Teori Hubungan Interpersonal

Ada beberapa teori hubungan interpersonal. Berdasarkan teori dari Coleman dan Hammen, Jalaluddin Rakhmat (1998) dalam Suranto (2011) ada tiga buah teori atau model hubungan interpersonal, yaitu: teori pertukaran sosial, teori peranan dan teori penetrasi sosial.
Teori Pertukaran Sosial
Teori ini memandang bahwa pola hubungan interpersonal menyerupai transaksi dagang. Hubungan antara manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah memperoleh keuntungan dalam sebuah transaksi atau justru mengalami kerugian. Jika memperoleh keuntungan maka hubungan interpersonal berjalan mulus, akan tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu dan putus bahkan berubah menjadi permusuhan. Dengan demikian, orang berniat untuk menjalin hubungan dengan orang lain karena dilandasi oleh adanya keinginan untuk mendapat keuntungan, yaitu memenuhi kebutuhannya asumsi teori ini, setiap individu secara sadar merasa nyaman menjalin hubungan interpersonal hanya selama hubungan terbut memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya (reward dan cost).
Menurut Rahmat (2012) menyatakan bahwa ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dalam suatu hubungan, ganjaran dapat berbentuk uang, penerimaan sosial, dukungan terhadap nilai yang dipegangnya, maupun bentuk penghargaan lainnya. Makna ganjaran bagi setiap individu itu berbeda-beda.
Bagi orang yang tidak mampu secara ekonomi, ganjaran berupa uang memiliki nilai yang amat tinggi, Dengan demikian seseorang secara suka rela menjalin hubungan dengan orang lain, sepanjang ganjaran berupa penghasilan atau uang yang diharapkan itu dapat terwujud. Dalam hal ini seorang wanita pengemudi bentor yang tetap setia berhubungan dengan para pelanggannya agar tetap menerima ganjaran (reward) berupa uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan bagi pelanggannya juga tetap mendapatkan ganjaran (reward) berupa pelayanan yang nyaman, mudah dihubungi untuk diantarkan ketika ingin bepergian ketempat yang dituju.
Sedangkan biaya didefinisikan sebagai akibat yang dinilai negatif yang terjadi di dalam suatu hubungan. Biaya bisa berupa uang, waktu, usaha, konflik, pemikiran, kecemasan dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi yang lain yang dapat mengakibatkan efek-efek yang tidak menyenangkan.
Ganjaran dan biaya berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat didalamnya. Dalam prespektif teori pertukaran sosial ini, ketika seseorang menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, maka akan selalu melakukan perhitungan tentang hasil atau laba dari hubungan itu. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Dalam hal ini seorang pengemudi bentor membutuhkan jaringan entah itu dari mulut kemulut atau melalui telepon (biaya) sehingga dapat dihubungi oleh siapa saja yang membutuhkan jasanya (ganjaran).
Teori Peranan
Menurut Rakhmat (2012), teori peranan memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan ”skenario” yang di buat oleh masyarakat. Menurut teori ini, jika kita mematuhi skenario, maka hidup kita akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka kita akan di cemooh oleh penonton dan ditegur oleh sutradara.
Peranan merupakan aspek dinamis dari suatu status (kedudukan). Apabila kita melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan status yang kita miliki dalam masyarakat, maka kita telah menjalankan sebuah peranan dengan baik. Peranan adalah tingkah laku yang diharapkan dari orang yang memiliki kedudukan atau status. Antara kedudukan dan peranan tidak dapat dipisahkan. Tidak ada peran tanpa kedudukan. Kedudukan tidak berfungsi tanpa peran. Dalam hal ini yaitu peranan seorang wanita yang mengemudikan bentor dimana dirinya seharusnya menjalankan peranannya sebagai seorang wanita/ibu pada umumnya sehingga mendapatkan perlakuan yang pantas dari lingkungan sekitarnya.
Asumsi teori peranan mengatakan bahwa hubungan interpersonal akan berjalan harmonis mencapai kadar hubungan yang baik yang ditandai adanya kebersamaan, apabila setiap invidu bertindak sesuai dengan ekspektasi peranan, tuntutan peranan, dan terhindar dari konflik peranan. Ekspekstasi peranan atau peranan yang diharapkan, artinya hubungan interpersonal berjalan baik apabila masing-masing individu dapat memainkan peranan sebagaimana yang diharapkan.
Tuntutan peranan adalah desakan keadaan yang memaksa individu memainkan peranan tertentu yang sebenarnya tidak diharapkan dalam hubungan interpersonal, kadang-kadang seseorang dipaksa memainkan peranan teretntu, meskipun peran itu tidak diharapkan. Apabila tuntutan peran tersebut dapat dilaksanakan, hubungan interpersonal masih terjaga.
Konflik peranan terjadi ketika individu tidak sangggup mempertemukan berbagai tututan peranan yang kontradiktif. Misalnya, seorang ibu yang berperan pula sebagai seorang pengemudi bentor di waktu yang bersamaan ia harus memilih  mengantar mana yang terlebih dahulu, apakah tetangganya yang minta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit atau harus mengemudikan bentor demi mendapat uang harian untuk keluarganya.
Teori Penetrasi Sosial
Teori ini dikemukakan oleh Altman dan Taylor (Liliweri, 1991) dalam Budyatna (2012) bahwa dalam hubungan antara pribadi telah terjadi penyusupan sosial ketika baru berkenalan dengan orang lain, untuk pertama kalinya yang dimulai ketidakakraban kemudian dalam proses yang terus menerus berubah menjadi lebih akrab sehingga pengembangan hubungan mulai terjadi. Dimana mulai menghitung apa yang bisa diterima dan keuntungan apa yang bisa diperoleh. Jadi hubungan antara pribadi melewati suatu proses, terus berjalan, berubah dalam berbagai gejala-gejala perilaku yang ditunjukannya.
Hal yang pokok dalam penetral sosial adalah penyikapan diri (self disclosure) timbal balik, dimana setiap orang harus mengungkapkan dirinya pada orang yang disekitarnya sedikit demi sedikit. Pada awal hubungan terdapat suatu norma respon yang kuat yaitu pada saat orang sudah mulai membuka hal-hal mengenai dirinya, lingkunagannya dengan sendirinya akan melakukan hal yang sama. Dengan cara ini kepercayaan akan terbentuk.
Menurut Miller dan Steinberg dalam Budyatna (1994) dalam konteks penetrasi sosial makin banyak komunikator mengenal satu sama lain, maka komunikasi bersifat antar pribadi (interpersonal). 
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar