Penggolongan Mekanisme Koping

Penggolongan mekanisme koping dapat dibagi kedalam beberapa bagian atau tipe. Mekanisme koping menurut Kozier, dibedakan menjadi dua tipe (2004)  yaitu:
Mekanisme koping  berfokus pada masalah (problem focused coping)
Mekanisme koping  berfokus pada masalah (problem focused coping), meliputi usaha untuk memperbaiki suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan dan usaha segera untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya adalah negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat.
Mekanisme koping berfokus pada emosi (emotional focused coping)
Mekanisme koping berfokus pada emosi (emotional focused coping), meliputi usaha-usaha dan gagasan yang  mengurangi distres emosional. Mekanisme koping berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang sering merasa lebih baik. 
Mekanisme koping juga dilihat sebagai mekanisme koping jangka  pendek dan jangka panjang. Mekanisme koping jangka panjang merupakan cara konstruktif dan realistik. Sebagai contoh, dalam situasi tertentu berbicara dengan orang lain tentang masalah dan mencoba untuk menemukan lebih banyak informasi tentang situasi. Mekanisme koping  yang selanjutnya adalah mekanisme koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stres untuk sementara tetapi merupakan cara yang tidak efektif untuk menghadapi realitas.  
Sedangkan metode koping menurut Folkman & Lazarus; Folkman et al, dalam Afidarti (2006) adalah:
  1. Planful problem solving (problem-focused). Individu berusaha menganalisa situasi untuk memperoleh solusi dan kemudian mengambil tindakan langsung untuk menyelesaikan masalah.  
  2. Confrontative coping (problem-focused). Individu mengambil tindakan asertif yang sering melibatkan kemarahan atau mengambil resiko untuk merubah situasi.  
  3. Seeking social support (problem or emotion- focused). Usaha individu untuk memperoleh dukungan emosional atau dukungan informasional.   
  4. Distancing (emotion-focused). Usaha kognitif untuk menjauhkan diri sendiri dari situasi atau menciptakan pandangan yang positif terhadap masalah yang dihadapi.  
  5. Escape-Avoidanceting (emotion-focused). Menghindari masalah dengan cara berkhayal atau berpikir dengan penuh harapan tentang situasi yang dihadapi atau mengambil tindakan untuk menjauhi masalah yang dihadapi. 
  6. Self Control (emotion-focused). Usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan perasaan ataupun tindakan dalam hubungannya dengan masalah.  
  7. Accepting responcibility  (emotion-focused). Mengakui peran diri sendiri dalam masalah dan berusaha untuk memperbaikinya. 
  8. Positive Reappraisal (emotion-focused)  Usaha individu untuk menciptakan arti yang positif dari situasi yang dihadapi. 
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar