Definisi Pemaafan

Menurut Jampolsky (2001) definisi pemaafan adalah merasakan penghayatan tentang apa yang dialami orang lain, merasakan kelembutan, kerentanan, dan kepedulian, dan semuanya itu selalu ada di dalam hati kita, tak peduli bagaimana keadaan dunia yang ada. Rela memaafkan adalah jalan menuju tempat kebahagiaan dan kedamaian, jalan menuju jiwa kita. 
Jampolsky (2001) menyebut istilah pemaafan adalah sama dengan rela memaafkan. Dengan rela memaafkan berarti kita bersedia untuk menanggalkan masa lalu yang menyakitkan. Suatu keputusan untuk tidak lagi menderita, untuk menyembuhkan hati dan jiwa. Suatu pilihan untuk tidak lagi mencari-cari nilai dalam amarah dan kebencian. Dan ini berarti menepis keinginan untuk menyakiti orang lain atau diri kita sendiri atas suatu hal yang telah terjadi (Jampolsky, 2001). Memaafkan juga berarti memutuskan untuk tidak meghukum atas ketidakadilan yang kita terima, yang kita tunjukkan dalam aksi nyata dan mengalami reaksi emosional yang hadir setelahnya (Affinito, 1999).
Enright dan kelompok studi Human Developmentnya (dalam Konstam, 2001) merumuskan pemaafan sebagai menghindari munculnya afeksi dan penilaian negatif yang ditujukan kepada orang yang telah berbuat salah pada kita, bukannya dengan menolak diri kita sendiri sebagai pembenaran atas afeksi dan penilaian tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan berusaha keras untuk melihat orang yang telah berbuat salah pada kita dengan kebaikannya, perasaan sayang, dan bahkan dengan cinta, ketika kita mengakui bahwa orang tersebut sebenarnya memang bersalah.
Menurut McCullough (dalam, McCullough, Fincham & Tsang, 2003), mengatakan pemaafan adalah:  “the set of motivational changes whereby one becomes (a) decreasingly  motivated to retaliate against an offending relationship partner; (b) decreasingly motivated to maintain estrangement from the offender; and (c) increasingly motivated by conciliation and goodwill for the offender, despite the offender’s hurtful actions”.
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa pemaafan merupakan perubahan serangkaian perilaku dengan jalan menurunkan motivasi untuk membalas dendam, menjauhkan diri atau menghindar dari perilaku kekerasan dan meningkatkan motivasi ataupun keinginan untuk berdamai dengan pelaku.  Selain itu, masih dalam McCullough, Fincham & Tsang, (2003) terdapat definisi pemaafan yang dikemukan oleh Enright, Gassin & Wu:  “the overcoming of negatif affect and judgement toward the offender, not by  denying ourselves the right to such affect and judgement, but by endeavoring  to view the offender with compassion, benevolence, and love” 
Exline & Baumeister yaitu:  “cancellation of a debt” by “the person who has been hurt or  wronged”. Jadi pemaafan adalah pembatalan dari dosa atau kesalahan dari sesesorang yang pernah menyakiti kita. 
Gustafson (1999), mendefenisikan pemaafan kedalam lima point yaitu adanya; deciding, punishing, perceiving an injustice, taking action, experiecing emotional relief.  Kelima point tersebut diambil dari pengertian yang ia buat yaitu:  “forgiveness means deciding not to punish a perceived injustice, taking action  on thet decesion, and experiencing the emosional relief that follows”.
Pemaafan dari pengertian tersebut adalah pengambilan keputusan untuk tidak menghukum, merasakan ketidakadilan, mengambil tindakan dalam keputusan dan mengikuti untuk mengurangi pengalaman yang emosional. 
Studzinski (dalam Wilson, 1994) mendefinisikan pemaafan sebagai suatu proses yang penuh kemauan dimana orang yang disakiti lebih memilih untuk merespon orang yang telah berbuat salah pada kita dengan cara yang lebih baik, bahkan dengan cara mencintainya,  daripada memusuhinya. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, maka ini adalah cara yang efektif untuk mengurangi perasaan marah, cemas dan takut (Cerney, dkk dalam Konstam, 2001). 
Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemaafan  adalah menghilangkan perasaan dan penilaian negatif yang muncul karena ketidakadilan yang kita terima, terhadap orang lain yang telah menyakiti kita dengan cara-cara yang baik dan tidak menghukumnya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar