Pasar Surat Kabar

Pasar surat kabar sendiri terdiri atas pembaca dan pengiklan. Surat kabar memproduksi jasa berupa informasi, pembaca membeli dan mengonsumsi informasi yang diproduksi oleh surat kabar. Pengiklan kemudian memasang iklan atas pertimbangan kuantitatif, berupa besarnya pembaca, tiras atau sirkulasi, maupun atas pertimbangan kualitatif, berupa segmentasi pembaca maupun citra surat kabar bersangkutan. 
Pasar surat kabar bersifat monopolistik. Picard, mencoba menghitung rasio konsentrasi pasar surat kabar lokal dan nasional berdasarkan data sirkulasi. Dia menemukan bahwa meski pasar surat kabar sangat terkonsentrasi, konsentrasi tersebut meningkat akibat menurunnya pasar. 
Sirkulasi
Sirkulasi atau jumlah pembaca surat kabar belakangan memang menurun. Pasar surat kabar cenderung mengerucut atau terkonsentrasi. Sejumlah perusahaan surat kabar kecil tidak mampu merebut pasar yang makin mengerucut itu. Perusahaan surat kabar besar kemudian membeli perusahaan surat kabar kecil sehingga terjadi konsentrasi kepemilikan dan konsentrasi pasar.
Akan tetapi, secara teoritis, diprediksikan sirkulasi surat kabar di masa- masa mendatang cenderung menurun. Elastisitas permintaan (sirkulasi) atau “spiral spekulasi” merupakan suatu faktor yang menyebabkan menurunnya sirkulasi surat kabar. Memang, kenyataannya permintaan khalayak atas surat kabar sangat elastis. 
Iklan
Surat kabar adalah yang memperoleh persentase iklan terbesar dalam industri media (di Amerika Serikat dan dunia). Kenyataannya, iklan telah mengambil 50-60% space surat kabar harian, dan pada hari Minggu, malah iklan surat kabar lebih banyak lagi.
Di Indonesia, koran Kompas merupakan media peraih iklan terbesar dalam industri surat kabar. Berdasarkan data AC Nielsen, pada tahun 2005, Kompas meraih iklan sebesar Rp 1,35 triliun atau 19,2 % dari total belanja iklan nasional untuk surat kabar. Total belanja iklan nasional untuk surat kabar pada tahun 2005 sebesar Rp 7,03 triliun.
Akan tetapi, di Indonesia, surat kabar harian berada di urutan kedua dalam perolehan iklan setelah televisi. Iklan surat kabar cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada Januari-Maret 2006, iklan surat kabar sebesar Rp 5.916 miliar, meningkat 19% pada Jan-Mar 2007, menjadi 7.019 miliar, dan meningkat lagi 23% pada Jan-Mar 2008 menjadi Rp 6.661 miliar. Namun demikian, secara keseluruhan iklan surat kabar masih dibawah televisi. Pada Januari-Maret 2008, porsi iklan televisi 62% surat kabar 34%, majalah dan tabloid 4% (AC Nielsen; seperti dikutip Kompas, 23 April 2008.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar