Pengertian Spiritualitas

Pengertian spiritualitas menurut kamus Webster (dalam Hasan, 2006) kata “spirit” berasal dari kata benda bahasa Latin “spiritus” yang berarti napas dan kata kerja “spipare” yang berarti untuk bernapas. Melihat asal katanya, untuk hidup adalah untuk bernafas, dan memiliki napas artinya memiliki spirit. Spiritualitas merupakan pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup. Spiritualitas merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan dan kesejahteraan seseorang. 
Doe (dalam Muntohar, 2010) mengartikan bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non fisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung kepada Tuhan, atau apapun yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita.
Zohar (2001) mengatakan spiritualitas tidak harus berhubungan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab menurutnya seorang humanis ataupun atheis pun dapat memiliki spiritualitas. Dalam bukunya disebutkan bahwa agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Ia bersifat top-down, diwarisi dari para pendeta, nabi dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga dan tradisi. Sedangkan spiritualitas adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. 
Menurut Ahmad Suaedy (dalam Efendi, 2004), spiritualitas dalam bahasa Inggris adalah spirituality, berasal dari kata spirit yang berarti roh atau jiwa. Spiritualitas adalah dorongan bagi seluruh tindakan manusia, maka spiritualitas baru bisa dikatakan dorongan bagi respon terhadap problem-problem masyarakat konkrit dan kontemporer. Spiritualitas baru berbeda dengan bentuk istimewa yang lebih berupa ajaran formal. Dalam konteks Islam, sebenarnya bisa dikatakan spiritualitas baru dimaksudkan disini adalah kehidupan iman itu sendiri yang dalam Islam dinyatakan dan bersumber pada kepercayaan utama yaitu “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Pengakuan dan kesaksian dalam hati itu tidak terjadi secara insidental melainkan terus menerus sepanjang hidup dan karena itu merupakan tuntutan atas implementasi dari iman yakni seruan untuk berbuat baik dan larangan berbuat jelek yang juga berlangsung secara terus-menerus sepanjang hayat dan abadi sifatnya.  Ketika pengakuan hati itu mewujud dalam aktivitas, maka akan menjadi manusiawi dan karena itu tidak suci, dengan demikian terbuka untuk kritik dan keberatan dan juga sebaliknya terbuka bagi dukungan dari arah manapun. Dengan sendirinya ukuran tuntutan kebaikan dan larangan buruk bersifat rasional dan mengikuti standar-standar kemanusiaan universal belaka, sedangkan pengakuan dan kesaksian iman  memberi dasar komitmen.  
Spiritualitas adalah pencarian dan perenungan akan keberadaan kekuatan di luar kemampuan diri seperti kepincangan, kealpaan, dan perangai buruk lainnya. Hal ini memerlukan sumber daya manusia yang memiliki kemauan dan kemampuan intelektual dalam mengetahui sebab musababnya. Bell Hooks seorang intelektual dari Amerika (www.thereadinggroup.sg/articles/spiritualitas) mengatakan kita bisa menyaksikan tidak hanya dengan intelektual kita bekerja tetapi dengan diri kita sendiri, kehidupan kita. Pada saat darurat, kita diminta untuk  memberi semua yang ada pada diri kita walaupun semua pekerjaan telah kita lakukan, tanpa masalah bagaimana kita menjadi revolusioner cemerlang atau beraksi, kita akan kehilangan kekuatan dan makna jika kita tidak memiliki integritas.  
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar