Kepercayaan
adalah fondasi utama dalam layanan digital, terutama bagi penyedia hosting dan
domain. Pengguna menitipkan aset yang tidak hanya bernilai teknis, tetapi juga
historis, bisnis, dan emosional. Sayangnya, pengalaman yang saya alami bersama
Hostinger menunjukkan bahwa fondasi kepercayaan itu bisa runtuh begitu saja
ketika layanan tidak profesional dan komunikasi tidak berjalan sebagaimana
mestinya.
Masalah bermula
dari pengelolaan domain yang saya miliki melalui Niagahoster, yang kini
bergabung dengan Hostinger. Tiga domain saya—yang masing-masing telah berusia
sekitar 15 tahun—tiba-tiba tidak bisa dicek statusnya. Ini bukan sekadar
gangguan kecil. Domain-domain tersebut mendekati masa kedaluwarsa dan perlu
segera diperpanjang. Ketika akses dan pengecekan status domain terhambat,
risikonya sangat besar: domain bisa kedaluwarsa, diambil pihak lain, atau
menimbulkan kerugian reputasi yang tidak kecil.
Saya menghubungi
layanan pelanggan Hostinger dengan harapan mendapatkan solusi cepat dan tepat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Respons yang saya terima tidak menjawab
inti permasalahan. Alih-alih penjelasan teknis yang konkret, saya mendapatkan
jawaban generik yang terkesan berputar-putar. Lebih mengecewakan lagi, saya
diberi estimasi waktu penyelesaian maksimal 48 jam. Estimasi ini tentu saya
terima dengan harapan ada kepastian.
Masalahnya,
hingga artikel ini ditulis dan diposting, tidak ada kejelasan apa pun. Tidak
ada pembaruan status yang informatif, tidak ada penjelasan lanjutan, dan tidak
ada solusi nyata. Diam. Bagi penyedia layanan digital berskala global, sikap
seperti ini sulit diterima. Ketika menyangkut domain yang telah berusia belasan
tahun, waktu adalah faktor krusial. Setiap jam ketidakpastian menambah
kecemasan dan potensi kerugian.
Penggabungan
Niagahoster dengan Hostinger seharusnya membawa peningkatan kualitas layanan,
bukan sebaliknya. Konsolidasi bisnis idealnya diikuti dengan integrasi sistem
yang matang, SOP layanan pelanggan yang lebih solid, dan mekanisme eskalasi
masalah yang jelas. Namun dalam kasus ini, yang terasa justru kekacauan
administratif dan komunikasi yang lemah. Sebagai pengguna, saya berada dalam
posisi yang serba tidak pasti: domain tidak bisa dicek, masa aktif hampir
habis, dan pihak penyedia layanan tidak memberikan jawaban yang meyakinkan.
Layanan hosting
dan domain bukan produk sekali pakai. Ini adalah layanan jangka panjang yang
menuntut konsistensi, akuntabilitas, dan kejelasan. Ketika sebuah perusahaan
gagal memberikan itu semua, wajar jika muncul kesan “abal-abal”. Istilah ini
mungkin terdengar keras, tetapi lahir dari pengalaman nyata: janji waktu
penyelesaian yang tidak ditepati, layanan pelanggan yang tidak solutif, dan
ketiadaan kejelasan hingga batas waktu berlalu.
Yang lebih
ironis, domain-domain tersebut telah bertahan selama 15 tahun, melewati
berbagai perubahan teknologi dan penyedia layanan. Namun kini justru terancam
di tangan penyedia yang seharusnya menjadi pelindung, bukan sumber masalah.
Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: masa iya domain yang sudah berumur
belasan tahun harus berakhir karena kelalaian layanan hosting?
Artikel ini bukan
sekadar curahan kekecewaan, tetapi juga peringatan. Bagi Hostinger, ini adalah
cermin untuk mengevaluasi kualitas layanan, terutama pasca-merger. Bagi calon
pengguna, ini menjadi catatan penting untuk lebih kritis dalam memilih penyedia
hosting dan domain. Layanan digital yang profesional bukan hanya soal harga
murah atau klaim global, tetapi soal tanggung jawab ketika masalah benar-benar
terjadi.
Hingga saat ini,
saya masih menunggu kejelasan. Yang saya harapkan sederhana: akses yang normal,
informasi yang transparan, dan penyelesaian yang nyata. Tanpa itu, sulit untuk
menyebut layanan ini profesional. Dan kepercayaan, sekali hilang, tidak akan mudah
kembali.
Kecewa dengan
layanan Hostinger, jangan sampai anda menjadi korban selanjutnya. Pilih layanan hosting yang profesional. Saatnya beralih kelayanan yang lain.
