Ajaran Agama Konghucu

Ajaran agama Konghucu memiliki ciri ajaran yang khas, tetapi hampir sama dengan agama yang lain, mengajarkan kebijaksanaan. Dalam suatu agama, kitab suci merupakan suatu pedoman utama bagi para pengikutnya. Tanpa kitab suci, sulit bagi pengikutnya untuk mengetahui kebenaran ajaran suatu agama. Kitab suci suatu agama adalah kitab yang berisikan moral yang dapat dijadikan pendangan hidup bagi para pengikutnya.  Kitab suci suatu agama juga disucikan oleh para pengikutnya, dihormati dan  dijaga otoritas (keaslian) isinya. Orang yang sengaja menodai, menghina kitab  suci orang lain, orang tersebut harus behadapan dengan para pengikutnya. Begitu juga dengan agama Khonghucu, agama ini juga memiliki kitab suci. Kitab-kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan  beragama umat Khonghucu adalah “Su-Si” (kitab yang empat atau empat kitab) dan “Wu Cing” (Ngo King atau kitab lima).
Kitab-kitab suci itu antara lain kitab Su Si yang aslinya berbahasa Mandarin (bahasa nasional Cina). Kitab ini diterjemahkan oleh Matakin ke dalam bahasa Indonesia. Kitab ini dicetak dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 1996. Kitab ini ditetapkan sebagai kitab agama Khonghucu di Indonesia pada  bulan Agustus 1967, yaitu saat konggres agama Khonghucu ke 6 diselenggarakan. Dalam konggres tersebut, tidak hanya menetapkan Su Si (empat kitab) dan Ngo King (lima kitab) sebagai kitab agama Khonghucu, namun konggres juga menetapkan sifat upacara agama Khonghucu.
Kitab Su Si adalah kitab setebal 823 halaman, ini dibagi menjadi empat buah kitab yang dihimpun menjadi satu kitab, kitab tersebut adalah:
  1. Thai Hakatau ajaran besar, berisi bimbingan dan ajaran pembinaan diri, keluarga, masyarakat, Negara dan dunia. 
  2. Tiong Youngatau tengah sempurna, berisi ajaran iman agama Khonghucu, tentang iman kepada Tuhan, firmannya, watak sejati menempuh jalan suci dan peranan agama. 
  3. Lun Giatau suci berisi firman Tuhan yang disabdakan Nabi Khongcu tentang berbagai masalah dan ajarannya. 
  4. Bingcu atau kitab suci yang di tulis oleh bingcu dan mencius, menegaskan dan meluruskan tafsiran ajaran agama khonghuchu dalam memerangi penyelewengan.
Umat Khonghucu juga mempunyai kitab Ngo King (lima kitab) di samping memiliki kitab Su Si, yang menjadi sumber ajaran utama umat agama Khonghuchu, terdiri atas:
  1. Sikingatau kitab sanjak, kitab ini berisikan kumpulan sanjak atau nyanyian yang bersifat lagu rakyat yang berasal dari berbagai negeri.  Sanjak ini dibagi ke dalam empat bagian nyanyian dan pujian untuk mengiringi upacara ibadah, yaitu: (1) Kok Hong(nyanyian rakyat dari berbagai negeri) terdiri dari 160 Sanjak, (2) Siau Nge(nyanyian rakyat pujian kecil) yang terdiri dari 80 Sanjak, (3) Tai Nge (nyanyian atau pujian besar) yang terdiri dari 31 Sanjak, (4) Long (nyanyian pujian) yang di gunakan dalam berbagai upacara sembahyang. 
  2. Suking atau kitab dokumentasi, kitab ini berisikan teks dokumentasi Sabda, Peraturan, Nasehat, Maklumatpara Nabi dan Raja-raja suci Purba: (1) Yak King atau wahyu tentang perubahan, isi kitab ini mengungkapkan kejadian, perubahan dan segala sesuatu tentang semesta alam, hidup manusia atau segala peristiwanya, (4) Lee King atau kitab suci tentang susila dan peribadatan yang terdiri dari tiga kitab yaitu: Gi Lee atau kitab tata peribadatan,  Ciu Leeatau kitab kesusilaan Dinasti Ciu dan Lee King atau kitab suci tentang susila dan peribadatan yang terdiri dari tiga bab yaitu: 9 Gi Leeatau kitab peribadatan, 9 Ciu Lee atau kitab kesusilaan Dinasti Ciu dan 9 Lee ki atau catatan kesusilaan yang di tulis oleh murid dan pengikutnya. 
  3. Chun Chiu King atau kitab sejarah zaman Chun Chiu, yang di tulis sendiri oleh Konfucius / honghuchu beserta tiga tafsir dan penjabarannya. Kitab-kitab tersebut adalah:  (1) Chun Chiu Kong Yang Thoan atau babaran kitab Chun Chiu yang di tulis oleh Coo Khiu Bing, salah seorang sahabat dan murid Khonghuchu, (2) Chun Chi Kong Yang Thoan atau babaran Kitab Chun Chiu yang di tulis oleh Kong Yong Koo , (3) Chun Chiu Liang Thoan atau Kitab Chun Chia yang di tulis Kok Liang Chik juga seorang tokoh Konfusian.  
Kaidah-kaidah peraturan keseimbangan maka Konfuse mengajarkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Orang harus menggunakan nama-nama baik dan benar 
  2. Orang harus memiliki sifat-sifat yang di sebut “Chung Yung” yaitu sifat atau sikap yang senantiasa tetap berada di tengah-tengah antara hidup berlebih-lebihan dan kekurangan yang dapat memberikan keseimbangan terhadap perbuatan berlebih serta  mengendalikan perbuatan-perbuatan tersebut sebelum terwujud. 
  3. Orang harus menjaga lima hubungan timbal balik: Antara Ayah dan Anak,  Antara saudara-saudara tua dengan saudara muda,  Antara suami dan istri,  Antara kawan yang lebih tua dengan yang lebih muda,  Antara Raja dengan rakyat.
Khonghucu selalu menghindari pembicaraan tentang metafisika, ketuhanan, jiwa dan berbagai hal yang gaib. Khonghucu tidak meragukan tentang adanya lebih meneguhkan pemujaan terhadap leluhur, dengan kesetiaan kepada sanak keluarga dan penghormatan terhadap kedua orang tua. Khonghucu mengajarkan betapa penting artinya penghormatan dan ketaatan istri kepada suami, dan rakyat terhadap penguasanya. Khonghucu berpendapat, hidup ini ada dua nilai, yaitu: Yen dan Li.Yen artinya cinta atau keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang, sedangkan Liartinya keserangkaian antara perilaku, ibadah, adat istiadat, tatakrama dan sopan santun.
Khonghucu mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar, yaitu kagum terhadap perintah Tuhan. Kagum terhadap orang-orang penting dan kagum terhadap kata-kata yang bijaksana. Orang yang tidak kagum terhadap tiga hal tersebut atau malahan berperilaku tidak sopan dan menghina kata-kata bijaksana adalah orang-orang picik (Lu Yu 16:8).
Khonghucu berkeyakinan bahwa adanya Negara itu tidak lain melayani kepentingan rakyat, bukan rakyat untuk penguasa Negara, maka penguasa pemerintahan harus memberi contoh suri tauladan yang moralis terhadap rakyat dan bukan bertindak lazim. Khonghucu berkata “apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat atas dirimu, jangan lakukan”.
Konghucu mengatakan bahwa pemerintah hanya meletakkan dasar-dasar yang benar, jika ada pemimpin dengan contoh yang benar, siapa yang berani menggugat anda ( Lun yu, 21:17 ). Jika penguasa berbuat benar, ia akan berpengaruh terhadap rakyat tanpa perintah-perintah, jika penguasa sendiri berbuat tidak benar, maka semua perintahnya menjadi tidak berguna ( Lun Yu, 13:16 ).
Dalam ucapan Khonghucu yang lain yaitu jika penguasa meralat tindakan sendiri, bagi pemerintah itu soal yang mudah,jika ia tidak meralat tindakannya sendiri, bagaimana ia bisa meralat orang lain (Lu Yu 13:13). Pandangan Khonghucu tentang Dunia, bahwa dunia itu di bangun atas dasar moral, jika masyarakat dan Negara rusak moralnya, maka begitu pula tatanan alam menjadi terganggu, terjadilah bahaya peperangan, banjir, gempa, kemarau panjang, penyakit merajalela dan lainnya, oleh karenanya manusia mempunyai tempat terhomat yang tinggi harus di berkati dengan cahaya Ketuhanan. Khonghucu mengatakan bahwa, bukan system yang membuat manusia itu hebat ( Lun Yu, 15:29 ), Khonghucu percaya asal manusia itu baik dan akan kembali ke sifat yang baik, oleh karenanya tidak di perlukan adanya juru selamat.
Manusia adalah guru yang berbudi, guru yang berbudi akan berusaha bersungguh-sungguh mengajarkan ajaran-ajarannya serta menjadi contoh tauladan yang baik bagi orang lain. Khonghucu sendiri menyatakan dirinya adalah seorang Guru yang mendapat petunjuk dari Tuhan.
Sebagaimana di kemukakan dalam kitab Lun Yu tentang budi luhur antara lain, adalah:
  1. Laksanakan apa yang di ajarkan, baru kemudian ajarkan apa yang di laksanakan 
  2. Orang unggul, cerdas mengerti apa yang benar, orang yang kurang cerdas hanya mengerti apa yang ia jual 
  3. Orang atasan selalu teringat bagaimana ia di hukum karena salahnya, orang rendah akan menyalahgunakan orang lain 
  4. Orang atasan jika di hargai merasa senang tetapi tidak bangga bahwa orang bawahan itu bangga tetapi tidak di hargai
Agama Khonghucu memiliki ajaran di bidang kesusilaan menekankan rasa setia kawan secara timbal balik, menanamkan rasa simpati dan kerjasama di luar. Sebagaimana di ajarkan di kalangan masyarakat Khonghucu sudah menjadi tradisi.
Meluruskan diri membina diri maksudnya yaitu:
  1. Adapun yang lebih ramai untuk membina diri harus lebih dahulu meluruskan hati, itu ialah: diri yang diliputi geram dan marah, tidak dapat berbuat lurus, yang diliputi takut dan khawatir tidak dapat berbuat lurus dan diliputi sifat suka dan gemar, kesal, tidak dapat berbuat lurus. 
  2. Hati yang tidak pada tempatnya, sekalipun melihat takkan tampak, meski mendengar takkan terdengar, dan meski merasa takkan merasakan. 
  3. Inilah sebabnya di katakana, bahwa untuk membina diri itu berpangkal pada meluruskan hati.
Dalam Kitab Suci Ko ong Kwam si im king (terjemahan bebas oleh JTN). Ada beberapa hal yang saya kutip disini tentang salah satu ajaran aama Khonghucu:  Bila sedang mendapat angin, jangan mengambil kesempatan untuk menindas orang lain. Saat kita beruang, jangan berfoya-foya menghamburkan uang dan hanya mementingkan kenikmatan diri sendiri. (menikmati kesenangan material sama dengan mengikis jasa pahala).
Menipu orang, menindas orang, sama dengan mengikis jasa pahala dan keberuntungan. ƒ Satu kali marah, sama dengan satu kali sakit berat. Maka walaupun dihina, kita harus belajar bersabar. Bila orang lain mencaci maki kita tanpa alasan, atau memfitnah kita, kita harus berterima kasih kepadanya, karena dia telah menghapuskan malapetaka kita, dan menimbun pahala bagi kita.
Berbuat amal, yang terpenting tidak perlu di ketahui orang lain. Harus dilakukan dengan tulus, wajar, dan setelah itu tidak perlu diingat terus. Dengan demikian, walau amalnya kecil, namun pahalanya amat besar. Bila beramal degan tujuan terselubung, dan berharap mendapatkan balas budi, maka walau beramal seumur hidup pahalanya terbatas. Ini yang disebut “nasib yang diam”di tentukan oleh yang maha kuasa. Orang bijak zaman dahulu pernah berkata : ”Barang yang disimpan, belum tentu menjadi milik sendiri”. Karena harta kekayaan menjadi milik bersama 5 pihak. Bila api datang, maka segera menjadi abu; bila air datang, maka akan segera terhanyut semuanya; bila ketemu pencuri, maka akan disikat habis; bila ketemu pejabat yang korup, maka akan difitnah atau dijebak sehingga hartanya dirampas; bila mempunyai anak durhaka, maka semua hartanya akan dihambur-hamburkan sampai ludes. Oleh karenanya hanya dengan bersedekah untuk membantu sesama, baru benarbenar menjadi milik sendiri.
Orang yang tidak memiliki keberuntungan, saat menghadapi sesuatu dia selalu berfikir kesisi yang buruk, maka yang diperoleh hanya penderitaan dan kegagalan. Orang yang memiliki keberuntungan, saat menghadapi sesuatu dia selalu memandang sisi baiknya, dengan sendirinya dalam perjalanan hidup ini dia sering menjumpai banyak keberuntungan yang sulit di mengerti; sehingga kemalangan dapat berubah menjadi keberuntungan, dan bahaya dapat berubah menjadi aman.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar