Hakikat Pembelajaran Biologi


Hakikat pembelajaran biologi sangat penting. Djohar (Suratsih, 20108) menyatakan bahwa proses belajar biologi merupakan perwujudan dari interaksi subjek (anak didik) dengan objek yang terdiri dari benda dan kejadian, proses dan produk. Pendidikan biologi harus diletakkan sebagai alat pendidikan, bukan sebagai tujuan pendidikan, sehingga konsekuensinya dalam pembelajaran hendaknya memberi pelajaran kepada subjek belajar untuk melakukan interaksi dengan obyek belajar secara mandiri, sehingga dapat mengeksplorasi dan menemukan konsep. Konsep belajar mengajar biologi memiliki tiga persoalan utama, yaitu hakekat mengajar, kedudukan materi meliputi arti dan peranannya serta kedudukan siswa. Hakekatnya, dalam pendidikan biologi menekankan adanya interaksi antara siswa dengan obyek yang dipelajari. Interaksi ini memberi peluang kepada siswa untuk berlatihbelajar dan mengerti bagaimana belajar, mengembangkan potensi rasional pikir, ketrampilan, dan kepribadian serta mengenal permasalahan biologi dan pengkajiannya.
Djohar (Candra Puasati, 2008) menyatakan kurangnya motivasi belajar siswa dan rendahnya hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: kesulitan siswa memahami konsep, cara verbal guru mengajar, dan penggunaan media belajar. Berbagai faktor tersebut apabila diapliksikan di dalam proses belajar mengajar biologi di sekolah, maka akan meningkatkan motvasi dan hasil belajar siswa.
Kegiatan belajar sesungguhnya dilakukan oleh semua makhluk hidup, mulai dari bentuk kehidupan yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Efektifitas kegiatan belajar tersebut bergantung pada tingkat kerumitan jenis kehidupannya. Manusia sebagai makhluk yang unik, melakukan kegiatan belajar dengan cara dan sistem yang unik pula (Oemar Hamalik, 2009).
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), atau sikapnya (afektif). Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap (Azhar Arsyad, 1997).
Suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tetentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan prosedur media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga guru (Arief Sadiman, dkk., 1986).
Terdapat beberapa macam tafsiran tentang belajar, bergantung pada pembuat rumusan itu dan sangat ditentukan oleh aliran atau sistem psikologi yang dianutnya. Contohnya: Psikologi Daya berpendapat, bahwa belajar adalah melatih daya-daya yang dimiliki oleh manusia. Dengan latihan tersebut, akan terbentuk dan berkembang berbagai daya yang dapat berfungsi sebagaimana mestinya, seperti daya ingat, daya pikir, daya rasa, dan sebagainya. Pandangan baru menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan pengalaman.
Pandangan terakhir berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses dan bukan hasil yang hendak dicapai semata. Proses itu sendiri berlangsung melalui serangkaian pengalaman, sehingga terjadi modifikasi pada tingkah laku yang telah dimilikinya sebelumnya. Jadi, berdasarkan proses (sebagai alat atau means) akan tercapai tujuan (ends), sesuatu hal yang dikehendaki oleh pendidikan (Oemar Hamalik, 2009).
Suhardi (2011) mengungkapkan bahwa proses pembelajaran (proses belajar mengajar) Biologi merupakan suatu sistem, pada prinsipnya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan antara komponenkomponen berupa raw input (peserta didik), instrumental input (masukan instrumental), environment (lingkungan) dan out putnya (hasil keluaran). Keempat komponen tersebut mewujudkan sistem pembelajaran Biologidengan pusat sistem berupa proses pembelajaran.
Menurut Suhardi (2011) komponen masukan instrumental yang berupa kurikulum, guru, sumber belajar, media, metode dan sarana prasarana pembelajaran nampaknya sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran biologi. Dalam teori modern, proses pembelajaran tidak bergantung sekali kepada keberadaan guru (pendidik) sebagai pengelola proses pembelajaran. Hal ini didasarkan bahwa proses belajar pada hakekatnya merupakan interaksi antar peserta didik dengan objek yang dipelajari. Berdasarkan hal ini maka peranan sumber dan media belajar tidak menegaskan bahwa proses belajar pada hakekatnya merupakan interaksi dapat dikesampingkan dalam proses pembelajaran biologi.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar