Pengaruh Keterikatan (Attachment) Anak terhadap Kemampuan Anak Mengeksplorasi Lingkungan

Latar Belakang Masalah
Dengan semakin maju dan berkembangnya teknologi, merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi oleh umat manusia. Teknologi yang maju bagaikan pisau yang bermata dua, tergantung pada bagaimana manusia menggunakan pisau tersebut. Teknologi yang maju memungkinkan manusia semakin mobile, praktis, dan cepat dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.
Dari pengaruh kemajuan teknologi pula, sehingga manusia semakin sibuk. Spesialisasi pekerjaan yang menuntut profesionalisme, mengharuskan manusia bekerja keras. Batas dan peran gender sudah sangat kabur. Laki-laki dan perempuan, ayah atau ibu, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hubungan kekeluargaan semakin renggang, hubungan perkawinan hanya sebagai legalitas penyaluran nafsu biologis. Ini tidak salah, tetapi dibalik suatu perkawinan ada suatu amanah yang lebih besar, yaitu pembentukan keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah warahma. Kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia. Kebahagiaan tidak bisa dibeli, dan tidak akan bisa terbeli. Lingkungan keluarga (rumah) adalah ladang kebahagian. Ayah, ibu, ataupun anak, adalah komponen kebahagiaan.
Kehidupan suatu keluarga, kehadiran anak, adalah syarat utama kebahagiaan. Dengan hadirnya anak, maka orang tua dapat melimpahkan rasa kasih sayangnya kepada buah hati mereka.
Tetapi apa yang terjadi dengan keadaan sekarang. Dengan sibuknya orang tua bekerja diluar (ayah dan ibu), sehingga anaknya mau tidak mau harus dititipkan pada tempat pengasuhan bayi (day care). Ditempat pengasuhan inilah anak akan berinteraksi dengan pengasuh mereka. Jika day care ini memenuhi syarat yang dapat menjamin perkembangan anak, mungkin tidak masalah, tetapi jika day care ini bermasalah, mungkin akan menimbulkan masalah yang serius.
Day care (tempat penitipan anak), maupun panti asuhan yang mengasuh anak ataupun bayi sudah seharusnya menerapkan prinsip-prinsip perkembangan yang memperhatikan anak baik dari segi fisik maupun psikisnya. Suatu day care ataupun panti asuhan akan menerapkan ini jika pengasuh-pengasuhnya memenuhi kualifikasi, dan jumlah pengasuh mencukupi. Ini juga sangat dudukung oleh kemampuan day care maupun panti asuhan dari segi ekonomi.
Apa jadinya, jika syarat ini tidak terpenuhi?
Maksud dan tujuan Penelitian
Penelitian ini bermaksud mengetahui hubungan antara kelekatan (attachment) anak dengan kemampuan anak mengeksplorasi lingkungan. Penelitian ini di adakan di Pantu Asuhan Muhammadiyah Jalan Jendral Sudirman.
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui hubungan antara keterikatan (attachment) dengan kemampuan anak mengeksplorasi lingkungan.
2. Mengetahui peran attachment dan rasa percaya diri anak
3. Mengetahui peran attachment dan kemampuan anak bersosialisasi dengan lingkungannya
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk memahami kebutuhan keterikatan anak untuk dapat mengeksplorasi lingkungannya, dengan memberikan rasa aman, nyaman, kasih sayang dan simpatik dalam pemberian kebutuhannya baik fisik, maupun psikis
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Kelekatan
Istilah Kelekatan (attachment) untuk pertamakalinya dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969 (Mc Cartney dan Dearing, 2002). Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua.
Bowlby (dalam Haditono dkk,1994) menyatakan bahwa hubungan ini akan bertahan cukup lama dalam rentang kehidupan manusia yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figur lain pengganti ibu. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ainsworth mengenai kelekatan. Tidak semua hubungan yang bersifat emosional atau afektif dapat disebut kelekatan. Adapun ciri afektif yang menunjukkan kelekatan adalah: hubungan bertahan cukup lama, ikatan tetap ada walaupun figur lekat tidak tampak dalam jangkauan mata anak, bahkan jika figur digantikan oleh orang lain dan kelekatan dengan figure lekat akan menimbulkan rasa aman (Ainsworth dalam Adiyanti, 1985).
Selama ini orang seringkali menyamakan kelekatan dengan ketergantungan (dependency), padahal sesungguhnya kedua istilah tersebut mengandung pengertian yang berbeda. Ketergantungan anak pada figur tertentu timbul karena tidak adanya rasa aman. Anak tidak dapat melakukan otonomi jika tidak mendapatkan rasa aman.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya hubungan ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak.
2. Teori-Teori Kelekatan
Penjelasan mengenai kelekatan dapat dipandang dari berbagai sudut pandang atau kerangka berpikir. Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan kelekatan, antara lain :
a. Teori Psikoanalisa
Berdasarkan teori psikoanalisa Freud (Durkin 1995, Hetherington dan Parke,1999), manusia berkembang melewati beberapa fase yang dikenal dengan fase-fase psikoseksual. Salah satu fasenya adalah fase oral, pada fase ini sumber pengalaman anak dipusatkan pada pengalaman oral yang juga berfungsi sebagai sumber kenikmatan. Secara natural bayi mendapatkan kenikmatan tersebut dari ibu disaat bayi menghisap susu dari payudara atau mendapatkan stimulasi oral dari ibu. Proses ini menjadi sarana penyimpanan energi libido bayi dan ibu selanjutnya menjadi objek cinta pertama seorang bayi. Kelekatan bayi dimulai dengan kelekatan pada payudara ibu dan dilanjutkannya dengan kelekatan pada ibu. Penekanannya disini ditujukan pada kebutuhan dan perasaan yang difokuskan pada interaksi ibu dan anak
b. Teori Belajar
Kelekatan antara ibu dan anak dimulai saat ibu menyusui bayi sebagai proses pengurangan rasa lapar yang menjadi dorongan dasar. Susu yang diberikan ibu menjadi primary reinforcer dan ibu menjadi secondary reinforcer . Kemampuan ibu untuk memenuhi kebutuhan dasar bayi menjadi dasar terbentuknya kelekatan. Teori ini juga beranggapan bahwa stimulasi yang diberikan ibu pada bayi, baik itu visual, auditori dan taktil dapat menjadi sumber pembentukan kelekatan (Gewirtz dalam Hetherington dan Parke, 1999).
c. Teori Perkembangan Kognitif
Kelekatan baru dapat terbentuk apabila bayi sudah mampu membedakan antara ibunya dengan orang asing serta dapat memahami bahwa seseorang itu tetap ada walaupun tidak dapat dilihat oleh anak. hal ini merupakan cerminan konsep permanensi objek yang dikemukakan Piaget (Hetherington dan Parke, 1999). Saat anak bertambah besar, kedekatan secara fisik menjadi tidak terlalu berarti. Anak mulai dapat memelihara kontak psikologis dengan menggunakan senyuman, pandangan serta kata-kata. Anak mulai dapat memahami bahwa perpisahannya dengan ibu bersifat sementara. Anak tidak merasa telalu sedih dengan perpisahan. Orang tua dapat mengurangi situasi distress saat perpisahan dengan memberikan penjelasan pada anak.
d. Teori Etologi
Bowlby (Hetherington dan Parke, 1999) dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Menurut teori Etologi (Berndt, 1992) tingkah laku lekat pada anak manusia diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby (Hetherington dan Parke,1999) percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment).
3. Bentuk-Bentuk Tingkah Laku Lekat
Tingkah laku lekat pada manusia sangat bervariasi dan dapat tampak pada semua anak. tingkah laku ini dipergunakan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan serta bertujuan (goal corrected) hasil yang diharapkan dari tingkah laku ini adalah kedekatan dengan ibu.
Secara umum pengelompokan tingkah laku lekat adalah sebagai berikut:
a. Signaling Behavior (Bowlby dan Ainsworth dalam Adiyanti, 1985).
Efek dari tingkah laku ini adalah mendekatnya ibu pada anak. Tingkah laku ini sebetulnya bagi anak diharapkan untuk mendapatkan dan meningkatkan kedekatan dengan ibu. Kondisi anak dan pengaruhnya terhadap tingkah laku ibu (maternal behavior) berbeda-beda, misalnya, anak menangis (signaling behavior) maka ibu akan datang dan menggendong (maternal behavior). Tetapi jika anak “meraban” maka ibu akan tersenyum. Ada beberapa bentuk tingkah laku yang termasuk signaling behavior, antara lain:
1. Menangis
Timbul dari kondisi yang berbeda-beda , begitu pula intensitas dan ritmenya. Menurut Wolff (dalam Durkin,1995) ada tiga macam bentuk tangisan, yaitu tangisan dasar, tangis marah dan tangis sakit. Tidak jauh berbeda dengan hal itu Maccoby (dalam Adiyanti 1985) menyatakan ada tangis takut, tangis lapar dan tangis sakit.
Tangis takut timbul secara mendadak, keras dan diikuti keheningan yang cukup panjang saat bayi menarik nafas. Tangis sakit biasanya juga terjadi secara mendadak dan banyak terjadi pada anak-anak. tangis lapar terjadi saat anak merasa perutnya lapar, dimulai dengan tangisan biasa dengan durasi sekitar 0,6 detik diikuti dengan keheningan singkat sekitar 0,2 detik, bunyi nafas pendek 0,1-0,2 detik dan diikuti periode istirahat singkat (Wolff dalam Durkin,1995).
2. Tersenyum dan Meraban
Tingkah laku ini efektif berpengaruh pada tingkah laku ibu setelah bayi berusia empat minggu. Tingkah laku ini muncul saat bayi bangun dan sadar serta merasa senang, artinya bayi tidak sedang sakit, lapar dan sendirian. Respon ibu terhadap respon anak biasanya tersenyum kembali, berbicara, membelai, menepuk, mengangkat dan menunjukkan kebahagiaan diantara mereka. Tingkah laku ini disebut maternal loving behavior dan merupakan salah satu bentuk tingkah laku bertujuan pada anak, Adapun tujuannya adalah mendapatkan reaksi dari ibu, dalam hubungannya dengan tingkah laku lekat tujuannya adalah agar kelekatan anak dengan figur lekat semakin besar dan dapat dipertahankan (Bowlby dalam Adiyanti, 1985).
3. Tanda Acungan Tangan
Kemampuan bayi untuk mengangkat tangan saat ibu berada didekatnya muncul saat bayi berusia enam bulan. Anak selalu mengartikan isyarat ibu dengan mengangkat anak sehingga anak mengancungkan kedua tangannya. Acungan tangan ini oleh ibu diartikan bahwa anak ingin diangkat dan direspon dengan menggendong anak. sikap ini banyak ditunjukkan anak yang telah dapat merangkak atau sedang belajar berjalan (Bowlby dalam Adiyanti, 1985).
4. Mencoba Menarik Perhatian
Perilaku ini dapat dilihat sebagai salah satu pernyataan perasaan dekat anak dan ibu. Hasil penelitian Shirley (dalam Adiyanti, 1985) setengah dari bayi yang diteliti menunjukkan tingkah laku ini pada usia 32 minggu, bayi lain menunjukkannya pada usia 34 minggu. Anak-anak yang berada pada batas usia ini biasanya selalu berusaha mencari perhatian dan tidak akan puas sebelum mereka mendapatkannya.
b. Approaching Behavior
Tingkah laku ini menyebabkan anak mendekat pada ibu, hal ini membuktikan bahwa seseorang itu mempunyai kecenderungan untuk selalu dekat dengan orang lain. Tingkah laku ini dinamakan tingkah laku lekat jika bayi hanya menujukan perilaku ini pada orang-orang tertentu dan tidak pada orang lain (Ainsworth dalam Adiyanti,1985).
Ada beberapa kategori tingkah laku yang termasuk dalam approaching behavior, yaitu:
1. Mendekat dan mengikuti
Perilaku ini muncul saat bayi berusia delapan bulan, yaitu pada saat timbulnya kemampuan lokomosi pada bayi. Anak akan berusaha menyesuaikan gerakannya dengan figur lekat dalam rangka mencari atau mempertahankan kedekatan dengan figur lekatnya. Saat kemampuan kognisi muncul, anak tidak hanya mendekati, namun anak akan berusaha mencari.
2. Clinging
Tingkah laku ini berupa gerakan memeluk ibu apabila terjadi kontak yang sangat dekat dan sangat kuat pada anak yang berusia empat tahun, pada saat tingkah laku lekat memuncak karena adanya tanda bahaya atau reunion setelah perpisahan singkat (Ainsworth dalam Adiyanti, 1985). Clinging muncul pada situasi khusus seperti saat anak gelisah, takut khawatir atau merasa terancam rasa amannya (Bowlby dalam Adiyanti,1985).
3. Menghisap
Hinde (dalam Adiyanti, 1985) melakukan observasi dan menyimpulkan bahwa tingkah laku lekat tidak hanya menggunakan anggota tubuh tetapi juga mulut untuk menghisap dengan kuat puting susu ibunya. Berdasarkan hasil observasi tersebut disimpulkan bahwa nipple grasping dan sucking mempunyai fungsi : a) mendapatkan makanan sesuai kebutuhan bayi; b)merupakan salah satu bentuk tingkah laku lekat yang disebut non nutricial sucking, perilaku ini ditemukan anak yang menghisap dot, ibu jari atau tingkah laku menghisap yang kadang muncul saat anak tidak memerlukan makanan. Tingkah laku ini membuat bayi merasa relaks, oleh karena itu tingkah laku ini merupakan bagian tingkah laku lekat dan mempunyai unsur kedekatan dengan ibu (Bowlby dalam Adiyanti,1985).
4. Dampak Keterikatan (Attachment)
Mary Ainsworth (1979) berpendapat bahwa dalam keterikatan yang aman (secure attachment), bayi menggunakan pengasuh, biasanya ibu, sebagai, suatu landasan yang aman untuk mengeksplorasi lingkungannya. Ainsworth yakin bahwa keterikatan yang aman dalam tahun pertama kehidupan memberi suatu landasan. Yang penting bagi perkembangan psikologis kemudian hari didalam kehidupan bayi (Santrock 2002: 197)
Menurut Ainsworth (dalam Adiyanti,1985) tingkah laku lekat adalah berbagai macam tingkah laku yang dilakukan anak untuk mencari, menambah dan mempertahankan kedekatan serta melakukan komunikasi dengan figur lekatnya. Capitanio (dalam Adiyanti, 1985) berpendapat bahwa tingkah laku lekat merupakan sesuatu yang dapat dilihat, namun kadang perilaku ini dapat muncul dan kadang tidak. Intensitas perilaku lekat sangat bervariasi dan tergantung pada situasi lingkungan. Tingkah laku lekat ini ditujukan pada figur tertentu dan tidak ditujukan pada semua orang (Ainsworth dalam Ervika, 2000).
Telah disebutkan sebelumnya pada teori etologi bahwa sebetulnya tingkah laku lekat tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Bentuk tingkah laku lekat pada ibu berupa sikap yang ingin mempertahankan kontak dengan anak dan memperlihatkan ketanggapan terhadap kebutuhan anak. tingkah laku lekat ini berfungsi membantu individu bertahan dan menjaga anak dibawah perlindungan orang tua. Bowlby (dalam Stams, Juffer dan Ijzendoorn, 2002) menyebutnya dengan istilah “care taking behavior” yang merupakan bagian program biologis yang tidak dipelajari.
Tingkah laku lekat tidak berhubungan dengan kebutuhan makan, melainkan mendapatkan perlindungan dari ibu. Unsur penting dalam pembentukan kelekatan adalah peluang untuk mengembangkan hubungan yang timbal balik antara pengasuh dan anak. interaksi anak dengan pengasuh membutuhkan waktu dan pengulangan, dalam hal ini fungsi orang tua adalah memulai interaksi, bukan sekedar memberi respon terhadap kebutuhan anak (Newman dan Newman dalam Hadiyanti,1992).
Interaksi yang intens antara ibu dan anak biasanya dimulai saat proses pemberian ASI (air susu ibu). Melalui proses pemberian ASI diharapkan akan berkembang kelekatan dan tingkah laku lekat karena dalam proses ini terjadi kontak fisik yang disertai upaya untuk membangun hubungan psikologis antara ibu dan anak.
interaksi yang berulang, cenderung akan menjadi kebiasaan yang terjadi secara otomatis; 2). Dyadic Pattern, pola yang timbal balik cenderung akan mengubah pola individual karena harapan yang timbal balik memerintahkan masing-masing pasangan untuk mengartikan perilaku pihak lainnya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud tingkah laku lekat adalah beberapa bentuk perilaku yang dihasilkan dari usaha seseorang untuk mempertahankan kedekatan dengan seseorang yang dianggap mampu memberikan
perlindungan dari ancaman lingkungan terutama saat anak merasa takut, sakit dan terancam, tujuannya adalah mendapatkan kenyamanan dari figur lekat. Tingkah laku lekat berupa berbagai macam tingkah laku yang dilakukan anak untuk mencari, menambah dan mempertahankan kedekatan serta melakukan komunikasi dengan figur lekatnya.
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini adalah sebuah penelitian dengan menerapkan teknik observasi dan wawancara untuk mengetahui pengaruh attachment pada anak dengan kemampuan anak mengeksplorasi lingkungan.
Variabel Penelitian
Variabel-variabel dalam penelitian ini bertujuan untuk memperjelas dan membatasi masalah serta menghindari pengumpulan data yang tidak diperlukan. Variabel-varibel yang digunakan adalah:
Variabel Bebas : Keterikatan (Attachment) anak
Variabel Terikat : Kemampuan anak mengeksplorasi lingkungan
Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah semua individu yang termasuh dalam criteria yang telah ditentukan (Hadi, 1997 : 30). Hal ini menunjukkan bahwa populasi merupakan keseluruhan individu yang menjadi subjek dalam suatu penelitian.
Populasi penelitian ini adalah Penghuni Panti Asuhan Muhammadiyah Jalan Jendral Sudirman, pengasuh, dan anak asuh. Keadaan populasinya adalah:
No
Usia
Jumlah
Status
Keterangan
1
0 – 3
29 Orang
Bayi
Laki-laki 17, Perempuan 12
2
3 – 6
6 Orang
Anak Prasekolah
Laki-laki 3, perempuan 3
3
6 – 9
7 Orang
Sekolah Dasar
Perempuan 7 orang
4
9 – 12
-
-
-
5
12 – 15
19 Orang
SMP
Perempuan 19 orang
6
15 – 18
11 Orang
SMA
Perempuan 17 orang
Total
72 Orang
Catatan: Jumlah Pengasuh 8 orang

2. Ukuran Sampel Penelitian
Jumlah populasi yang dijadikan sample penelitian adalah seluruh anak yang berada pada usia 0 – 9 tahun. Sehingga jumlah sampel adalah 52 orang. Anak yang sudah duduk dibangku SMP dan SMA diluar sampel. Hal-hal yang diteliti adalah: Interaksi anak dalam kelompok, cara bermain anak, cara bergaul anak dengan anak lainnya, kebiasaan anak, pakaian anak, cara anak berespon dengan orang baru.
Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi. Observai ini dilakukan pada observan anak.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan pada pengasuh.
Data-datanya hasil penelitiannya
Indikator kelekatan dan kemampuan mengekplorasi lingkungan
No
Indikator
Nilai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Anak berlari menjauh jika melihat orang baru
Anak berbagi makanan dengan teman-temannya
Anak Selalu mau digendong
Anak selalu duduk dipangkuan
Anak hanya mau bermain dengan pengasuhnya
Anak bermain sendiri
Anak main seluncuran dengan bergantian
Pakaian anak bagus-bagus
Anak menikmati bermain dengan kelompoknya
Anak Mengaduh jika mainannya diambil
1
6
7
7
1
3
5
4
5
5


44

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis Data
Dari hasil penelitian didapatkan skor 44. Setiap item mempunyai skor 1 – 7. Jika skor dibawah 30 maka kelakatan dan kemampuan mengeksplorasi lingkungannya rendah. 30 – 40, maka kelekatan dan kemampuan mengeksplorasi lingkungan sedang. Dan diatas 40, kemampuan anak mengekplorasi lingkungan bagus.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa, terdapat hubungan yang erat antara perilaku kelekatan dengan kemapuan anak mengekplorasi lingkungannya. Perkembangan kelekatan dan tingkah laku lekat harus disertai perkembangan kemampuan kognitif dan berhubungan dengan permanensi objek (Flavell dalam Hadiyanti,1992). Kenyataan membuktikan bahwa tidak hanya kemampuan kognitif yang berperan dalam perkembangan kelekatan, namun perkembangan kelekatan juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif. Anak yang lekat dengan ibu dan pengasuh akan mengembangkan minat terhadap objek kelekatannya, sehingga perilaku objek lekatnya akan menjadi stimulus bagi aspek kognitif anak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehangatan dan afeksi yang diberikan ibu pada anak akan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya (Ampuni, 2002; Sutcliffe,2002; Karie dkk,2003). Kehangatan dan afeksi yang diberikan ibu pengasuh selanjutnya disebut kualitas hubungan ibu dan anak. Kualitas hubungan ini jauh lebih penting dibandingkan dengan kuantitas atau lamanya waktu yang dihabiskan ibu bersama anak. Ibu yang menghabiskan waktu lebih banyak namun dengan perilaku yang buruk tidak akan membantu anak berkembang secara optimal.
Menurut Ainsworth (dalam Belsky, 1988) hubungan kelekatan berkembang melalui pengalaman bayi dengan pengasuh ditahun-tahun awal kehidupannya. Intinya adalah kepekaan ibu dalam memberikan respon atas sinyal yang diberikan bayi, sesegera mungkin atau menunda, respon yang diberikan tepat atau tidak. Kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, Hubungan yang dibina akan bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak. Kelekatan bukanlah ikatan yang terjadi secara alamiah. Ada serangkaian proses yang harus dilalui untuk membentuk kelekatan tersebut.
Anak yang percaya kebutuhannya akan terpenuhi akan mengembangkan rasa percaya. Berdasarkan kualitas hubungan anak dengan pengasuh, maka anak akan mengembangkan konstruksi mental atau internal working model mengenai diri dan orang lain yang akan akan menjadi mekanisme penilaian terhadap penerimaan lingkungan (Bowlby dalam Pramana 1996). Anak yang merasa yakin terhadap penerimaan lingkungan akan mengembangkan kelekatan yang aman dengan figur lekatnya (secure attachment) dan mengembangkan rasa percaya tidak saja pada ibu juga pada lingkungan. Hal ini akan membawa pengaruh positif dalam proses perkembangannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ibu pengasuh memegang peranan penting dalam proses perkembangan seorang anak. Hubungan kelekatan yang diharapkan terjalin adalah kelekatan yang aman. Dengan kelekatan yang aman diharapkan anak akan mampu mencapai perkembangan yang optimal, sebaliknya bila kelekatan yang terjadi adalah kelekatan yang tidak aman maka anak akan mengalami masalah dalam proses perkembangannya. Selanjutnya hal ini dapat menjadi akar dari berbagai masalah kriminal dan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Saran
Dalam pengasuhan anak, hal terpenting yang tidak boleh dilupakan adalah pemberian afeksi yang mencukupi. Pemberian afeksi yang cukup (attachment) pada anak, akan membantu anak untuk dapat mengekplorasi lingkungan mereka. Selain pemberian rasa afeksi yang cukup, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan/pengetahuan ibu dan pengasuh dalam merawat anak, dan sarana yang mendukung perkembangan kognitif dan motorik anak
Daftar Isi
Adiyanti. M.G., (1985). Perkembangan Kelekatan Anak. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Psikologi Pascasarjana UGM.

Ampuni, S., (2002). Hubungan antara Ekspresi afek Ibu dengan Kompetensi Sosial Anak Prasekolah. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Psikologi Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Andayani,T.R., (2001). Perlakuan Salah Terhadap Anak (Chil Abuse) Ditinjau dari Nilai Anak dan Tingkat Pendidikan Orang Tua. Tesis. Yogyakarta: Program Studi Psikologi Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Haditono, S.R., dkk, (1994). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Santrock. W. John. Life Span Development. Jakarta: Erlangga

Lampiran: Observasi
Observan : xxxxxxx
Lokasi Penelitian: Panti Asuhan Jl Jend. Sudirman
Jumlah penghuni panti:
SMA = 11 orang
SMP = 19 orang
SD = 7 orang
Balita Laki2 = 17 orang
Balita Peremp = 12 orang
Bayi Laki-laki = 2 orang
Bayi peremp = 4 orang
Jumlah Total = 72 orang
Jumlah Pengasuh 8 orang
Sumber dana operasional panti:
Ø Bantuan dari masyarakat
Ø LSM
Ø Dinas Sosial
Observasi: Kamis, 12 maret (02.00 PM – 05.00 PM)

Keadaan secara fisik Panti
Panti ini berdiri pada bulan Agustus 2003. Keadaan bangunan panti cukup sederhana, berlantai dua, lantainya ditutupi keramik. Panti ini terbagi menjadi beberapa ruangan, tiap ruangan di Asuh oleh seorang ibu asuh. Umur Ibu Asuh antara 25 sampai 50 tahun dari 8 orang. Tiap ruangan dilengkapi dengan kamar mandi, ruangan tidur, tempat penyimpanan pakaian, lemari. Kebersihan ruangan cukup baik, lantai berubin, hanya saja ada beberapa ekor lalat. Bagian depan panti, yang ditutupi dengan atap tembus cahaya digunakana sebagai tempat bermain anak. Anak beberapa tempat seluncur. Dan bagian samping digunakan untuk jemuran pakaian.
Keadaan Penghuni Panti
1. Sila (17 bulan). Jenis kelamin perempuan. Lahir dari pasangan luar nikah. Tapi akhir-akhir ini orang tuanya sering menjenguk anaknya. Kabar, kedua orang tuanya sudah menikah secara resmi baru-baru ini. Dia dekat dengan ibu Asuh, dan suka bermain sendiri,kadang bermain dengan teman-temannya yang lain. Pertumbuhan fisik baik, pakaian sederhana.
2. Secara umum, pertumbuhan fisik anak, terlihat cukup normal, tidak ada terlalu kurus (malnutrisi), ataupun terlalu gemuk. Anak-anak bermain dengan riang di depan panti, dan jenis permainannya bermacam-macam. Ada main kapal-kapalan, dorong gerobak, seluncur, kejar-kejaran. Ibu asuh menggendong menggendong bayi yang masih kecil, kelihatan tidak ada beban, dia menikmati bermain dengan anak-anak. Anak yang sudah besar membantu mengasuh anak-anak, membersihkan, mencuci pakaian.
3. Hasan & Husein adalah anak kembar (2 tahun). Orang tuanya tidak diketahui. Terlihat susah bergaul dengan orang baru. Tetapi kalau sudah lama, mereka ingin dipangku, dibuatkan mainan dan dtitemani bermain.
4. Oca (kelas 1 SD/perempuan). Tidak ada masalah dalam bergaul dengan teman-temannya disekolah. Mereka mudah dalam bergaul dan bersosialisasi dengan 24 orang temannya, tapi kadang juga berklahi dengan temannya.
5. Yoli (5 tahun/TK/perempuan), sudah bisa menulis nama sendiri. Terlihat malu-malu dengan orang baru, tapi kalau sudah akrab mereka selalu ingin bermain.
6. Jam 03.45, anak-anak tampak ramai bermain dengan teman-temannya. Berbagai gaya pemainan mereka perlihatkan dan ekspresikan. Anak anak makan sambil berlari, berbagi makanan dengan teman-temannya. Ibu asuh mulai memandikan dan membersihkan satu persatu anak, mengganti bajunya, membedaki, kemuianbrmain lagi dengan anak-anak yang lain.
7. Fikri (4 tahun), kelihatannya suka bermain sendiri, sudah pintar dengan berbagai perintah, tapi masih susah mengucapkan patah kata. Anak ini dilihat dari wajahnya klihatan mengalami kelainan autis.
8. Anak-anak kelihatan riang dan gembira, ditemani bermain, ingin selalu dipangku, mungkin karena pengasunya yang kurang, sehingga setelah mereka akrab dengan kami, dia tidak segan-segan duduk dipangkuan kami.
9. Pakaian anak-anak panti kelihatan cukup bagus. Perkembangan fisik bagus.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar