Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi

Ada pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja organisasi. Penelitian dilakukan  oleh Gina (2000),  peneliti dari University of South Africa yang berjudul “The relationship between Organisational culture and Financial  performance in a south African  Investment  Bank, meneliti Bank Investasi di Afrika selatan dengan sample sebanyak  327 orang pekerja bank tersebut dengan model pengukuran yang dikemukakan oleh Likert. Tujuan penelitiannya adalah menemukan keterkaitan budaya organisasi terhadap kinerja keuangan bank tersebut.
Konsep pengukuran budaya organisasi diadopsi dari survey empat dimensi budaya Denison (Sutriso,2010) yang terdiri dari:
  1. Keterlibatan (Involvement) 
  2. Konsistensi (concistency) 
  3. Adaptibilitas (adaptibility) 
  4. Mission
Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat dan positif antara budaya organisasi terhadap kinerja keuangan. Penelitian yang dilakukan  oleh  Denison, peneliti yang masing-masing berasal  dari Stockholm School of Economics dan  University of Michigan Business School yang berjudul “Organizational Culture and Effectiveness : The case of foreign  firm in Russia”, meneliti perusahaan Negara di Rusia, dengan sample sebanyak 179 perusahaan di Rusia dengan model pengukuran yang dikemukakan oleh Likert. Tujuan penelitiannya adalah menemukan keterkaitan budaya organisasi terhadap efektifitas organisasi perusahaan Negara tersebut.
Konsep pengukuran budaya organisasi diadopsi dari survey empat dimensi budaya Danison (1990) yang terdiri dari:
  1. Involpment 
  2.  Consistency  
  3. Adaptibility 
  4. Mission.
Efektifitas organisasi diukur berdasarkan:
  1. Overall performance 
  2. Market share 
  3. Sales Grwth 
  4. Profitability 
  5. Employe Satisfaction 
  6. Quality of product 
  7. Service and new product development.
Penelitian terhadap empat dimensi budaya ini yang menentukan efektifitas organisasi perusahaan tersebut. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat dan positif antara budaya organisasi terhadap efektifitas organisasi.
Penelitian dilakukan  oleh Mark Toncar, Lycoming Collage dan Ilan Alon (Tika, 2010). Penelitiannya berjudul “Cultural Determinations of International Franchising: An Empirical Examination of Hofstade’s cultural Dimensions”. Penelitian ingin menguji empat dimensi budaya yang telah dikembangkan Hofstede pada  perdagangan internasional di sejumlah negara maju antara lain: (1) Israel;  (2) Yugoslavia; (3) Argentina; (4) Hungaria; (5) Hongkong; (6) Philipina; (7) Portugal; (8) Sweden; (9) Chile; (10) Malaysia; (11) Denmark; (12) Nederlands; (13) Brazil; (14) Norway; (15) Finland; (16) Columbia; (17) Australia; (18) New Zealend; (19)  Ilaty; (20) Singapore; (21) Austria; (22) Mexico; (23) Britain; (24) France and (24) the United State.
Adapun Indikator penelitiannya adalah:
  1. Individualis/Collectifism 
  2. Power Distance 
  3. Uncertainty-avoidance 
  4. Sex-role-Differentiation.
Sedangkan variabel terikatnya adalah GDP perkapita. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tiga dari empat dimensi budaya organisasi yang dikembangkan Hofstade yaitu:
  1. Individualis/Collectifism 
  2. Power Distance 
  3. Sex-role- Differentiation
Berpengaruh signifikan terhadap GDP perkapitan di negara tersebut, sedangkan Uncertainty-avoidance berpengaruh tidak signifikan terhadap GDP di negara tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Marina (1998) dari Florida Gulf Coast Univrsity, Fost Myers, Florida, USA melakukan penelitian dengan judul: Temporal elements of organizational culture and impact on firm performance. Tujuan penelitiannya adalah menguji dua elemen temporal budaya organisasi yaitu polychronicity dan speed value serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi.
Penelitian mengambil data pada 20 perusahaan telekomunikasi dan perusahaan penerbitan dengan 90 responden. Dengan teknik analisis korelasi diperoleh kesimpulan bahwa.
  1. Terdapat hubungan positif antara polycronicity values dan speed values secara bersama-sama terhadap kinerja organisasi. 
  2. Terdapat hubungan positif antara polycronicity values  terhadap kinerja organisasi. 
  3. Terdapat hubungan positif antara speed  values secara bersama-sama terhadap kinerja organisasi. 
  4. Terdapat pengaruh positif antara polycronicity values terhadap kinerja organisasi (dengan dimediasi oleh hypercompetitive environments). 
  5. Terdapat pengaruh positif antara speed values  terhadap kinerja organisasi. (dengan dimediasi oleh hypercompetitive environments).
Dalam penelitian ini identifikasi variabel budaya organisasi mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Denison (1990)  yang terdiri dari:
  1. Involpment 
  2. Consistency 
  3. Adaptibility 
  4. Mission
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar