Home » » Gilakah Aku? Sisi Humanistik Orang Gila

Gilakah Aku? Sisi Humanistik Orang Gila


Jika  anda membaca judul ini, apa yang terpikirkan oleh anda? Semoga anda tidak masuk kegolongan mereka. Tahukah anda ciri-ciri orang gila? Kalau belum, silahkan baca cuplikan tulisan dibawah ini:
Cara Mengidentifikasi Orang Gila
Sepanjang pengetahuan penulis, ciri-ciri orang gila dapat disimpulkan dibawah ini:
Orang Gila itu Narcis
Jika anda termasuk orang yang memuji diri sendiri, dan tidak mau mengakui kelebihan orang lain, mungkin anda termasuk yang dimaksud judul ini.
Pagi itu, adalah kegiatan terapi rehabilitasi bagi penyandang “Gila”. Terapi hari itu adalah Terapi olah raga (sepak bola). kesebalasan Blok Nuri melawan Blok Kasuari. Hasil pertandingan adalah 2 – 0 untuk kemenangan Blok Nuri. Andreas (samaran/Pasien Blok Nuri) berteriak-teriak kegirangan karena kemenangan itu. Dia menyatakan telah memenangkan pertandingan melawan orang-orang gila. Bahriansyah (samaran/pasien Blok Kasuari) tidak terima perkataan itu, lantas dia marah-marah, dan menyatakan bahwa orang gila itu sembarang ngomong. Hampir saja terjadi bentrokan antar mereka. Saya merasa heran yang waktu itu sedang dipinggir lapangan melihat kejadian ini, seakan lucu sehingga senyum sendiri, apakah mereka memang gila, atau mereka sudah sembuh? (Sebuah Cerita nyata yang menarik dari penulis di RSJ Tampan Pekanbaru Riau, Sabtu  25 April 2009)
Orang gila sekalipun tidak mau menganggap dirinya gila. Mereka masih mempunyai sisi humanistik pada diri mereka.
Orang gila teguh pendirian
Konon, seorang pasien rumah sakit jiwa mengadu kepada dokternya, “Dokter, saya sudah mati!” Dokter berusaha meyakinkannya bahwa dia masih hidup, tetapi selalu gagal. Maka dengan hampir putus asa, dokter itu berkata, “Baiklah, orang mati tidak mengeluarkan darah ‘kan?” Pasien itu mengangguk , “Benar Dok, orang mati tidak berdarah!” Pada saat itu, dengan cepat dokter menusukkan jarum ke jari pasien. Ketika darah menetes, dokter berkata, “masih berdarah ‘kan?”, pasien itu menjawab, ”Ok, Dok, saya keliru. Ternyata orang mati itu masih berdarah.”
Orang Gila Miskin Ide
Pernahkah anda melihat penderita Scizofrenia katatonik? Dia dapat berdiri dengan satu kaki selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Apa yang menyebabkan demikian? Ternyata, karena orang gila itu miskin ide sehingga seakan-akan otot motoriknya terganggu (seakan-akan tidak bekerja/lambat). Apakah anda termasuk pada golongan ini?
Pekerjaan yang ringan sebenarnya bisa dikerjakan dengan cepat jika kita memiliki ide untuk menyelesaikannya. Jangan banyak memikirkan dan berfilsafat untuk suatu urusan pekerjaan yang sudah dipastikan.
Kriteria Pemimpin
Konon, di sebuah rumah sakit jiwa akan diklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat kesadarannya. Pasien yang berada pada tingkat kesadaran diatas 75% akan dilepas dan dikembalikan kerumahnya karena dianggap sudah dapat berpikir rasional dan sudah bisa memahami akibat tindakannya. Untuk itu terapis menyediakan alat tes berupa kolam renang. Kolam renang ini sengaja dikeringkan (tanpa air).
Jumlah pasien yang mengikuti tes ada 10 orang. Terapis dan pasien sudah berada dipinggir kolam.
Terapis: “Hitungan 3 langsung loncat (memberi aba-aba): 1, 2, 3”
Seluruh pasien meloncat, dan langsung memperagakan gaya renang masing-masing didalam kolam tak berair, kecuali Si Andreas (Pasien nomor urut dua). Terapi beranggapan, dari 10 pasien hari ini, hanya Andreas yang sudah sembuh karena tidak ikut berenang dikolam yang tak berair itu. Untuk memastikannya, terapis mendekati Andreas.
Terapis: “Andreas, kok nggak ikut loncat?”
Andreas: (Andreas masih berdiri dipinggir kolam dengan melipat tangan didada), “tidak pak, saya tidak ikut renang hari ini, airnya dingin.”
Terapis: (wajah agak kecewa, karena dikiranya Andreas sudah sembuh).”Dasar  Orang Gila”
           Kita memang dituntut berpikir sebelum berbuat, dan memperhitungkan akibat dari tindakan itu. Tetapi kebanyakan orang memperhitungkan segalanya bahkan hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun, sehingga waktunya habis dan tidak berbuat apa-apa.
Pernyataan yang Konsisten
Andreas adalah pasien penderita scizofrenia dengan gangguan halusinasi. “Dolly” adalah anjing kesayangan Andreas yang selalu menemaninya kemana Andreas pergi. “Dolly” sebenarnya bukanlah anjing untuk ukuran orang normal, “Dolly” hanya sebuah sapu ijuk yang selalu dibawa Andreas. Untuk itu, psikolog yang menangani Andreas ingin meyakinkan Andreas dan melepaskan dari halusinasinya.
Psikolog: “Dengan siapa kamu kesini Andre.”
Andreas: “Dengan si Dolly pak.”
Psikolog: “Itu bukan Dolly, itu sapu yang biasa dipakai untuk membersihkan lantai.”
Andreas: “Inilah hebatnya si Dolly pak, bisa membersihkan lantai”. (sambil pergi dari ruangan dengan menenteng Dolly keluar).
Kesokan harinya, psikolog dan Andreas berpapasan di lorong rumah sakit.
Psikolog: (Menyapa Andreas yang sedang menenteng Dolly).“Hai Andre, Dolly hebat ya, bisa membersihkan lantai.”
Andreas: “Ini bukan Dolly pak, ini sapu.”
           Psikolog menjauhi Andreas sambil mengangguk-ngangguk, pikirnya halusinasi Andreas sudah hilang. Setelah psikolog sudah berjalan menjauh, Andreas bercakap dengan sapu yang ditentengnya. “Doll, psikolog kita tipu hari ini.”
Jangan Tertipu dengan Pernyataan Orang Lain
Disebuah rumah sakit, Psikolog yang menangani pasien di pusat reahabilitasi ingin memberikan tes terakhir bagi pasin-pasiennya sebelum dikembalikan kerumah. Tes terakhir adalah tes matematika. Tes ini dipilih dengan alasan bahwa matematika dapat memberikan cara berpikir logika dan abstrak yang benar. Setiap pasien diberikan satu pertanyaan.
Andreas, merupakan pasien yang ikut tes hari ini.
Psikolog: Andreas, 10 x 10 berapa?
Andreas: (Secara sponn menjawab), “100 Pak”.
Psikologi: “Bagus, Andre bisa pulang hari ini”
Dengan tergesa-gesa Andreas membuka pintu dan keluar ruangan dengan senyum terurai dibibirnya, mengandung seribu makna. “Hari ini ternyata psikolog saya tipu”, katanya kepada Satpam yang sedang jaga hari itu. Satpam: “Kenapa?”. “Pertanyaan psikolog tadi 10 x 10 jawabannya bukan 100, tapi 20. Tapi saya mau bebas, saya jawab aja 100, ternyata psikolog tertipu, ha..ha...ha..”
Berikan Alasan yang Rasional dalam Berbuat
Secara umum, Rumah Sakit Jiwa, dibagi menjadi dua bagian, yaitu, bagian perawatan, untuk pasien yang ambang kesadarannya dibawah 50%, dan bagian rehabilitasi, untuk pasien yang ambang kesadarannya di atas 50%. Pasien ini sudah dibebaskan berkeliaran di lingkungan rumah sakit, untuk dapat memahami lingkungan secara tepat.
Pagi itu, Andreas jalan-jalan disekitar rumah sakit, lantas dia melihat pasien yang terjun masuk kedalam kolam renang. Dari kejauhan, ada psikolog yang memperhatikan tingkah laku Andreas. Andreas secara spontan menolong orang yang terjun itu, yang ternyata tidak dapat berenang.
Keesokan harinya, Andreas didekati oleh psikolog. “Andreas, hari ini  kamu bisa pulang kerumah, karena kamu dianggap sudah sembuh. Kalau boleh tahu, siapa yang terjun kekolam kemarin?” Andreas: “Oh itu pak, yang terjun kemarin itu si Baiti, saya tolong karena tidak bisa renang, sekarang dia ada di tempat jemuran pakaian dibelakang.” Psikolog: “Ngapain dia dibelakang?” Andreas: “Dia saya hanger pak, dia basah kuyup.”
Dasar orang gila…….~~~
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonim
7 Februari 2012 12.22

orang yang paling gila adalah orang yang menjawab sendiri apa yang ditanyakan, orang yang ngomen sendiri apa yang diposting hahahaha:D

Posting Komentar

 
Support : PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2008. PSYCHOLOGYMANIA - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai