Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Perilaku Delinkuen

Perilaku delinkuen merupakan perilaku yang mayoritas dilakukan oleh anak dan remaja di bawah usia 21 tahun. Banyak peneliti yang berusaha mengungkapkan faktor-faktor penyebab munculnya perilaku delinkuen pada masa remaja.
Salah satunya Bynum dan Thompson (1996) yang membahas latar belakang timbulnya perilaku delinkuen berdasarkan berbagai teori.
  1. Teori differential association, teori yang dikemukakan oleh Sutherland ini melandaskan pada proses belajar. Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku delinkuen adalah perilaku yang dipelajari secara negatif, berarti perilaku tersebut tidak diwarisi. Perilaku delinkuen ini dipelajari dalam interaksi dengan orang lain, khususnya orang-orang dari kelompok terdekat seperti orang tua, saudara kandung, sanak saudara atau masyarakat di sekitar tempat tinggal. Keluarga sebagai unit sosial yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan anak, seperti interaksi negatif antar saudara kandung dapat menjadi dasar munculnya perilaku negatif pada anak.
  2. Teori Anomie, teori ini diajukan oleh Robert Merton, yang berorientasi pada kelas, berbagai struktur sosial yang mungkin terdapat di masyarakat dalam realitasnya telah mendorong orang-orang cenderung berperilaku menyimpang dari norma-norma.
Philip Graham (dalam Sarwono, 2006), membagi faktor-faktor penyebab perilaku delinkuen lebih mendasarkan pada sudut kesehatan mental remaja, yaitu:
  1. (a) Faktor lingkungan, meliputi malnutrisi (kekurangan gizi), kemiskinan, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan lain-lain), migrasi (urbanisasi, pengungsian, dan lain-lain). (b) Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dan lain-lain). (c) Keluarga yang tercerai berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan lain-lain). (d) Gangguan dalam pengasuhan, meliputi kematian orang tua, orang tua sakit atau cacat, hubungan antar anggota keluarga, antar saudara kandung, sanak saudara yang tidak harmonis serta pola asuh yang salah. Hubungan antar anggota yang tidak haarmonis dapat menghambat perkembangan individu, khususnya perkembangan mental dan perilakunya.
  2. Faktor pribadi, seperti faktor bawaan yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan lain-lain), cacat tubuh, serta ketidakmampuan menyesuaikan diri.
Santrock (2003), berdasarkan teori perkembangan identitas Erikson mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku delinkuen pada remaja:
  1. Identitas negatif, Erikson yakin bahwa perilaku delinkuen muncul karena remaja gagal menemukan suatu identitas peran.
  2. Kontrol diri rendah, beberapa anak dan remaja gagal memperoleh kontrol yang esensial yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan.
  3. Usia, munculnya tingkah laku antisosial di usia dini (anak-anak) berhubungan dengan perilaku delinkuen yang lebih serius nantinya di masa remaja. Namun demikian, tidak semua anak bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku delinkuen.
  4. Jenis kelamin (laki-laki), anak laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku antisosial daripada anak perempuan. Keenan dan Shaw (dalam Gracia, et al., 2000), menyatakan anak laki-laki memiliki risiko yang lebih besar untuk munculnya perilaku (conduct) merusak. Namun, demikian perilaku pelanggaran seperti prostitusi dan lari dari rumah lebih banyak dilakukan oleh remaja perempuan.
  5. Harapan dan nilai-nilai yang rendah terhadap pendidikan. Remaja menjadi pelaku kenakalan seringkali diikuti karena memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan dan juga nilai-nilai yang rendah di sekolah.
  6. Pengaruh orang tua dan keluarga. Seseorang berperilaku nakal seringkali berasal dari keluarga, di mana orang tua menerapkan pola disiplin secara tidak efektif, memberikan mereka sedikit dukungan, dan jarang mengawasi anak-anaknya sehingga terjadi hubungan yang kurang harmonis antar anggota keluarga, antara lain hubungan dengan saudara kandung dan sanak saudara. Hubungan yang buruk dengan saudara kandung di rumah akan cenderung menjadi pola dasar dalam menjalin hubungan sosial ketika berada di luar rumah.
  7. Pengaruh teman sebaya. Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan resiko untuk menjadi pelaku kenakalan.
  8. Status ekonomi sosial. Penyerangan serius lebih sering dilakukan oleh anak-anak yang berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah.
  9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal. Tempat dimana individu tinggal dapat membentuk perilaku individu tersebut, masyarakat dan lingkungan yang membentuk kecenderungan kita untuk berperilaku ”baik” atau ”jahat”.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, dapat dilihat bahwa salah satu faktor yang paling mempengaruhi terbentuknya perilaku delinkuen, yaitu faktor keluarga, hubungan antar anggota keluarga yang tidak harmonis, seperti hubungan antar saudara kandung yang buruk, akan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dari pengalamannya berinteraksi secara negatif dengan saudara kandungnya di rumah, yang kemudian akan menjadi dasar dalam berperilaku di luar rumah.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar