BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR

Yang termasuk bimbingan disekolah dasar adalah pemberian layanan dan konseling pada siswa-siswa di Sekolah Dasar. Pada tahap ini, konselor harus memahami dasar-dasar bimbingan dengan memperhatikan tumbuh kembang anak, kebutuhan dan arah minat guna pengoptimalan belajar siswa.
Pentingnya Bimbingan di Sekolah Dasar 
  • Bimbingan di sekolah bertujuan untuk membantu anak didik memahami diri sendiri dan yang berkaitan dengan kebutuhan lingkungannya. 
  • Sebelum anak memasuki SD anak pasti masuk TK. Di beberapa TK juga memiliki guru yang berfungsi sebagai pembimbing. 
  • Tujuan utama dari bimbingan di TK dalah:
  1. agar anak dapat membantu dirinya sendiri untuk mengadakan penyesuaian pribadi & sosial. 
  2. Agar anak mampu melewati masa transisi, dari lingkungan keluarga di rumah ke lingkungan teman sebaya dan guru/sekolah. Dari suasana bebas ke suasana disiplin dan menghargai hak orang lain.
Jadi inti bimbingan di TK adalah: membantu proses perubahan dari kanak-kanak sebagai makhluk individu yang menonjol keunikannya, menjadi makhluk sosial, dengan jalan optimasi perkembangan penyesuaian pribadi dan sosial yang memadai.
Tujuan Utama Bimbingan di SD 
  • Menguasai bahan ajaran tuntutan kurikuler 
  • Membuat pilihan dan menetukan bahan ajaran yang cocok 
  • Memiliki sikap pandangan belajar yang mendukung 
  • Mempunyai pola prilaku belajar yang mendukung 
  • Memilih teman bergaul dan membentuk kelompok belajar yang serasi 
  • Mengadakan penyesuaian hidup berkelompok yang menunjang belajar 
  • Memecahkan masalah-masalah belajar yang dihadapi murid
Memahami anak usia sekolah Dasar
Memahami anak sama halnya dengan mengikuti pertumbuhan anak. Ada anak yang tumbuh dengan cepat dan ada juga anak yang tumbuh dengan lambat.
  • Perbedaan kecepatan perkembangan anak dapat disebabkan oleh pembawaan maupun oleh pengalaman hidup seperti gizi, penyakit, atau deprivasi. 
  • Perkembangan anak pada usia SD perlu dimengerti tidak hanya oleh psikolog tetapi juga oleh staf lain disekolah. 
  • Tetapi perlu diingat, teman sebaya juga beperan penting bagi kematangan fisik, intelektual,/mental, sosial, seksual, moral, dan emosional anak. 
  • Kesempatan anak bermain dengan teman sebaya membuat anak :
  1.  mengenali perbedaan antara laki-laki dan perempuan 
  2. belajar untuk mandiri dari ortu 
  3. belajar bertanggung jawab 
  4. belajar mengontrol emosi 
  5. belajar membuat aturan dan mematuhinya 
  6. Belajar membedakan mana yang salah & benar 
  7. Berkomunikasi timbal balik yang sejajar
Pada fase kanak-kanak pertengahan (6-10 th) 
  • Badan anak masih tumbuh namun dengan laju yang relatif lambat dari sebelumnya 
  • Perkembangan motorik & koordinasi gerakan belum begitu sempurna 
  • Gerakan otot-otot besar masih belum unggul daripada pengontrolan gerakan otot-otot kecil
Pada fase kanak-kanak akhir 
  • Laju perkembangan fisiknya lebih lambat tetapi umumnya kesehatannya baik 
  • Ada beberapa anak, terutama anak perempuan yang berkembang lebih cepat. Akibatnya anak menjadi canggung. Seperti pembesaran buah dada, pinggul, dan menstruasi dan dapat menyebabkan masalah tersendiri. 
  • Perubahan suara dan karakteristik seks pada anak laki-laki 
  • Anak-anak cendrung menjauhi orang dewasa dan berpaling ke teman sebayanya untuk keakraban dan cara hidup 
  • Mandiri dalam ide dan kegiatan 
  • Membutuhkan dukungan dari ortu maupun teman sebaya 
  • Memiliki keinginan untuk belajar disertai minat yang luas variasinya 
  • Anak telah mengembangkan kemampuannya memahami masalah sebab-akibat, membentuk konsep, dan mulai dapat memecahkan masalah sederhana 
  • Lebih toleran dan tidak menganggap yang benar itu selalu benar dan yang salah itu selalu salah
Peran Konselor 
  1. Melakukan diagnostik bagi anak yang mengalami kesulitan belajar, yang berprestasi dibawah kemampuan (underachiever), yang menunjukkan adanya gangguan emosi dan yang perlu mendapatkan bantuan khusus lainnya 
  2. Melakukan konseling bagi anak-anak yang mengalami kesulitan pribadi dalam kehidupan sekolah 
  3. Membantu mencarikan bantuan bagi anak-anak tidak mampu yang membutuhkan perlengkapan sekolah maupun perlengkapan lain 
  4. Konsultasi dengan guru, kepala sekolah, ortu dan membantu mereka memahami perkembangan anak normal maupun perkembangan anak bermasalah 
  5. Mengirimkan anak yang memerlukan perlakuan intensif, perlakuan spesialis atau lembaga masyarakat dan menginterpretasikan hasil diagnostik serta rekomendasi kepada guru dan orang tua 
  6. Memberikan penataran atau ceramah kepada guru mengenai perkembangan dan prilaku anak normal, dalam mengelola kelas, kesehatan mental, pelaksanaan dan bantuan lain yang diperlukan guru untuk menjalankan tugas sebagai pendidik 
  7. Membentuk dan mengembangkan program bimbingan untuk menanggulangi masalah 
  8. Menginterpretasikan program-program bimbingan bagi ortu maupun orang-orang dan lembaga masyarakat 
  9. Melakukan penelitian dan evaluasi efektivitas program bimbingan.
Semua tugas-tugas konselor itu pada akhirnya tergantung pada situasi dan kebutuhan masing-masing sekolah, maupun kemampuan konselor. Kadang-kadang job-defenition yang tidak terstruktur menyebabkan kecemasan pada konselor. Tetapi bagi konselor yang kreatif, ini merupakan kesempatan untuk menyusun kerja yang dianggap paling sesuai untuk sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Peran Guru Dalam Bimbingan 
  1. Guru sebagai penanggung jawab tunggal terhadap suasana belajar bagi kelas sebagai kelompok dan bagi masing-masing murid dalam kelompok 
  2. Guru dapat membantu siswa memahami dan menerima diri sendiri dan membantu menemukan tujuan hidup 
  3. Guru dapat membantu anak untuk mandiri dalam menentukan pilihan 
  4. Guru dapat menjadi pengamat yang jeli dalam mendeteksi bila terjadi penyimpangan perilaku 
  5. Guru dapat mengenali prilaku murid-muridnya dalam berbagai situasi
Memahami siswa sekolah dasar sebagai individu
Keberhasilan konselor dalam memahami siswa didasarkan pada 2 pemahaman, yakni:
  • Pemahaman objektif atau eksternal seseorang. Pemahaman objektif ini menyangkut: Pemahaman mengenai pengaruh latar belakang masyarakat dan lingkungan tempat tinggal beserta budayanya, latar belakang keluarga dan kedudukan dalam keluarga, latar belakang sekolah, kelas dan teman sebaya beserta iklimnya. 
  • Pemahaman fenomenologik, yaitu pemahaman perilaku seseorang dari segi pandangan orang tersebut terhadap dirinya sendiri.
Hubungan Konselor dengan Klien-Kliennya 
  • Agar hubungan konselor dengan klien-kliennya dapat berjalan dengan baik, yang mana kliennya disini adalah siswa-siswi maka sebagai kepala sekolah seharusnya memperkenalkan konselor terlebih dahulu kepada siswa-siswi dan juga kepada ortu siswa agar terjalin komunikasi yang baik. 
  • Tetapi ada sebagian anak yang sulit untuk membuka diri, maka disini konselor harus dapat mengekspresikan diri dan memahami tingkat perkembangan bahasa mereka dan menggunakan bahasa mereka agar mereka tidak canggung. 
  • Pada perkenalan pada ortu konselor tidak hanya menjelaskan tentang pelayanan yang diberikan tetapi juga mengajak untuk membantunya. Konselor memerlukan informasi mengenai kliennya dari ortu ataupun guru
Fasilitas 
  • Kondisi ruangan konselor seharusnya dibuat semenarik mungkin walaupun ruangannya kecil. 
  • Konselor dan siswa duduk saling bertolak belakang dan berbicara menggunakan telpon. 
  • Ruang yang banyak mainannya dapat digunakan sebagai ruang wawancara. Anak dibiarkan bermain ketika diwawancara
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar