajaran yang ditawarkan para ahli untuk mewujudkan kegiatan belajar aktif dimaksud diantaranya:
  1. Inquiry-discovery approach (belajar mencari dan menemukan sendiri)
  2. Expository teaching (menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib)
  3. Mastery learning (belajar tuntas)
  4. Humanistic education yaitu menitik beratkan pada upaya membantu siswa mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya).
Mulyasa menawarkan konsep tentang model pembelajaran yang efektif bagi terbentuknya kompetensi siswa diantaranya:
  1. Contectual Teaching and Learning yaitu model pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata
  2. Role playing yaitu model pembelajaran yang menekankan pada problem solving (pemecahan masalah)
  3. Modular Instruction yaitu pembelajaran dengan menggunakan system modul/paket belajar mandiri yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah
  4. Pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.
Dari sekian model di atas, masih banyak model pembelajaran lainnya yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru, guna mendesain pengalaman belajar yang bermanfaat bagi siswa baik bagi perkembangan ranah kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Yang jelas tidak ada satu model pembelajaran pun yang paling efektif untuk satu mata pelajaran, yang ada adalah satu atau beberapa model pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran tertentu tetapi belum tentu untuk materi lainnya. Oleh karenanya guru harus cerdas dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk suatu kegiatan pembelajaran guna tercapainya indikator-indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Bagi guru jangan terlalu merisaukan cara mengajar yang penting adalah bagaimana kondisi pembelajaran yang diharapkan itu dapat terjadi dan dirasakan oleh siswa. Karena dari kondisi pembelajaran itu diharapkan maksud dan tujuan pembelajaran dapat terjadi, dengan cara mengajar yang bervariasi. Setiap cara mengajar memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Yang kurang baik adalah apabila guru sering menggunakan satu cara pembelajaran yang terus menerus dengan slogan dikotomis yakni bila guru aktif maka siswa diam bila siswa aktif, maka guru pasif.
Dengan menghindari penggunaan metode monoton diharapkan pencapaian pendidikan agama terjadi secara maksimal. Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang berhubungan dengan pembelajaran. Ayat pertama (lima ayat yang merupakan wahyu pertama) berbicara tentang pembelajaran, surat Al-Alaq: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,(2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lima ayat tersebut merupakan ayat pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad, yang diantaranya berbicara tentang perintah kepada semua manusia untuk selalu menelaah, membaca, belajar dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia sendiri.
Dalam Islam, penggunaan metodologi yang tepat dalam rangka mempermudah proses belajar-mengajar adalah suatu yang niscaya sehingga keberadaanya sangat dinanti baik dari kalangan siswa maupun dari pemerhati dan pengguna lulusan keguruan. Ismail mengatakan bahwa metode sebagai seni dalam mentrasfer ilmu pengetahuan kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dari materi itu sendiri. Sebuah adagium mengatakan bahwa “At-Thariqat Ahamm min al-Maddah” (metode jauh lebih penting disbanding materi). Ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya materi yng cukup menarik, karena disampaikan dengan cara yag kurang menarik maka materi itu kurang dapat dicerna oleh siswa.
Al-qur’an sebagai sumber hukum Islam telah memrintahkan untuk memilih metode yang tepat dalam proses pembelajaran, seperti yang terdapat dalam surh an-Nahl: 125  “Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Ayat diatas berbicara tentang beberapa metode pembelajaran. Di sini ada tiga contoh metode, yaitu hikmah (kebijaksanaan), mau’idhah hasanah (nasehat yang baik), dan mujadalah (dialog dan debat). Pendapat ini juga banyak disampaikan oleh para mufassir, seperti Fakhrudin ar-Razy, Muhammad Ash-Shawy, an-Nawawy al-Jawy, dan lain-lain.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar