Metode Penerjemahan

Ada beberapa metode penerjemahan. Istilah metode berasal dari kata method dalam bahasa Inggris. Dalam Macquarie dictionary (1982), a method is a way of doing something, especially in accordance with a definite plan metode adalah suatu cara melakukan sesuatu, terutama yang berkenaan dengan rencana tertentu. (Machali,2009) Metode penerjemahan adalah cara melakukan penerjemahan menurut suatu rencana tertentu. (Ivan Lanin, 2013). Ada delapan metode penerjemahan, seperti disebutkan oleh Machali (2009), empat metode tersebut di antaranya:
Penerjemahan Kata-demi-Kata
Dalam metode penerjemahan jenis ini biasanya kata-kata TSa langsung diletakkan di bawah versi TSu. Kata-kata dalam TSu diterjemahkan di luar konteks, dan kata-ata yang bersifat kultural (misal kata ‘tempe’) dipindahkan apa adanya. Umumnya metode ini dipergunakan sebagai tahapan prapenerjemahan (sebagai gloss) pada penerjemahan teks yang sangat sukar atau untuk memahami mekanisme BSu. Jadi, dalam proses penerjemahan, metode ini dapat terjadi pada tahap analisis atau tahap awal pengalihan. Namun, perlu diingat bahwa metode penerjemahan semacam ini  mempunyai kegunaan atau tujuan khusus, dan dalam praktik penerjemahan di Indonesia tidak lazim digunakan sebagai metode penerjemahan ang umum.
Penerjemahan Harfiah
Konstruksi gramatikal BSu dicarikan padanannya yang terdekat dalam TSa, tetapi penerjemahan leksikal atau kata-katanya dilakukan terpisah dari konteks. Contoh terjemahan harfiah adalah penerjemahan kalimat:
It’s raining cats and dogs
Menjadi:
Hujan kucing dan anjing
Penerjemahan yang lepas konteks semacam ini selain menghasilkan cersi TSa yang tak bermakna (kucing dan anjing tidak dapat berjatuhan dari langit), juga menghasilkan versi TSa yang tidak lazim. Maka seperti halnya metode pertama, dalam proses penerjemahan, metode ini dapat digunakan sebagai metode pada tahap awal pengalihan, bukan sebagai metode yang laim.
Penerjemahan Setia
Penerjemahan ini mencoba mereproduksi makna kontekstual TSu dengan masih dibatasi oleh struktur gramatikalnya. Di sini kata-kata yang bermuatan budaya dialihbahasakan, tetapi penyimpangan dari segi tata bahasa dan pilihan kata masih tetap dibiarkan. Penerjemahan ini berpegang teguth pada maksud dan tujuan TSu, sehingga hasil terjemahan kadang-kadang terasa kaku dan asing. Metode ini dapat dimanfaatkan untuk membantu penerjemah dalam psoses awal pergalihan. Contoh penerjemahan setia adalah penerjemahan kalimat:
Ben is too well aware that he is gaughty
Menjadi:
Ben menyadari terlalu baik bahwa ia nakal
Penerjemahan Semantis
Penerjemahan semantis lebih luwes apabila dibandingkan dengan metode penerjemahan setia. Penerjemahan semantis harus mempertimbangkan unsur estetika teks BSu dengan mengompromikan makna selama masih dalam batas kewajaran. Selain itu, kata yang sedikit bermuatan budaya dapat diterjemahkan dengan kata yang netral. Contohnya:
He is a book-worm
Menjadi
Dia (laki-kali) adalah  seorang yang suka sekali membaca.
Pada tulisan di atas telah diterangkan empat  metode penerjemahan. Keempat metode tersebut lebih berorientasi kepada bahasa sumber. Selain pertimbangan kewacanaan, penerjemah juga mepertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa sasaran. Berikut keempat metode tersebut, seperti dinyatakan Machali (2009), di antaranya:
Adaptasi (termasuk saduran)
Adaptasi adalah metode penerjemahan ang paling bebas dan paling dekat dengan Bahasa Sasaran. Biasanya metode ini dipakai dalam penerjemahan drama atau puisi, yaitu yang mempertahankan tema, karakter, dan alur. Namun dalampenerjemahan, terjadi peralihan budaya Bahasa Sumber ke Bahasa Sasaran, dan teks asli ditulis kembali serta diadaptasikan ke dalam TSa. Sebagai contoh adalah penerjemahan (atau lebih tepat penyaduran) drama Shakespeare berjudul “Macbeth” yang disadur oleh penair terkenal W.S. Rendra dan dimainkan di taman Ismail Marzuki Jakarta di tahun 1994.
Penerjemahan Bebas
Ini adalah penerjemahan yang menitikberatkan isi dan mengorbankan bentuk Bahasa Sumber. Biasanya, metode ini berbentuk sebuah pararase yang dapat lebih panjang atau lebih pendek daripada aslinya. Metode ini sering dipakai di kalangan media massa. Di Indonesia metode ini sering disebut metode ‘oplosan’, karena biasanya ‘bentuk’ teks Bahasa Sasaran sama sekali berubah. Contohnya:
(Time, May 28th , 1990): “Hollywood rage for Remakes”
Menjadi:
(Suara Merdeka, 15 Juli 1990): “Hollywood kekurangan cerita: Lantas Rame-rame Bikin Film Ulang”
Penerjemahan Idiomatik
Metode ini bertujuan mereproduksi pesan dalam teks BSu, tetapi sering dengan menggunakan kesan keakraban dan ungkapan idiomatik yang tidak didapati pada versi aslinya. Karenanya, banyak terjadi distorsi nuansa makna. Contohnya:
Mari minum teh sama-sama: saya yang bayar.
Menjadi
I’ll shout you a tea
Penerjemahan Komunikatif
Metode ini mengupayakan reproduksi makna kontekstual yang demikian rupa, hingga baik sisi kebahasaan ataupun  aspek isi langsung dapat dimengerti oleh pembaca. Karenanya, versi Teks Sasarannya bisa langsung diterima. Metode ini mengutamakan prinsip-prinsip komunikasi. Contohnya:
Kata spine dalam frase thorns spines ini old reef sediments.
Jika diterjemahkan untuk ahli biologi, terjemahannya menjadi spina. Namun jika untuk umum, menjadi duri.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar