Berat Badan Ibu Hamil

Berat badan ibu hamil sangat mempengaruhi janin yang dikandungnya. Ibu dengan berat badan lebih rendah cenderung untuk melahirkan bayi BBLR. Hal ini mungkin disebabkan ibu dengan berat badan rendah dengan usia kehamilan yang lebih muda dibandingkan ibu dengan berat badan cukup. Ibu yang mempunyai berat badan rendah sebelum masa kehamilannya ternyata mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu yang mempunyai berat badan cukup pada masa sebelum kehamilannya. Ibu dengan berat badan kurang (< 45 kg/ atau turun sampai 10 kg atau lebih selama kehamilan, mempunyai resiko terjadinya BBLR. (Symonds, 2010)Adanya pengaruh tinggi berat badan mungkin berhubungan dengan status gizi ibu pada masa lampau, dimana ibu yang mempunyai tinggi badan yang rendah mempunyai status gizi yang kurang pada masa lampaunya.
Dari haril penelitian Alisyahbana (2006) didapatkan Resiko relatif kejadian BBLR pada ibu dengan tinggi badan < 150 cm sebesar 4,3 kali dibandingkan dengan ibu yang tinggi badannya > 150 cm. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10 – 12 kg. Dimana pada trimester I pertambahan kurang 1kg, trimester II sekitar 3kg, dan trimester III sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin.
Faktor – faktor mempengaruhi berat badan ibu hamil
Menurut Arisman (2006) faktor yang mempengaruhi berat badan berat badan ibu hamil adalah kadaan sosial ekonomi ibu sebelum hamil,keadaan kesehatan dan gizi ibu,jarak kelahiran yang terlalu dekat, paritas, dan usia kehamilan. berat badan pada waktu melahirkan ditentukan berdasarkan keadaan kesehatan dan berat badan waktu konsepsi, juga berdasarkan keadaan sosial dan ekonomi waktu hamil, derajat pekerjaan fisik, asupan pangan dan pernah tidaknya terjangkit infeksi.
Keadaan sosial dan ekonomi waktu hamil berguna untuk memastikan apakah ibu berkemampuan untuk membeli atau memilih makanan yang bergizi tinggi. Manfaat dari riwayat obstetri adalah membantu menentukan besaran kebutuhan akan zat gizi, dimana ibu yang sering hamil jarak kelahiran yang terlalu dekat akan banyak kehilangan cadangan zat gizi tubuh.wanita yang memiliki penyakit kronis memerlukan bukan hanya zat gizi untuk mengatasi penyakitnya, tetapi untuk kehamilan yang sedang dijalani.
Menurut Supariasa (2002) faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil ada 2 macam yaitu faktor konsumsi dan faktor ekologi.
Faktor konsumsi
Faktor konsumsi merupakan faktor untuk menentukan status gizi secara tidak langsung, hal ini dilihat dari jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Secara umum survei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada ibu hamil serta faktor – faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut.
Faktor ekologi
Status gizi sangat ditentukan oleh adaya faktor ekologi,diantaranya keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial ekonomi, produksi pangan, serta kesehatan dan pendidikan.
  1. Keadaan infeksi. Scrimshaw (1959) dalam Supariasa (2002) menyatakan ada hubungan yang sangat erat antara infeksi bakteri, virus dan parasit dengan ibu hamil. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksidan juga aan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi pada ibu hamil. Mekanisme patologi diantaranya (1) Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorbs dan kebiasaan mengurangi makanan pada saat sakit.(2) peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat diare , mual muntah dan perdarahan yang terus menerus (3) Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh. 
  2. Pengaruh budaya. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengaruh budaya antara lain sikap terhadap makanan, penyebab penyakit, kelahiran anak, dan produksi pangan. Dalam hal sikap tehadap makanan , masih banyak tedapat pantangan, tahayul, tabu dalam masyarakat yag menyebabkan konsumsi makanan menjadi rendah. 
  3. Faktor sosial ekonomi. Data sosial yang perlu dipertimbangkan adalah (keadaan penduduk suatu masyarakat, keadaan keluarga (besarnya, hubungan dan jarak kelahiran), air, penyimpanan makanan, dapur dan perumahan. Data ekonomi meliputi pekerjaan , pendapatan gaji, kekayaan keluarga, pengeluaran dan anggaran belanja keluarga. 
  4. Produksi pangan. Data yang relevan untuk produksi pangan adalah penyediaan makanan keluarga (produksi sendiri, membeli atau barter), sistem pertaniaan, peternakan dan perikanan. 
  5. Kesehatan dan pendidikan. Beberapa data penting tentang pelayanan kesehatan adalah tempat rujukan jika sakit (puskesmas, rumah sakit), kunjungan ke pelayanan kesehatan selama kehamilan dan pendidikan keluarga.
Kategori peningkatan berat badan ibu hamil
Kategori peningkatan berat badan ibu hamil berdasar Indeks Masa Tubuh menurut Bobak (2005) adalah:
  1. IMT sebelum hamil termasuk kategori (di bawah 18,5). Total kenaikan berat badan: 12-18 kg. Kenaikan trimester pertama: sekitar 2,3 kg, lalu naik 0,5 kg per minggu hingga akhir kehamilan. 
  2. IMT kategori normal (18,5 s/d 24,9). Total kenaikan berat badan: 11,5-16,5 kg. Kenaikan trimester pertama: sekitar 1,6 kg dan naik 0,4 kg per minggu hingga akhir kehamilan. 
  3. IMT kategori tinggi (25 s/d 29,9). Total kenaikan berat badan: 7,0-11,5 kg. Kenaikan trimester pertama: sekitar 0,9 kg dan naik 0,3 kg per minggu hingga akhir kehamilan. 
  4. IMT kategori obesitas (di atas 30). Total kenaikan berat badan: ≥ 7 kg.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar