Perspektif Perubahan Sosial

Ada beberapa perspektif perubahan sosial. Sebagaimana dikutip dari Lauer (2006), terdapat empat perspektif perubahan sosial yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut; pertama, Perspektif Materialistis yang dikemukakan Thorstein Veblen (1857-1929). Ia melihat tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh sistem. Veblen terutama memusatkan perhatian pada pengaruh sistem terhadap pikiran dan perilaku manusia. Pemikiran Veblen ini dikembangkan oleh Ogburn (1886-1959) yang masih memusatkan perhatian pada perkembangan sistem dan mengembangkan konsep “ketinggalan kebudayaan”.
Menurut pandangan ini ada beberapa cara sistem menyebabkan perubahan yaitu;
  1. Sistem meningkatkan alternatif kita. Sistem baru membawa cita-cita yang sebelumnya tak dapat dicapai ke dalam alam kemungkinan dan dapat mengubah kesukaran relatif atau memudahkan menyadari nilai-nilai yang berbeda. Jadi, dengan inovasi sistem berarti masyarakat berhadapan dengan sejumlah besar alternatif dan jika ia memilih alternatif baru, maka ia memulai perubahan besar di berbagai bidang, 
  2. Sistem mengubah pola- pola interaksi. Segera setelah inovasi sistem diterima, mungkin akan terjadi pergeseran penting tertentu dalam pola interaksi, pergeseran yang dituntut oleh sistem itu sendiri; 
  3. Kecenderungan perkembangan sistem menimbulkan masalah sosial baru. Adanya masalah ini menimbulkan semacam tanggapan yang dapat mengakibatkan berbagai perubahan untuk menyelesaikannya.  
Kedua, Perspektif Idealistis, berpandangan bahwa ide yang menyebabkan perubahan. Pendekatan filsafat modern oleh Whitehead yang mencoba menunjukkan cara ide mendorong manusia mengubah tatanan sosial mereka. Pendirian teoritisi idealis memberikan ide satu tempat dominan dalam perubahan sosial. Secara garis besar, ide menyebabkan perubahan dengan cara mencegah, merintangi, membantu atau mengarahkan perubahan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut;
  1. Ideologi sebagai perintah perubahan. Karl Mannheim mendefinisikan ideologi sebagai sistem ide yang menghasilkan perilaku yang mempertahankan tatanan yang ada; 
  2. Ideologi sebagai faktor yang mempermudah perubahan; 
  3. Ideologi sebagai mekanisme pengarah perubahan. Cara lain ideologi mempengaruhi perubahan adalah dengan mengarahkannya, memaksa perubahan menuruti arah tertentu menurut logika ideologi itu. 
Ketiga; Perspektif Interaksionis yang berpandangan bahwa ada hubungan antara faktor materiil dan ide. Pandangan ini menyatakan terdapat interaksi antara faktor materiil dan ide dan bobot keduanya kurang lebih seimbang. Aspek keseimbangan pengaruh kedua faktor inilah yang membedakan pandangan interaksionis dengan pendirian Marxis dan Idealis yang mengakui juga interaksi keduanya, tetapi memberikan tekanan pada salah satu faktor, materiil atau ide.
Keempat, Perspektif yang merupakan variasi dari ketiga pendirian di atas (Marxis, Idealis dan Interaksionis). Menurut pandangan ini, faktor ide dan materiil berubah bersama-sama meskipun tidak harus serentak dan tidak mungkin mengetahui hubungan kausalnya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar