Pembentukan Karakter Anak

Pembentukan Karakter anak merupakan salah satu usaha mendidik anak agar memiliki sifat-sifat yang unggul. Pada orang tua memainkan peranan penting dalam membantu mengembangkan karakter seorang anak terutama pada masa-masa rentan. Dasarnya adalah bergantung pada saatpengembangan karakter dimasa yang akan datang. Para orang tua perlu memahami beberapa hal di bawah ini:
  1. Masing-masing anak adalah unik Orang tua harus menghargai individualitas masing-masing anak dan menerima dengan apa adanya. Perlakuan penuh perhatian, sabar dan memberi kasih sayang pada saat menangani anak pada masa-masa pembentukan. Berikan anak yang lambat dalam beradaptasi lebih banyak waktu, dorongan dan dukungan. Perlakukan anak yang cepat marah dengan sabar. Anak yang sensitif perlu ditangani dengan tenang dan lemah lembut.
  2. Perilaku orang tua mempunyai pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter anak. Orang tua sebaiknya memberi contoh yang baik dan memberi anakanaknya waktu untuk belajar, jangan mengharapkan mereka menjadi orang dewasa. Kasih sayang, permintaan yang wajar, dan penilaian yang jujur akan membantunya mencapai kepercayaan pada dirinya. Dengan memberi terlalu banyak perhatian dapat merubahnya menjadi anak yang tempramental. Memanjakan anak yang merasa tidak empati dengan orang lain dan tidak mampu membuat keputusan yang sesuai dengan hatinya. Disisi lain, jika orang tua terlalu ketat, anak akan takut terhadap orang tuanya. Dengan mengabaikan anak akan menyebabkan dia menjadi dingin, tidak bersahabat, dan akan menjadi anak tidak merasa aman terhadap dirinya.
  3. Mendorong kemandirian sejak awal. Kemandirian akan menuntutnya pada kepedulian terhadap diri sendiri, berfikir dan menyelesaikan permasalahan. Hal ini akan menyebabkan orang tua mempunyai lebih banyak waktu buat diri mereka sendiri. Biarkan anak anda melakukan sesuatu untuk dirinya. Jangan paksa dia bekerja dengan cara anda kecuali jika yang dilakukannya berbahaya atau tidak wajar. Jangan membantu jika anak tersebut mempunyai permasalahan. Bantulah anak anda melakukan analisa terhadap permasalahannya dan doronglah dia untuk menyelesaikan dengan caranya sendiri. Jika anak tersebut meluapkan rasa marahnya disebabkan karena dia frustasi, tunjukkan dia kesabaran, tuntunlah dia dengan sabar untuk mencapai solusinya. Tentunya, ide-ide yang aman akan sangat penting bagi anak usia dini, jadi jangan biarkan tersebut melalui sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya ataupun membahayakannya. Dengan mendapat keseimbangan yang tepat antara keamanan dan kemandirian merupakan aspek yang mendasar dalam membantu anak anda.
  4. Menghargai diri sendiri dan percaya diri. Pujian yang positif akan menuntunnya pada penghargaan kepada diri sendiri dan rasa percaya diri. Jangan selalu menfokuskan pada kesalahan dan kelemahan anak anda. Jangan terlalu menjadi orang yang perfeksonis atau terlalu banyak melakukan melakukan permintaan atas tindakan yang dilakukan oleh anak anda. Orang tua harus lebih banyak memberikan dia pujian dan mengurangi kritik kepada dia. Pada saat anak mampu bekerja dengan baik, hargailah dia sesegeramungkin dengan pujian. Tidak perlu selalu memberi penghargaan yang bersifat materi dan terlalu mengkritik atas kesalahan yang dilakukan oleh anak atau terlalu mengaturnya. Berikan arahan tentang bagaimana memperbaiki dan menunjukkan aspek yang positif atas apa yang telah dilakukannya. Jangan mengkritik anak anda dihadapan anak lain sebab hal ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan akan menjadi takut untuk melakukan sesuatu yang baru. Berilah pujian atas kekuatan yang dimiliki anak anda dihadapan orang lain. Biarkan anak anda tahu bagaimana berartinya diri mereka dihadapan anda.
  5. Menanamkan perhatian dan memberi perhatian kepada orang lain. Biarkan anak anda mengetahui kontribusi dan kerja keras orang tuanya dalam melayani kebutuhan keluarga. Biarkan anak anda berbagi permasalahan yang terdapat dalam keluarga yang sesuai dengan umurnya sehingga dia akan mempunyai pengalaman untuk melakukan pekerjaan rumah, sebagai contoh : berikan anak anda yang masih berada pada usia sekolah untuk membersihkan lantai. Ambillah contoh dari televisi, jika anda sedang melihat televisi. Ciptakankesempatan bagi anak anda untuk melakukan interaksi dengan teman sepermainannya dan belajar untuk berbagi. Bantulah dia menghormati dan memberi kasih sayang pada orang lain. Pada saat orang tua mementingkan diri sendiri dan mempunyai perilaku yang agresif maka anak-anak akan bereaksi serupa misalnya, dengan melemparkan sesuatu ke orang lain. Buatlah anak anda menyadari hal tersebut secepatnya dan menjelaskan kepadanya bahwa tindakan tersebut akan mencelakai orang lain.
  6. Lingkungan yang baik akan membawa keberhasilan. Ajari anak anda untuk tekun sehingga mampu mengerjakan tugasnya. Yakinkan bahwa permintaananda wajar dan dapat dirasakan oleh anak. Disisi lain anak tersebut juga bisa dikatakan "malas". Berilah dukungan dan dorongan pada saat anak anda mengalami kegagalan. Ajari anak usia dini untuk memilah-milih pekerjaan yang besar kedalam tugas kecil dan menyelesaikannya satu demi satu. Bantulah anak anda menganalisa kesalahan dan mencari pemecaha masalah yang tepat. Bangunlah kepercayaan dirinya untuk mengatasi berbagai macam kesulitan. Arahkan dan ingatkan anak anda agar selalu mempuyai kontrol terhadap dirinya sendiri.
Di samping itu, menurut Kak Seto, hal lain yang tak kalah pentingnya untuk kita pahami dalam mendidik anak adalah bahwa kita perlu memahami psokologi anak. Pada dasarnya mereka adalah:
  1. Bukan orang dewasa mini. Anak tetaplah anak, bukan orang dewasa ukuran mini. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan bila harus dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki dunia tersendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak.  Untuk itu menghadapi mereka dibutuhkan adanya kesabaran, pengertian, serta toleransi yang mendalam. Mengharapkan mereka bisa mengerti sesuatu dengan cepat dengan membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang dewasa seperti kita, tentu bukan merupakan sikap yang bijaksana.
  2. Dunia bermain. Yaitu dunia yang penuh spontanitas dan menyenangkan. Sesuatu akan dilakukan oleh anak dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan. Namun sebaliknya akan dibenci dan dijauhi oleh anak apabila suasanya tidak menyenangkan. Seorang anak akan rajin belajar, mendengarkan keterangan guru atau melakukan pekerjaan rumahnya apabila suasana belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.
  3. Berkembang. Selain tumbuh secara fisik, anak juga berkembang secara psikologis. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya. Perilaku yang ditampilkan anak akan sesuai dengan ciri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut.
  4. Senang Meniru. Anak-anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembantukan tingkah laku mereka adalah dengan cara meniru. Anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang mempunyai lingkungan dimana orang-orang disekelilingnya adalah juga gemar membaca. Mereka meniru ibu, ayah, kakak atau orang-orang lain disekelilingnya yang mempunyai kebiasaan membaca dengan baik tersebut. Dengan demikian maka disekolah guru juga dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, seperti selalu tersenyum, senang bernyanyi, menghargai orang lain termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.
  5. Kreatif. Anak-anak pada dasarnya adalah kreatif. Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif misalnya, rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajenasi yang tinggi, senang akan hal-hal yang baru dan sebagainya. Namun sering dikatakan bahwa begitu anak masuk sekolah, kreatifitas anakpun akan menurun. Hal ini sering disebabkan karena pelajaran yang diberikan terlalu menekankan pada cara berfikir secara konvergen, sedangkan cara berfikir divergen kurang dirangsang. Dalam hal ini maka guru perlu memahami kreatifitas yang ada pada diri anak-anak, dengan bersikap luwes dan kreatif pula. Bahan-bahan pelajaran disekolah hendaknya tidak sekedar menuntut anak untuk memberi satu-satunya jawaban yang benar menurut guru saja. Kepada mereka tetaplah perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan imajenasinya secara "liar" dengan menerima dan menghargai adanya alternatif jawaban yang kreatif.
Sedangkan pola pembentukan karakter anak pada tingkat usianya adalah
  1. Usia 3 bulan  : Orang tua sebaiknya memberikan wajah yang nampak akrab bagi bayi tersebut pada saat dia tersenyum.
  2. Usia 6 bulan : Orang tua sebaiknya menghindari perubahan kepada orang yang merawatnya. Yakinkan bahwa objek yang dimaksudkan oleh bayi untuk dimasukkan kedalam mulutnya adalah aman dan tidak beracun.
  3. Usia 9 bulan  :  Biarkan  anak  tersebut duduk ditempat dimana dia dapat melihat banyak benda. Hindari datangnya orang lain secara tiba-tiba di hadapan anak anda. Para ibu sebaiknya menghabiskan banyak waktunya untuk bersama-sama dengan anak-anaknya terutama jika mereka mulai melakukan aktivitas tertentu.
  4. Usia 1 tahun : Berikan sebuah sarana sebagai bantuan untuk berpegangan. Alat bantu untuk berjalan dapat juga untuk digunakan. Berhentilah menggunakan penyekat air liur.
  5. Usia 18 bulan : Yakinkan bahwa lantainya aman dan tidak licin untuk menghindari jatuhnya bayi anda. Batasi area dimana anak tersebut dapat belajar dengan aman.
  6. Usia 2 tahun  : Biarkan anak tersebut sampai dalam batas aman yang dimaksudkan. Doronglah kebebasannya dengan membirkan anak tersebut mencoba berbagai hal di bawah pengawasan kita.
  7. Usia 2-6 tahun :  Kembangkan sebuah rasa atas sesuatu hal yang baik dan benar melalui penerapan disiplin. Berikan pengawasan. Masukkan dia kedalam sebuah kelompok kecil. Ajari dia untuk berbagi. Jangan harapkan dia untuk bertahan secara lama dalam sebuah kelompok yang anggotanya banyak. Jelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara sederhana. Jangan memaksakan mereka. Hargai segala usahanya. Buatlah serangkaian contoh yang baik. Bicarakanlah dengan dia sesering mungkin. Bacakan sesuatu untuk dia dan dengarkan pertanyaan darinya, kemungkinan dia tidak mengetahui apa yang dia katakan. Ajari dia untuk menghormati orang lain dengan baik.
  8. Usia 6-12 tahun : Ajari dia berkomunikasidengan baik terhadap orang tua, guru, teman sebayanya dan orang lain. Ajari juga mereka untuk belajar membaca dan menulis, belajar berburu dan menangkap ikan, atau belajar keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan di masyarakatnya.
Untunglah pada umumnya kebanyakan anak-anak berusia tiga tahun itu bisa menjalin hubungan yang akrab dengan pihak ibu atau ayah mereka untuk sebagian besar waktu dalam sehari penuh, meskipun mereka tidak luput dari percekcokan kecil-kecil. Anak-anak itu memiliki keseimbangan yang cukup beradab dalam pembentukan wataknya.
Pola pembentukan karakter anak dilihat dari tingkat sekolahnya, antara lain:
  1. Usia Balita : berikan kesempatan beberapa detik untuk memiliki secara penuh, perkenalkan apa arti boleh dan tidak boleh dengan menggunakan ekspresi wajah, konsisten dan jangan menggunakan kekerasan suara dan fisik.
  2. Usia taman kanak-kanak : memberi kesempatan untuk memperhatikan, mencoba, dan bekerja sama. Perhatikan dan luruskan perilaku imitatif yang cenderung negatif, dan dukunglah anak untuk bisa berbagi dan mengeluh.
  3. Usia sekolah dasar : menghargai pendapatnya dan jangan menyalahkan, ajaklah dialog logika dan pengalaman, pujilah hal-hal yang baik dari penampilannya, bantulah dengan kalimat positif untuk bisa tampil lebih baik lagi.
  4. Usia sekolah menengah pertama : meningkatkan proses kedekatan dengan anak dengan melalui dialog dan berbagai cara, jadilah pendengar yang baik dan bukan menjadi hakim, jangan pernah menyela pembicaraan dan cerianya, dan jangan beri komentar atau nasihat sebelum tiba waktunya.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar