Home » » KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF

KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF

Memahami dan mengenal karakteristik penelitian kualitatif akan memudahkan peneliti untuk mengambil arah dan jalur yang benar, baik di dalam memilih topik penelitian, menyusun proposal, melakukan pengumpulan data, analisis, dan juga mengembangkan laporan studinya. Dalam perkembangan riset kualitatif yang semakin kaya variasinya, riset ini memiliki keluwesan bentuk dan strateginya. Kreasi pada pemikir dan peneliti kualitatif dalam berbagai bidang yang relative baru bagi peneliti ini, memungkinkan perumusan karakteristiknya tidak bersifat definitif (Sutopo, 1996). Dari beragam bentuk dan strategi yang telah dikembangkan selama ini terlihat karakteristik pokoknya yang semakin menonjol sehingga bisa dirumuskan secara lebih jelas. Dalam perjalanan pekembangan penelitian kualitatif selama ini karakteristik tersebut meski tidak selalu dimiliki oleh setiap jenis studi kualitatif namun merupakan milik metodologi penelitian kualitatif secara keseluruhan. Beberapa karakteristik tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut.
  1. Natural setting (kondisi seperti apa adanya). Pada topik riset kualitatif diarahkan pada kondisi asli subjek penelitian berada. Kondisi subjek sama sekali tidak dijamah oleh perlakuan (treatment) yang dikendalikan oleh peneliti seperti halnya di dalam penelitian eksperimental. Peneliti menjelajahi kancah dan menghabiskan waktunya dalam mengumpulkan data secara langsung. Penelitian ini cenderung mengarahkan kajiannya pada perilaku manusia sehari-hari dalam keadaanya yang rutin secara apa adanya (Van Maanen, 1984). Kondisi subjek berjalan alami tanpa adanya keterlibatan atau pun keterlibatan aktif peneliti di lapangan.
  2. Permasalahan Masa Kini. Penelitian kualitatif mengarahkan kegiatannya secara dekat pada masalah kekinian (current event). Kepentingan pokoknya diletakkan pada peristiwa nyata dalam dunia aslinya, bukan sekedar pada laporan yang ada Subjek peristiwa yang diteliti adalah subjek masa kini dan bukan subjek masa lampau seperti dalam kebanyakan riset historis (Yin, 1987).
  3. Memusatkan pada Deskripsi. Penelitian kualitatif melibatkan kegiatan ontologis. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti lebih daripada sekedar angka atau frekuensi. Peneliti menekankan catatan yang menggambarkna situasi sebenarnya guna mendukung penyajian data. Jadi dalam mencari pemahaman riset kualitataif tidak memotong halaman ceritera dan data lainnya dengan symbol-simbol angka. Peneliti mencoba menganalisis data dengan semua kekayaan wataknya yang penuh nuansa, sedekat mungkin dengan bentuk aslinya seperti pada waktu dicatat. Tidak seperti halnya riset kuantitatif yang menggunakan bahasa proposisi yang bersifat “de facto” (Eisner, 1983), yang cenderung meruapakan reduksi kualitas dan realitas yang penting diketahui. Bahasa proposisi adalah suatu “gross indicator” atas kualitas yang tidak mampu menangkap beragam nuansa perbedaan. Padahal dalam hubungan antar manusia, nuansa adalah segala-galanya. Sifat kualitatif lebih cocok untuk menghadapi realitas yang jamak, multiprespektif. Sifat penelitian semacam ini mampu memperlihatkan secara langsung hubungan transaksi antara peneliti dengan yang diteliti yang memudahkan pencarian kedalaman makna. Sifat semacam ini lebih peka dan dapat disesuaikan dengan pengkajian bentuk pengaruh dan pola nilai-nilai yang mungkin dihadapi peneliti(Sutopo, 1996).
  4. Peneliti sebagai Alat Utama Riset (Human Instrument). Walaupun berbagai alat pengumpulan data yang biasa kita kenal ada dimungkinkan untuk digunakan, namun alat penelitian utamanya adalah penelitinya sendiri. Penggunaan instrument yang kaku seperti halnya di dalam penelitian kuantitatif sangat menyulitkan bagi terjadinya kelenturan sikap penelitian kualitatif yang selalu siap terbuka dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru dan mungkin berubah setiap waktu dengan beragam realitas yang juga mungkin dijumpai. Perlu ada keyakinan bahwa hanya manusia yang mampu menggapai dan menilai makna dari berbagai interaksi (Sutopo, 1996).
  5. Purposive Sampling. Penelitian kualitatif tidak memilih sampling (cuplikan) yang bersifat acak (random sampling). Teknik cuplikannya cenderung bersifat “purposive” karena dipandang lebih mampu menangkap kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. Cuplikan ini memberikan kesempatan maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). Teknik cuplikan di dalam riset kualitatif sering juga dinyatakan sebagai “internal sampling” karena sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengusahakan generalisasi tetapi untuk memperoleh kedalaman studi di dalam suatu konteks tertentu(Yin, 1987).
  6. Pemanfaatan “Tacit Knowledge”. Penelitian kualitatif mendukung memanfaatkan pengetahuan yang bersifat intuitif dan dirasakan, sebagai tambahan pengetahuan yang bersifat proposional atau pengetahuan yang dapat diekspresikan dalam bentuk bahasa karena seringkali nuansa realitas yang tidak tunggal dapat difahami hanya dengan cara ini, dan kebanyakan interaksi peneliti dengan yang diteliti terjadi pada tingkat ini. Pengetahuan jenis ini juga mencerminkan secara adil dan akurat nilainilai penelitinya. Oleh karena itu dalam pengumpulan data, peneliti kualitatif tidak hanya mencatat apa yang dinyatakan secara formal, tetapi juga mencatat berbagai hal yang dirasakan dan ditangkap secara intuitif oleh penelitinya. Semuanya itu akan tercermin dalam data pada bagian deskriptif dan reflektifnya.
  7. Lebih Mementingkan Proses daripada Produk. Dalam riset kualitatif, bagaimana orang merundingkan makna? Bagaimana istilah tersebut muncul dan digunakan? Bagaimana pandangan-pandangan tertentu timbul dan menjadi bagian dari pandangan atau pengertian umum? Bagaimana sejarah dan aktivitas peristiwa yang diteliti terjadi? Penekanan kualitatif pada proses secara khusus telah memberi manfaat pada riset pendidikan dalam menjelaskan tentang “ramalan pencapaian diri” mengenai pandangan tentang penampilan kognitif para siswa di sekolah yang ternyata dipengaruhi oleh harapan gurunya terhadap mereka. Riset kuantitatif memang telah mampu menunjukkan bahwa perubahan para siswa telah terjadi dengan menggunakan “pretest dan posttest”.
  8. Makna sebagai Perhatian Utama Riset. Dalam hal penemuan makna, peneliti berminat pada bagaimana cara orang memberi makna pada kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, peneliti memusatkan pada yang disebut “ participant’s  perspective” atau people’s point of view”, sehingga terhindari perumusan maksud sesuatu di dalam konteksnya berdasarkan pandangan penelitiannya sendiri. Di dalam mengumpulkan beragam informasi, peneliti memperhatikan proses bagaimana sesuatu terjadi, karena makna mengenai sesuatu sangat ditentukan oleh proses bagaimana sesuatu itu terjadi. Jika dalam penelitian kuantitatif dituntut untuk tidak melebihi fakta dan mencari hubungan kausalitas, maka dalam penelitian kualitatif adalah mencari makna di balik fakta.
Di samping apa yang telah disebutkan mengenai karakteristik penelitian kualitatif di atas, masih terdapat karakteristik lain yang menampilkan kekhususan dalam penelitian kualitatif seperti: analisisnya bersifat induktif, struktur sebagai “ritual constraint”, bersifat holistik, negotiated outcome, bentuk laporan dengan model studi kasus, interpretasi ideografik, aplikasi tentatif, keterikatan yang ditentukan oleh fokusnya, dan penggunaan criteria khusus bagi kebenaran (Sutopo, 1996). Bila dibandingkan dengan penelitian kuanitatif, jelaslah bahwa karakteristik riset kualitatif sangat berbeda, terutama dari segi kompleksitasnya. Dengan pemahaman karakteristik tersebut, peneliti akan lebih sadar mengenai apa yang harus dilakukan   di dalam pelaksanaan risetnya, mulai dari penyusunan proposalnya, pelaksanaan kegiatan di lapangan studinya, sampai dengan penyusunan laporan penelitiannya secara lengkap. Selanjutnya, karakteristik tersebut tampak terwujud di dalam beragam teknik dan langkah pelaksanaan penelitian secara lengkap.

Referensi:
Krippendorff, Klaus. 1991. Content Analysis: Introduction Its Theory and Methodology”, Alih Bahasa Farid Wajidi, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta: Rajawali.
Miles, M.B. and Huberman, A.M. 1984. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. Beverly Hills CA: Sage Publications.
Moleong, L.J. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Patton, M.Q. 1980. Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills, CA.: Sage Publication.
Spradley, J.P. 1980. Participant Observation. New York, N.Y.: holt, Rinehart, and Winston. Sutopo, H.B. 1995. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.
Sutopo, H.B. 1996: Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra UNS.
Waluyo, H.J. 2000. “Hermeneutik Sebagai Pusat Pendekatan Kualitatif”, dalam Historika, No.11. Surakarta: PPS UNJ KPK UNS.
Yin, R.K. 1987. Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA: Sage Publication.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai