Home » » Kurikulum Gonta-ganti, Apa Dampaknya?

Kurikulum Gonta-ganti, Apa Dampaknya?

Kurikulum sebagai panduan pendidikan, memegang peranan sentral dalam menentukan arah penddidikan. Kurikulum yang menentukan kualitas baik buruknya suatu program pendidikan. Dia adalah panduan pokok, yang menjadi kiblat bagaimana suatu pendidikan dilaksanakan, baik dalam metode pengajaran, evaluasi, perencaan pengajaran, pengadaan dan evaluasi buku-buku teks dan lain-lain.
Dengan melihat pentingnya kurikulum, sehingga, dalam penyusunan sebuah kurikulum bukanlah hal yang mudah, membutuhkan kajian yang mendalam dari berbagai disiplin ilmu. Pendidikan, terutama penyusunan kurikulum harus jauh dari kepentingan kelompok/golongan ataupun kepentingan politik tertentu. Kurikulum seharusnya berada pada posisi yang netral, ilmiah, dan tepat guna (sesuai dengan umur dan tingkatan pendidikan), serta metode-metode pendidikan yang mutakhir.
Tetapi bagaimana dengan kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini? salah satu bukti nyata bahwa penyusunan kurikulum digunakan untuk kepentingan politik tertentu adalah penyusunan buku sejarah disaat Orde Baru. Sejarah di Interpretasikan secara sepihak oleh penguasa orde baru, dan kemudian dimasukkan kedalam kurikulum. ini adalah sebuah pembodohan dan kebohongan.
Dengan memasuki masa reformasi, kurikulum pun diganti, bahkan terlalu sering mengalami pergantian. Sehingga, penerapan sebuah kurikulum belum tuntas diterapkan, sudah datang kurikulum baru. Ini dapat membuat ketimpangan pada para pendidik maupun anak didik yang merupakan tonggak terakhir pendidikan. Dengan seringnya gonta-ganti kurikulum, anak didik dan guru diharuskan beradaptasi dengan sebuah system yang baru. Hal ini membuat tidak efisien dalam system pendidikan.
Sebenarnya, pergantian kurikulum harus melalui perencanaan yang sangat matang. Bahkan tidak terlalu sesaui jika disebut pergantian kurikulum, tetapi up-grade/perbaikan kurikulum. Artinya, kurikulum lama tetap berjalan, hanya beberapa sisi saja yang mengalami perbaikan, yang dianggap diperlukan.
Yang menjadi masalah adalah, tidak ada standar waktu, sampai kapan dan berapa lama sebuah kurikulum diterapkan, kemudian diganti atau di up-grade/perbaikan. Seharusnya ini harus ada dalam perencanaan pendidikan nasional, sehingga pendidikan nasional itu berkesinambungan, tidak terikat dengan situasi politik. Dengan pergantian Menteri Pendidikan, bergantipula system pendidikan/kurikulum.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai