Syarat Inventori Yang Baik

Ada beberapa syarat inventori yang baik. Suharsimi  Arikunto  (2006)  mengatakan  bahwa instrumen  yang  baik  harus  memenuhi  dua  persyaratan  penting  yaitu validitas  dan  reabilitas.  Lebih lanjut  Mahmud  (2011)  mengatakan bahwa  untuk  mendapatkan  sebuah  instrumen  penelitian  yang  baik  atau memenuhi standar, ada  dua syarat  yang harus dipenuhi  yaitu validitas dan reliabilitas. Lebih  lanjut  Nana  Syaodih  Sukmadinata  (2003) menyebutkan  persyaratan  yang  harus  di  penuhi  oleh  suatu  instrument pengukuran minimal ada dua macam, yaitu validitas dan reliabilitas.
Penjelasan  mengenai  validitas  dan  reliabilitas  adalah  sebagai berikut:
Validitas
Saifuddin  Azwar  (2003),  validitas  berasal  dari  kata  validity yang  mempunyai  arti  sejauhmana  ketepatan  dan  kecermatan  suatu  alatukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen dapat dikatakan memiliki  validitas  yang  tinggi  apabila  instrumen  tersebut   dapat menjalankan  fungsi  ukurnya  atau  memberikan  hasil  ukur  yang  sesuai dengan  maksud  yang  dilakukan.  Dengan  kata  lain  valid  tidaknya  suatu instrumen  tergantung  pada  kemampuan  instrumen  tersebut  dalam mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat.
Suharsimi Arikunto (2006) mengemukakan bahwa validitas adalah  suatu  ukuran  yang  menunjukkan  tingkat-tingkat  kevalidan  atau kesahihan  suatu  instrumen.  Suatu  instrumen  yang  valid  atau  sahih mempunyai  validitas  yang  tinggi.  Sebaliknya,  jika  instrumen  yang kurang valid berarti mempunyai validitas yang rendah. Apabila data yang dihasilkan  oleh  suatu  instrumen  itu  valid,  maka  dapat  dikatakan  bahwa instrumen  tersebut  valid,  karena  dapat  memberikan  gambaran  tentang data  secara  benar  sesuai  dengan  kenyataan  atau  keadaan yang sesungguhnya. Artinya, jika instrumen yang dibuat mampu menghasilkan data  sesuai  dengan  kenyataan  yang  ada,  maka  instrumen  tersebut  dapat dikatakan valid.
Berdasarkan  definisi  ditas  dapat  di  simpulkan  bahwa  validitas adalah  seberapa  jauh  alat  ukur  mampu  mengukur  apa  yang  seharusnya diukur sesuai dengan tujuan alat ukur tersebut. Menurut  Sukardi  (2007)  validitas  suatu  tes  dapat dibedakan  menjadi  empat  macam,  yaitu  validitas:  isi,  konstruk, konkuren,  dan  prediksi.  Keempat  macam  validitas  tersebut  sering  pula dikelompokan menjadi dua macam menurut rentetan berpikirnya. Kedua macam validitas itu, yaitu validitas logik dan validitas empirik. Validitas logik pada prinsipnya mencakup validitas isi, yang ditentukan utamanya atas dasar pertimbangan (judgment) dari pakar. Kelompok validitas yang lain  adalah  validitas  empirik.  Dinamakan  deemikian  karena  validitas tersebut  ditentukan  dengan  menghubungkan  performansi  sebuah  tes terhadap kriteria penampilan tes lainnya dengan menggunakan formulasi statistik.  Yang  termasuk  dalam  validitas  logik  diantaranya  adalah validitas konkruen dan prediksi.
Dalam  penelitian,  validitas  suatu  tes  dapat  dibedakan  menjadi empat macam, yaitu: validitas isi, validitas konstruk, validitas konkuren, dan prediksi yang akan diuraikan dengan lebih jelas sebagai berikut:
Validitas Isi
Menurut Sukardi (2007), yang dimaksud validitas isi ialah derajat  dimana  sebuah  tes  mengukur  cakupan  substansi  yang  ingin diukur.  Untuk  mendapatkan  validitas  isi  memerlukan  dua  aspek penting  yaitu  valid  isi  dan  valid  teknik  sampling. Lebih  lanjut Saifuddin  Azwar  (2003),  validitas  isi  merupakan  validitas  yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan tes rasional atau pendapat  profesional  (professional  judgement)  para  ahli.  Dengan demikian  validitas  isi  lebih  banyak  bergantung  pada  penilaian subyektif  individual,  karena  dalam  pengujian  validitas  menggunakan analisis  rasional,  tidak  diuji  dengan  menggunakan  perhitungan statistika.  Untuk  itu  sangat  memungkinkan  terjadinya  perbedaan pendapat antara satu orang dengan orang lainnya.
Validitas isi suatu instrumen ini mengukur sejauhmana aitemaitem  tes  mencakup  keseluruhan  kawasan  isi  objek  yang  hendak diukur,  atau  seberapa  jauh  isi  tes  tersebut  mencerminkan  ciri  atribut yang  hendak  diukur.  Maksud  dari  mencakup  keseluruhan  kawasan yaitu  isi  tidak  hanya  menunjukan  bahwa  tes  tersebut  menyeluruh isinya, tetapi isi dari aitem-aitem tersebut harus relevan dengan tujuan yang  hendak  diukur.  Walapun  isinya  menyeluruh  (komprehensif), tetapi jika aitemnya tidak relevan dengan tujuan yang hendak diukur, maka  instrumen  tersebut  tidak  bisa  dikatakan  valid.  Untuk mendapatkan  validitas  isi  dilakukan  dengan  cara  menyusun  aitem sesuai  dengan  idikator  yang  telah  ditentukan  untuk  masing-masing komponen  kemudian  mengkonsultasikan  dengan  ahli  untuk memeriksa  secara  sistematis  dan  dinilai  relevansinya  dengan komponen yang telah ditentukan.
Validitas Konstruk
Menurut  Allen&  Yen  (Azwar,  200)  validitas  konstruk adalah tipe validitas  yang menunjukan sejauh mana tes mengungkap suatu trait atau konstruk teoritik  yang hendak diukurnya. Sedangkan menurut  Sukardi  (2007)  validitas  konstruk  merupakan  derajat yang menunjukan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau hypothetical construst. Konstruk, secara denitif, merupakan suatu sifat yang tidak dapat diobservasi, tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya melalui satu atau dua indra kita.
Lebih  lanjut  Sutrisno  Hadi  (2003)  menjelaskan  bahwa kebenaran  alat ukur ditinjau  semata-mata  dari  segi  kecocokannya dengan  teori  sebagai  fundamennya,  di  atas  mana  aitem  dari  alat  di bangun.
Validitas Konkuren
Menurut Sukardi (2007) validitas konkuren adalah derajat dimana  skor  dalam  suatu  tes  dihubungkan  dengan  skor  yang  telah dibuat  tes  dengan  validasi  konkuren  biasanya  diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan kriteria valid yang sudah ada. Validitas konkuren  ditentukan  dengan  membangun  analisis  hubungan  atau pembedaan.
Validitas Prediksi
Validitas  prediksi  adalah  derajat  yang  menunjukkan  suatu  tes deapat  memprediksi  tentang  bagaimana  seseorang  akan  melakukan suatu  prospek  tugas  atau  pekerjaan  yang  direncanakan.  Yang  perlu diperhatikan  ketika  kita  akan  melakukan  tes  prediksi  di  antaranya adalah  perlunya  memperhatikan  proses  dan  cara  membandingkan instrumen yang divalidasi dengan tes yang telah dibakukan. Validasi prediksi  suatu  tes  pada  umumnya  ditentukan  dengan  membangun hubungan  antara  skor  tes  dan  beberapa  ukuran  keberhasilan,  yang selanjutnya  disebut  sebagai predictor.  Sedangkan  tingkah  laku  yang hendak diprediksi pada umumnya disebut sebagai criterion.
Reliabilitas
Reliabilitas  (reliability)  barasal  dari  kata  rely  dan  ability. Reliabilitas  memiliki  berbagai  nama  diantaranya  adalah  keterandalan, keterpercayaan, keajegan, kestabilan, konsisten, dan sebagainya. Namun pada  intinya  reliabilitas  adalah  alat  ukur  mrnunjukan  sejauhmana  hasil pengukuran  dengan  alat  tersebut  dapat  dipercaya  (Saifuddin  Azwar, 2003).  Artinya,  instrumen  yang  sudah  dapat  dipercaya,  akan menghasilkan  data  yang  dapat  dipercaya  pula.  Dijelaskan  oleh  Sumadi Suryabrata (1998) bahwa alat  yang dapat dipercaya ditunjukan oleh taraf  keajegan  (konsistensi)  skor  yang  diperoleh  oleh  para  subyek  yang diukur dengan alat yang sama atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda.
Menurut Sumadi Suryabrata  (2004)  reabilitas  alat ukur juga menunjukan derajat kekeliruan pengukuran  yang tidak dapat ditentukan dengan  pasti  melainkan hanya  dapat  di  estimasi.  Cara  mengestimasi reliabilitas  alat  ukur  dengan  beberapa  teknik  diantaranya  teknik  belah dua, rumus Rulon, rumus Flanagan, Teknik KR20, teknik KR21, teknik analisis varians dan koefisien alpha.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar