Tanda-tanda Kematian

Terdapat beberapa tanda-tanda kematian yang bisa dikenali. Tanda-tanda kematian dapat dikenali secara alami ataupun menggunakan peralatan medis. Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda kematian yang perubahannya biasa timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian. Perubahan tersebut dikenal sebagai tanda kematian yang nantinya akan dibagi lagi menjadi tanda kematian pasti dan tanda kematian belum pasti.
Tanda-tanda kematian belum pasti
Yang termasuk tanda-tanda kematian belum pasti adalah sebagai berikut:
  1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit. 
  2. Terhentinya sirkulasi yang dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba. 
  3. Kulit pucat. 
  4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. 
  5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. 
  6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air mata (Budiyanto, 1997).
Tanda-tanda kematian pasti
Tanda-tanda kematian pasti, adalah tanda-tanda yang jika ini ada, berarti kematian itu sudah pasti adanya. Tanda-tanda kematian pasti itu adalah:
Livor mortis
Nama lain livor mortis ini antara lain lebam mayat, post mortem lividity, post mortem hypostatic, post mortem sugillation, dan vibices.
Livor mortis adalah suatu bercak atau noda besar merah kebiruan atau merah ungu (livide) pada lokasi terendah tubuh mayat akibat penumpukan eritrosit atau stagnasi darah karena terhentinya kerja pembuluh darah dan gaya gravitasi bumi, bukan bagian tubuh mayat yang tertekan oleh alas keras.
Bercak tersebut mulai tampak oleh kita kira-kira 20-30 menit pasca kematian klinis. Makin lama bercak tersebut makin luas dan lengkap, akhirnya menetap kira-kira 8-12 jam pasca kematian klinis (Idries, 1997).
Sebelum lebam mayat menetap, masih dapat hilang bila kita menekannya. Hal ini berlangsung kira-kira kurang dari 6-10 jam pasca kematian klinis. Juga lebam masih bisa berpindah sesuai perubahan posisi mayat yang terakhir. Lebam tidak bisa lagi kita hilangkan dengan penekanan jika lama kematian klinis sudah terjadi kira-kira lebih dari 6-10 jam.
Ada 4 penyebab bercak makin lama semakin meluas dan menetap, yaitu:
  1. Ekstravasasi dan hemolisis sehingga hemoglobin keluar. 
  2. Kapiler sebagai bejana berhubungan. 
  3. Lemak tubuh mengental saat suhu tubuh menurun. 
  4. Pembuluh darah oleh otot saat rigor mortis.
Livor mortis dapat kita lihat pada kulit mayat. Juga dapat kita temukan pada organ dalam tubuh mayat. Masing-masing sesuai dengan posisi mayat.
Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat terlentang, dapat kita lihat pada belakang kepala, daun telinga, ekstensor lengan, fleksor tungkai, ujung jari dibawah kuku, dan kadang-kadang di samping leher. Tidak ada lebam yang dapat kita lihat pada daerah skapula, gluteus dan bekas tempat dasi. Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat tengkurap, dapat kita lihat pada dahi, pipi, dagu, bagian ventral tubuh, dan ekstensor tungkai.
Lebam pada kulit mayat dengan posisi tergantung, dapat kita lihat pada ujung ekstremitas dan genitalia eksterna.
Lebam pada organ dalam mayat dengan posisi terlentang dapat kita temukan pada posterior otak besar, posterior otak kecil, dorsal paru-paru, dorsal hepar, dorsal ginjal, posterior dinding lambung, dan usus yang dibawah (dalam rongga panggul).
Ada tiga faktor yang mempengaruhi livor mortis yaitu volume darah yang beredar, lamanya darah dalam keadaan cepat cair dan warna lebam.
Volume darah yang beredar banyak menyebabkan lebam mayat lebih cepat dan lebih luas terjadi. Sebaliknya lebih lambat dan lebih terbatas penyebarannya pada volume darah yang sedikit, misalnya pada anemia.
Ada lima warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab kematian yaitu:
  1. Warna merah kebiruan merupakan warna normal lebam 
  2. Warna merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN, atau suhu dingin 
  3. Warna merah gelap menunjukkan asfiksia 
  4. Warna biru menunjukkan keracunan nitrit 
  5. Warna coklat menandakan keracunan aniline (Spitz, 1997).
Interpretasi livor mortis dapat diartikan sebagai tanda pasti kematian, tanda memperkirakan saat dan  lama kematian, tanda memperkirakan penyebab kematian dan posisi mayat setelah terjadi lebam bukan pada saat mati.
Livor mortis harus dapat kita bedakan dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi darah). Warna merah darah akibat trauma akan menempati ruang tertentu dalam jaringan. Warna tersebut akan hilang jika irisan jaringan kita siram dengan air (Mason, 1983). 
Kaku mayat (rigor mortis)
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang-kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah periode pelemasan/ relaksasi primer; hal mana disebabkan oleh karena terjadinya perubahan kimiawi pada protein yang terdapat dalam serabut-serabut otot (Gonzales, 1954).
  1. Cadaveric spasme. Cadaveric spasme atau instantaneous rigor adalah suatu keadaan dimana terjadi kekakuan pada sekelompok otot dan kadang-kadang pada seluruh otot, segera setelah terjadi kematian somatis dan tanpa melalui relaksasi primer (Idries, 1997). 
  2. Heat Stiffening. Heat Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi akibat suhu tinggi, misalnya pada kasus kebakaran (Idries, 1997). 
  3. Cold Stiffening. Cold Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi akibat suhu rendah, dapat terjadi bila tubuh korban diletakkan dalam freezer, atau bila suhu keliling sedemikian rendahnya, sehingga cairan tubuh terutama yang terdapat sendi-sendi akan membeku (Idries, 1997).
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya produksi panas dan terjadinya pengeluaran panas secara terus- menerus. Pengeluaran panas tersebut disebabkan perbedaan suhu antara mayat dengan lingkungannya. Algor mortis merupakan salah satu perubahan yang dapat kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post mortem.
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan bentuk sigmoid. Hal ini disebabkan ada dua faktor, yaitu  masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat dan perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.
Ada sembilan faktor yang mempengaruhi cepat atau lamanya penurunan suhu tubuh mayat, yaitu:
  1. Besarnya perbedaan suhu tubuh mayat dengan lingkungannya. 
  2. Suhu tubuh mayat saat mati. Makin tinggi suhu tubuhnya, makin lama penurunan suhu tubuhnya. 
  3. Aliran udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat. 
  4. Kelembaban udara makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat. 
  5. Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat. 
  6. Aktivitas sebelum meninggal. 
  7. Sebab kematian, misalnya asfiksia dan septikemia, mati dengan suhu tubuh tinggi. 
  8. Pakaian tipis makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat. 
  9. Posisi tubuh dihubungkan dengan luas permukaan tubuh yang terpapar.
Penilaian algor mortis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut, antara lain:
  1. Lingkungan sangat mempengaruhi ketidakteraturan penurunan suhu tubuh mayat. 
  2. Tempat pengukuran suhu memegang peranan penting. 
  3. Dahi dingin setelah 4 jam post mortem. 
  4. Badan dingin setelah 12 jam post mortem. 
  5. Suhu organ dalam mulai berubah setelah 5 jam post mortem. 
  6. Bila korban mati dalam air, penurunan suhu tubuhnya tergantung dari suhu, aliran, dan keadaan airnya. 
  7. Rumus untuk memperkirakan berapa jam sejak mati yaitu (98,40 F - suhu rectal 0F) : 1,50F (Gonzales, 1954). 
Pembusukan
Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan mayat adalah proses degradasi jaringan terutama protein akibat autolisis dan kerja bakteri pembusuk terutama Klostridium welchii. Bakteri ini menghasilkan asam lemak dan gas pembusukan berupa H2S, HCN, dan AA. H2S akan bereaksi dengan hemoglobin (Hb) menghasilkan HbS yang berwarna hijau kehitaman. Syarat terjadinya degradasi jaringan yaitu adanya mikroorganisme dan enzim proteolitik.
Proses pembusukan telah terjadi setelah kematian seluler dan baru tampak oleh kita setelah kira-kira 24 jam kematian. Kita akan melihatnya pertama kali berupa warna kehijauan (HbS) di daerah perut kanan bagian bawah yaitu dari sekum (caecum). Lalu menyebar ke seluruh perut dan dada dengan disertai bau busuk.
Ada 17 tanda pembusukan, yaitu wajah dan bibir membengkak, mata menonjol, lidah terjulur, lubang hidung dan mulut mengeluarkan darah, lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus (gravid), badan gembung, bulla atau kulit ari terkelupas, aborescent pattern/ marbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan, pembuluh darah bawah kulit melebar, dinding perut pecah, skrotum atau vulva membengkak, kuku terlepas, rambut terlepas, organ dalam membusuk, dan ditemukannya larva lalat.
Organ dalam yang cepat membusuk antara lain otak, lien, lambung, usus, uterus gravid, uterus post partum, dan darah. Organ yang lambat membusuk antara lain paru-paru, jantung, ginjal dan diafragma. Organ yang paling lambat membusuk antara lain kelenjar prostat dan uterus non gravid.
Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan penyebab kematian karena keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan dengan cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian karena racun dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva lalat.
Ada sembilan faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat, yaitu:
  1. Mikroorganisme. Bakteri pembusuk mempercepat pembusukan. 
  2. Suhu optimal yaitu 21-370C mempercepat pembusukan. 
  3. Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan. 
  4. Umur. Bayi, anak-anak dan orang tua lebih lambat terjadi pembusukan. 
  5. Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus. 
  6. Sifat medium. Udara : air : tanah (1:2:8). 
  7. Keadaan saat mati. Oedem mempercepat pembusukan. Dehidrasi memperlambat pembusukan. 
  8. Penyebab kematian. Radang, infeksi, dan sepsis mempercepat pembusukan. Arsen, stibium dan asam karbonat memperlambat pembusukan. 
  9. Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami pembusukan.
Pada pembusukan mayat kita juga dapat menginterpretasikan suatu kematian sebagai tanda pasti kematian, untuk menaksir saat kematian, untuk menaksir lama kematian, serta dapat membedakannya dengan bulla intravital (Al-Fatih II, 2007).  
Adipocere (lilin mayat)
Adipocere adalah suatu keadaan dimana tubuh mayat mengalami hidrolisis dan hidrogenisasi pada jaringan lemaknya, dan hidrolisis ini dimungkinkan oleh karena terbentuknya lesitinase, suatu enzim yang dihasilkan oleh Klostridium welchii, yang berpengaruh terhadap jaringan lemak.
Untuk dapat terjadi adipocere dibutuhkan waktu yang lama, sedikitnya beberapa minggu sampai beberapa bulan dan keuntungan adanya adipocere ini, tubuh korban akan mudah dikenali dan tetap bertahan untuk waktu yang sangat lama sekali, sampai ratusan tahun (Idries, 1997).
Mummifikasi
Mummifikasi dapat terjadi bila keadaan lingkungan menyebabkan pengeringan dengan cepat sehingga dapat menghentikan proses pembusukan. Jaringan akan menjadi gelap, keras dan kering. Pengeringan akan mengakibatkan menyusutnya alat-alat dalam tubuh, sehingga tubuh akan menjadi lebih kecil dan ringan. Untuk dapat terjadi mummifikasi dibutuhkan waktu yang cukup lama, beberapa minggu sampai beberapa bulan; yang dipengaruhi oleh keadaan suhu lingkungan dan sifat aliran udara (Idries, 1997). 
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar