Respon terhadap Stres

Ada beberapa respon terhadap stres oleh tubuh manusia.  Menurut Hans Selye (2002), stres adalah respon tubuh yang bersifat non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban di atasnya. Selye memformulasikan konsepnya dalam general adaptation syndrom(GAS), ini berfungsi sebagai respon otomatis, respon fisik dan respon emosi pada individu.
Model GAS menyatakan bahwa dalam keadaan stres tubuh kita seperti jam dengan sistem alarm yang tidak berhenti sampai tenaganya habis yang terbagi dalam tiga fase, yaitu:
Reaksi waspada (alarm reaction stage)
Adalah persepsi terhadap stressor yang muncul secara tibatiba akan munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dari sistem saraf autonom. Reaksi ini disebut juga reaksi berjuang atau melarikan diri.
Reaksi resistensi (resistance stage)
Adalah tahap dimana tubuh berusaha untuk bertahan menghadapi stres yang berkepanjangan dan menjaga sumber kekuatan (membentuk tenaga barudan memperbaiki kerusakan), merupakan tahap adaptasi dimana sistem endokrin dan sistem simpatis tetap mengeluarkan hormon-hormon stres tetapi tidak setinggi pada saat reaksi waspada.
Reaksi kelelahan (exhaustion stage)
Adalah fase penurunan resistensi, meningkatnya aktifitas simpatis dan kemungkinan deteriorisasi fisik, yaitu apabila stresor tetap berlanjut atau terjadi stressor baru yang dapat memperburuk keadaan. Tahap kelelahan ditandai dengan dominasi cabang parasimpatis dari ANS. Sebagai akibatnya detak jantung dan kecepatan menurun. Apabila sumber stres menetap, kita dapat mengalami ”penyakit adaptasi” (disease of adaptation), penyakit yang rentangnya panjang mulai dari reaksi alergi sampai penyakit jantung bahkan sampai kematian (Nevid, dkk, 2002).
Taylor (1991), menyatakan bahwa stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa responrespon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu.
Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu:
  1. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.
  2. Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.
  3. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.
  4. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.
Untuk mengetahui persoalan dan solusi yang dialami para single parent. Peneliti menganggap Strategi coping cocok dipakai sebagai teori dalam penelitian ini. Strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Mu’tadin, 2002).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar