Psikologi Gender: Mitos Tentang Perempuan

Berbicara mengenai gender, tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan kajian antropologi maupun sosiologi masyarakat. Perkembangan teori gender terus bermunculan dan diambil alih oleh kajian psikologi gender yang mengkaji tentang aspek psikologi yang dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin, yang pendekatannya bermacam-macam seperti pendekatan biologis, antropologi, sosiologi, peran dan kepercaaan.
Persamaan dan Perbedaan Gender:
Karakteristik kepribadian dan perilaku yang terbukti menunjukkan adanya perbedaan gender:
a. Agresivitas
b. Kepercayaan diri
Aspek yang menunjukkan sedikit perbedaaan Gender:
  • Aktivitas
  • Kecemasan
  • Mempengaruhi
  • Empati
*    Aspek Sosiability tidak terbukti menunjukkan perbedaan Gender.
*   Terlalu memfokus pada perbedaan “Gender Berbahaya” kita akan mulai berpikir bahwa pria & wanita mempunyai perbedaan kepribadian yang menyeluruh.
*   Meski ada beberapa perbedaan, yang lebih mengesankan adalah persamaannya.
Penting untuk mengingat bahwa persamaan Gender mungkin lebih merupakan ”Rule” daripada perbedaan gender
BERBAGAI ISTILAH
  • SEKS : istilah untuk menyebut atribut biologis yang menjadikan seseorang itu pria atau wanita. 
  • GENDER : pembedaan psikologis yang mencangkup pengertian akan sifat/ciri kewanitaan dan kepriaan (femininitas dan maskulinitas) 
  • PERAN GENDER : peran, pola dasar untuk bertindak yang telah ditentukan oleh lingkungan sosial budaya dimana seseorang berada, sesuai jenis kelaminnya, sering bersifat stereotip.
  • IDENTITAS JENIS : penghayatan pribadi dari peran gender. 
  • SEX TYPING : Petunjuk tentang kualitas, aktivitas dan perilaku yang berbeda bagi pria dan wanita dalam proses sosialisasinya untuk peran sebagai orang dewasa. 
  • SEX STEREOTYPING: Promosi atau ekspresi dari keyakinan atau kepercayaan yang biasa muncul tentang perbedaan jender, merupakan harapan yang berkaitan dengan perilaku pria/wanita. Bersifat kaku, tidak mempertimbagkan situasi dan kondisi, membatasi, mengatur, mendikte. 
  • MITOS: Ungkapan legenda/cerita rakyat yang mewakili sebagian dari kepercayaan rakyat tertentu atau yang berusaha untuk menjelaskan berbagai kebiasaan/kepercayaan/gejala-gejala alamiah. – Suatu kepercayaan yang mendukung kebiasaan – Suatu kepercayaan yang mendukung kebiasaan kelompok tertentu dan diterima oleh anggota kelompok tanpa kritikan. 
  • PROTOTIP: Contoh, model asli yang merupakan pola dasar bagi bentuk-bentuk selanjutnya.
MITOS TENTANG WANITA
Woman as mother nature
  • Wanita dipersamakan dengan alam, mahluk yang bisa dikenal tapi tidak bisa seluruhnya dikuasai.
  • Wanita = ibu dari dewa-dewa dan manusia, bersatu dengan alam mempunyai persatuan dengan bulan.
  • Pandangan pria : wanita menakutkan karena seperti alam tidak selalu bisa dipahami/dikuasai alam tidak selalu bisa dipahami/dikuasai wanita.
Woman as enchantress – seductress
  • Wanita = penggoda, kewanitaan dipakai untuk memperoleh apa yang diharapkan. Di belakang kekuatan pria, ada wanita.
  • Pria tak dapat menguasai dorongan dalam dirinya, tak ada pilihan kecuali menyerah pada wanita.
  • Motivasi wanita : memperoleh apa yang ia inginkan dengan memakai ’kewanitaannya’ sebagai senjata dapat ’menjatuhkan’ pria atau ’melepaskan’ kejantanannya dan ’menjadi’ seperti wanita.
Women as necessary evil
  • Wanita = inferior, tidak penting, hanya perlu untuk melanjutkan keturunan. Sebetulnya tidak diperlukan, tapi harus diterima.
  • Tidak diperbolehkan ikut campur dalam masalah pria.
  • Hesiod (cerita Yunani abad 8 SM) tentang Pandora Box.
  • Ciri wanita : tak bisa dipercaya, tukang gossip, tak punya nalar, membawa celaka pada pria tapi perlu untuk keturunan.
Women as mystery
  • Wanita = misterius
  • Pikiran, perilaku dan seluruh eksistensinya tak dapat dipahami oleh ahli filsafat, ilmuwan, atau pria dewasa.
  • Simone de Beauvoir : menguntungkan, karena: 
  • Pria secara mudah dapat menggolongkan sifat-sifat khas wanita kedalam sesuatu yang tak dapat dipahami (semua dilemparkan pada wanita). 
  • Pria dapat melindungi diri terhadap hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya. 
  • Prialah yang dapat bekerja, menilai dan menjelaskan realitas (bernalar).
ZAMAN VICTORIA
Piety (suci, saleh) Wanita diharapkan menjadi tokoh nilai- nilai, panutan moral.
Purity (bersih) Keperawanan. Bahkan dianggap wanita tak punya/sedikit sekali dorongan seksualnya.
Submisif (mengalah, patuh pada pria)   

  • Pandangan bahwa sikap seperti ini adalah baik, selalu diulang ulang pada bacaan jaman itu.
  • Ada perbedaan fisik : wanita halus, rapuh.
  • Perbedaan jenis otak : ’overexercise’ pada otak wanita bisa sebabkan gangguan kesehatan.
Domestik
  • Istri – ibu yang baik, hendaknya hanya mengurus rumah tangga, fungsinya pengasuh, perawat, pelipur lara bagi suami
Konsekuensi wanita baik dan bermoral tinggi
  • Ia ditempatkan secara khusus dalam kehidupan sosial dengan aturan perilaku yang ketat/kaku. Wanita tak punya kekuatan sendiri, kebebasan untuk bertindak kecil.
  • Ia terlalu lemah dan baik untuk berpartisipasi dalam dunia pria.
ANGGAPAN TENTANG WANITA YANG MUNGKIN MUNCUL:
  • Wanita lebih bik hidup di pedesaan 
  • Aliran feminisme/non conform Ingin persamaan dan kebebasan merendahkan/menyalahi kewanitaannya.
STEREOTIP
Wanita bijak = wanita yang feminine
CIRI-CIRI
  • Istri: loyal, submisif, setia
  • Ibu : penuh dedikasi, kasih saying
  • Ibu Rumah Tangga : rajin, kerja keras, kompeten
  • Anggota masyarakat: bermoral tinggi, menjunjung nilai-nilai agama 
  • Meski pandangan tentang wanita berbeda dari waktu ke waktu, tetapi tetap berusaha menentukan tempatnya (kedudukan, peranan sosialnya) ’boleh’. Hal ini sekaligus menentukan perbedaannya dengan pria dan statusnya yang relatif terhadap pria.
PROTOTIP
(Griselda dalam Canterbury tales)
Istri ideal :
  • Patuh pada suami 
  • Mengalah/merendahkan diri 
  • Senang/bahagia ’meladeni’ suami 
  • Abad pertengahan: cinta romantis. 
  • Ada kecenderungan memberi nuansa yang sifatnya romantis pada wanita. Wanita ’suci’ berinspirasi pada pria (gagah, berani, dll).
STEREOTIP PSIKOLOGI WANITA
      Melihat sejarah, pembicaraan mengenai gender sudah dimulai sejak 1900-an, ada usaha-usaha untuk mempelajari wanita secara lebih alamiah. Penelitian dengan topik:
  • Perbedan bentuk otak laki-laki dan wanita
  • Hipotesis keanekaragaman 
  • Insting mengasuh/keibuan
Perbedaan Bentuk Otak Laki-laki dan Wanita
  • Diteliti oleh para ahli syaraf: beda ukuran dan bentuk otak, menjelaskan beda dalam prestasi dan kepribadian. 
  • 1926: Porteus dan Babcock: hubungkan besar otak dan kekuasaan. Laki-laki otaknya lebih ke kekuasaan, sehingga lebih berkuasa, mampu, dapat berprestasi. 
  • Hasil penelitian lebih lanjut tidak mendukung ada perbedaan dalam hal tertentu.
Hipotesis Keanekaragaman
  • Laki-laki rentangnya lebih besar, menduduki titik ekstrim dalam segala hal, termasuk IQ. Wanita lebih ke sentral (mean, median, mode). 
  • Laki-laki lebih banyak yang jenius, namun yang terbelakang mental tidak dilihat. 
  • Penelitian lebih lanjut menolak hal tersebut.
Insting Mengasuh/Keibuan
Asumsi:
  • Perilaku mengasuh pada wanita merupakan determinan bawaan biologis yang sama dengan hewan betina. 
  • Insting mengasuh pada pria hanya abstrak dan bertujuan melindungi yang lemah dan bergantung saja, wanita lebih jelas dan konkret sifat mengasuhnya.
Insting…
Tahun 1920: perilaku mengasuh/insting keibuan disangkal oleh aliran behaviorisme, yang menekankan bahwa semua perilaku itu dipelajari. Pria dan wanita dapat mempelajari perilaku tersebut.
TEORI CARL JUNG
  • Dalam diri manusia (perempuan dan laki) yg utuh, terdapat 2 prinsip/aspek, yaitu LOGOS dan EROS (= kualitas kemanusiaan yg bersifat universal)
  • Logos : prinsip maskulin• Logos : prinsip maskulin berorientasi ‘agentic’ (pencapaian prestasi), dg ciri-ciri rasio, berpikir, logika, memberi bentuk, susun keteraturan, kembangkan kompetensi.
  • Eros : prinsip feminin dlm kepribadian berorientasi ‘komunal’ (memelihara hubungan interpersonal) dg ciri mengasuh, beri cinta kasih, afeksi, kepekaan, emosi sosiabilitas.
Ke dua prinsip tersebut dibutuhkan seseorang untuk Hubungan interpersonal dan pengembangan diri. Bila dalam diri perempuan dikembangkan aspek maskulin, dia akan lebih pahami keadaan laki-laki, dan sebaliknya. Perbedaan hanya terletak pada caranya tiap individu bertanggung jawab terhadap pribadinya dan tentunya dalam pengalaman-pengalaman hidupnya. Berarti kesetaraan gender bukan hal yang mustahil untuk dicapai dalam kehidupan bermasyarakat.
    Share on :


    Related post:


    3 komentar:

    Wahyu Budi Nugroho mengatakan...

    mungkin referensi perlu dicantumkan bung, agar pembaca bisa menelisik lebih jauh. salam ;)

    Biaya Daftar Haji Plus 2013 mengatakan...

    yap setuju, sekalian sama contoh2'a agar lebih mudah dimengerti...

    Satrya Purnadewi mengatakan...

    Dear admin :)
    Bisa minta sumber referensi(buku/jurnal) dari arikel diatas gak?
    Kalau bisa, email ke dewi.satrya@gmail.com ya..
    Terima kasih atas kerjasamanya :)

    Poskan Komentar