Syarat-Syarat Pembangunan Ekonomi

Ada beberapa syarat-syarat Pembangunan Ekonomi. Dalam melaksanakan pembangunan ekonomi tidak begitu saja dapat  dilaksanakan, akan  tetapi diperlukan  beberapa  syarat-syarat  yang mendukung. Syarat utama dalam pembangunan adalah adanya Pemerintahan dan Rakyat.  Pembangunan  tergantung  pada  Pemerintah dan rakyat. Pembangunan tidak dapat berjalan  apabila hanya salah satu yang  menjalankan. Sehingga  pembangunan pada dasarnya  adalah  dari rakyat  untuk  rakyat.  Rakyat  yang  berdaulat,  maka  sudah sewajarnya rakyat pulalah yang menikmati hasil-hasil pembangunan.
Pembangunan  yang  hanya  dijalankan  oleh  satu  pihak  atau dipaksakan,  artinya  tanpa  melibatkan  rakyat  dalam  arti  sebenarnya bukanlah  model  pembangunan  yang  ideal.  Pembangunan  semacam  ini dapat  terjadi,  namun  dalam  kondisi  dimana  sistem  Pemerintahannya adalah  diktator.  Model  pembangunan  diktator  hanya  akan  melahirkan penderitaan  dan  kesengsaraan  rakyatnya,  oleh  karena  itu  model pembangunan  yang  seimbang  atau  ideal adalah model pembangunan dengan  melibatkan dan didukung  penuh rakyat. Dukungan ini dalam bentuk partisipasi. Jika pembangunan hanya dilakukan oleh Pemerintah, yaitu mengandalkan  sepenuhnya   Pemerintah,  maka  dapat  dipastikan pembangunan tidak akan mencapai sasaran yang diinginkan, oleh karena itu peran serta masyarakat menjadi sangat penting.
Penduduk  merupakan  aset  dalam  pembangunan, mengingat penduduk  sebagai  suatu  agent  of  development, sehingga tidaklah berlebihan bila dikatakan berhasil tidaknya pembangunan ditentukan oleh sikap penduduk selama proses pembangunan berlangsung.
Modernisasi Pembangunan
Perkembangan  ekonomi  yang  ditandai  dengan  munculnya modernisasi  dan  kemajuan  yang  sangat  pesat  di  segala  bidang,  pada awalnya ditemui pada kawasan negara Eropa dan Amerika. Namun pada saat  ini  mulai  terjadi  pergeseran  ke  Asia,  yaitu  dimulai  dari  Jepang, Korea dan Cina. Negara-negara tersebut terkenal memiliki informasi dan teknologi  yang  cukup  tinggi.  Pada  umumnya  sebagian  besar  negara  di Asia dan Amerika Latin, masih berkutat dengan dengan kemisikinan dan ketidakmampuan mereka untuk menjalankan pembangunan.
Masalah  globalisasi,  hak  asasi  manusia,  hal  paten  dan lingkungan merupakan isu-isu yang sangat luas dikenal di negara maju, sebaliknya  menjadi  sangat  asing  untuk  negara-negara  sedang berkembang.  Kemajuan  ekonomi  dalam  ekonomi  global  telah mempertajam  ketimpangan  internasional  diberbagai  bidang,  seperti bidang  sosial,  budaya  dan  politik.  Pada  akhirnya  ketimpangan  ini semakin  melebarkan  jurang  perbedaaan  antara  negara  kaya  dengan negara  miskin.  Di  kawasan  Asia  sendiri,  jurang  perbedaaan   ini  dapat dilihat dari tingkat pendapatan perkapita yang sangat jauh berbeda.
Pendekatan Sosial Budaya dalam Pembangunan Ekonomi
Faktor  sosial  budaya  masyarakat  dalam  proses  pembangunan adalah  sangat  penting.  Kebiasaan  atau  adat  istiadat  yang  ada  di  dalam masyarakat  pada  umumnya  sudah  terjadi  ratusan  tahun  dan  turun temurun,  oleh  karena  itu  sangat  sulit  untuk  mengadakan  perubahan begitu saja. Nilai-nilai yang terkandung dan diyakini betul sebagai suatu kebenaran,  sangatlah  sulit  untuk  menerima  perubahan-perubahan  yang terjadi dalam masyarakat modern.
Menurut  Hagen  (dalam  Kompas,  2000),  berpendapat  bahwa faktor  kekuatan  yang  paling  penting  untuk  menggerakan  masyarakat negara  sedang  berkembang  dari  kemandekan  ekonomi  atau  stagnasi ekonomi ke arah proses pembangunan adalah perubahan pada nilai sosial budayanya. Hagen telah mencoba untuk menyusun teori umum mengenai pembangunan  yang  didasarkan  pada  serangkaian  faktor  sosiologis, antropologis dan psikologis. Dari  hasil  penelitian  tersebut,  Hagen  membuat  suatu  model, bahwa  kemajaun  ekonomi  dan  pembangunan  ekonomi  dijadikan  fungsi dari  (tergantung  dari  )  perubahan  pada  kombinasi  bidang  sosiologis, antropologi dan psikologi dalam kehidupan masyarakat.
Menurut  Hagen,  sebab  utama  bagi  perubahan  masyarakat terlihat secara internal pada faktor-faktor yang melekat pada tata susunan masyarakat dan dalam tubuh masyarakat itu sendiri bukan pada sejumlah faktor  eksternal.  Perkembangan  ekonomi  terjadi  ditandai  dengan akumulasi modal dan kemajaun teknologi hanya bila ada perubahan nilainilai budaya dan perilaku warga masyarakat.
Dalam  pendekatan  sosial  budaya  juga  juga  ditonjolkan segi kelembagaan  dan  peranan  lembaga-lembaga  pergaulan  hidup  (Social Institutional),  termasuk  kebiasaan  hidup  dalam  masyarakat  (Social Habits).  Faktor  budaya  yang  melekat  pada  segi  kelembagaan  sangat berpengaruh  terhadap  sikap  dan  perilaku  masyarakat  dalam  melakukan produksi, distribusi, konsumsi, tabungan dan investasi.
Pembangunan Ekonomi dan Demokrasi
Proses  demokratisasi  yang  terjadi  di  dunia  ini,  pada  umumnya melanda  negara-negara  yang  sedang  mengalami  transisi  Pemerintahan yang  bersifat  diktator,  otoriter  dan  koruptor  yang  pada  umumnya menggunakan sistem pemerintahan yang sentralistik pada semua bidang terutama  pada  bidang-bidang  yang  dianggap  sangat  vital.  Masa  transisi merupakan  masa  yang  paling  berat,  sebab  nilai-nilai  atau  konsep demokratisasi  sendiri  belum  dipahami  sepenuhnya  oleh  ,  masyarakat sehingga  banyak  negara-negara  sedang  berkembang  yang  mengalami kegagalan.
Menurut  Francis  Fukuyama  (dalam  Kompas,  2000),  umat manusia  sekarang  sedang  memasuki  periode  akhir  dari  sejarah. Menurutnya masyarakat manusia bergerak dari periode hanya satu orang yang berkuasa (monarki) menuju kepada beberapa orang yang berkuasa (oligarki)  dan  berakhir  pada  semua  orang  berkuasa  (demokrasi).
Sebaliknya menurut termiloginya, Samuel Huntintong, manusia sedang mengalami gelombang  ketiga  proses  demokatratisasi. 
Masing-masing gelombang dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Gelombang pertama terjadi pada tahun 1828 – 1926 ketika Amerika  Serikat,  Eropa  Barat  dan  negara-negara  jajahan Inggris menjadi demokratis.
  2. Gelombang kedua terjadi pada tahun 1943    1962 terjadi di  negara-negara  yang  kalah  perang  (Jerman, Italia  dan Jepang), di beberapa negara Amerika latin serta beberapa negara bekas kolonial.  
  3. Gelombang  ketiga  dimulai  pada  tahun  1974  sampai sekarang  yang  dimulai  dengan  terjadinya  proses demokrasi  di  Portugal,  lalu  diikuti  negara-negara  Asia, dan  akhirnya  negara-negara  komunis  setelah  runtuhnya Uni Soviet.
Berbagai  peristiwa  penting  di  Asia  menegaskan  bahwa gelombang  ketiga  itu  terus  bergulir.  Pada  tahun  1979  terjadi  revolusi Islam di iran  yang dipimpin oleh Ayotollah Ruholloh Khomeni dengan menggulingkan diktator Shah Reza Pahlevi. Bulan februari 1986, pecah revolusi  kekuatan  rakyat  di  Manila  dengan  berhasil  menumbangkan kediktaktoran Ferdinand Marcos yang dipimpin oleh Cory Aquino.
Setelah itu revolusi demi revolusi atau reformasi demi reformasi terjadi  di  banyak  negara,  termasuk  Indonesia.  Reformasi  politik  di Indonesia  terjadi  pada  tahun  1997  dengan  lengsernya  Suharto  sebagai presiden  selama  kurang  lebih  32  tahun  berkuasa.  Kesemuanya  itu menegaskan bahwa perubahan sedang dan terus  terjadi di segala tataran (Kompas, 30 Oktober 2000).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar